Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-96 Pesan misterius


__ADS_3

Nisa gelisah di rumahnya, dia bingung harus berbuat apa lagi? Brian tidak mau mengirim uang lagi, anak-anaknya tidak jelas dimana kadang pulang kadang tidak.


Hidupnya benar-benar berantakan, kenapa Sean sampai tahu soal Brian segala? Kalau begini sih boro-boro mau mengeruk kekayaannya Earlangga, Jeni masuk rumahnya juga sudah tidak bisa. Impian kembali kaya hilang lagi, alamat dia akan susa seumur hidup, keluh Nisa.


Terdengar suara mobil berhenti depan rumah. Nisa cepat turun melihat siapa yang datang, tapi dia kemudian mendengar suara mobilpun menjauh. Membuatnya keheranan kenapa mobil baru datang terus pergi?


Saat masuk ruang tamu, ada yang membuka pintu dengan keras, muncullah Jeni sambil marah marah. Wajahnya ditekuk.


“Hei hei kau kenapa? Mana mobilmu, kenapa mobilnya tidak ada?” tanya Nisa, karena tidak melihat mobil diparkir diteras.


“Ayah keterlaluan!” jawab Jeni.


“Keterlaluan kenapa?” tanya Nisa.


Jeni duduk disofa itu sambil cemberut.


“Semau fasilitasku diambil, mobil, kartu atm, aku juga diusir dari rumahnya,” jawab Jeni lalu menangis.


“Apa? Ayahmu setega itu?” tanya Nisa.


“Iya, ayah marah, karena Pak Sean tahu kalau aku anak ayah,” jawab Jeni sambil menengis.


“Kenapa jadi kau yang disalahkan? Walaubagaimanapun kau anaknya,” kata Nisa.


“Ayah memintaku bekerja keras, aku kerja diperusahaan ayah dan hanya mendapat gaji saja. Kalau gaji mana cukup untuk beli barang barang branded? Huhu…” keluh Jeni kembali menangis.


“Ko Sean bisa tahu sih?” tanya Nisa.


“Aku tidak tahu Bu. Ny.Grace sebenarnya suduah mau menjodohkanku dengan Earlangga, tapi tiba-tiba Ny.Grace pingsan dikamarnya dan dibawa kerumah sakit,” jawab Jeni.


“Sakit? Sakit apa?” tanya Nisa.


“Tidak tahu. Aku benar-benar menyedihkan,” jawab Jeni.


“Ayahmu juga menghentikan uang bulanan buat ibu,” kata Nisa.


Jeni menatap ibunya.


“Terus kita bagaimana Bu?” tanya Jeni.


“Ya ibu bergantung pada gajimu,” jawab Nisa.


“Gajiku paling berapa, untukku sendiri tidak cukup, bagaimana kalau dengan ibu juga kakek?” keluh Jeni.


“Ya sudah kau hentikan dulu beli beli barang mahal, harus mengirit,” kata Nisa.


“Aku tidak mau, nanti aku ditinggalkan teman-temanku,” keluh Jeni, membuat Nisa terdiam, dia juga tidak mau begini.


“Kemana Darren?” tanya Nisa baru ingat anak laki-lakinya yang sudah tidak pernah pulang.


“Aku tidak tahu. Mungkin cuma dia yang tidak bisa ditendang ayah soalnya ayah taut pada Kak Darren,” kata Jeni.


Nisa tidak menjawab lagi, dia merasa pusing dengan perekonomian keluarganya. Masa dia harus berubah jadi orang biasa saja? Keluhnya dalam hati.


“Kakak dibelikan rumah mewah, dia juga memegang salah satu perusahaan ayah,” kata Jeni.


“Benar begitu? Anak itu tidak nongol-nongol karena dia sudah senang? Awas ya Darren!”  gerutu Nisa.


“Aku tahu rumahnya dimana,” kata Jeni.


“Nanti antar ibu kesana,” ucap Nisa.


“Iya Bu,” jawab Jeni.

__ADS_1


“Coba kau telpon dulu!” kata Nisa.


Jenipun mengeluarkan ponselnya dan langsung menelpon Darren.


“Ada apa?” tanya Darren.


“Ibu mau ke rumahmu!” jawab Jeni.


“Mau apa? Jangan ke rumah, aku sedang ada di London!” jawab Darren.


“Di London?” Jeni keheranan. Dia mau bertanya lagi telponnya sudah mati.


“Iiih,” gerutu Jeni.


“Apa?” tanya Nisa.


“Kakak ada di London, betulkan? Dia kaya sekarang,” jawab Jeni.


“Di London sedang apa?” gumam Nisa.


“Mana tahu,” jawab Jeni, lalu bangun dan meninggalkan ibunya, pergi ke kamarnya.


************


Beberapa hari kemudian…


Ny.Grace sudah kembali pulang kerumah, tapi kondisnya masih sakit stroke, belum bisa berjalan dengan benar dan bicara sehingga harus menggunakan kursi roda.


Valerie dengan sabar mengantarnya ke kamar Ny.Grace. Beberapa hari di rumahsakitpun Valerie yang mengurus dan menemaninya.


“Nyonya, sebaiknya Nyonya langsung istirahat saja,” kata Valerie, dia mendekatkan kursi roda ke atas tempat tidur.


“Ayo aku akan membantu Nyonya berbaring,” ucap Valerie.


Valerie membantu Ny.Grace berdiri dan melangkah perlahan pindah ke tempat tidur dengan susah payah.


Setelah Ny.Grace berbaring, Valerie menyelimutinya, merapihkan kursi rodanya disimpan dipinggir tembok. Setelah itu Valerie keluar dari kamar Ny.Grace. Tidak berapa lama kemudian Valerie sudah masuk lagi membawa teko dan gelas juga beberapa peralatan yang dibutuhkan lainnya seperti serbet dan tisu, ditatanya tidak jauh dari tempat tidur.


Ny.Grace memperhatikan istri cucunya itu, saat Valerie menoleh dia pura-pura memejamkan matanya. VAlerie kembali membetulkan selimutnya, menatapnya sebentar.


“Selamat malam Nek, Nyonya,” ucap Valerie meralat panggilannya, lalu keluar dari ruangan itu.


Ada haru dihatinya Ny.Grace, beberapa hari dirawat dirumah sakit, yang menjaganya istri cucunya itu, tanpa banyak bicara tanpa mengeluh, mengerjakan semua kebutuhannya selama sakit. Sekarang sudah pulang kerumah, dia masih memperlakukannya dengan baik.


Ada perasaan malu muncul, kenapa Valerie itu masih begitu baik padanya meskipun dia selalu menyakitinya? Bahkan untuk panggilanpun tidak dibiarkannya Valerie memanggilnya 'Nenek'.


Apa wanita itu tidak membencinya? Padahal dia sudah begitu jahat memperlakukannya? Bahkan membuat scenario bayinya meninggal dan sekarang bayi itu entah ada dimana.


Matanya Ny.Grace langsung berkaca-kaca, dia teringat baby Al yang sampai sekarang tidak ada kabarnya. Perasaan bersalah itu semakin menyerangnya, dia tidak tahu bagaimana keadaan bayi itu. Tidak ada seorangpun yang mencarinya karena semua tidak ada yang tahu kalau bayi Earlangga masih ada.


Ny.Grace hanya bisa menangis, menyesali yang sudah terjadi.


Valerie masuk ke kamar, dilihatnya Ealrangga naik ke tempat tidur.


“Bagaimana Nenek?” tanya Earlangga, sambil merebahkan tubuhnya ditempat tidur.


“Sudah tidur,” jawab Valerie.


“Kemarilah,” panggil Earlangga.


Valerie hanya berdiri menatap suaminya itu.


“Kenapa?”tanya Earlangga.

__ADS_1


Valerie tidak menjawab.


“Ayo kesini,” ajak Earlangga lagi.


Veleriepun naik ke tempat tidur lalu berbaring disamping Earlangga. Pria itu langsung memeluknya.


“Kau juga harus istirahat, kau sudah capek mengurus Nenek seharian,” kata Earlangga, sambil mencium pipi Valerie.


“Kasihan Nyonya,” kata Valerie, memiringkan tubuhnya menghadap Earlangga.


“Kasihan kenapa?” tanya Earlangga.


“Karena tidak bisa berbuat apa-apa, biasanya kan Nyonya enerjik dan sibuk,” jawab Valerie.


“Karena ada waktunya tubuh juga protes kalau kita terlalu berlebihan beraktifitas,” jawab Earlangga, menatap wajahnya Valerie.


Valerie tidak menjawab lagi, merekapun saling menatap.


“Ya mungkin ini teguran juga buat Nenek, karena Nenek selalu berbuat yang tidak baik, terutama padamu, maafkaan Nenekku,” ucap Earlangga.


“Aku harap tidak diambil hati apa yang Nenekku katakan, jangan sampai kau berfikir untuk meninggalkanku,” kata Ealrangga lagi.


“Tidak, aku tidak berfikir begitu,” jawab Valerie sambil tersenyum.


Earlangga menarik tubuh Valerie lebih dekatnya lalu memeluknya dengan erat.


“Aku mencintaimu,” ucapnya.


Valerie tidak menjawab hanya menyusupkan wajahnya ke dada suaminya. Dia merasa bahagia sekarang bisa merasakan kehangatan pelukan suaminya, meskipun seharusnya dia lebih bahagia dengan kehadiran Jordan.


Tiba-tiba terdengar dering ponsel nyaring.


“Itu telponmu?” tanya Earlangga.


“Sudah biarkan saja,” jawab Valerie.


Terdengar ponsel itu berdering lagi.


“Siapa sih? Aku lihat dulu,” ucap Valerie sambil melepaskan pelukan suaminya lalu turun dari tempat tidur dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


Diraihnya ponselnya lalu dilihatnya ternyata cuma miscall saja tidak ada namanya. Valerie mengerutkan keningnya, lalu dilihatnya ternyata ada pesan masuk dari nomor yang sama, sepertinya orang itu mau memberitahunya kalau dia mengirim pesan.


Valeriepun membuka pesan itu dan dibacanya. Tangannya langsung gemetaran saat membaca. Diulang lagi membaca, diulang lagi diulang lagi, rasanya tidak percaya membaca pesan itu.


“Kau ingin bertemu bayimu? Temui aku di taman, besok pukul 10,” isi pesan itu. Dibawahnya ada lagi tambahn dengan tulisan huruf besar SENDIRI & RAHASIA.


Valerie kebingungan, ini maksudnya apa? Bayi siapa? Mungkin salah sambung. Jelas-jelas bayinya sudah meninggal.


Valeriepun mendeletnya lalu disimpannya lagi diatas meja. Setelah itu dia melihat ke arah Earlangga ternyata suaminya sudah tidur. Valeriepun duduk dipinggir tempat tidur, dia merasa gelisah. Sebenarnya siapa yang mengirim pesan itu? Tidak ada namanya.


Terdengar lagi suara ponselnya berbunyi pesan masuk. Diapun bangun dan segera menuju meja lalu dilihatnya. Pesan dari yang tadi dengan isi yang sama.


Valeriepun mendial nomor itu ternyata tidak aktif. Sebenarnya mau apa si pengirim pesan itu. Dibaca lagi, ah mungkin mau meneror saja atau jangan-jangan orang jahat yang akan memerasnya. Kembali dihapusnya. Sepertinya pengirim pesan tahu kalau pesannya akan dihapus.


Terdengar lagi pesan masuk. Valerie segera membukanya. Sekarang isinya berbeda.


“Bayimu masih hidup. Temui aku atau kau tidak akan pernah melihatnya!”


Jantung Valerie langsung saja berdebar kencang, apa maksud pesan itu? Bayinya masih hidup? Keringat dingin mulai menyerangnya, dia merasa gelisah. Apa ini benar atau hanya lelucon? Siapa sebenarnya pengirim pesan ini?


Valeriepun mematikan ponselnya, mencoba untuk mengabaikannya. Lalu dia kembali naik ketempat tidur untuk beristirahat, tapi dia sama sekali tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan isi pesan itu, bayinya masih hidup.


***********

__ADS_1


__ADS_2