Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-53 Keputusan Valerie


__ADS_3

Valerie berdiri di tengah ruangan itu sambil menunduk, setiap kali melihat wajahnya Ny.Grace rasanya seperti mau dikuliti saja.


“Aku pegang perkataanmu kalau bayi itu bukan bayinya Earlangga,” kata Ny.Grace, sambil bangun dari duduknya.


“Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Earlangga,” lanjut Ny.Grace menghampiri Valerie.


“Tidak Nyonya, aku dan Pak Earlangga tidak ada hubungan apa-apa,” jawab Valerie.


“Aku ingin kau menjaga jarak dari Earlangga sampai bayi itu dilahirkan dan kau bisa pergi dari rumah ini,” kata Ny.Grace, menghentikan langkahnya berdiri di dekat Valerie.


“Iya Nyonya,” jawab Valerie.


Earlangga masih mendengarkan diluar ruangan. Ternyata neneknya memang melarang Valerie dekat dengannya. Diseruputnya lagi minuman ditangannya, kembali merucingkan telinganya.


Valerie mengulurkan tangannya yang memegang amplop pada Ny.Grace dengan gemetar. Ny.Grace menatap amplop itu.


“Maaf Nyonya saya kembalikan pemberian Nyonya, saya tidak bisa menerima ini,” kata Valerie.


Earlangga diluar merasa penasaran dia pun mengintip dibalik lubang kunci, tapi dia tidak bisa melihat apa yang dikembalikan oleh Valerie.


“Apa maksudmu mengembalikan pemberianku? Uang yang aku berikan sudah lebih dari cukup untuk biaya hidupmu,” kata Ny.Grace, dengan wajah yang langsung berubah masam, terlihat sekali dia marah dan tersinggung.


Valerie mencoba bersikap tenang, dan menatap Ny.Grace, meskipun dalam hatinya masih merasa ketar-ketir.


Earlangga terkejut mendengar perkataan neneknya, ternyata neneknya memberikan sejumlah uang buat Valerie. Terdengar lagi suara Valerie diruangan itu.


“Setelah aku melahirkan, aku akan pergi dari rumah ini, karena ini memang bukan bayinya Pak Earlangga. Tapi aku tidak akan pergi sendiri, aku sudah memutuskan kalau aku akan membawa bayiku bersamaku,” jawab Valerie dengan tegas.


“Kau gila!” maki Ny.Grace.


“Kau pergi membawa bayi yang telah kami beri nama keluarga kami!” bentak Nyonya.Grace.


“Maaf Nyonya, terimakasih atas kebaikan keluarga ini, tapi aku sudah memutuskan tetap membawa bayiku keluar dari rumah ini. Aku akan membesarkan bayi ini dengan tanganku sendiri. Aku memang bukan orang kaya, tapi aku masih bisa mencari nafkah dan membiayai bayiku semampuku,” kata Valerie.


“Kau sadar tidak kau bicara apa? Bayi itu tidak berayah, kau akan sulit diterima di masyarakat,” kata Ny.Grace.


“Tidak apa-apa Nyonya, aku akan menjalani hari-hariku sendiri,” jawab Valerie.


Disimpannya amplop itu diatas meja.

__ADS_1


“Aku sudah mengutarakan semua yang ingin aku katakan,” ucap Valerie.


Ny.Grace menatapnya dengan kesal, dia tidak bisa membiarkan keturunan Joris hidup diluar terlantar, meskipun ibunya bisa bekerja, dia bisa mendapatkan kehidupan lebih layak, bayi itu yang akan menjadi penerus kerajaan bisnis keluarga Joris.


Ny.Grace mendekati Valerie.


“Kau fikir aku akan membiarkanmu mempermainkan keluargaku?” bentak Ny,Grace.


“Kalau Nyonya merasa keberatan dengan pernikahanku dengan Pak Earlangga, aku tidak apa-apa kalau memang harus bercerai dengan Pak Earlangga!” kata Valerie.


Ny. Grace semakin kesal saja, dia tidak mungkin mengijinkan Valerie bercerai dengan Earlangga, dia tidak mau kehilangan bayi itu.


“Kau benar-benar main-main denganku!” makinya.


“Maaf Nyonya, aku tidak bermaksud begitu, hanya saja aku mulai menyayangi bayiku, aku tidak akan melepasnya, mohon Nyonya mengerti.  Nyonya janagn khawatir aku akan tetapa bercerai dari Pak Earlangga sekarang atau nanti sama saja, aku tetap akan bersama bayiku,” jawab Valerie.


Kata-kata Valerie benar-benar menusuk jantungnya Ny.Grace. Dia tidak menyangka kalau gadis itu berani membantahnya. Kalau bukan karena dia tahu bayi itu bayinya Earlangga, tidak mau dia mempertahankan gadis miskin itu.


“Baiklah Nyonya, saya permisi!” jawab Valerie, lalu membalikan badannya hendak keluar ruangan.


Earlangga  masih berada dipintu sangat shock mendengar pembicaraan Valerie dan neneknya. Ternyata neneknya menginginkan bayi itu, jangan-jangan neneknya tahu kalau bayi itu adalah bayinya dan neneknya berusaha mengambil bayi itu dari Valerie.


Earlanga tidak menyangka kalau neneknya sudah bergerak cepat  untuk mendapatkan bayi Valerie. Dia jadi salut pada pendiriannya Valerie yang tetap bertahan dengan bayinya meskipun neneknya sudah memberikannya sejumlah uang. Diapun tersenyum.


“Bayiku kau memiliki ibu yang hebat,” batinnya.


Tapi kemudian dia berfikir apa yang harus dilakukannya sekarang? Sepertinya dia tidak mungin mengatakan pada semua orang kalau bayi itu bayinya. Dia takut neneknya bertindak lebih tidak masuk akal dan menekan Valerie, atau mungkin akan menjauhkan Valerie darinya, dan tentu saja meskipun dia belum benar-benar mencintai Valerie tapi dia juga akan merasa khawatir dengan keadaan Valerie dan bayinya jika tinggal terpisah darinya. Terpaksa dia harus merahasiakan semua ini.


Dia juga tidak sanggup kalau ternyata Valerie akan memilih berpisah darinya dan hamil sendirian diluar sana, itu akan membuat Valerie stress dan membahayakan kondisi bayinya. Terpaksa dia memeng harus mencari waktu yang tepat untuk mengatakan ini semua, dia harus bisa meyakinkan kalau semuanya tidak akan ada masalah, terutama selama Valerie mengandung anaknya.


Earlangga segera pergi ke kamarnya. Saat membuka pintu, ternyata Valerie tidak ada diruangan itu. Diapun mencari  tempat walk in closet, ternyta istrinya itu sedang mengeluarkan baju kerjanya.


“Kau mau kemana?” tanya Earlangga.


“Saya mau bekerja,” jawab Valerie.


“Bekerja? Untuk apa? Kau masih sakit,” tanya Earlangga.


“Tidak, saya sudah baikan Pak, saya akan bekerja hari ini,” jawab Valerie.

__ADS_1


Earlangga langsung memegang tangan Valerie yang menurunkan bajunya dari gantungan.


“Kau sedang sakit, kau tidak boleh bekerja, kau harus ingat kau sedang hamil sekarang, kau harus menjaga bayi ki eh bayimu,” jawab Earlangga, hampir saja dia mengatakan bayi kita.


“Tidak Pak, saya jenuh dirumah sendirian,” kata Valerie.


“Kalau begitu aku akan menemanimu,” jawab Earlangga.


“Menemaniku?” tanya Valerie, menatap suaminya itu.


“Iya, aku akan libur hari ini, aku akan menemanimu supaya kau tidak jenuh dirumah sendirian,” kata Earlangga.


“Atau…” Earlangga tampak berfikir.


“Atau apa?” tanya Valerie.


“Bagaimana kalau kita membeli barang-barang buat bayi online saja jadi tidak perlu keluar rumah,” jawab Earlangga.


Valerie menatap Earlangga dengan tanda tanya.


“Pak, bayiku baru 2 bulan, belum butuh barang-barang,” kata Valerie.


“Oh begitu ya,” Earlangga mengerutkan dahinya.


“Kalau begitu kau berbaring saja,pokoknya kau tidak boleh bekerja dulu, kalau kau berhenti bekerja juga aku tidak masalah. Kau jangan khawatir, aku akan memberikan semua kebutuhan yang kau perlukan,” kata Earlangga, menyimpan kembali baju-bajunya Valerie, lalu menarik kedua bahunya dibawanya ke kamar tidur dan menyuruhnya berbaring naik ketempat tidur.


Valerie tampak kebingungan melihatnya, apalagi Earlagga menyusunkan bantal untuk bersandar dan menyelimutinya.


“Aku akan menelpon rumah sakit, meminta ijin supaya kau bisa beristirahat. Sekarang kau meminum susanya, aku sudah membuatkannya untukmu,” ucap Earlangga, sambil pergi kearah meja akan membawakan susu buat Valerie yang sudah dibuatkannya tadi. Tapi sampai meja dia bingung, karena suunuya tinggal sedikit.


Valerie juga melihat kearah meja dan benar susunya tinggal sedikit.


Earlangga mengambil gelas itu.


“Kenapa susunya tinggal sedikit?” gumamnya, diapun tersadar tadi dia meminum susu hamil mendengarkan percakapan Valerie dengan neneknya tadi.


“Bapak meminum susuku lagi?” keluh Valerie.


“Sepertinya gelasnya bocor, biar aku buatkan lagi,” jawab Earlangga lalu bergegas keluar kamar. Valerie hanya memandangnya dengan keheranan.

__ADS_1


************


__ADS_2