Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-69 Kekacauan di Fashion Show


__ADS_3

Sekarang mobil Sean berhenti disebuah butik khusus baju-baju pengantin.


Pria itu langsung bertemu dengan seseorang di dalam yang entah siapa, ruangan itu berkaca gelap, Lorena menunggunya di ruang tunggu. Ditatapnya patung-patung yang menggunakan baju pengantin itu, diapun tersenyum. Baju-baju itu sangat indah.


Sean sedang berbicara dengan pemilik butik itu.


“Bapak tunggu sebentar,” kata pemilik butik itu kemudian menelpon seseorang.


Sambil menunggu pemilik butik itu menelpon, Sean menoleh kearah kaca hitam itu, yang dari luar tidak bisa melihat kedalam sendagkan dari dalam bisa melihat jelas keluar.


Dilihatnya Lorena sedang duduk sambil matanya melihat kearah baju-baju pengantin dipatung itu. Sean menatap wajah blasteran yang cantik itu, dengan rambut hitamnya yang kecoklatan, Lorena sangat cantik. Dalam hatinya dia tidak pernah menyangka kalau ternyata ada gadis yang benar-benar menggetarkan hatinya, dia benar-benar jatuh cinta pada gadis yang sedang duduk itu.


Dalam hatinya dia tidak sabar untuk melamarnya, dia tidak akan menunggu kontes selesai, asalkan Lorena mau menikah dengannya, dia akan secepatnya menikahinya. Soal kontes, dia bisa membubarkannya dan memberikan  ganti rugi pada peserta yang telah meluangkan waktunya untuk kontes ini, soal uang tidak masalah baginya.


Pemilik butik memanggilnya membuyarkan lamunannya.


“Bisa dipilih sekarang Pak bajunya,” kata pemilik butik. Sean mengangguk sambil beranjak dari kursi duduknya. Merekapun keluar dari ruangan itu.


Beberapa petugas butik itu membawa banyak baju pengantin untuk dipilih. Lorena terkejut karena baju-baju yang dibawa itu sangat indah dan mewah seakan akan akan melangsungkan pernikahan yang sebenarnya. Diapun menoleh pada Sean.


“Kenapa? Kau tidak suka? Aku minta baju yang ready saja, soalnyakan mau dipakai nanti malam,” kata Sean, menatap Lorena.


“Ini terlalu bagus buat kontes, seperti akan menikah saja,” ucap Lorena.


“Tidak apa-apa, biar kau menang kan?” tanya Sean.


Lorena kembali menoleh pada Sean, hatinya merasa bingung. Sean mencintainya dan ingin melamarnaya, tapi kenapa Sean juga ingin dia menang dikontes?


“Apa kau ingin aku menang?” tanya Lorena.


“Tentu saja, kau akan menjadi yang tercantik nanti malam,” jawab Sean.


“Aku heran bukankah kau ingin melamarku? Tapi kenapa kau ingin aku menang di kontes itu? Itu artinya aku akan menikah dengan Sam bukan?” tanya Lorena, menatap Sean. Pria itu tampak terkejut dengan pertanyaannya.


“Aku hanya ingin melihatmu tampil saja, peserta yang lain juga pasti menggunakan gaun yang bagus, hanya itu,” jawab Sean. Hatinya gelisah, bagaimana cara menjelaskan soal kontes itu pada Lorena?


“Tapi aku tidak mau yang terlalu mewah, ini bukan hari pernikahanku,” kata Lorena. Sean terdiam.


 “Kita memilih baju pengantinnya yang biasa saja ya, jangan yang terlalu mewah,” kata Lorena. Akhirnya Sean mengangguk.


Akhirnya Lorena memilih baju pengantin yang bagus tapi tidak terlalu mewah. Sean tidak bisa melarang lagi, dia mengikuti keinginannya Lorena saja.


Terdengar handphone-nya berdering, Seanpun keluar dari geudng itu mencari tempat yang tidak terlalu ramai untuk menelpon. Cukup lama dia menelpon, saat masuk ke gedung, Lorena sudah duduk menunggunya diruang tunggu tadi, dengan sebuah kantong disampingnya.


“Ayo kita coba baju pengantinnya,” ucap Sean.


“Aku sudah mencobanya dan membelinya,” kata Lorena. Membuat Sean terkejut, padahal dia ingin melihat Loeena memakai baju pengantin itu.


“Kau sudah mencobanya?” tanya Sean.


“Iya, kau menelpon terlalu lama, aku sudah beres, aku juga buru-buru mau ke kantor polisi,” jawab Lorena.


Meskipun kecewa, tapi akhirnya Sean mengajak Lorena keluar dari gedung itu. Mekipun sekarang dia tidak bisa melihat Lorena dengan baju pengantinnya, tapi dia bisa melihatnya nanti di acara lomba.


*************


Malam itu gedung tempat diadakan acara fashion show tampak begitu ramai. Para peserta sudah hadir semua, tentu saja karena peserta semakin menciut, persainganpun semakin ketat.


Para juri dan tamu undanganpun sudah berdatangan. Bahkan tim sukses masing-masing peserta juga hadir. Untuk acara kali ini masing-masing peserta diperolehkan untuk membawa tim pendukung mereka hanya dibatasi jumlahnya.


Tampak Nisa dan Bela juga sudah berdandan sangat cantik, juga yang lainnya. Dia dan peserta lain berkumpul di sebuah ruangan, karena acara akan segera dimulai.


“Bagaimana penampilanku?” tanya  Nisa pada Bela.


Bela menatap Nisa.


“Kau benar, gaunmu sangat cantik,” jawab Bela.


“Gaun ini sangat mahal,” ucap Nisa.


“Iya aku bisa melihat, kau seperti akan menjadi pengantin,” puji Bela.

__ADS_1


“Evi! Kau lihat Lorena tidak? Kenapa dia belum datang ya?” tanya Indri pada Evi, dia dan Evi juga sudah menggunakan gaun pengantinnya. Rata-rata peserta menggunakan gaun berwarna putih, mereka terlihat speerti putri-putri yang cantik.


“Tidak, aku tidak melihatnya, mungkin sebentar lagi dia datang,” jawab Evi sambil membetulkan riasannya disebuah kursi dengan satu cermin ditangannya.


Nisa dan Bela yang mendengar percakapan itu tampak saling pandang. Nisa tersenyum snis.


“Kau akan melakukan sesuatu?” tanya Bela.


“Tentu saja, aku ingin gadis itu gagal di kontes ini. Kontes ini akan segera berakhir. Aku harus menang dan menikah dengan Sean,” jawab Nisa.


Belapun terdiam.


Sean dan Sam sudah berada dikursinya masing-masing, Sean merasa tidak sabar ingin melihat Lorena tampil. Senyum tidak lepas dari bibirnya, malam ini dia ingin memberi kejutan pada Lorena.


“Kenapa acaranya lama sekali?” tanya Sean.


“Sebentar lagi,” jawab Sam.


“Sekalian kau umumkan ini perlombaan yang terakhir,” kata Sean.


“Iya aku sudah bilang pada panitia,” jawab Sam.


Tidak berapa lama panitia mengumumkan kalau acara akan dimulai dan peserta diharap untuk bersiap-siap. Tapi kemudian para peserta kaget saat diumumkna ini adalah lomba yang terakhir dan keputusan final akan diumumkan dua hari lagi.


“Nisa, ternyata ini lomba yang terakhir, kenapa mendadak sekali?” tanya Bela.


“Tentu saja, pasti karena Sean sudah menemukann pemenangnya,” jawab Nisa.


“Maksudmu Sean benar-benar memilih Lorena?” tanya Bela.


“Ya apalagi? Tapi lihat, semua tidak akan semudah yang meraka kira,” ucap Nisa.


“Tapi sepertinya dia belum datang,” kata Bela.


Indri celingukan mencari  Lorena. Saat MC mulai mengumuman untuk bersiap-siap tampil sesuai dengan urutan. Para peserta cepat-cepat berbaris sesuai nomor yang mereka pasang dibaju mereka.


Saat dilihatnya kearah pintu, dia mendengar suara langkah berlari-lari. Munculah Lorena yang sedang ditunggu tunggunya.


“Lorena!” panggil Indri.


Indri segera menghampirinya.


“Kau sangat cantik Lorena,” puji Indri menatapnya tidak berkedip.


Nisa yang melihat kehadiran Lorena agak terkejut dengan kehadiran Lorena. Dia bisa melihat gaun itu pastilah sangat mahal.


“Ayo cepat! Kita kan mulai!” ajak Indri.


“Iya, aku simpan tasku dulu,” jawab Lorena.


Indri segera ke barisannya. Lorena berlari ke tempat penyimpanan tas-tas peserta.


“Lihat gaunnya sangat bagus, pasti harganya mahal,” kata Bela pada Nisa sambil memperhatikan Lorena, mendengarnya semakin membuat hati Nisa pasan saja.


“Aku merasa haus, aku ambil minum dulu,” ucap Nisa, sambil berjalan menuju tas miliknya yang berjejer dengan tas-tas peserta yang lainnya. Diambilnya minuman jeruk dan meminumnya.


Lorena menyimpan tasnya, dia membuka tasnya mengambil cermin kecil merapihkan make-upnya sebentar, dia terlihat berkeringat gara-gara tadi berlari. Setelah itu dia memasukkan cerminnya kedalam tasnya.


Terdengar lagi pengumuman dari MC, para peserta sudah mulai masuk ke atas panggung.


Lorenapun buru-buru menutup tasnya dan membalikkan badannya, tapi dia terkejut saat di menabrak seseorang.


DUK!


“Aduh maaf ya,” kata suara seseorang.


“Ya tidak apa-apa,” jawab Lorena.  Tapi dia sangat terkejut saat melihat air berwarna kunig  pekat membasahi gaun depannya.


“Aw bajuku! Apa ini?” teriak Lorena dengan kaget, membuat orang-orang menoleh kearahnya. Sebagian ada yang menghampirinya. Indri dan Bela juga menghampiri mereka.


Yang menabraknya tiada lain adalah Nisa, Bela sudah mengira pasti Nisa sengaja melakukannya. Sebuah botol minuman jeruk ada ditangannya Nisa.

__ADS_1


“Aduh aku minta maaf, aku mengotori bajumu!” seru Nisa dengan wajah yang disedih sedihkan, dia terlihat menyesal. Tangan Nisa langsung melap noda kuning di bajunya Lorena, bukan tambah hilang, noda itu malah tambah menempel kerena air itu ada butiran-butiran jeruknya juga.


“Lorena ada apa?” tanya Indri, menatap bajunya Lorena.


“Dia mengotori bajuku,” jawab Lorena, dengan sedih menepis nepis butiran jeruk di gaunnya.


Indri langsung menoleh pada Nisa.


“Heh, apa yang kau lakukan? Kau sengaja ya?” tanya Indri.


“Tidak, tadi dia menabrakku saat aku minum,  aku tidak sengaja, aku minta maaf,” kata Nisa dengan raut wajah yang menyesal.


“Kasihan dia jadi tidak bisa tampil,” sahut Evi.


“Kau harus bertanggung jawab!” seru Indri.


“Bertanggung jawab bagaimana? Ya nanti aku ganti uang sewa gaunnya,” jawab Nisa.


“Bukan itu!” kata Indri.


“Apa maksudmu?” tanya Nisa.


“Lepas bajumu!” perintah Indri.


“Apa?” Nisa terkejut.


“Iya lepas bajumu!” seru Evi, diangguki para peserta yang lain.


“Aku tidak mau,” tolak Nisa, dia kaget tidak menyangka kalaa peserta lain akan menyuruhnya melepas baju.


“Lepaskan bajumu dan berikan pada Lorena!” perintah Indri lagi.


“Tidak bisa, aku harus ikut kontes,” tolak Nisa.


“Kau membuat Lorena tidak bisa ikut kontes, jadi kau harus memberikan bajumu buat Lorena!” kata Indri lagi dengan keras.


“Iya, lepas! Berikan!  Lagian kenapa kau membawa minuman berwarna ke tempat ini, kau pasti tau kan disini rata-rata menggunakan gaun warna putih, jangan-jangan kau sengaja membuat kekacauan,” seru Salsa.


“Tidak benar! Aku tidak sengaja.  Lorena, aku minta maaf ya,” ucap Nisa menoleh pada Lorena sambil memegang tangannya.


Lorena terdiam melihat Nisa yang memohon padanya.


Teman-temannya terus menyudutkan Nisa untuk melepas bajunya.


“Kau harus bertanggung jawab!” seru Evi.


“Iya cepat lepas bajunya!” teriak Indri.


Terdengar lagi pengumuman MC yang menyebutkan peserta satu persatu.


“Tidak teman-teamn, tidak usah,” kata Lorena, membuat semua mata menatapnya.


“Aku tidak apa-apa tidak ikut lombanya sekarang,” kata Lorena lagi.


“Tapi ini lomba yang terakhir Lorena, sayang kalau tidak ikut, poinnya besar,” ucap Indri.


“Tidak apa-apa, Nisa tidak sengaja aku tabrak, aku tidak tahu dia ada dibelakangku,” kata Lorena.


Indri mendelik pada NIsa, dia bisa melihat kalau wanita itu sengaja melakukannya supaya Lorena tidak jadi ikut lomba.


“Terimaksaih ya Lorena!”  kata Nisa, sembil kembali memegang tangannya Lorena. Dia tersenyum dalam hati, akhirnya dia bisa menyingkirkan Lorena di acara lomba terakhir ini.


Peserta itupun mulai bubar, Nisa dan yang lainnya meninggalkan Lorena dan Indri berdua.


Indri menatap Lorena. Dia mendengar nomornya dipanggil untuk bersiap-siap.


“Aku dipanggil, aku sangat sedih kau tidak bisa ikut, kau akan gugur,” kata Indri.


“Tidak apa-apa, selamat berjuang buat Pak Sam!” ucap Lorena pada Indri.


Indri tidak menjawab, dia hanya mengangguk.

__ADS_1


Lorenapun meraih tasnya lagi, menuju toilet. Dia tidak bisa tampil tidak apa-apa, dia juga tidak tertarik pada Presdir Sam, hanya saja dia merasa tidak enak pada Sean pria itu begitu ingin dia tampil malam ini sampai-sampai mengantarnya memilih baju pengantin di butik itu.


***************


__ADS_2