Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-56 Obsesi Jeni


__ADS_3

Ny.Grace menatap kedatangan Earlangga dengan kesal, karena tidak suka Earlangga malah membawa-bawa Valerie bersamanya, bahkan sampai bergandengan tangan begitu.


“Pak Earlangga!” seru Brian sambil berdiri menyambut Earlangga.


“Pak Brian!” balas Earlangga sambil bersalaman.


“Senang bertemu denganmu lagi, juga istri anda,” kata Brian sambil melirik pada Valerie.


“Ternyata kalian sudah saling kenal,” kata Ny.Grace.


“Iya,” jawab Brian, sambil duduk diikuti oleh Earlangga dan Valerie.


Valerie hanya menunduk saja, dia tidak berani menatap wajahnya Ny.Grace, hanya pegangan tangannya Earlangga saja yang membuatnya merasa nyaman.


Ny.Grace menoleh pada Earlangga.


“Nenek akan berangkat ke Paris, jadi kau lanjutkan kerjasama perusahaan kita dengan Pak Brian,” kata Ny.Grace, sama sekali tidak menyapa Valerie.


Sikap Ny.Grace itu tidak luput dari perhatian Brian, dia bisa menebak Ny.Grace tidak menyukai Valerie, tentu saja siapa yang tidak menyayangkan pria sekaya Earlangga hanya menikah dengan perawat pribadinya.


“Baik Nek, kerja samanya apa saja?” tanya Earlangga.


Ny,Grace menjelaskan panjang leba tentang kerjasama peruhasaan keluarga Joris dengan perusahaannya Brian. Earlangga tampak serius menanggapi sedangkan Brian hanya mengangguk -angguk tanda setuju.


Valerie melihat keatas meja itu ada tiga gelas berisi minuman, sedangkan yang di meja itu ada Ny.Grace dan Pak Brian, siapa pemilik gelas satunya lagi?


“Maaf aku lama,” terdengar sebuah suara perempuan dibelakangnya Earlangga dan Valerie.


“Sayang, duduklah, Pak Earlangga sudah tiba,” kata Brian menatap wanita yang berdiri dibelakang Earlangga.


“Maaf, tadi urusannya agak lama,” ucap suara perempuan itu, dan bergerak menuju kursi disamping Brian dan Earlangga.


Valerie dan Ealrangga menoleh pada wanita yang baru duduk itu, mereka terkejut ternyata wanita itu Jeni.


Jeni tersenyum pada Earlangga dan langsung sinis saja melihat Valerie.


“Pak Earlangga, karena saya memilki banyak proyek lain, jadi untuk proyek ini saya wakilkan  pada putri saya, Jeni. Putri saya penanggung jawab operasional proyek ini,” kata Brian, sambil menepuk bahu Jeni.


Jeni tersenyum senang melihat siapa rekan kerja ayahnya itu.


Earlangga tampak terkejut, dia tidak suka bekerjasama dengan gadis- gadis yang egresif.


“Karena saya masih baru dalam bisnis, pasti akan banyak hal yang harus saya pelajari. Saya harap Pak Earlangga mau membantu saya,” ucap Jeni.


Meskipun tidak suka, tapi karena ini mandat dari neneknya, Earlangga tepat harus bersikap profesional pada pekerjaannya.

__ADS_1


“Kau bisa banyak-banyak bertanya pada asistenku, karena aku sendiri belum begitu mengenal dunia bisnis disini,” jawab Earlangga, membuat Jeni sebal. Maksudnya dia ingin lebih sering berkomunikasi dengan Earlangga, malah disuruh bertanya pada asistennya, sangat menyebalkan, batinnya.


Ny.Grace menoleh pada Brian.


“Earlangga memegang perusaahaan di London. Jadi memang banyak hal yang berbeda dalam dunia bisnis, tiap negara memiliki aturan bisnis sendiri -sendiri,” kata Ny.Grace , meluruskan.


Jeni semakin takjub saja, ternyata pria ini benar-benar tajir bukan saja didalam negeri tapi juga diluar negeri, pantas saja mobil-mobilnya sangat keren. Tapi kenapa malah perawat itu yang menikah dengannya, umpatnya dalam hati. Apalagi melihat Earlangga yang memegang terus tangannya Valerie diatas meja, semakin membuatnya ilfeel saja.


Perbincanganpun berlanjut membahas bisnis yang begitu kaku dan membosankan. Valerie hanya mendengarkan saja karena dia memang tidak terlibat dalam bisnis ini, dia hanya diminta Earlangga untuk selalu bersamanya, sesekali suaminya itu menoleh dan tersenyum padanya, dia faham betul kalau wanita yang disampingnya merasa jenuh.


“Baiklah, aku harus segera berangkat ke paris,” kata Ny.Grace, mengakhiri pertemuan kali ini.


“Baik Nyonya, semoga kerjasama kita bisa berlanjut,” ucap Brian sambil berdiri diikuti yang lainnya, merekapun beranjak keluar dari restaurant itu.


Ny.Grace menoleh pada Earlangga, dia sudah langsung kesal saja melihatnya, karena cucunya itu selalu membantah keinginannya, sama dengan menantunya yang selalu berselisih faham dengannya.


“Kau ingat pesan nenek,” ucap Ny. Garce, matanya melirik sekilas pada tangan kirinya Earlangga yang sedari datang sampai sekarang selalu memegang tangan gadis itu terus menerus.


“Salam buat ayah dan ibu,” kata Earlangga.


Ny.Grace tidak menjawab, diapun beranjak meninggalkan tempat itu menuju mobilnya.


Earlangga menoleh pada Brian.


“Pak Brian, aku juga permisi,” kata Earlangga.


Jeni juga langsung mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, yang terpaksa Earlangga menyalaminya juga.


“Senang kita bisa bekerjasa sama, saya harap Pak Earlangga tidak keberatan kalau saya banyak berkonsultasi,” ucap Jeni.


Earlangga hanya mengangguk saja. Tanpa ada yang menyapa Valerie, Earlangga mengajak Valerie meninggalkan tempat itu.


Wajah Jeni semakin ditekuk saja.


“Ayah lihat! Dia itu hanya seorang perawat kakekku, mendapatkan pria setajir itu! Benar-benar membuatku malu!” ucap Jeni.


Brian malah tertawa mendengar keluhannya Jeni.


“Sepertinya Ny.Grace tidak menyukai perawat itu,” kata Brian, membuat Jeni menoleh.


“Apa benar begitu?” tanya Jeni langsung saja merasa berbunga bunga.


“Tentu saja, Ny. Grace pasti berharap cucunya menikah dengan gadis yang sepadan,” kata Brian.


“Perawat itu menjebak Earlangga, dia pura-pura hamil, ayah. Jadi Earlangga menikahinya,” kata Jeni membuat Brian terkejut dan menatap putrinya.

__ADS_1


“Apa benar begitu?” tanya Brian.


“Iya, perawat itu baru keluar dari rumah masa tiba-tiab dikabarkan hamil dan menikah dengan Earlangga,” jawab Jeni.


“Ternyata dia cerdik juga,” ujar Brian.


“Bukan cerdik, tapi licik. Kasihankan Earlangga jadi kena getahnya, entah siapa yang menghamili perawat itu. Dia tidak mungkin hamil oleh Earlangga, ayah tahu sendirikan kata Ny.Grace tadi kalau Earlangga baru pindah ke negeri ini,” kata Jeni.


“Benar,” Brian mengangguk-angguk.


“Bukankah aku lebih pantas bersanding dengannya, yah?” tanya Jeni sambil menatap mobil Earlangga yang sudah menghilang dibelokan.


Brian menoleh pada putrinya tanpa bicara apa-apa, membuat Jeni menoleh.


“Apa ayah tidak suka kalau aku yang menjadi istri Earlangga?” tanya Jeni.


“Tentu saja ayah senang, siapa yang tidak mau bermenantukan dia? Cuma masalahnya…” Brian tidak melanjutkan bicaranya.


“Masalahnya apa?” tanya Jeni.


“Masalahnya, pria itu tidak tertarik padamu,” jawab Brian, membuat Jeni jengkel.


“Itu semua gara-gara ayah yang tidak memberiiku uang banyak, ayah sangat pelit pada ibu dan hanya menghambur-hamburkan uang pada wanita-wanita itu. Aku juga butuh uang untuk mempercantik diri!” umpat Jeni.


 Brian malah tertawa.


“Itu karena aku tidak mencintai ibumu. Asal kau tahu, ibumu menikah dengan ayah hanya karena ibumu dan keluarganya membutuhkan uang ayah. Kakekmu jatuh miskin dan mendekam dipenjara, kau faham sekarang?” ucap Brian.


“Ya ya aku tahu itukan masalalu, tapi sekarang  ayah harus mendukungku menjadi lebih cantik, aku ingin pria itu melirikku,” jawab Jeni sambil tersenyum. Bahagianya kalau dia bisa menikah dengan pria tampan yang membawa mobil sport mewah itu.


“Kalau itu menguntungkan tidak masalah,” kata Brian.


“Tentu saja menguntungkan, kita akan menjadi bagian keluarga Joris yang kaya raya,” kata Jeni dengan semangat.


“Tapi ingat, aku tidak mau uangku keluar percuma hanya karena kau tidak becus mendapatkan pria itu,” kata Brian.


“Ayah benar-benar meragukan putrimu ini,” keluh Jeni.


“Kau akan kemana sekarang?” tanya Brian.


“Aku akan menemui ibu, sudah lama aku tidak pulang,” jawab Jeni.


Brian tidak bicara lagi, dia beranjak meninggalkan Jeni yang masih berdiri sendirian.


Jeni teringat lagi bagaimana Earlangga memperlakukan Valerie, hatinya semakin sebal saja. Diapun buru-buru turun dari tangga restaurant itu menuju mobilnya, akan menemui ibunya yang sejak mencari ayah kandungnya tidak pernah dia lihat lagi.

__ADS_1


***********


__ADS_2