
Valerie pulang dengan lesu, dia bingung, dia merasa malu, orang-orang sudah mengetahui kehamilannya.
“Kau kenapa? Tumben pulang lebih capat? Kau juga tidak membawa tempat makannya lagi?” tanya Bu Asni kaget dengan kepulangannya Valerie.
“Maaf Bu aku tidak sempat merapihkan tempat makannya, masih ada disana, tadi saat aku pulang Pak Earlangga belum makan,” jawab Valerie, sambil duduk di kursi dengan lesu.
“Kenapa kau sudah pulang kalau Pak Earlangga belum makan?” tanya Bu Asni, tidak mengerti.
“Aku tadi pingsan Bu, sekarang Pak Earlangga tahu kalau aku sedang hamil,” jawab Valerie membuat Bu Asni terkejut.
“Kau pingsan dan Pak Earlangga tahu kau sedang hamil?” tanya Bu Asni.
Valerie mengangguk.
“Kepalaku sangat pusing, aku juga sangat mual Bu, aku muntah-muntah disana,” ucap Valerie.
“Seharusnya kau memang istirahat, kau juga stress jadi tubuhmu drop. Awal-awal kehamilan itu sangat berat,” kata Bu Asni, menatap wajah Valerie yang sangat pucat.
“Apa kau sudah makan?” tanya Bu Asni.
“Aku tidak selera makan Bu,” jawab Valerie.
“Aku harus makan, bayimu juga harus makan,” kata Bu Asni.
Yang dijawab tetesan airmata oleh Valerie. Bu Asni bisa melihat bagaimana Stress dan tertekannya Valerie dengan keadaan ini.
“Aku tidak mau makan,” ucap Valerie, menghapus airmatanya.
Bu Asni terdiam hanya menatapnya, dia juga tidak tahu bagaimana cara mengurangi bebannya Valerie.
Valerie menatap Bu Asni yang duduk didepannya.
“Tadi aku bertemu Darren, aku ingin tahu kira-kira siapa yang telah menodaiku,” kata Valerie.
“Darren?” tanya Bu Asni.
“Iya, dia yang membawaku ke club, anak majikanku yang dulu, dia yang menyebabkan semau ini terjadi,” jawab Valerie.
“Terus? Dia memberitahu siapa pria itu?” tanya Bu Asni, sangat antusias.
“Tidak Bu, katanya aku diberikan pada 2-3 orang bule, dia juga tidak tahu pasti siapa diantara orang itu yang menodaiku,” jawab Valerie, airmata itu kembali menganak sungai dipipinya. Bu Asni semakin tidak tega melihatnya.
“Kalau pria itu orang bule, pasti dia tinggal diluar negeri kan? Darren juga tidak mengenal mereka, jadi aku tidak tahu dimana bule itu berada, itu artinya aku akan mempertahankan kehamilanku seorang diri,” kata Valerie, diapun mulai sesenggukan menangis.
Bu Asni segera pindah duduknya disamping Valerie dan memeluknya membiarkan gadis itu menangis dipelukannya.
“Aku harus menggugurkan bayi ini Bu, aku harus, aku tidak menginginkan bayi ini,” ucap Valerie.
“Tapi bayi itu berhak hidup sayang,” kata Bu Asni.
__ADS_1
“Aku tidak mau bayi ini menderita Bu, dia akan tumbuh dicemooh orang banyak karena tidak punya ayah,” ujar Valerie.
Bu Asni tidak menjawab lagi, dia juga bingung, tangannya mengusap-usap punggung Valerie.
Earlangga tidak focus dengan pekerjaannya, dia masih bingung dan tidak menduga kalau Valerie hamil, di penasaran siapa yang menghamili Valerie. Dia fikir Valerie gadis lugu yang polos ternyata bisa hamil juga diluar nikah, benar-benar tidak bisa dipercaya.
Earlanga tidak tahu kalau kabar kehamilan Valerie sudah menyebar kemana-mana termasuk ke orang-orang penting yang berhubungan dengan perusahaannya.
Sore harinya saat pulang, Earlangga tidak buru-buru mandi, dia pergi ke balkon kamarnya menghirup udara diluar dengan gelisah. Di saat dia berdiri disana sambil memegang pagar, matanya melihat kearah komplek rumah pekerjanya, terutama ke rumahnya Bu Asni, ada bayangan seseorang yang duduk di dekat jendela rumah itu.
Earlangga segera masuk ke kamarnya dan mengambil teropongnya untuk melihat sosok dibalik jendela rumahnya Bu Asni itu. Ternyata Valerie sedang duduk di dekat jendela itu dan menyandarkan kepalanya di jendela itu.
Earlangga menghela nafas panjang, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia tidak etis mengorek-ngorek siapa yang menghamili Valerie, paling dia hanya memutuskan apakah akan mempekerjakannya lagi atau tidak.
Hingga tiba saatnya makan malam, Earlangga tidak juga turun untuk makan malam, dia maih merenung berbaring di dalam kamarnya. Fikirannya masih seputar Valerie, dia tidak menyangka gadis itu bisa hamil diluar nikah.
Valerie sedang ada diruang makan menunggu Earlangga turun tapi majikannya itu belum turun juga.
“Pak Earlangga kenapa belum turun ya Bu?” tanya Valerie.
“Coba kau lihat kesana barangkali dia sakit,” jawab Bu Asni.
Valerie segera menuju kmarnya Earlangga. Diketuknya pintu itu beberapa kali
“Masuk!” kata Earlangga
Valerie membuka pintu kamar Earlangga, pria itu hanya sedang berbaring saja, dan tidak bergerak saat dia datang.
“Aku hanya sedang lelah saja, kau simpan saja obatnya di meja makan, nanti aku turun,” kata Earlangga.
Valerie terdiam, dia bingung, kenapa sikap Earlangga sekarang terasa berbeda, apa karena kondisi dia?
“Pak!” panggil Valerie.
“Ya,” jawab Earlangga tanpa menoleh.
“Sepertinya saya harus berhenti bekerja,” kata Valerie.
Earlangga tidak menjawab, seakan sudah bisa menebak arah perkataannya Valerie.
“Saya tidak bisa tiap hari datang ke kantor mengantar makan siang,” ucap Valerie.
Earlangga terdiam sejenak lalu bicara.
“Tidak perlu berhenti, kau bekerja saja seperti biasa, aku tidak akan ikut campur urusan pribadimu,” ucap Earlangga.
Valerie terdiam, dia bingung karena dia pasti akan jadi cemoohan orang, dia tidak sanggup bertemu dengan orang-orang yang akan memvonisnya hamil diluar nikah.
“Tapi saya malu Pak, saya tidak mau sampai dicemooh orang Pak, jadi saya akan mengundurkan diri saja,” kata Valerie.
__ADS_1
“Kau bekerja dimanapun hasilnya akan sama, jadi tidak perlu berhenti,” ujar Earlangga.
Valerie kembali terdiam, benar juga kata Pak Earlangga, dia mau bekerja dimanapun akan dicemooh hamil diluar nikah, perutnya tidak akan bisa terus ditutupi.
Tiba-tiba Earlangga bangun dan duduk menatap Valerie.
“Kecuali kau menikah dan ikut tinggal bersama suamimu, mungkin kau tidak perlu bekerja lagi disini,” lanjut Earlangga.
Dikatakan begitu, Valerie terdiam. Menikah? Menikah dengan siapa? Siapa pria yang mau menikahi gadis yang sedang hamil oleh orang lain.
“Baiklah Pak, saya tidak akan berhenti Pak,” jawab Valerie akhirnya mengurungkan niatnya berhenti bekerja.
“Memangnya kau tidak ingin ikut suamimu?” tanya Earlangga, menatap Valerie tidak mengerti.
“Mm tidak Pak,” jawab Valerie, membuat Earlangga diam, tetap saja dia tidak berhak ikut campur urusan pribadi Valerie, itu haknya Valerie mau menikah dengan pacarnya atau tidak.
“Kalau begitu saya permisi Pak, obatnya saya simpan di meja makan,” kata Valerie.
“Iya” jawab Earlangga, kembali berbaring dan memejamkan matanya.
Dia merasa kecewa ternyata Valerie mempunyai pacar yang menghamilinya sekarang. Tapi dia heran kenapa Valerie tidak memilih ikut dengan pacarnya? Memangnya dia tidak akan menikah meskipun sudah hamil? Sangat membingungkan.
Terdengar suara pintu ditutup oleh Valerie.
********
Keesokan harinya…
Pagi ini Earlangga sudah bersiap-siap akan berangkat bekerja. Saat keluar dari kamarnya dia mendengar suara ribut-ribut diruang bawah. Dia keheranan biasanya dirumah ini begitu sepi karena orang tua dan neneknya berada diluar negeri. Tapi saat dia menuruni tangga, dia mendengar suara tangisan sesenggukan seorang wanita, diapun mengerutkan keningnya, itu seperti suara ibunya.
Earlangga menuruni tangga dengan cepat. Diruang keluaga sudah ada ibunya, ayahnya juga neneknya. Entah dari kapan mereka tiba, mungkin baru tiba, karena Earlangga melihat para pelayan membawakan koper koper masuk.
Dilihatnya ibunya duduk sambil menghapus airmatanya. Ayahnya duduk dengan wajah tegang bersandar ke sandaran sofa, sedangkan neneknya duduk didepan dengan kaki menopang kaki sebelahnya, wajahnya sangat ketus, terlihat sedang marah.
Mendengar suara langkah kaki turun dari tangga, semua mata menoleh kearah Earlangga.
“Sayang!” panggil Lorena, dia langsung menghampiri putranya dan memeluknya.
Earlangga agak terkejut melihat orang tua dan neneknya pulang tanpa memberi kabar dan sepagi ini sudah ada dirumah. Tapi melihat mata ibunya yang memerah dia merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Duduklah kami mau bicara,” terdengar suara Ny. Grace berbicara.
Earlangga menoleh pada ibunya.
“Sayang ayo duduk,” kata Lorena, tangannya mengusap punggung putranya.
Earlanggapun duduk bersama ibunya. Semua mata menatapnya, apalagi Ny. Grace menatapnya dengan tatapan yang tajam.
*************
__ADS_1
Jangan lupa like di tiap bab ya. Hari ini aku upload beberapa bab.