Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-88 Melahirkan


__ADS_3

Mobil Earlangga memasuki halaman rumahnya.


“Sayang, aku langsung ke kantor ya, kau istirahat saja,” kata Earlangga.


“Iya,” jawab Valerie.


Earlangga segera menghentikan mobilnya diteras. Setelah Valerie turun, dia langsung menjalani mobilnya.


Saat Valerie masuk ke dalam rumah, dia heran melihat sebuah buket bunga yang besar diatas meja.


“Mr.Philip, ini bunga untuk siapa?” tanya Valerie.


“Untuk Mrs,” jawab Mr.Philip.


Valerie mendekati bunga itu dan dilihatnya tidak ada namanya.


“Tidak ada kartu namanya,” ucap Valerie, dia bingung siapa yang mengirim bunga untuknya.


Valerie mendekati Mr.Philip dan memberikan bunga itu.


“Terserah kau mau diapakan bunga itu,” kata Valerie.


Mr.Philip mengangguk dan menerima bunga itu.


Valerie melangkah beberapa langkah, apa itu dari Earlangga? Ah selama ini Earlangga tidak pernah memberikan bunga untuknya. Dia pun kembali berjalan menaiki tangga.


*************


Beberapa bulan kemudian..


Dari hari kehari perutnya Valerie semakin besar, diapun sudah mulai suau untuk bergerak.


Sore ini Valerie duduk diteras menunggu Earlangga pulang, sambil mengusap perutnya yang seperti mau meletus saja. Nafasnya sudah sangat pengap karena hamilnya yang besar.


Dilihatnya satpam menghampirirnya dengan membawa sebuah buket bunga.


“Kiriman  bunga lagi,” kata satpam.


Valerie menerima bunga itu, itu adalah bunga yang entah untuk yang keberapa puluh kalinya, entah siapa yang terus terusan mengirimkan bunga untuknya tanpa ada identitas.


“Mr. Phlilip!” panggilnya.


Mr.Philip segera menghampirinya.


“Terserah mau kau apakan bunganya,” ujar Valerie.


“Baik Nyonya,” jawab Mr.Philip, sambil menerima bunga dari Valerie.


Valerie mencoba bangun dari kursinya, tiba-tiba dia menjerit karena ada sesuatu yang tiba-tiba seperti mencubit pinggangnya.


“Aduh!” jeritnya membuat Mr. Philip terejut.


“Ada apa Mrs. Earl?” tanya Mr.Philip.


“Pinggangku sakit sekali,” jawab Valerie, tapi kemudian sakit itu menghilang.


Mr.Philip mengulurkan tangan akan membantu tapi ditolak Valerie.


“Tidak, tidak apa-apa, aku sudah lebih baik,” ucap Valerie, diapun berdiri, tiba-tiba merasakan ada yang dingin di kakinya, diapun melihat kebawah, ada cairan bening turun ke betisnya. Diapun langsung menjerit panic.


“Mr.Philip bantu aku, aku harus ke rumah sakit!” seru Valerie, dengan pucat.

__ADS_1


Mr.Philip langsung mengangguk, diapun memanggil supir untuk mengantar Valerie ke rumah sakit.


Saat kembali kedepan, dilihatnya Valerie duduk sambil meringis menahan sakit.


“Mr. Mr! Sepertinya aku mau melahirkan!” ucapnya dengan bibir yang bergetar.


“Tolong telpon Mr, Earl!”lanjut Valerie sambil kembali meringis kesakitan.


Mr.Philip langsung masuk ke dalam tapi belum juga masuk, terdengar Valerie berteriak-teriak.


“Mr! Mr! Tolong aku! Bawa aku ke rumah sakit sekarang!” teriaknya.


Supir yang sudah menyiapka mobil langsung menghampiri.


“Mrs. Earl! Kita ke rumah sakit sekarang?” tanya supir. Valerie mengangguk, dia sudah tidak bisa focus lagi dengan sekitarnya yang ada rasa sakit yang menyerang punggung dan pinggangnya.


Mr. Philip belum sempat menelpon Earlangga, dia panik membuat Valerie masuk ke mobil menemaninya ke rumah sakit.


Sepanjang jalan Valerie merasakan sakit yang amat sangat dan tak tertahankan.


Mr.Philip barulah bisa menelpon Earlangga didalam mobil.


“Apa? Valerie akan melahirkan?” tanya Earlangga.


“Benar, Mr!” jawab Mr. Philip.


Earlangga langsung panik saja, diapun bergegas keluar dari kantornya  dengan gugup  dan berkeringat dingin.


Dia benar-benar gelisah, ini adalah pertama kalinya dia mendapat kabar kalau istrinya akan melahirkan, ternyata rasanya sangat membuat cemas, takut terjadi apa-apa dengan istri dan bayinya. Earlangga langsung menuju rumah sakit.


Di ruang bersalin, Valerie sedang dibantu oleh Dokter dan asisten Dokter yang akan membantu persalinannya.


“EarL! Earl!” panggilnya, dia butuh seseorang untuk menemaninya, tapi Earlangga belum tiba juga ke rumah sakit.


“Mrs, kita coba lagi sekarang, air ketubannya hampir habis,” kata Dokter.


Valerie sudah tidak tahu lagi harus apa, dia mulai merasan dorongan yang kuat dari bayinya, dia juga sudah mengikuti instruksi Dokter, tapi ternyata melahirkan tidak semudah yang dibayangkan, bayi itu belum keluar juga.


“Dok, aku tidak kuat Dok, sakit sekali,” ucap Valerie dengan lemah, keringat membasahi keningnya.


“Mrs, air ketubannya sudah banyak yang keluar, bayinya harus segera keluar, kita coba lagi,” kata Dokter, menatap Valerie yang sudah pucat pasi.


Cukup lama Valerie berjuang untuk melahirkan bayinya, dia merasakan tubuhnya sudah lelah dan letih, tenaganya hampir habis.


“Mrs! Sedikit agi,” kata Dokter.


Valerie mencoba mengejan kembali dengan sisa-sisa tenaganya, disaat saat seperti ini dia semakin merindukan suaminya.


“Mrs, Mrs Sedikit lagi!” kata Dokter.


Entah apa yang terjadi kemudian, Valerie merasakan kepalanya pusing, mata yang berkunang-kunang, suara Dokter tidak jelas ditanggapnya. Bayangan yang mulai memudar perlahan semakin pudar.Hanya terdengar samar samar suara mengobrol tidak jelas antara Dokter dengan yang lainnya. Lamat laun dari kejauhan terdengar seperti ada suara tangis bayi.


“Bayinya laki-laki,” terdengar yang bicara pelan, setelah itu semua bayang- bayang yang bersuliweran semakin hilang dan diapun tidak sadarkan diri.


Setibanya di rumah sakit, Earlangga berlari-lari menanyakan tempat ruang bersalin di receptonis lalu dia berlari lagi menuju tempat itu yang diinfokan receptionis.


Dilihatnya Mr.Philip ada tidak jauh dari ruangan itu.


“Mr.Philip dimana istriku?” tanya Earlangga dengan wajah yang pucat.


“Didalam Mr!” jawab Mr.Philip, dia melirik sebentar kearah pintu ruang bersalin seorang perawat membawa bayi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Earlangga segera menuju ruang bersalin yang tertutup itu, dia gelisah menunggu, hingga pintu itu terbuka.


“Dokter, Dokter, bagaimana istri saya?” tanya Earlangga.


“Pasien mengalami pendarahan, tidak sadarkan diri,” kata Dokter membuat Earlangga semakin cemas.


“Tapi baik-baik saja kan Dok?” tanya Earlangga.


“Sudah ditangani tim medis,kita tunggu hasilnya,” jawab Dokter.


 “Kalau bayinya bagaimana Dok?” tanya Earlangga.


“Bayinya mengalami keracunan air ketuban, sedang berada diruangan khusus,” jawab Dokter, membuat Earlangga terkejut.


Tiba-tiba seorang perawat memanggil Dokter.


“Dokter! Dokter! Bayinya kritis Dok!” panggil suster, Dokter itu langsung berlari kearah suster itu, Earlangga langsang berlari mengikuti mereka.


Earlangga melihat ada deretan bayi di incubator.


“Maaf Mr, anda tidak boleh masuk,” kata perawat itu, lalu menutup pintu juga gorden jendela.


Ealangga semakin cemas saja menunggu kabar keadaan bayinya. Dokter dan perawat sedang memeriksa bayinya di dalam.


Tidak berapa lama, Dokter itu keluar dari ruangan itu.


“Bagaimana bayi saya Dok?” tanya Earlangga.


“Maaf, bayinya tidak bisa diselamatkan,” jawab Dokter.


“Apa Dok? Me-meninggal? Bayiku meninggal?” tanya Earlangga dengan suara parau, menahan tangis.


“Benar, maaf,” jawab Dokter.


“Saya ikut berduka cita,” kata Dokter itu, lalu beranjak.


Earlangga merasakan kakinya seperti melayang keangkasa, hampa egitu hampa. Mulutnya terkunci sama sekali tidak bisa bicara, kakinya mendadak lesu. Dia terlambat menolong bayinya, sungguh terlambat. Kalau tahu Valerie akan melahirkan sekarang, dia tidak akan berangkat bekerja tadi.


Earlangga langsung mendorong pintu, masuk ke ruangan itu, ada beberapa bayi disana. Dilihatnya seorang pewarat sedang menyelimuti seorang bayi disalah satu incubator.


“Bayiku, apa itu bayiku?” tanya Earlangga.


“Bayinya sudah meninggal,” kata perawat itu merapihkan kain pada bayi itu.


Earlangga menatap bayi merah itu dengan sedih, bayi itu terpejam seakan sedang tidur. Matanya langsung saja berair.


“Boleh saya menggendongnya?” tanyanya.


Perawat itu mengambilkan bayi itu lalu digendongkan pada Earlangga.


Earlangga benar-benar tidak bisa menahan tangisnya, menyentuh pipi bayi itu lalu diciumnya.


“Maafkan Ayah sayang, Ayah datang terlambat,” ucapnya, dengan beurai airmata.


“Apa ibunya sudah melihat?” tanya Earlangga menoleh pada perawat itu.


“Belum Mr, ibunya mengalami pendarahan hebat, masih tidak sadarkan diri,” kata perawat itu.


Earlangga kembali memeluk bayi itu dan menciuminya. Airmata sudah membasahi pipinya juga pipi bayi itu.


***********

__ADS_1


__ADS_2