Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-95 Ny.Grace mengalami Stroke ( part 2 )


__ADS_3

Sean menoleh lagi pada Ny.Grace.


“Ibu mendengarkan apa kata Valerie tadi? Ternyata Jeni itu putrinya Nisa dan Brian. Apa jadinya kalau Earlangga sampai menikah dengan Jeni? Jangan jangan Jeni mau mendekati Earlangga karena memang disuruh Nisa dan Pak Tedi, karena dendam pada keluarga kita, bisa hancur kita,” kata Sean masih kesal.


Lorena memegang tangan Sean.


“Sudahlah sayang, jangan marah pada ibu, ibu butuh istirahat,” jawab Lorena sambil menarik tangannya Sean mengajaknya kembali duduk.


“Memangnya ayah kenal Pak Tedi dan Ny.Nisa itu?” tanay Earlangga.


“Dia yang menyebabkanmu dilahirkan di kebun karet,” jawab Lorena.


“Apa?” Earlangga terkejut mendengarnya, ibunya tidak pernah cerita kalau dia dilahirkan dikebun karet. Begitu juga Valerie terkejut dengan penjelasan ibu mertuanya.


“Iya, itu ulahnya Pak Tedi, dia dendam karena dia ingin Nisa menikah dengan ayahmu, juga dendam karena ayahmu yang memasukkan ke penjara karena dia memalsukan surat kesehatan ibu,” jawab Lorena, matanya mulai berkaca-kaca, dia akan merasa sedih kalau mengingat masa-masa tragis melahirkan Earlangga.


“Jahat sekali mereka,” ucap Earlangga,


Lorena mengangguk dan menatap putranya itu. Earlangga mengulurkan tangannya memegang tangannya Lorena.


“Bu, pasti waktu itu sangat sulit bagi ibu, aku minta maaf,” ucap Earlangga.


“Tidak perlu minta maaf sayang, mungkin memang kejadiannya harus seperti itu, tapi yang penting kau sehat sekarang, kau tumbuh jadi pria yang gagah,” ucap Lorena sambil tersenyum dan mengusap-usap tangannya Earlangga.


“Jadi itu alasannya kenapa aku harus tinggal di London?” tanya Earlangga.


“Iya sayang, demi keselamatanmu,” Sean yang menjawab.


“Tapi ternyata kita malah berurusan lagi dengan keluarganya Pak Tedi, yaitu Jeni,” ucap Lorena.


Valerie terkejut mengetahui kenyataan ternyata keluarga suaminya mengenal keluarganya Ny. Nisa tempat dia bekerja dulu.


“Apa Jeni tahu kalau Pak Tedi dulu pengacaranya ayah?” tanya Valerie pada Lorena.


Lorena menoleh pada Lorena.


“Mungkin saja,” jawab Lorena, lalu menoleh pada suaminya.


“Bagaimana  dengan Pak Brian sayang? Kata ibu, Jeni rekan bisnisnya berarti itu perusahan Pak Brian kan?” tanya Lorena.


“Kalau soal pekerjaan sih semua baik-baik saja. Tapi untuk mengantisipasi lebih baik kita hentikan kerjasama dengan Pak Brian, kita jangan beurusan lagi dengan keluarganya Pak Tedi dalam hal apapun,” kata Sean, menghela nafas sebentar, kenapa masa lalu mereka harus terungkit lagi sekarang?


“Aku juga tidak mau Jeni merusak rumahtangga putraku,” lanjut Sean.


Lorena menoleh pada Earlangga.


“Untung kita cepat tahu kalau Jeni itu ternyata putrinnya Nisa,” ucap Lorena.


Sean kembali bangun dari duduknya.


“Kau mau kemana lagi?” tanya Lorena.


Sean tidak menjawab, ternyata dia mendekati ibunya.

__ADS_1


“Bu, ibu dengar tadi, ternyata gadis yang mau ibu jodohkan dengan Earlangga itu adalah putrinya Nisa, cucunya Pak Tedi. Mereka pasti akan menghancurkan keluarga kita,” ucap Sean, dengan nada ketus. Kalau tidak ingat ibunya sedang sakit, dia ingin marah-marah.


Lorena langsung menghampiri suaminya.


“Sayang, sudah, jangan memarahi Ibu,” ucap Lorena.


“Ng..h..Ng..h..” Ny.Grace tidak bisa bicara apa-apa.


Dia juga terkejut, hampir saja, hampir saja dia akan membuat kahancuran lagi pada keluarganya karena membawa masuk Jeni ke dalam keluarganya dengan menikahkannya dengan Earlangga.


Tapi Jeni memang tidak pernah mengatakan kalau ia putrinya Nisa, cucunya Pak Tedi.


“Apa Jeni tidak pernah mengatakan pada ibu kalau dia putrinya Nisa? Atau mungkin memang Jeni sengaja merahasiakannya,” tanya Sean.


Ny.Grace sama sekali tidak bisa menjawab, hanya hatinya menjawab kalau dia hanya tahu Jeni putrinya Pak Brian dan tidak tahu kalau Pak Brian pernah menikah dengan Nisa.


Semuapun terdiam.


Sean menoleh lagi pada ibunya.


“Bu, ini pelajaran buat ibu juga. Jangan karena ibu berlebihan menginginkan menantu dengan status tingga sampai ibu hampir menghancurkan keluarga kita. Kita tidak tahu rencana Jeni apa,” ucap Sean.


Dikatai anaknya begitu, membuat Ny.Grace sedih, matanya mulai berkaca-kaca, dia sama sekali tidak tahu kalau Jeni adalah putri Nisa, dia hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya.


“Sayang, sudah, aku yakin ibu juga tidak bermaksud seperti itu, ibu tidak mungkin sengaja menghancurkan keluarganya sendiri,” ucap Lorena.


Sean tidak menjawab, diapun diam, dia selalu kesal pada ibunya yang seperti itu, suka seenaknya mengatur-ngatur orang.


Seanpun kembali ke kursinya bersama Lorena.


“Ng..h..Ng..h.”


Valerie langsung bangun.


“Kau mau kemana?” tanya Earlangga.


“Nyonya, ingin minum,” jawab Valerie, lalu menghampiri Ny.Grace.


“Nyonya ingin minum? Sebentar aku ambilkan,” kata Valerie, mendekati nakas dan mengambil minum disana lalu diberikannya pada Ny.Grace.


Ny.Grace terdiam tidak mau menerima minum dari Valerie.


“Minumlah Nyonya, Nyonya kan haus. Setelah minum Nyonya harus istirahat, supaya badannya lebih segar,” ucap Valerie, kembali menyodorkan minumnya. Terpaksa Ny.Grace meminumnya dibantu Valerie, karena dia sekarang sangat haus mulutnya terasa kering.


Earlangga menatap istrinya yang telaten mengurus Neneknya, hatinya merasa sedih mengingat neneknya begitu membenci Valerie, dan ternyata istrinya sama sekali tidak dendam pada Neneknya malah mau merawatnya.


Sean keluar dari ruangan itu mengeluarkan ponselnya menelpon Brian.


“Halo Pak Brian!” kata Sean tidak basa basi lagi.


“Halo Pak Sean, tadi aku ke kantormu ternyata kau pulang cepat,” ujar Brian.


“Pak Brian ada yang ingin aku sampaikan,” kata Sean.

__ADS_1


“Soal apa? Katakan saja,” ucap Brian.


“Aku membatalkan kerjasama kita, aku tidak mau bekerja sama apapun dengan perusahaanmu dalam bidang apapun,” kata Sean.


“Apa?” Brian sangat terkejut.


“Tunggu! Tunggu! Pak Sean ini maksudnya apa?” tanya Brian.


“Tolong jujur padaku Pak Brian, kau pernah menikah dengan Nisa kan? Putrinya Pak Tedi pengacara?” tanya Sean.


Brianpun diam dia agak bingung ada apa ini?


“Maksudnya apa Pak Sean bertanya begitu?” tanya Brian.


“Apa kau tahu juga siapa yang memasukkan Pak Tedi ke penjara dulu?” tanya Sean.


“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Brian.


“Aku yang memasukannya,” jawab Sean.


Brianpun diam. Dia tidak terlalu memahami persoalan Sean dan Pak Tedi, yang dia tahu Pak Tedi berbuat curang sebagai penagcara dan tidak tahu detil kejahatan Pak Tedi apa, dia hanya ingin menikahi Nisa saja waktu itu.


“Jadi aku tidak mau berurusan apapun yang berhubungan dengan keluarga Pak Tedi, aku minta maaf,semua perjanjian kerjasama kita batal,” ujar Sean, membuat Brian semakin terkejut.


“Jangan begitu Pak Sean! Halo! Pak Sean!” panggil Brian, ternyata Sean mematikan telponnya.


Diapun menendang kursi yang ada didepannya, dia kesal, berapa banyak saham nya keluarga Joris di beberapa perusahaannya, bisnisnya akan hancur kalau begini.


“Semua ini gara-gara keluarganya Pak Tedi, aku menyesal menikahi Nisa, aku tidak tahu kalau mereka membuat masalah dengan keluarga Joris,” gumamnya.


Dikeluarkannya lagi ponselnya, menelpon seseorang.


Nisa yang sedang duduk santai dirumahnya dipingir kolam renang, mendengar ponselnya berbunyi, dia melihat nomor dari Brian.


“Tumben sekali pria bengsek itu menelpon,” gumamnya.


“Nisa!” terdengar Brian berteriak.


“Hei, tidak perlu berteriak begitu!” ucap Nisa.


“Mulai sekarang, aku tidak akan mengirimu uang lagi!”teriak Brian.


“Eh eh maksudnya apa nih? Kau tidak bisa lepas dari tanggung jawab, kau meninggalkanku dengan status yang tidak jelas,  sekarang tidak akan mengirim uang, apa-apaan ini?” maki Nisa.


“Gara-gara aku menikahimu aku jadi apes!” kata Brian.


“Apes apanya?” tanya Nisa tidak mengerti.


“Aku tidak tahu kalau kalian berseteru dengan keluarga Joris, akibatnya Sean memutuskan semua kerjasama dengan perusahaanku, aku rugi besar!” teriak Brian.


Nisapun terdiam, dia sangat terkejut, bagaimana Sean bisa tahu kalau Brian adalah suaminya? Itu artinya Sean juga tahu kalau Jeni putrinya? Ah kacau semua.


“Aku tidak akan mengirimkan uang seperespun, aku tidak akan peduli kau mau kerja apa kek, terserah, aku tidak mau berurusan denganmu lagi!” teriak Brian lalu telponpun ditutup.

__ADS_1


Nisa terbengong mendapat telpon seperti itu. Brian tidak akan mengirimkannya uang lagi, sudah biasanya juga uang yang dikirim tidak cukup, sekarang, tidak akan memberinya sama sekali, bagaimana dengan hidupnya? Setua ini mau kerja apa? Belum ayahnya juga butuh perawat dan biaya rumahsakit, kepala Nisa sampai berdenyut-denyut memikirkannya.


************


__ADS_2