Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-106 Kembali ke rumah


__ADS_3

Earlangga membawa Valerie kembali ke rumah. Lorena terkejut saat melihat Valerie datang dengan menggendong seorang bayi.


Lorena menatap Valerie, lalu pada Earlangga.


“Ini bayi kami,” ucap Valerie tanpa menunggu Lorena bertanya.


Mata lorena langsung saja berkaca-kaca. Siapa yang tidak sedih mengira bayi itu sudah meninggal ternyata masih hidup.


“Bolehkah aku menggendongnya?” tanya Lorena.


Valerie memberikan Aldric pada Lorena yang langsung menggendongnya.


“Sayang kau sangat tampan, dia mirip Earl bukan?” ucap Lorena, mengusap pipi bayi yang tertidur pulas itu seakan tidak ada yang bisa membangunkannya.


“Ada banyak baju Jordan di koper kan? Kau bisa menggunakannya buat Aldric, baju itu tidak


ada yang memakainya,” ucap Lorena.


“Iya Bu, aku membawanya dari London untuk mengobati rinduku pada Jordan,” ucap Valerie mengangguk.


Lorena kembali menatap bayi dalam gendongannya.


“Sayang, kasihan sekali kau,” ucap Lorena sambil mencium bayi itu yang sekarang sudah tertidur.


Lorena memberikan bayi itu pada Valerie yang langsung pergi ke kamarnya bersama Earlangga.


Lorena menatap Sean yang berdiri melihat putra dan menantunya naik eatas.


“Sayang apa semua baik-baik saja?” tanya Lorena.


“Iya sayang, semua baik-baik saa,” jawab Sean, kini menatap istrinya.


“Aku bisa mengerti perasaannya Earlangga saat Valerie pergi meninggalkan rumah ini, karena aku juga pernah merasakannya,” kata Sean.


“Semua itu tidak akan terjadi lagi, kita akan selalu bersama selamanya,” ucap Lorena.


Sean langsung memeluk Lorena dengan erat.


“Aku berharap ibu bisa menerima Valerie. Kau tahu kan karakter ibu sangat keras,” ucap Lorena menyandarkan kepalanya didada suaminya.


“Aku yakin ibu pasti menyesal telah melakukan semua ini,” kata Sean.


Lorena tidak menjawab, dia masih memeluk Sean dengan erat.


Saat berjalan dilorong lantai atas, Valerie menoleh kearah kamarnya Ny.Grace.


Earlanggapun menatapnya.


“Kau ingin


bertemu Nenek?” tanya Earlangga.


“Iya,” jawab Valerie.


“Ayo kita temui Nenek,” ajak Earlangga. Merekapun menuju kamarnya Ny.Grace.


Earlangga membuka kamar itu dengan pelan, dia mengira Neneknya sudah tidur, ternyata tidak. Ny.Grace berbaring ditempat tidur dengan mata yang sembab. Dia menoleh kearah pintu saat mendengar suara pintu ada yang membukanya.


Dia terkejut saat melihat Earlangga dengan Valerie yang menggendong seorang bayi.


Ny. Grace berusaha bangun, Earlangga segera menghampiri dam membantunya duduk.


Ny.Grace menatap Valerue yang berdiri menatapnya dengan menggendong bayinya.


“Ng..h..ng..h..” Ny. Grace berusaha bicara, diapun langsung menangis.


Earlangga memeluk Neneknya, dia merasa tidak tega melihat Neneknya terus menangis seperti itu.


Valerie berjalan mendekati Ny.Grace.


“Aldric sudah ditemukan Nyonya, semoga kau senang dan cepat sembuh. Aldric baik-baik saja dan sangat sehat,” ucap Valerie sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ng..h..ng..h..” Ny. Grace kembali menangis, dia menatap Valerie lalu menoleh  pada Earlangga dengan susah payah.


Valerie duduk dipinggir tempat tidur dan menatap Ny.Grace.


“Apa Nyonya ingin melihat Aldric? Aku tahu Nyonya menyayangi bayiku, Nyonya pasti kangen kan?” ucap Valerie sambil mendekatkan bayinya.


Ny.Grace melihat bayi yang sedang tidur itu, dia kembali menangis, sungguh dia sangat menyesal, sangat menyesal, sebaik-baiknya dia akan mengurus Aldric tidak akan lebih baik dibandingkan diurus oleh orangtua kandungnya.


“Ada yang ingin aku katakan pada Nyonya,” ucap Valerie.


Semuanya diam termasuk Earlangga, dia ingin tahu apa yang akan Valerie katakan pada Neneknya.


“Aku tidak ingin berpisah lagi dengan cucumu dan bayiku,” ucapnya denga mata yang berkaca-kaca.


“Tolong maafkan aku, aku mencintai suami dan bayiku, aku harap Nyonya tidak akan memisahkan kami lagi,” ucap Valerie, butiran airmata kini menetes dipipinya.


Mendengar ucapannya Valerie, hati Ny.Grace semakin merasa bersalah yang amat sangat. Selama ini dia selalu bersikap egois pada anak cucu dan menantunya. Seakan hanya dialah yang benar dirumah ini.


Ny.Grace terus saja menangis. Earlangga memeluk Neneknya.


“Kami semua sayang Nenek,” ucap Earlangga lalu mencium pipi Neneknya.


Seandainya dia bisa bicara dia ingin meminta maaf pada Earlangga dan Valerie. Dia harap dia bisa sembuh supaya bisa mengatakan itu semua.


“Sekarang sudah malam, Aldric sudah ditemukan, Nenek tidur yang nyenyak,” kata Earlangga. Mengusap-usap bahu Neneknya, lalu membantu Neneknya berbaring kembali.


Tidak berapa lama merekapun keluar dari kamarnya Ny. Grace, dan menuju kamar mereka.


“Kau membawa baju-bajunya Jordan?” tanya Earlangga.


“Iya, masih ada dalam koper, sekarang baju itu bisa dipakai oleh Aldric,” jawab Valerie sambil membaringkan Aldric ditempat tidur.


Diambilnya koper yang berisi penuh baju-baju bayi itu lalu mengambil selimut bayi untuk dipakaikan pada Aldric.


Dilihatnya Suaminya sedang berbaring disamping bayi mereka.


Earlangga merasa lega hatinya, ternyata bayinya masih hidup dan sekarang sudah berkumpul lagi dengannya dan istrinya.


“Dia mirip denganku kan? Semua orang mengatakan itu,” tanya Earlangga.


Valerie mengangguk dan tersenyum.


“Tanpa tes DNApun sudah jelas terlihat dia bayiku,” ucap Aerlangga lalu mencium bayi itu.


Valerie mengangguk, kembali membetulkan selimut bayinya saat Aldric begerak-gerak.


Tiba-tiba Earlangga bangun dan pindah duduknya dibelakang Valerie, lalu memeluknya.


“Aku mencintaimu,” ucapnya sambil mencium pipinya Valerie.


Valeriepun menoleh menatap wajah disampingnya.


“Aku juga,” jawabnya, sambil terseyum, dan senyuman itu mendapat sebuah ciuman dari Earlangga.


“Kenapa kau tidak jujur padaku tentang semua ini?” tanya Earlangga.


“Aku sangat ingin bertemu dengan Al, maaf. Aku khawatie dengan keadaannya,” jawab Valerie, kembali menoleh pada Al.


“Ya aku mengerti. Aku tidak bisa membanyangkan kalau kau jadi menikah dengan Darren,” ucap Earlangga, membuat Valerie kembali menoleh kearahnya.


“Aku sangat cemburu,” ucapnya lagi sambil menempelkan kepalanya pada kepalanya Valerie.


Valerie memegang tangan Earlangga yang memeluk tubuhnya, memasukkan jari- jarinya diantara jari suaminya.


Tidak ada lagi yang mereka ucapkan, hanya menatap bayi mereka sepuas -puasnya.  Hari-hari kemarin yang telah lewat seakan harus ditebus dengan  menatap sepuasnya sekarang.


******


Di kantor polisi…


Nisa dan Jeni berjongkok di luar jeruji besi di kantor polisi setelah penangkapan Darren di rumahnya. Mereka menatap Darren terdudukdi lantai dipinggir jeruji besi itu dengan kaki dan tangannya yang diperban.

__ADS_1


“Darren, kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya Nisa sambil terisak, merasa sedih melihat kondisi Darren yang dipenjara dengan dua bekas tembakan ditubuhnya.


Darren menoleh pada Jeni.


“Ini semua gara-gara kamu, kau kan yang mengatakan pada Earlangga kalau Valerei ada bersamaku?” maki Darren.


“Iya, maaf soalnya Earlangga akan  mematahkan tanganku, kau lihat? Tanganku biru, tadi sudah diperiksa oleh Dokter dan diberi obat,” kata Jeni.


“Kau harus cepat keluar dari penjara, kalau tidak, bagaimana nanti nasib ibu? Tidak ada yang memberi Ibu uang,” ucap Nisa.


“Yang ibu fikirin uang terus,” keluh Darren.


“Tentu saja karena uang itu penting,” ucap Nisa.


Sedang mereka bercakap-cakap ternyata ada  seorang lagi yang datang menjenguk. Seorang pria berdiri menatap mereka.


Darren menatap orang yang datang itu, begitu juga Nisa dan Jeni.


“Brian!” panggil Nisa sambil bangun dan menatap Brian.


Brian tidak menghiraukan Nisa, dia menghampiri Darren.


“Jangan harap ayah mau mengeluarkanmu dari penjara!” kata Brian.


“Kalian ini memang tukang bikin onar," hardik Brian


Nisa menoleh pada Brian dan langsung memakinya.


“Kau bilang bikin onar? Kau yang bikin onar! Kau pria yang tidak bertanggung jawab. kau hanya mencari kesenangan sendiri saja!” maki Nisa.


“Kenapa kau protes? Aku laki-laki, punaya uang, punya jabatan, bebas untuk melakukan apa saja, enak saja kau mengatur-ngaturku!” Brian tidak terima dimaki Nisa.


“Kau  saja ibu yang tidak bisa mengurus anak!Kerjamu cuma shoping minta uang uang saja! “maki Brian.


“Enak saja kau menyalahkanku! Kau yang tidak bertanggung jawab pada anak, kau main perempuan terus seumur hidupmu!” balas Nisa.


“Ah diam kau!” bentak Brian.


Darren menatap orang tuanya yang bertengkar, dia sama sekali tidak peduli dengan kedua orang itu. Dia sudah bosan melihat keduanya bertengkar setiap bertemu.


Dirasakannya sakit bekas tembak itu. Dia kecewa sudah kehilangan Valerie. Kenapa dia harus jatuh cinta padanya? Yang hanya membuatnya masuk penjara seperti ini.


Jeni menatap kedua orang tuanya yang malah bertengkar dikantor polisi, membuatnya sedih dan kecewa, diapun beranjak meninggalkan kantor polisi itu.


“Hei-hei, stop! Kalian jangan bertengkar! Ini kantor polisi!” teriak seorang polisi masuk keruangan itu.Brian dan Nisapun terdiam.


Brian kesal pada Nisa yang di anggapnya tidak becas mengurus anak, sedangkan Nisa menyalahkan Brian karena sudah menelantarkan keluarganya.


“Kau nikmati saja hari- harimu dipenjara, aku tidak mau menyewa pengacara mahal untuk mengeluarkanmu.  Bisnisku sedang berantakan gara-gara menikah dengan Ibumu,” ucap Brian.


Nisa yang kembali disalahkan tidak mau terima.


“Enak saja selalu aku yang disalahkan!” makinya.


“Memang iya kalau kau tidak ada masalah dengan keluarga Joris tidak akan seperti ini!” maki Brian.


“Stop, stop, stop! Kenapa kalian bertengkar lagi? Sebaiknya kalian pulang dan selesaikan masalah rumahtangga kalian di rumah saja!” kata polisi dengan kesal.


“Kami sudah bercerai!” kata Brian.


“Belum!” jawab Nisa, membuat Polisi itu bingung.


“Kalian keluar saja! Waktu besuk kalian sudah habis!” kata Pak polisi itu, mengusir Nisa dan Brian supaya pergi dari ruangan itu.


“Atau kalian ingin bertengkar didalam penjara? Sel sebelah masih kosong!” ujar Polisi itu lagi, membuat Nisa dan Brian segera beranjak meninggalkan ruanga itu tanpa bicara lagi pada Darren.


Darren hanya menatap kepergian kedua orang tuanya, dia sudah terbiasa tidak ada yang benar-benar memperhatikannya.


********


 

__ADS_1


 


__ADS_2