Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-90 Keputusan Sean


__ADS_3

Pagi ini sebelum pergi berbulan madu, Sean mengajak Lorena menemui Vanessa dirumah sakit tempatnya praktek.


Lorena menatap Vanessa, Dokter cantik yang pernah datang ke kontrakannya Sean.


“Kau gadis itu kan?” tanya Vanessa, menatap Lorena yang tersenyum padanya.


“Dasar pembohong, tidak ada hubungan apa-apa tapi menikah,” cibir Vanessa pada Sean yang malah tertawa.


“Sudah jangan buang-buang waktuku, katanya kau punya teman Dokter kandungan, kami sore ini akan berangkat berbulan madu,” kata Sean.


“Kau menikah kenapa diam-diam? Apa resepsinya menyusul?” tanya Vanessa sambil keluar dari ruangan prakteknya diikuti Sean dan Lorena. Mereka berjalan di lorong menuju ruang praktek Dokter spesialis kandungan.


“Itulah masalahnya, Lorena pernah tes kesuburan dan dia tidak sehat. Sedangkan aku harus segera memiliki keturunan, atau ibuku menyuruhku menikah dengan gadis lain,” jawab Sean, membuat Vanessa menghentikan langkahnya, menatap Sean.


“Apa harus cepat-cepat punya anak? Kalian kan baru menikah,” kata Vanessa.


“Aku harus menerima warisan kekayaan kakekku lagi,” jawab Sean.


“Persyaratannya kau harus punya anak?” tanya Vanessa, kembali berjalan diikuti Sean dan Lorena. Tangannya Sean terus memegang tangannya Lorena seakan takut istrinya itu ketinggalan.


“Ya begitulah,” jawab Sean.


“Sepertinya banyak program untuk kehamilan tapi butuh waktu, Sean, tidak akan bisa diburu-buru,” kata Vanessa.


“Itulah masalahnya, ibuku ngotot supaya warisan itu bisa aku terima,” kata Sean.


Vanessa menghentikan langkahnya, menatap Sean.


“Kenapa?” tanya Sean.


“Apa tidak terfikirkan olehmu sesuatu?” tanya Vanessa.


“Apa?” Sean balik bertanya.


“Kau kan cucu satu-satunya kakekmu kan? Apa menurutmu kakekmu akan setega itu menekanmu dengan persyaratan yang sulit? Aku rasa tidak,” kata Vanessa.


“Maksudmu apa?” tanya Sean.


“Masih ada surat wasiat yang belum dibacakan kan?” tanya Vanessa.


“Sepertinya begitu,” jawab Sean.


“Kau datanglah ke makamnya kakekmu, kau perkenalkan istrimu padanya, mintalah supaya mempermudah jalanmu karena itu demi kebahagiaanmu juga, semoga kekekmu mendengarnya,” usul Vanessa.


Sean terdiam, benar juga apa yang dikatakan Vanessa, mungkin dia harus datang ke makam kakeknya membawa Lorena.


Langkah Vanessa terhenti dipintu ruang praktek Dokter kandungan.


“Dok, kau ada di dalam?” Vanessa mengetuk pintu yang tertutup itu, terdengar jawaban dari dalam, menyuruhnya masuk.


Seorang Dokter yang masih muda sedang duudk di kursinya, tersenyum ramah saat Vanessa, Sean dan Lorena masuk, diapun langsung berdiri.


“Dok, ini saudaraku Sean yag aku ceritakan kemarin,” ujar Vanessa.


Sean langsung mengulurkan tangannya pada dokter itu.


“Sean,” ucap Sean.


“Ramli,” jawab Dokter Ramli, membalas uluran tangannya Sean.


Vanessa menarik satu kursi lagi untuk tempatnya duduk, kerena didepan meja  prakteknya Dokter Ramli hanya ada dua kursi.

__ADS_1


“Bagaimana? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Dokter Ramli.


“Kami ingin segera memilki anak, tapi istriku tidak sehat,” jawab Sean, sambil memberikan hasil tes itu.


“Kalian sudah melakuan tes ini sebelum menikah?” tanya Dokter Ramli, sambil membuka kertas dalam amplop itu lalu membacanya.


“Benar,” jawab Sean. Dokter itu menganalisa isi hasil tes itu.


“Bagaimana? Apu istriku bisa disembuhkan? Kira-kira metode apa yang harus kami lakukan supaya


mendapatkan keturunan?” tanya Sean, tidak sabar.


“Ini kondisi yang benar-benar sangat sulit punya anak,” jawab Dokter Ramli, membuat Sean dan Lorena kecewa.


“Apa aku benar-benar tidak bisa hamil, Dok?” tanya Lorena, wajahnya langsung pucat saja.


“Sangat sulit, tapi keajaiban itu suka ada. Kadang yang menikah sudah lebih dari 10 tahun lamanya tidak memiliki keturunan, bisa tiba-tiba punya anak. Banyak juga yang diusia tua baru diberi keturunan,” jawab Dokter Ramli.


“Kami baru menikah kemarin,” jawab Sean.


“Apa lagi baru menikah kemarin, tidak semua yang baru menikah langsung hamil meskipun keduanya dalam keadaan sehat,” jawab Dokter Ramli.


“Jadi apa yang harus kami lakukan?” tanya Sean.


“Kalian harus menunggu minimal 2 bulan, nanti kembali lagi kesini untuk melakukn tes lagi, bagaimana? Ya semoga saja 2 bulan lewat itu ibu bisa hamil,” jawab Dokter Ramli.


“2 Bulan ya Dok? Kami juga berencana akan bulan madu hari ini,” kata Sean.


“Bulan madunya tidak perlu dikasih tahu,” seru Vanessa sambil tertawa.


“Jangan usil Vanessa,” gerutu Sean.


Vanessa menoleh pada Dokter Ramli.


“Ada, tapi saranku, ya kita tunggu 2 bulan itu saja, bagaimana hasilnya,” jawab Dokte Ramli.


“Kira-kira seperti bayi tabung begitu bisa tidak?” tanya Vanessa.


“Banyak plus minusnya untuk melakukan bayi tabung, kondisi pria juga harus benar-benar sehat,” jawab Dokter Ramli.


“Baiklah, kita akan kesini lagi setelah dua bulan,” jawab Sean, sambil menoleh pada istrinya yang diam saja. Di merasa tidak tega setiap kali melihat Lorena yang murung.


“Kalian melakukan tes di RS ini?” tanya Dokter Ramli, sambil membaca kop suratnya.


 “Di rumah sakit yang bekerjasama dengan keluargaku,” jawab Sean.


“Ini suratnya aku simpan, ada beberapa yang harus aku tanyakan ke RS ini. Atau aku minta copyannya saja,” kata Dokter Ramli.


“Baiklah, nanti aku copy dulu,” ucap Sean. Dokter Ramli kembali memberikan hasil tes itu.


 “Ada yang ditanyakan lagi tidak?” tanya Vanessa.


“Tidak,” jawab Sean menggeleng.


Setelah berbasa basi sebentar, Sean dan Lorena keluar dari ruangan itu.


“Semoga sepulang dari bulan madu, istrimu sudah hamil,” ucap Vanessa saat Sean dan Lorena akan pulang. Sean hanya mengangguk dan tersenyum.


Di sepanjang jalan Lorena tidak bicara apa-apa, hanya diam saja, tentu saja membuat Sean merasa bingung dan khawatir.


“Jangan terlau difikirkan sayang,” kata Sean.

__ADS_1


“Aku hanya kefikiran bagaimana kalau dua bulan lagi ternyata aku tidak juga hamil, apa kau akan menikah dengan Nisa?” tanya Lorena, menoleh pada Sean yang sedang menyetir.


“Tidak, baru juga dua bulan, aku tidak keberatan menunggu sampai kita diberikan keturunan,” jawab Sean.


“Warisan kakekmu akan hilang,” kata Lorena.


“Itulah, makanya sekarang kita ke kuburannya kakekku, aku akan bicara pada kakekku,” ucap Sean.


Setelah melakukan perjalanan lumayan lama sekitar lebih dari 2 jam, mereka sampai pada tanah makan keluarganya Sean.


Makan itu terlihat sangat sepi, kerena ini bukan hari hari tertentu yang biasa dikunjungai keluarga yang meninggal. Sean menyusuri jalan menuju kuburan kakeknya, tangannya selalu menggandeng tangannya Lorena.


Tibalah mereka di sebuh kuburan yang bersih seperti kuburan yang lainnya.


“Ini makam kakekku,” kata Sean, menoleh pada Lorena, lalu mengajak Lorena berjongkok bersamanya dipinggir kuburan itu.


Lorena mengikutinya.


“Kakek, aku datang,” kata Sean mulai bicara, kedua tangannya mengusap usap tangan Lorena.


“Aku datang bersaa istriku,” lanjut Sean, sambil menoleh pada Lorena, tangan kirinya menyibakkan rambut Lorena yang terkena angin.


“Aku sangat mencintainya,”  ucap Sean, membuat Lorena tersenyum dan menyutuh pipi suaminya.


Sean kembali melihat kuburan kakeknya.


“Aku merasa kesulitan dengan wasiatmu Kek. Aku sudah berusaha supaya aku bisa memenuhi pesyaratan yang kau tulis dalam wasiatmu, untuk menikah dan mempunyai keturunan,” kata Sean. Dia menghentikan bicaranya sebentar.


“Aku sudah menikah tapi istriku belum tentu bisa memberiku keturunan, tapi aku tidak mau meninggalkannya, aku juga tidak mau menghianatinya.  Jadi aku minta maaf jika watunya tiba aku dan istriku belum memberimu cucu, aku akan melepas warisan yang akan kau berikan padaku,” kata Sean. Dia kembali diam, Lorena hanya mendengarkan saja.


“Aku ingin hidup bahagia dengan istriku, dengan atau tanpa warisanmu, aku minta maaf. Aku tidak mau menyakiti istriku demi warisan darimu,” lanjut Sean.


Lorena menatap pria yang sedang bicara menunduk itu sambil mengusap kuburan kakeknya. Dia semakin terharu saja mendengar ucapannya Sean. Dia rela melepaskan warisan kakeknya hanya karena tidak mau menyakitinya.


“Aku sangat mencintai istriku, jadi aku minta maaf,” ucap Sean. Lalu menoleh pada Lorena yang sedang menatapnya.


“Sayang, kau harus percaya padaku, aku sangat mencintaimu,” kata Sean pada Lorena.


“Ya aku tahu,” jawab Lorena, mengangguk. Dalam hatinya dia sangat bahagia suaminya sangat perhatian.


“Kau benar-benar akan melepas warisanmu jika waktunya  aku belum hamil?” tanya Lorena.


“Iya,” jawab Sean ,mengangguk.


“Kau tidak akan menikah dengan Nisa?” tanya Lorena.


“Tidak, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan melepaskan warisan dari kakekku. Aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu. Kalaupun kita tidak memiliki keturunan, kita bisa mengadopsi  bayi dipanti asuhan juga tidak apa-apa,” jawab Sean.


Mata Loena langsung berkaca-kaca saja mendengarnya.


“Terimakasih kau sangat mencintaiku,” ucap Lorena.


Sean langsung mencium keningnya Lorena, menatap istrinya sekali lagi lalu kembali ke kuburan kakeknya.


“Aku pulang kakek, semoga kakek mendengar apa yang aku katakan,” kata Sean, lalu bangun dari jongkoknya diikuti Lorena.


“Ayo sayang kita pulang,” ajak Sean,memeluk pinggangnya Lorena.


“Iya,” jawab Lorena, balas memeluk suaminya.


Merekapun meninggalkan makam kekeknya itu.

__ADS_1


*************


__ADS_2