Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-42 Tim penguntit


__ADS_3

Sean melirik lagi jam tangannya. Sudah satu jam lebih pak Deni belum sampai juga, tentu saja tadi di tol lebih dari 4 jam.


“Teman mu belum datang juga?” tanya Lorena, mulai kesal, dia sudah menonton  beberapa acara di televisi.


“Belum,” jawab Sean.


Lorena mulai menguap.


“Kalau kau mengantuk, kau istirahat saja,” ucap Sean. Lorena menoleh pada Sean.


“Iya sepertinya aku mengantuk,” ucap Lorena. Diapun beranjak naik ke tempat tidur, matanya terasa sangat berat, diapun mencoba tidur.


“Nanti kalau urusanmu sudah beres, bangunkan aku,” kata Lorena.


“Baiklah,” jawab Sean.


Sean hanya menatap gadis itu terlelap. Dia masih menunggu di sofa. Dia bingung bagaimana caranya supaya Lorena tidak jadi pulang kampung? Kalau dia meminta Sam mengabari kalau kontes akan dimulai lagi, bagaimana dengan pekerjaannya? Dia sangat sibuk beberapa hari ke deapn, dan tidak bisa mendampingi Lorena ikut lomba, kalau gugur bagaimana? Dan kalau diloloskan padahal dia gagal juga pasti Lorena curiga. Kalua dia jujur dia adalah Presdirnya, apalagi beresiko Lorena membencinya.


Diliriknya Gadis yang sudah tertidur itu. Sean beranjak dan mendekati gadis itu. Difikirkannya kembali, mungkin tidak ada salahnya dia ikut pulang kampung ke rumahnya Lorena biar dia bisa mengenal orangtuanya Lorena, bukankah itu lebih bagus? Sepertinya itu ide yang sangat bagus, ikut pulang kampung daripada menahan nahan Lorena pulang kampung bingung harus alasan apalagi?


Sean mengambil selimut lalu diselimutkan ke tubuhnya Lorena. Menatapnya sebentar gadis itu lalu Sean keluar kamar, diapun menelpon Pak Deni.


Beberapa jam kemudian rombongan Pak Deni datang, mereka langsung ke ruang meeting yang ada di tengah-tengah hotel itu. Sebelum ke ruang meeting, mereka melewati ruang tunggu terbuka yang luas, banyak sofa-sofa Disana, mungkin memang disediakan untuk para tamu yang rombongan.


“Pak, kapan Bapak kembali ke ibukota?” tanya Bu Devi, menjajari langkahnya Sean memasuki ruang meeting di hotel itu.


“Aku belum tahu,” jawab Sean.


“Terus bagaimana dengan pekerjaannya Pak? Banyak agenda penting besok, kita tidak mungkin seperti ini berhari-hari, perjalanan sangat jauh,” tanya Bu Devi lagi.


Sean menghentikan langkahnya menatap Bu Devi. Seketarisnya benar, tapi dia tidak mau mengambil resiko kehilangan Lorena. Uang masih bisa dicari, tapi kalau Lorena diambil orang, kemana dia mencari gantinya? Lorena sangat cantik, dia yakin banyak pria yang menyukainya, sangat aneh secantik Lorena ikut kontes.


Sean menoleh pada Pak Deni.


“Pak Deni aku ingin bicara,” ucap Sean, sambil keluar lagi dari ruang meeting, diikuti pak Deni.


“Ada apa Pak?” tanya Pak Deni, menatap Sean.


“Pak Deni dan beberapa karyawan ikuti aku. Pakai mobil yang lebih besar biar kalian bisa bekerja didalam mobil,’ kata Sean.


“Ikuti? Maksudnya?”tanya Pak Deni tidak mengerti.


“Ikuti mobilku, tapi ingat jangan terlalu dekat dan pura-pura tidak mengenaliku,” ucap Sean.


“Maksudnya apa? Kenapa pura-pura tidak mengenali?” tanya Pak Deni.


“Kau turuti saja perintahku, semua pekerjaan penting yang bisa dilakukan di jalan, lakukan saja,” kata Sean, lalu meninggalkan Pak Deni yang kebingungan.


Pak Deni kebingungan, buat apa dia dan karyawan lain mengikuti Presdir Sean dan pura-pura tidak mengenalinya? Tapi kemudian Pak Denipun masuk kedalam ruang meeting itu.


Malam semakin larut, Lorena membuka matanya perlahan, ternyata dia tidur sangat lama, perutnya


terasa lapar, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam.

__ADS_1


Lorena bangun mengedarkan padangan ke seluruh ruangan kamar. Tidak ada Sean disana. Akhirnya Lorena turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar menuju restaurant barangkali masih buka.


Dilihatnya petunjuk arah menuju restaurant ke sebelah kanan, dan arah ruang meeting di sebelah kiri. Dia mengerutkan keningnya, dia jadi penasaran, apa Sean sedang meeting dengan teman-temannya? Kenapa meetingnya lama sekali?


Lorena pun mencari ruang meeting, dia melewati ruang tunggu terbuka yang luas itu, lalu berjalan lurus menuju sebuah ruangan bertuliskan meeting Room. Terlihat pintu tebal yang gelap, jadi orang tidak bisa melihat ke dalam ruangan itu..


Lorena berjalan mendekati ruang meeting itu. Diapun melongokkan kepalanya ke pintu kaca itu. Dilihatnya ruang meeting itu banyak orang-orang asing. Sean sedang menuliskan sesuatu diatas meja, disamping kanan dan kirinya ada dua orang yang berdiri sepertinya satu pria dan satu wanita tapi tidak jelas juga, sekilas mirip wanita yang pernah ke restaurant bersama Sean dan karyawan lainnya, mungkin sekretarisnya Sam. Tapi kenapa Sam tidak ada?.


Lorena melihat wanita itu menunjuk sesuatu di kertas didepan Sean, dan pria itu seperti menulsikan sesutau. Bukan menulis, tapi dia menandatangani sesuatu. Lorena merasa bingung melihatnya.  Apa benar Sean seorang asisten? Kalau melihat ibunya Sean yang kaya raya, tidak mungkin Sean bekerja sebagai asisten. Tapi kalau Sean berbohong, untuk apa?


Lorena memijat kepalanya yang terasa pusing. Kata Sean dia janji bertamu dengan temannya tapi kenapa sebanyak itu dan kebanyakan orang asing. Dan kalau melihat sikap wanita itu yang seperti sekretarisnya, apa sebenarnya Sean itu seorang Presdir? Tapi buat apa dia menjadi asistennya Sam? Lorena menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bingung dengan semua ini. Tapi ah bukankah itu urusannya Sean? Dia tidak boleh ikut campur, mungkin pekerjaan Sean sekarang tidak ada hubungannya dengan Sam.


Sean merasa lelah didalam ruangan.


“Aku mau keluar dulu sebentar, badanku terasa pegal,” ucap Sean sambil beranjak dari duduknya, diapun keluar ruangan. Berdiri megang pinggangya yang terasa pegal karena duduk dari tadi. Dihirupnya udara yang terasa dingin itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang wanita yang duduk di ruang tunggu itu. Dia langsung bisa mengenali kalau itu Lorena. Diapun langsung panik.


Sean segera menghampiri Lorena, jangan sampai Lorena melihat tamu-tamunya.


“Lorena! Kau sedang apa disini? Cuaca sangat dingin!” kata Sean pada Lorena, menatap gadis itu.


Lorena balas menatap Sean yang yang menghampirinya.


“Aku lapar, tadi mau ke restaurant malah tersesat kesini,” jawab Lorena berbohong, sambil berdiri.


“Kau lapar?” tanya Sean.


“Sekarang sudah malam, sepertinya restaurant sudah tutup, di dalam banyak makanan nanti aku bawakan ke kamar ya,” ucap Sean, berbohong. Selama ada tamunya di hotel itu, Lorena lebih aman tinggal di kamar.


“Baiklah, kalau begitu aku ke kamar saja,” kata Lorena.


“Iya, nanti aku antar makanan ke kamar,” ucap Sean.


“Apa kau masih lama?” tanya Lorena.


“Iya,” jawab Sean.


“Jangan terlalu capek, nanti kau sakit,” kata Lorena, Sean merasa senang gadis itu memperhatikannya.


“Iya, terimakasih,” ucapnya sambil tersenyum.


Lorenapun meninggalkan Sean, kembali menuju kamarnya. Pria itu menatapnya sampai menghilang dibalik pintu. Pak Deni yang juga keluar ruangan tampak berdiri memperhatikan dari kejauhan. Jadi ternyata Sean berada di hotel ini dengan seorang gadis? Siapa gadis itu? Apa kata Sam itu benar kalau Sean sedang jatuh cinta? Apa ini ada kaitannya dengan pekerjaan yang ditinggalkan Sean? Banyak pertanyaan yang membuat Pak Deni semakin bingung.


Sean menoleh ke arah ruang meeting, matanya bertemu dengan Pak Deni, tapi pandangannya beralih pada Bu Devi yang juga keluar dari ruang meeting itu.


“Bu devi!” panggilnya. Bu Devi segera menghampiri.


“Pesankan makan malam di restaurant dan kirim ke kamarku,” kata Sean.


“Anda menginap dengan seorang teman?” tanya Bu Devi, menatap Sean.


“Iya, cepat kerjakan,” perintah Sean.


 “Baik,Pak,” jawab Bu Devi tidak banyak bertanya lagi.

__ADS_1


Akhirnya Bu Devi memesankan makanan dan meminta petugas hotel mengirim ke kamarnya Sean.


Lorena menerima makanan itu dan langsung menyantapnya karena lapar, dia melewatkan makan malamnya.


 


************


Keesokan harinya…


Saat Lorena bangun kamar itu terlihat sepi. Apa Sean tidak tidur? Dia sama sekali tidakingat Sean tidur dikamar itu atau tidak, dilihatnya bantal bantal juga bertumpuk rapih disebelahnya. Di sofa juga tidak ada tanda-tanda ada bantal bekas tempat tidur Sean. Akhirnya Lorena masuk ke kamar mandi.


Sean sedang ada di loby bersama Pak Deni dan beberapa karyawan lainnya yang akan membantu Pak Deni. Ada yang berbeda dengan mereka hari ini. Orang-orang itu menggunakan baju bebas. Semalam Bu Devi mengontak sebuah butik untuk mendapatkan baju-baju ganti semua karyawan yang ditunjuk Pak Deni termasuk bajunya sean.


Bu Devi juga membelikan beberapa baju untuk perbekalan Sean di perjalanan, juga alat-alat yang lainnya, karena Sean terbiasa dengan banyak pelayan yang mengelilinginya, jadi Pak Deni sangat protectife menjaganya.


“Jadi ingat, mobil kalian jangan terlalu dekat dengan mobilku, dan juga kalian harus pura-pura tidak kenal denganku, mengerti? Nanti kalau ada urusan pekerjaan kita atur di jalan, apa mau berhenti dulu di rest area atau spbu, kalian atur saja,” kata Sean.


“Baik Pak,” jawab Pak Deni. Meskipun dia bingung, kenapa harus melakukan ini semua?


Sebuah lift di loby itu terbuka. Sean menoleh ke arah lift dan dia terkejut saat Lorena keluar dari lift itu.


“Kalian berpencar, cepat!” seru Sean pada Pak Deni dan karyawan karyawan itu. Meskipun mereka tidak mengerti, mereka mengikuti apa yang Sean suruh. Beberapa orang termasuk Pak Deni pura-pura membaca Koran, duduk di sofa yang berbeda-beda dan ada juga yang membuka hpnya pura pura mengetik dan dan pura-pura sedang menelpon.


Lorena menolah kekanan dan ke kiri, dilihatnya Sean ada di kursi tunggu itu, sedang berdiri menatapnya dan tersenyum. Pria itu terlihat sangat tampan kalau tersenyum. Seharusnya dia tidak sering bertengkar dengan Sean biar selalu melihat senyum manisnya itu.


“Sean!” panggil Lorena sambil menghampiri. Para Karyawan Sean yang pura-pura membaca koran megintip dibalik Koran, yang menelpon melirik keah mereka, yang mengotak atik hape juga begitu, mereka penasaran dengan gadis yang sekarang bersama Sean itu. mereka bertanya tanya siapa gadis cantik yang bersama Sean itu bahkan gadis itu tidak menggunakan kata Pak saat memanggilnya.


“Kau sedang apa disini?” tanya Lorena.


“Aku hanya duduk duduk saja, menunggu kau bangun,” jawab Sean, sambil mendekati Lorena.


“Apa kau sudah sarapan?” tanya Sean.


“Sudah, aku tadi makan makanan semalam karena banyak sekali,” jawab Lorena.


“Apa urusanmu sudah beres? Kita bisa berangak sekarang?” tanya Lorena, kemudian.


“Iya sudah beres, ayo kita chek out,” ucap Sean.


Para karyawan Sean saling lirik, chek out? Berarti mereka satu kamar? Merekapun saling lirik lagi, sepertinya gadis itu memang pacarnya Sean, tapi mereka tidak mengerti kenapa mereka harus berakting begini?


Sean dan Lorena kembali masuk ke lift.


Pak Deni menurunkan korannya juga karyawan yang lain, mereka saling pandang lagi.


“Cepat kalian ke mobil!” perintah Pak Deni, yang segera diikuti karyawan karyawannya itu.


Pak Deni kembali melihat ke lift yang kembali menutup. Dia bertanya tanya apa gadis itu yang membuat Sean jatuh cinta? Pekerjaan yang diperintahkan Sean sekarang terasa sangat berat karena tidak masuk akal.


************


Flat dulu ya readers..jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2