Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-20 Menyusul Earlangga


__ADS_3

Valerie masuk keruangannya Earlangga. Pria itu langsung duduk di sofa dengan santai.


“Mulai besok kalau membawakanku makan siang jangan terlalu siang,” hardik Earlangga, menatap wjah perawatnya itu.


“Iya Pak, saya tidak akan terlambat lagi,” jawab Valerie padahal dia memang tidak terlambat tapi dia tidak mau berdebat, dia segera menyiapkan makan siangnya Earlangga.


“Bapak jangan terlalu lelah, obat alergi ini menyebabkan kantuk,” kata Valerie. Sementara Earlangga makan dia duduk disalah satu sofa dan menyiapkan obat yang harus diminum Earlangga.


Pria itu tidak bicara apa-apa, dia menyisihkan makanan yang tidak dia suka dipinggir piringnya.


“Oh ya Pak, tadi saya bertemu dengan Ny.Grace,” kata Valerie.


“Nenekku? Dia pulang?” tanya Earlangga tanpa menoleh.


“Tapi kata Pak supir, Ny.Grace sudah berangkat lagi,” jawab Valerie.


Earlangga tidak menyahut.


“Ny.Grace keberatan saat saya mengambil obat itu, jadi obatnya saya simpan di ruang makan saja ya Pak,” kata Valerie.


“Jangan hiraukan nenekku, kau perawat pribadiku, aku yang menggajimu, kau hanya perlu menurut padaku saja,” ujar Earlangga, sambil mengambil air minum di mejanya.


“Tapi Pak, Ny.Grace sangat marah karena saya masuk ke kamar Bapak,” ucap Valerie.


“Nenekku memang begitu, dia takut aku menikah dengan gadis sembarangan,” kata Earlangga.


Valerie menatap pria itu, tentu saja pasti kelarganya berfikir begitu, pria ini sangat tampan dan kaya, pasti keluarganya ingin Earlangga bersanding dengan gadis yang sederajat dengannya.


“Tapi aku tidak mau dimarahi Ny. Grace Pak,” jawab Valerie.


“Tidak akan, itu karena nenekku tidak tahu kalau kau perawatku, jangan fikirkan itu,” kata Earlangga, kembali memakan makanannya.


“Baik Pak,” jawab Valerie akhirnya mengangguk. Sebenernya dia takut kalau saat dia masih merawat Earlangga ternyata Ny.Grace pulang ke rumah.


“Dengar, aku yang membayarmu, jadi kau bekerja saja merawatku,” kata Earlangga.


“Obatnya hanya untuk satu minggu Pak,” ujar Valerie.


“Kau bisa jadi jadi ahli gizi buatku, kau siapkan juag vitamin supaya badanku vit, aku sudah mulai banyak pekerjaan, jadwalkan waktu untuk bertemu dengan Dokter Egi,” lanjut Earlangga.


“Baik Pak,” jawab Valerie.


Earlangga tidak bicara lagi, diapun mengakhiri makannya.


“Oh ya Pak, Saya membawakan baju Bapak itu, sudah saya setrika dengan rapih,” kata Valeria, sambil bangun dari duduknya lalu mengambil sebuah bungkusan besar dan pipih yang dia simpan di kursi yang lain.


“Kau simpan saja dilemari itu!” kata Earlangga, menunjuk lemari yang ada dibalik tembok di ruangan itu.


“Bapak tidak akan melihatnya?” tanya Valerie.


“Tidak, tidak penting, aku punya banyak baju dirumah,” jawab Earlangga, membuat Valerie memberengut. Kemarin pria itu marah-marah karena bajunya rusak, sekarang malah tidak peduli, padahal dia sudah mati-matian mencucinya sampai bersih. Tapi tidak ada yang dikatakannya lagi,dia hanya menurut bangun dari duduknya dan pergi ke lemari yang ditunjuk oleh Earlangga.


Saat kembali, pria itu tidak ada diruangannya. Makanan di mejapun sudah dibersihkan entah oleh siapa mungkin oleh office boy.

__ADS_1


Terdengar pintu ruangan itu terbuka, Bu Riska sudah berdiri menatapnya.


“Tugasmu sudah selesai, kau bisa pulang,” kata Bu Riska.


“Baik Bu,” jawab Valerie, sambil mengambil barang-barangnya.


“Pak Earlangga barusan pergi keluar kota sampai besok. Untuk jadwal  minum obatnya kau bisa menyusulnya nanti dengan supir,” ucap Bu Riska.


“Pak Earlangga keluar kota?” tanya Valerie.


“Iya,” jawab Bu Riska.


Valerie terdiam tadi Pak Earlangga tidak mengatakan akan keluar kota.


“Nanti aku berikan alamat tempat dia meeting,” ujar Bu Riska.


“Baik Bu,” jawab Valerie, dengan lesu, dia sangat malas harus pergi jauh keluar kota segala hanya untuk memberikan obat dan memeriksa makannya Earlangga.


“Kenapa kau malah bengong? Sebaiknya kau siap-siap cepat menyusul kesana,” kata Bu Riska.


“Iya, Baik Bu,” jawab Valerie, sambil segera keluar dari ruangan itu.


Dengan terpaksa Valerie harus kembali pulang untuk membawa obat-obatannya Earlangga untuk nanti malam, dia juga prefer beberapa butir paket yang sama untuk jaga-jaga ada obat yang jatuh atau rusak. Setelah itu Valerie pergi bersama Pak supir menyusul Earlangga keluar kota.


Perjalanan keluar kota itu ternyata sangat jauh dan melelahkan, mereka perlu berjam jam di jalanan, hingga sampai ketempat yang dituju hari sudah gelap.


Pak Usman memarkir  mobilnya disebuah Resort Villa mewah.


“Disini tempat meetingnya Pak Earlangga?” tanya Valerie.


“Itu loby dan pusat informasinya, Sus!” kata Pak Usman. Menunjuk satu buah gedung dengan teras yang sangat luar yang terdapat kursi-kursi untuk menunggu.


Valeriepun turun dengan bingung, diapun segera ke receptionis menanyakan dimana gedung yang dipakai meeting oleh Earlangga.


“Ruang meetingnya ada digedung serbaguna, kalau untuk villa yang ditempati Pak Earlangga, ada di puncak bukit,” jelas receptionis.


Valerie bingung mendengarnya, dengan lokasi villa yang terpencil-pencil ini dia akan kecapaian kalau jalan kaki.


“Dimana lokasi Restonya? Saya harus menyiapkan makan malam untuk Pak Earlangga,” jawab Valerie.


“Sekarang sudah jadwalnya makan malam, Restaurant nya terpisah dengan tempat meeting, ini lokasinya,” jelas receptionis lagi.


Valerie semakin pusing saja dengan ruangan yang terpisah-pisah itu. Masih mending dalam satu hotel hanya berbeda lantai, kalu vila-villa begini dengan gedung yang terpisah membuatnya kerepotan.


“Saya langsung ke Retso saja,” kata Valerie.


Receptionis itu mengangguk. Valerie mengambil selembabar brosur map lokasi villa-villa itu.


Di Resto Villa itu tampak sudah banyak sekali yang hadir, para peserta workshop itu sudah mengantri prasmanan mneu makan malam mereka sambil bersantai.


Earlangga melihat jam tangannya, sudah ebih dari jam 7 malam, Valerie belum juga datang.


“Kau tidak makan?” tanya Edwin, dia sudah mengambil makanan dan disimpan diatas meaja, begitu juga dengan yang lainnya.

__ADS_1


“Aku sedang menunggu perawatku, kenapa dia belum datang?” keluh Earlangga.


“Kau membawa perawatmu?” tanya Dodi.


“Iya, aku masih alergi dengan makanan dan cuaca disini,” jawab Earlangga.


“Sepertinya kau tidak betah tinggal disini,” kata Billy.


“Aku hanya belum terbiasa saja, disini juga aku belum punya banyak teman,” jawab Earlangga.


“Kau tenang saja, kami akan jadi temanmu sekarang,” sahut Edwin.


“Benar,” sahut Dodi.


Sedang menunggu begitu, matanya Earlangga langsung tertuju ke pintu, dan muncullah gadis yang berseragam putih-putih itu disana. Tangannay langsung melambai kearah Valerie yang mencarinya.


Valerie melihat lambaian tangan itu segera masuk ke ruangan itu dan menghampiir Earlangga.


“Itu perawatku!” kata Earlangga pada rekan-reken kerjanya yang segera menoleh kearah datangnya Valerie.


“Perawatmu sangat cantik,” kata Billy, langsung berbinar melihat gadis itu menghampiri meja mereka.


“Namanya Valerie,” ujar Earlangga.


“Perawat yang sangat cantik, jangan-jangan dia bukan perawat biasa kan?” Billy langsung menatap Earlangga.


“Apa maksudmu? Dia memang perawatku,” jawab Earlangga.


“Rasanya aku tidak percaya, ada perawat yang dibawa-bawa ke villa seperti ini. Kau jujur saja, kami juga mengerti” kata Edwin, yang diakhir dengan tawa oleh yang lainnya.


“Tidak, dia benar-benar perawatku,” jawab Earlangga.


“Kau tidak tertarik dengan perawatmu? Aku rasa dia tidak akan menolak kalau kau ajak kencan juga,” kata Dodi.


“Kau ini bicara apa,” gerutu Earlangga.


Valerie berhenti dekat EarLangga, tersenyum menganggukkan kepalanya pada teman-temaanya Earlangga yang menatap kedatangannya.


“Malam Pak, saya terlambat,” kata Valerie, menoleh pada Earlangga.


“Kau sudah terlambat dua kali, ayo cepat siapkan makan,” ucap Earlangga.


“Baik Pak,” jawab Valerie, diapun segera pergi ke meja parasman. Tidak berapa lama dia kembali dengan piring yang sudah diisi makanan dan disimpan di depannya Earlangga.


Pria itu langsung menagmbil sendok dan mulai memakannya. Valerie perlahan mundur tapi langkahnya terhenti saat Earlangga bicara.


“Kau duduk saja disini,” kata Earlangga, tangan kirinya menarik sebuah kursi kosong disebelahnya.


“Tapi Pak,”  Valerie akan menolak.


“Sudah duduk saja!” kata Earlangga.


“Iya Nona.. kau boleh bergabung dengan kami, santai saja,” kata Billy yang sedari tadi tidak bosan-bosannya menatap wajahnya Velerie. Meskipun tidak enak, akhirnya Valerie duduk dikursi itu dengan canggung.

__ADS_1


**************


Readers maaf ya alurnya sangat lambat, authornya banyak urusan keluar kota jadi nyempetin nulis diperjalanan tidak focus.


__ADS_2