
Malam itu Sean dan Sam pergi ke kampungnya Lorena. Tidak menunggu pagi lagi, Sean ingin besok sudah bisa menemui Laura.
Setelah sempat mampir dulu ke hotel untuk beristirahat, Sean dan Sam pergi menemui Laura di kantornya, dan hari telah siang saat mereka tiba.
Laura tampak terkejut saat mendapat telpon dimejanya dari receptionis kalau ada tamu yang mencarinya dan menunggunya di meja receptonis.
“Siapa?” tanya Laura.
“Pak Sean dan Pak Sam,” jawab Receptionis itu, membuat Laura terkejut.
“Baiklah, tolong untuk langsung ke ruang tunggu di lantai tempat kerjaku,” kata Laura.
Setelah mendapat jawaban dari Laura, receptionis itu menutup telponnya , kembali menatap Sean dan Sam.
“Bapak bisa menunggu di ruang tunggu lantai 7,” kata receptionis.
“Baiklah, kami akan kesana” jawab Sam. Receptionis itu tersenyum manis pada Sam dan Sean.
Kedua pria itu tidak banyak basa basi langsung naik lift ke lantai 7.
Saat memasuki lantai 7, mereka bertanya lagi pada satpam disana,menanyakan ruang tunggu yang disebutkan receptionis itu.
Satpam itu mengantar mereka ke sebuah ruangan dengan dua pintu kaca yang lebar, di dalamnya ada sofa sofa panjang tanpa sandaran berwarna merah cabe.
“Silahkan menunggu disini, saya panggilkan Bu Laura,” kata Satapam.
“Terima kasih,” jawab Sam.
Merekapun duduk di sofa itu sambil melihat ke sekeliling ruangan yang terasa sangat sejuk.
Tidak berapa lama muncul Laura lewat pintu kaca itu.
Laura menatap Sean dan Sam bergantian. Dia terlihat mulai gugup saat matanya bertemu dengan Sean.
“Kau masih ingat padaku?” tanya Sean, yang langsung berdiri saat Laura masuk keruangan itu.
“Iya, duduklah,” jawab Laura. Sean langsung duduk lagi begitu juga dengan Laura.
“Katakan dimana Lorena?” tanya Sean, tidak sabar.
Laura terdiam, menatap Sean.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Sean.
“Lorena tidak mau bertemu denganmu lagi,” jawab Laura, menatap Sean.
“Kenapa?” tanya Sean.
“Kau tahu sendiri jawabannya,” jawab Laura.
“Aku harus bertemu dengannya, aku hanya mau menikah dengannya apapun keadaannya. Aku tidak mau menikah dengan wanita lain. Tolonglah katakan dimana Lorena, apakah dia ke London?” tanya Sean, tidak ada yang ditutup-tutupi lagi.
“Masalahnya Lorena tidak mau bertemu denganmu,” jawab Laura.
“Tapi aku ingin bertemu dengannya, aku sangat mencintainya, apa kau tidak kasihan padaku? Sekian lama aku bersabar menunggu dia membuka hatinya untukku, setelah kami akan menikah kenapa dia harus meninggalkanku? Apa salahku?” tanya Sean.
“Laura!” panggil Sam, membuat Laura menoleh pada Sam. Ditatapnya pria yang ada di selebaran kontes itu, ya dia ingat wajah pria yang diselebaran itu, ternyata dia lebih tampan aslinya, fikir Laura. Seandainya dia tidak akan menikah dengan Anton, seharusnya dia ikut kontes itu supaya bisa mengenal Sam lebih dekat. Dia tidak perlu bersaing dengan Lorena karena Presdir yang aslinya adalah Sean.
“Kau harus kasihan padaku,” kata Sam.
“Padamu? Kenapa?” tanya Laura, terkejut.
“Karena kalau Sean tidak menikah, aku tidak bisa menikah. Tolonglah, aku juga ingin menikah,” jawab Sam, membuat Sean menoleh dan mengernyitkan dahinya, apa hubungannya dia tidak menikah dengan Sam tidak menikah?
__ADS_1
“Kau akan menikah?” tanya Laura dengan kecewa, padahal dari pandanagn pertama dia menyukai pria tampan itu.
Sam mengangguk, membuat Laura kecewa. Kenapa harus ada Anton dalam hidupnya kalau diluar banya pria yang lebih tampan, keluhnya dalam hati.
Sean menatap Laura lagi.
“Aku yakin Lorena juga sebenarya tidak mau meninggalkanku, Lorena pasti sekarang sedang bersedih kan?” ucap Sean.
Laura terdiam.
“Tolonglah, kau tidak mau melihat saudarimu bersedih kan? Aku tidak tega kalau dia harus menikah dengan pria yang tidak dicintainya apalagi dengan kondisinya seperti ini, bagaimana kalau dia mendapatkan pria yang tidak baik?” tanya Sean.
Laura terdiam, benar juga kata Sean. Setidaknya kalau menikah dengan Sean, Lorena mencintai Sean, kalau menikah dengan pria lain bagaimana kalau pria itu menyakiti Lorena karena dia tidak bisa memberi keturunan? Sudah menikah dengan pria tidak di cintai terus disakiti lagi.
“Tapi bagaimana kalau kau harus menikah dengan wanita lain?” tanya Laura.
“Aku tidak mau menikah dengan wanita lain. Dimana orangtuanya Lorena sekarang? Aku ingin bertemu dengan orang tuanya, aku akan melamar Lorena sekarang juga,” kata Sean.
Laura menatap Sean.
“Kau serius akan bertemu dengan orang tua Lorena?” tanya Laura.
“Iya, kalau perlu aku akan menikahinya sekarang juga, aku akan membawanya pulang sebagai istriku,” ucap Sean dengan bersemangat, mencoba meyakinkan Laura.
Gadis itu tersentuh mendengar perkataannya Sean. Dia sangat bangga pada Sean yang mau menikahi Lorena seburuk apapun keadaannya, tidak seperti Anton yang mengulur-ulur waktu pernikahan mereka saja.
“Kau serius akan menikah dengan Lorena sekarang juga?” tanya Laura.
“Katakan, orang tuanya ada dimana?” tanya Sean lagi, dengan tergesa-gesa.
“Mm,” laura tampak berfikir.
“Katakan,” pinta Sean.
“Katakan, tolongah, kau tidak mau kan saudarimu bersedih terus?” Bujuk Sean.
Laura menghela nafas panjang sebentar.
“Orang tuanya Lorena ada di rumah, baru kemarin mereka tiba,” jawab Laura.
“Benarkah?” Sean tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Iya, mereka ada di rumah,” jawab Laura.
“Lorena? Dimana Lorena? Ada juga dirumah?” tanya Sean.
“Sepertinya ada di rumah,” jawab Laura.
“Baiklah, aku akan kesana segera,” ucap Sean, langsung berdiri saja, sambil menoleh pada Sam.
“Sam, apa kau bisa membantuku menyiapkan pernikahanku sekarang?” tanya Sean.
“Apa?” tanya Sam dan Laura terkejut.
“Apa maksudmu?” tanya Sam.
“Kau cari orang yang bisa menikahkanku dengan Lorena sekarang, susul aku kerumahnya Lorena, secepatnya, kau bisa tanyakan pada Laura,” kata Sean.
“Tapi Sean…”Sam kebingungan.
“Kerjakan saja!” perintah Sean. Tanpa bicara lagi dia keluar dar ruangan itu.
“Kau rental mobil saja Sam!” Teriak Sean, dalam sekejap dia sudah menghilang dari ruangan itu.
__ADS_1
Sam dan Laura saling pandang.
“Apa dia selalu seperti itu?” tanya Laura.
“Ya memang seperti itu,” jawab Sam, mengangguk.
“Jadi bagaimana sekarang?” tanya Sam, kemudian.
“Maksudmu mencari orang yang bisa menikahkan mereka secara agama begitu?” tanya Laura.
“Ya mungkin maksudnya Sean seperti itu, resepsi dan administrasinya menyusul. Kau dengarkan dia ingin membawa pulang Lorena sebagai istrinya sekarang juga!” jawab Sam.
“Apa perintahnya harus dilaksanakan sekarang juga?” tanya Laura.
“Tentu saja, kalau tidak aku akan dipecat,” jawab Sam, membuat Laura terkejut.
“Kenapa dia sangat menakutkan?” tanya Laura.
“Ayo makanya katakan padaku, dimana kita bisa mendapatkan orang yang bisa menikahkan mereka? Kita bawa ke rumahnya Lorena, kau bisa ijin kan dari perusahaanmu? Kalau tidak bisa, biar aku yang minta ijin,” kata Sam.
“Memangnya kau siapa seenaknya minta ijin?” tanya Laura.
“Apa kau tidak tahu, pemimpin perusahaan ini pasti mengenal Sean, dia sangat terkenal di kalangan pengusaha,” jawab Sam.
“Kau benar pemimpin perusahannya sangat menganal Sean,” jawab Laura.
“Tuh kau sendiri kan tahu, pasti mengenal Sean,” ucap Sam dengan bangga.
“Tentu saja karena pemimpin perusahaan ini Lorena, perusahaann ini milik ayahnya,” jawab Laura membuat Sam terdiam.
“Apalagi itu, kau pasti akan dinaikkan gajimu kalau bisa menikahkan Lorena dengan Sean. Ayo bantu aku mencari orang yang bisa menikahkan mereka sekarang,” kata Sam, sangat bersemanagt.
Laura pun mengangguk.
Sean mengendarai mobilnya dengan kencang, menuju rumahnya Lorena. Dia mengendarai mobilnya menggunakan GPS, karena dia tidak terlelu hafal jalan di kota ini. Hingga sampailah di depan rumah megah itu.
Pak Satpam menatap Sean, yang mengenalnya karena Sean pernah tinggal di rumah itu beberapa hari.
“Aku ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya pemilik rumah ini,” kata Sean.
Dia tidak mencari Lorena, dia takutnya Kalau menyebut Lorena, satpam akan menagtakan tidak ada.
“Aku ada perlu penting dengan orang tua Lorena. Mereka ada disinikan?” tanya Sean.
“Tunggu sebentar!” ucap Satpam , lalu kembali ke pos menelpon orang tuanya Lorena di dalam rumah. Tidak berapa lama keluarga lagi sambil membuka gerbangnya.
“Mr. & Mrs. Ada di dalam,” jawab satpam itu.
Seanpun membawa masuk mobilnya ke halaman rumah itu lalu parkir tidak jauh dari teras.
Dengan bergegas dia menuju pintu yang terbuka itu, ada Pak Firman disana.
“Pak Fiman, aku ingin bertemu dengan orangtunya Lorena,” kata Sean.
Belum juga Pak Firmna menjawab, ada suara langkah menuruni tangga.
“Ada tamu siapa?” Tanya suara itu.
Sean menoleh kearah tangga dan dia terkejut saat melihat seorang pria muda yang tampan berbadan tinggi gagah yang mungkin seumuran dengannya turun dari tangga itu. Tangga yang bukan untuk kamar-kamar tamu.
Hatinyapun bertanya-tanya siapa pria itu? Bukankah waktu wawancara kalau tidak salah Lorena bilang dia anak tunggal? Seingatnya, dia juga lupa, fikir Sean. Kalau Lorena anak tunggal, siapa pria itu? Jangan-jangan, apakah pria itu kekasihnya Lorena?
**************
__ADS_1
Jangan lupa like & vote