Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-19 Bertemu Nyonya Grace


__ADS_3

Valerie sudah memasukkan kantong makan untuk Earlangga, tinggal mengambil obat di kamarnya Earlangga. Diapun menuju kamarnya pria itu dan mengambil obat yang akan diminum Earlangga siang ini.


Saat keluar dari kamar itu dan menutup pintu, Valerie terkejut saat melihat ada sosok yang berjalan melewati kamarnya Earlangga dan menghentikan langkahnya saat dia menutup pintu.


Melihat tatapan tajam dan peamnpilannya sepertinya wanita itu salah satu anggota keluarga ini.


“Kau! Sedang apa kau dikamar cucuku?” bentak wanita itu.


Mendengar disebut cucu, Valerie menebak itu adalah neneknya Earlangga.


“Maaf Nyonya aku…” belum juga Valerie bicara, wanita itu yang tiada lain adalah Ny, Graae memotongnya.


“Kau siapa? Berani-beraninya masuk kamar cucuku!” makinya sambil berjalan mendekat dan menatap Valerie dari atas sampai bawah. Mendapat makian itu membuat Valerie terkejut dan merasa takut.


“Maaf Nyonya, aku hanya mengambil obat!” kata Valerie.


“Lancang! Kau masuk kamar putraku seenaknya, kau bisa minta pada Pak Sobri!” maki Ny. Grace lagi, dia sangat tidak suka ada gadis yang dengan mudahnya masuk ke kamarnya Earlangga.


“Saya perawat pribadinya Pak Earlangga Nyonya, saya akan mengantar obat ke kantornya,” jawab Valerie, dia merasa takut melihat tatapan Nyonya Grace yang seperti itu.


“Sejak kapan kau jadi perawat pribadi Earlangga?” bentak Ny. Grace.


“Baru hari ini Nyonya,” jawab Valerie.


 “Pak Sobri!” teriak Ny. Grace.


Tidak berapa lama Pak Sobri tergopoh gopoh menghampiri Ny.Grace.


“Aku tidak suka ada perempuan yang masuk ke kamarnya Earlangga!” kata Ny. Grace.


“Nona ini perawat pribadinya Pak Earlangga,” ujar Pak Sobri.


“Aku tidak peduli!” jawab Ny.Grace lalu menoleh pada Valerie.


“Aku peringatkan lagi, ini terakhir kalinya aku melihatmu masuk ke kamar cucuku!” maki Ny.Grace.


“Baik, Nyonya,” jawab Valerie dengan wajah yang pucat, dia tidak menyangka akan dimarahi seperti itu.


“Siapkan mobil!” ucap Ny, Grace pada Pak Sobri.


“Sudah Nyonya,” jawab Pak Sobri.


“Selama aku tidak ada, awasi dia!” kata Ny. Grace pada Pak Sobri yang hanya mengangguk lalu mengikuti langkahnya Ny. Grace.


Valerie berdiri mematung, dia sangat shock tidak menyangka akan mendapat makian seperti ini. Diapun segera bergegas menuju ruang makan, mengambil kantong makan untuk Earlangga dan mencari supir yang akan mengantarnya.


Didalam mobil Valerie agak melamun dia masih terkejut dengan kejadian tadi.


“Pak, Bapak tahu siapa wanita yang tadi?” tanya Valerie.


“Wanita yang mana?” tanya Pak Supir.


“Pada Pak Earlangga menyebutnya cucunya,” jawab Valerie

__ADS_1


“Oh itu Ny, Grace, neneknya Pak Earlangga. Tadi baru sampai terus sudah pergi lagi ke Luar Negeri. Dia sangat sibuk,” jawab Pak Supir.


“Sepertinya sangat menakutkan,” kata Valerie.


Pak Supir hanya tertawa.


Valerie tidak bicara lagi, dia tidak bisa membayangkan kalau misalkan jadi menantu di rumah ini, pasti akan dihardik terus oleh Ny.Grace.


Pak Supir mengantar Valerie ke sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi.


“Sampai juga ke tempat bekerja Pak Earlangga,” ucap Valerie pada Pak Supir.


 “Bukan tempat bekerja, tapi tepatnya pemilik gedung ini juga,” jawab Pak Supir.


“Benarkah?” tanya Valerie.


“Iya, gosipnya, Pak Earlangga itu mendapatkan warisan yang sangat banyak darii eyangnya karena dia cicit satu-satunya,” ucap Pak Supir, mulai bergosip.


“Begitu rupanya,” gumam Valerie.


“Pantas saja, dia terlihat angkuh,” batin Valerie.


“Pasti Pak Earlangga tidak akan sembarangan memilih jodohnya,” kata Valeire.


“Aku dengar Ny. Grace yang paling keras memutuskan dengan siapa Pak Earlangga nanti menikah,” kata pak supir.


“Ny. Grace yang tadi?” tanya Valerie.


“Iya, Ny. Grace itu neneknya Pak Earlangga, ibunya Pak Sean ayahnya Pak Earlangga,” jawab Pak Supir.


Valerie sudah bisa membayangkan, dengan kakayaan yang dimiliki Pak Earlangga pastilah keluarganya tdak akan sembarang menikahkan pria itu apalagi Ny. Grace.


Pak Supir memarkir mobilnya.


“Aku tidak lama Pak, hanya memastikan Pak Earlangga makan siang dan minum obatnya,” kata Valerie.


“Baik Bu,” jawab Pak Supir.


Valerie yang menggunakan baju seragam perawat, segera menuju loby. Receptionis tampak terkejut melihat ada tamu berseragam putih-putih.


“Apa ada yang sakit?” tanya reseptionis.


“Saya perawat pribadinya Pak Earlangga,” jawab Valerie.


“Apa? Pak Earlangga? Kau sudah tahu ruangannya?”  tanya receptionus.


“Sudah,” jawab Valerie, karena dulu dia pernah membawakan makanan buat Earlangga.


“Silahkan langsung naik saja,” kata receptionis.


“Baiklah, terimakasih,” jawab Valerie, lalu berjalan menuju lift.


Sesampainya di lantai tempat Earlangga bekerja, Bu Riska langsung mnatap kedatangannya. Di sofa-sofa yang dekat dengan menjadi sekretaris itu tampak banyak orang yang sedang duduk sepertinya sedang menunggu.

__ADS_1


Bu RIska menatapnya dengan keheranan, melihat Valerie dari ata sampai bawah, dia ingat gadis pengantar makanan itu yang kini berubah menjadi seorang perawat.


“Kau, kau bukannya pengantar makanan itu?” tanya Bu Riska.


“Iya Bu,” jawab Valerie.


“Ada apa kau kemari?” tanya Bu Riska dengan ketus, dia masih ingat saat Valerie jatuh pingsan dulu., yang menurutnya modus untuk menggoda sang presdir.


“Aku perawat pribadinya Pak Earlangga,” jawab Valerie.


“Apa? Perawat? Kemarin aku mengantar makanan sekarang jadi  perawat? Yang benar saja,” gerutu Bu Riska.


“Iya, saya membawa makanan dan obat untuk Pak Earlangga,” kata Valerie.


“Kau antri saja, banyak tamu penting lainnya,” ujar Bu Riska dengan ketus.


Valerie akhirnya duduk disalah satu sofa yang kosong, bersama orang-orang yang lebih dulu duduk disana.


Seperti yang sedang mengantri ke Dokter, mau bertemu dengan Earlanggapun sama harus mengantri. Dengan sabar Valerie menunggu gilirannya, sangat terlihat betapa pentingnya pria itu.


Valerie melirik terus jam didinding, sudah lewat jam 1 bahkan memori jam 2, dia masih harus menunggu dua orang lagi. Ini jam yang sangat berat untuk makan.


Valerie bangun dan menghampiri Bu Riska.


“Bu, ini sudah hamir jam 2 siang, Pak Earlangga harus minum obat,” kata Valerie.


“Kau tunggu saja gilirannya, yang lain juga datang sudah lebih dulu,” jawab Bu Riska dengan ketus.


Akhirnya Valerie kembali duduk, benar-benar tidak menyangka menjadi perawatnya Earlangga. Aku juga hari pertama bekerja dia sudah diperlukan seperti ini, dimaki Ny Grace juga di kerjai sekretaris itu.


Dari dalam ruangan terdengar suara tawa  tamu-tamu dan kaki yang semakin mendekat ke pintu.


Valerie hafal suara salah satunya adalah suara Earlangga.


Benar saja pria itu berbincang dengan tamu-tamunya dipintu. Valerie menatapnya, pria itu terlihat sangat gagah dan berkharisma, terlihat sekali dia sangat berpengaruh dimata tamu-tamunya.


 “Sampai jumpa lagi,” kata tamu-tamu itu dipintu ruangan itu sambil bersalaman.


“Sampai


jumpa,” jawab Earlangga.


Saat memperhatikan itu, Valerie terkejut saat mata itu juga terhenti menatapnya. Dia sangat gugup kedapatan sedang memperhatikannya.


“Kau! “ Earlangga langsung melihat jam di dinging.


“Kenapa kau datang terlambat?” hardiknya pada Valerie.


“Tidak Pak tadi aku…” Valerie langsung berdiri.


“ Inikan hari pertama kau bekreja, aku sudah terlambat!” gerutu Earlangga.


“Masuk!” lanjutnya lalu masuk kedalam ruangan tanpa menunggu penjelasan dari Valerie.

__ADS_1


Dengan langkah lesu dia masuk  keruangan sedangkan Bu Riska hanya cuek saja bekerja di depan komputernya.


***********


__ADS_2