Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-111 Kabar mengejutkan


__ADS_3

Sean dan Sam kembali datang ke LP tempat Pak Tedi menjalani hukumannya. Masih seperti kemarin, reaksi Pak Tedi menyeringai penuh kemenangan saat melihat pria-pria muda itu datang.


“Kau sudah mengambil keputusan, apa saja yang kau inginkan?” tanya Sam. Mereka sudah duduk berhadapan dengan Pak Tedi.


“Tidak perlu basa basi, katakan dimana istriku? Aku pastikan aku akan menemukan bukti kejahatanmu dan kau tidak akan pernah keluar dari penjara ini!” maki Sean.


“Sepertinya aku tidak menginginkan apa-apa karena semua sudah terlambat,” kata Pak Tedi, membuat Sean dan Sam terkejut.


“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Sean, wajahnya langsung memerah saja menahan marah, tangannya sudah mengepal ingin memukul pria itu. Bagaimana dia bisa tenang, istrinya dalam keadaan hamil besar bersama peculik penculik itu. Bukan satu orang yang akan menjadi korban tapi dua orang yaitu istri dan anaknya.


Pak Tedi menatap Sean.


“Orang-orangku sudah menghabisi istrimu!” jawab Pak Tedi, membuat Sean terkejut juga Sam.


“Apa maksudmu bicara begitu?” teriak Sean, hatinya langsung merasa cemas.


“Sudah aku katakan tadi, ternyata orang-orangku bertindak cepat, mereka sudah menghabisi istrimu!” kata Pak Tedi. Mendengar jawaban dari Pak Tedi, Sean langsung naik pitam.


Sean bangun dari duduknya dan menghampiri Pak Tedi, lalu meraih bajunya sampai membuat pria itu jadi berdiri.


“Kau jangan main-main! Kau berkata bohong kan?” bentak Sean. Matanya memerah menahan marah.


“Itu yang dilaporkan orang-orangku, istrimu sudah dihabisi dalam satu letusan,” jawab Pak Tedi.


“Brengsek! Kau kurang ajar!” teriak Sean, tanpa fikir panjang lagi dia langsung memukul Pak Tedi sampai terjatuh ke lantai, tidak hanya satu kali, Sean kembali menarik bajunya Pak Tedi dan memukul wajahnya lagi berkali-kali.


Mendapat pukulan dari Sean, membuat Pak Tedi kesal, diapun membalas melayangkan tinjunya akan memukul Sean, tapi Sam segera menangkisnya, menahan tangannya Pak Tedi dengan tangannya.


Pak Tedi menepiskan tangannya Sam dengan kuat sampai terlepas. Sean kembali menghampirinya dan memukul lagi Pak Tedi dengan keras sampai tersungkur ke pojok ruangan itu.


“Hei hei ada apa ini?” teriak dua orang polisi berdatangan masuk ke ruangan itu.


Mereka menarik Sean supaya mundur, yang satu lagi menghampiri Pak Tedi.


Sean menatap Pak Tedi dengan tajam.


“Kau! Kau berbohong! Istriku tidak mungkin meninggal!” teriak Sean.


“Maaf, kenyatannya begitu,” jawab Pak Tedi, sambil bangun dan melap darah yang menetes di bibirnya.


“Brengsek!” maki Sean, dia akan menyerang Pak Tedi lagi tapi Pak Polisi menghalanginya.

__ADS_1


“Pak, anda membuat keributan anda bisa ditahan,” kata Polisi itu mengingatkan.


“Dia! Dia sudah membunuh istriku!” teriak Sean dengan marah. Pak Tedi hanya tertawa saja melihat Sean yang frustasi.


“Bagaimana dia bisa membunuh? Dia ada dalam penjara!” kata polisi itu.


“Dia menyuruh orang untuk mencelakai istriku! Istriku sedang mengandung anakku! Kau benar-benar bajingan!” teriak Sean.


Pak Polisi itu menoleh pada Pak Tedi lalu pada Sean.


“Pak, sebaiknya Bapak membuat laporan kalau memang orang ini sudah menyuruh orang untuk membunuh istri Bapak, sertakan juga buktinya. Kalau Bapak mengahakimi sendiri Bapak akan kena pasal,” kata Polisi itu.


 Sam menoleh pada Sean dan mengangguk setuju.


Sean berjalan mendekati Pak Tedi.


“Kalau benar istriku sudah meninggal, dimana jasadnya?” tanya Sean, dia mengatakan itu dengan bibir bergetar, dia tidak kuasa menerima kenyataan kalau memang istrinya sudah menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh orag-orang Pak Tedi.


Pak Tedi tidak menjawab. Sam menoleh pada polisi-polisi itu.


“Bolehkan kami minta waktu sebentar? Kami berjanji tidak akan membuat keributan,” kata Sam.


Polisi-polisi itu saling tatap.


Sam mendekati Sean, berdiri disampingnya dan menatap Pak Tedi.


“Katakan dimana jasadnya Lorena?” tanya Sam.


“Aku tidak tahu, harus ditanyakan lagi pada orang-orangku,” jawab Pak Tedi.


“Kau berbohong lagi?” bentak Sean, dia mulai marah lagi, tangannya meraih bajunya Pak Tedi lagi. Sam langsung menahan tangannya.


“Karena aku memang tidak peduli mayat istrimu dibuang kemana, aku hanya menyuruhnya menghabisinya saja,” kata Pak Tedi.


“Kau benar-benar kejam!” maki Sean.


“Hem, kejam? Siapa yang kejam? Kau fikir apa yang kau lakukan padaku itu tidak kejam? Hidupku sudah hancur sekarang! Aku napi sekarang!” teriak Pak Tedi dengan kesal.


“Itu semua karena ulahmu! Lihat saja kalau kau benar-benar sudah mencelakai istri dan anakku, kau akan membusuk dipenjara seumur hidupmu!” ancam Sean.


Pak Tedi tertawa lagi mendengar ancaman dari Sean.

__ADS_1


Sam berjalan mendekati Pak Tedi.


“Kau bisa menanyakan pada orang-orangmu dimana mereka membuang jasadnya Lorena?” tanya Sam.


“Sepertinya informasi itu bayarannya sangat mahal, karena kontraknya hanya menghabisinya saja, mayatnya terserah mau dibuang dimana,” kata Pak Tedi. Sean semakin naik pitam saja, Sam segera memegang tangannya supaya Sean tidak terpancing perkatannya Pak Tedi.


“Katakan kau butuh berapa? Kapan kami dapat informasinya?” tanya Sam.


“Baiklah, kau butuh informasi cepat makan transferan juga harus secepatnya. Kalian tunggu saja, putriku akan menghubungi kalian,“ jawab Pak Tedi.


“Baiklah, kami tunggu secepatnya!” kata Sam. Lalu menarik tangan Sean supaya meninggalkan ruangan itu. Pak Tedi hanya tertawa sinis saja, dia merasa senang dengan kemenangannya.


Di halaman parkir, Sean memukul mobilnya dengan keras, dia melampiaskan kemarahannya. Dia tidak terima Pak Tedi mengatakan kalau Lorena sudah dihabisi orang-orangnya.


“Aku tidak percaya Lorena sudah meninggal!” kata Sean sambil menoleh pada Sam.


“Kita harus mencarinya,” kata Sam.


“Kau tahu, kalau kejadiannya akan seperti ini, aku menyesal membuat kontes itu, aku menyesal sudah membuat celaka anak dan istriku,” ucap Sean.


“Sabarlah, semoga Pak Tedi hanya berbohong saja, dia hanya ingin membuat kita cemas, itu yang diinginkannya,” kata Sam.


“Aku tidak menyangka dia akan sejahat ini,” ucap Sean. Sam terdiam, bersandar di mobilnya Sean.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku tidak mau kehilangan anak istriku, Sam. Aku sangat menyayangi mereka,” kata Sean.


Sam menghela nafas panjang.


“Kita harus menunggu Nisa menghubungi kita, mau tidak mau kita harus memberikan uang itu, karena kita butuh informasi keberadaan Lorena, apakah masih hidup atau memang sudah meninggal,” kata Sam.


“Dia masih hidup Sam, aku yakin istri dan anakku masih hidup,” ucap Sean, tidak mau menerima kenyataan itu.


 “Iya kau benar, Pak Tedi sengaja mempermainkan kita. Kita pasti menemukan Lorena,” hibur Sam.


Sean bersandar seperti Sam, menatap di kejauhan, pandangannya kosong, dia tidak sanggup kalau sampai kehilangan istrinya dia tidak bisa memaafkan dirinya kalau sampai Lorena dan anaknya meninggal dengan tragis.


“Semua berawal dari warisan itu, padahal aku sama sekali tidak menginginkan warisan itu, aku sudah terlalu lelah selama hidupku hanya mengurus uang-uang peninggalan kakek dan ayahku, aku ingin hidup normal Sam, aku ingin hidup bahagia dengan anak istriku,” kata Sean.


“Tiap orang memiliki takdir masing masing Sean, kita tidak bisa memilih dimana kita akan dilahirkan,” ucap Sam.


Sean tidak bicara lagi hatinya sangat hancur kali ini, dia begitu merindukan istrinya dan bayinya yang masih dalam kandungan. Sean tidak tahu jagoannya sudah lahir dan sedang digendong ibunya berjemur di dekat lapangan bola.

__ADS_1


*********


__ADS_2