
Sam berlari menuju barisannya Sean, dia langsung berjalan di depan sean dan saat menoleh kesampingnya ternyata disebelahnya ada indri.
“Pak Presdir!” seru Indri dan wajahnya langsung sumringah berseri-seri. Lorena yang melihat wajah Indri berubah cerah jadi mencibir, katanya dia cintanya pada Asisten Sean, dideketin Presdir Sam langsung saja sumringah.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Indri pada Sam.
“Baik,” jawab Sam sambil tersenyum. Melihat Sam yang tersenyum padanya membuat Indri merasa berbunga-bunga.
Sean juga memperhatikan di belakangnya.
“Kau lihat kelakuan temanmu itu?” gerutu Sean bicara pelan pada Lorena.
“Kenapa? Kau cemburu?” tanya Lorena, melirik Sean.
“Buat apa aku cemburu?” gerutu Sean.
Tiba-tiba Salsa berteriak.
“Aduh!” teriak Salsa, dia terjatuh terperosok ke parit.
“Kau kenapa?” tanya yang lain, grup merekapun menghentikan langkahnya.
“Aduh kakiku,” keluh Salsa. Teman-temannya segera membantunya naik dari parit kecil itu, lalu mendudukkanya disebuah batu.
“Kau baik-baik saja?” tanya Sam, mendekati Salsa yang meringis kesakitan.
“Dia baik-baik saja Presdir, cuma terkliir sedikit,” ucap Indri. Lorena melirik pada Indri yang langsung berbisik padanya.
“Itu sih pura-pura, nyari perhatian!” kata Indri, mencibir.
“Coba aku lihat,” ujar Sam, sambil berjongkok.
“Yang mana yang sakit?” tanya Sam sambil memegang kakinya Salsa.
“Eh ehm!” yang lain pada berdehem.
“Yang ini Presdir,” ucap Salsa menunjuk kakinya.
Indri tambah sebal saja melihatnya begitu juga yang lain, melihat Presdir Samuel memegang kaki Salsa,membuat mereka cemburu.
“Sementara kita tunggu Salsa baikan, kita rehat dulu ya, lomba sekarang kan dinilai per grup, jadi tidak bisa pergi sendiri-sendiri,” kata Sam.
“Baik Presdir,” jawab ke 6 peserta itu.
Akhirnya sambil menunggu Sam memeriksa kaki Salsa yang lain duduk-duduk menunggu. Beberapa grup yang ada dibelakang mereka sudah melewati mereka.
“Huu! Huu!” Teriak mereka sambil membalikkan jempol tangannya.
“Huuu!“ Teriak grupnya Lorena sambil mencibir. Sebagian ada yang kesal gara-gara Salsa terkilir jadi grup mereka dilewati grup yang lain.
Angin bertiup terasa lebih kencang.
“Untung bukan aku yang terkilir,” gumam Lorena sambil melihat Sam yang memijat kaki Salsa.
Sean yang berdiri tidak jauh dari Lorena menoleh pada gadis itu.
“Kalau sampai aku tidak bisa berjalan, siapa yang akan menggendongku?” gumam Lorena.
“Aku yang akan menggendongmu,” jawab Sean spontan, membuat Lorena menoleh.
“Kau mau menggendongku?” tanya Lorena.
“Iya, aku kan panitia, jadi aku pasti akan menggendongmu,” jawab Sean. Membuat Lorena tertawa.
“Tapi kan aku tidak terkilir, yang terkilir Salsa, kau akan menggendongnya?” tanya Lorena.
“Apa?” Sean menoleh pada Salsa.
“Tuh Salsa tidak bisa berjalan, kakinya sakit,” jawab Lorena.
“Ah tidak, tidak! Aku panitia spesialis menjaga kesehatan dan keselamatanmu, bukan peserta yang lain,” kata Sean. Membuat Lorena tertawa.
“Mana ada panitia seperti itu, namanya itu tidak adil,” kata Lorena.
“Ah biarkan saja, Sam saja yang menggendongnya!” Seru Sean.
“Dia kan Presdir, masa presdir yang menggendongnya?” ucap Lorena. Ternyata benar saja, Sam menghampiri Sean, menarik tangannya menjauh dari Lorena.
“Ada apa?’ tanya Sean.
“Kaki Salsa terkilir, dia tidak bisa berjalan, kau gendong dia” kata Sam.
“Ih! Apaan, enak saja aku harus menggendongnya,” gerutu Sean.
“Kau kan panitia!” kata Sam.
“Kau juga panitia, kau saja yang menggendongnya,” tolak Sean.
“Aku kan Presdirnya, masa Presdir menggendong peserta?” jawab Sam.
__ADS_1
“Aku yang Presdir, kau lupa?” kata Sean.
“Kau Presdir?” tiba-tiba ada suara yang mengagetkan mereka berdua. Mereka menoleh kearah suara, ternyata Lorena berdiri dibelakang Sean.
“Apa maksudmu kau Presdirnya?” tanya Lorena menatap Sean. Membuat pria itu pucat pasi.
“Mm maksudku, Sam Presdirnya, tidak apa-apa Presdir juga yang menggendong peserta,” ucap Sean, hatinya langsung cemas saja khawatir Lorena mendengar perkataannya.
“Ooh, Salsa sudah bisa jalan ko, dibantu yang lain, kita akan lanjut lagi,” kata Lorena.
“Ya ya itu bagus,” ucap Sean, menatap Lorena yang menatapnya penuh selidik lalu menoleh pada Sam yang terdiam.
“Ayo, ayo kita lanjutkan!” teriak Indri, yang menjadi ketua grup itu.
Sean mengusap keningnya yang berkeringat, dia melirik pada Sam yang diam saja. Dia belum sanggup mengatakan kalau Presdirnya adalah dirinya dan kontes ini untuk mencari calon istri untuknya, bukan Sam.
Jangankan untuk jujur mengatakan dirinya Presdir yang sebenarnya, bilang aku cinta padamu saja bibirnya terasa kelu. Sean tidak mau semua berakhir buruk. Dia ingin kontes berakhir dengan kebahagiaan, setelah itu menikah dengan Lorena dan mempunyai bayi, barulah dia mendapatkan seluruh warisan dari kakeknya, meskipun warisan itu tidak terlalu penting baginya, dia hanya ingin menemukan pendamping hidupnya, cinta sejatinya.
Merekapun berjalan beringingan. Lorena terdiam, apa dia tadi salah dengar ya, Sean mengatakan dia Presdirnya? Maksudnya apa?
“Anginnya terlalu kencang, apa kau kedinginan?” tanya Sean pada Lorena.
“Tidak, aku tidak apa-apa,” jawab Lorena.
“Kita dapat bendera 1!” seru Indri, dia mencabut sebuah bendera kecil yang ditancapkan dipohon.
“Tuh di belokan jalan sana ada bendera lagi!” teriak Evi.
“Benar, ayo ikuti alur bendera itu!” seru Indri, merekapun berjalan menuju bendera yang tertancap di pohon rumput dibelokan jalan.
“Kita akan melewati jalan mana?” tanya Sean pada Sam.
“Kata Panitia sih lewat perumahan,” jawab Sam.
“Kata Panitia? Memangnya kau tidak tahu?” tanya Sean.
“Tidak, aku kan tidak mengurusi sedetil itu,” jawab Sam.
“Kita ikuti cahaya lilin!” teriak Indri. Merekapun berjalan mengikuti cahaya-cahaya lilin itu.
“Sudah berapa bendara?” tanya Lorena pada Evi yang memegang bendera.
“5!” jawab Evi.
Mereka terus melanjutkan perjalanannya sampai cukup lama tidak ada cahaya lilin yang mereka temukan.
Indripun menghentikan langkahnya begitu juga dengan yang lain.
“Kenapa?” tanya Sam.
“Kita tidak menemukan lilinnya Presdir,” jawab Indri. Merekapun melihat kesekitar jalan itu dan memang benar tidak ada cahaya lilin.
“Presdir bagaimana ini?” tanya Indri.
Sam melihat kesekitar daerah itu yang sepi. Dilihatnya dikejauhan ada cahaya kecil.
“Nah itu cahaya lilinnya!” tunjuk Sam.
Semua mata melihat pada sebuah cahaya dikejauhan yang dekat pepohonan.
“Jauh amat nyimpen lilinnya,” gerutu Evi.
“Ayo kita kesana!” ajak Indri, merekapun berjalan menuju arah lilin dikejauhan itu. Kini mereka melewati jalan yang panjang dengan kanan-kiri tanah kosong. Suasana terlihat terang benderang oleh cahaya bulan.
“Cahaya bulan itu menerangi jalan,sangat terang,” kata Lorena pada Sean. Pria itu sepanjang jalan tidak jauh darinya, berada disampingnya terus.
“Bukan bulan yang membuat terang,” kata Sean.
“Apa?” Tanya Lorena, keheranan.
“Aura kecantikanmu yang membuat terang,” jawab Sean, membuat Lorena langsung tertawa.
“Apa maksudmu kau sedang merayuku?” tanya Lorena, menatap Sean dengan senyum tersungging di bibirnya.
“Aku tidak pandai merayu,” jawab Sean.
Membuat Lorena tertawa lagi, pria sekaku Sean, ternyata berusaha banget merayunya.
Mereka berhenti di dua jalan yang bercabang, mereka pun menghentikan jalannya.
“Kita ke jalan yang mana? Ternyata itu bukan cahaya lilin tapi lampu taman,” kata IndrI. Sam tampak kebingungan.
Sedangkan Sean tidak terlalu peduli mau tidak sampai-sampai juga ketempat finish tidak masalah baginya asal selalu bersama Lorena. Dia cuek-cuek saja saat semua merasa resah.
Sam berjalan mendekati Sean.
“Sean! Sepertinya kita tersesat!” kata Sam.
“Biar saja, tidak apa-apa,” jawan Sean, membuat Sam melongo, Lorena menatapnya.
__ADS_1
“Kenapa tidak apa-apa tersesat?” tanya Lorena.
“Ya tidak apa-apa, jadi kita masih berduaan,” jawab Sean. Lagi-lagi Lorena tertawa.
“Darimana berduaan, kita berdelapanan,” jawabnya.
“Oh iya berdelapanan,” ralat Sean, membuat Lorena tertawa lagi.
Sam menatap atasanyanya itu dengan sebal, kenapa grup ini tersesat bosnya malah merasa senang?
Sam menarik tangannya menjauh dari peserta.
“Kita tersesat!” kata Sam.
“Iya tahu, ya biar saja tidak apa-apa,” jawab Sean.
“Kau ini bagaimana? Kalau tersesat kita tidak bisa pulang,” kata Sam.
“Ya asal dengan Lorena, tidak masalah,” ucap Sean.
“Kau benar-benar mabuk!” gerutu Sam, lalu meninggalkan Sean. Dia mendekati Indri.
“Kau dikasih tahu tidak sama panitia rutenya kemana?” tanya Sam.
“Hanya bilang lewat perumahan,” jawab Indri.
“Iya panitia itu juga bilangnya begitu,” ucap Sam, dia mengedarkan pandangannya.
“Nah itu sepertinya perumahan, ayo lewat jalan sana!” seru Sam.
Mereka pun memilih jalur kanan, tapi baru juga mereka mendekati lokasi rumah-rumah yang sepi itu, tiba-tiba tendengar gonggongan banyak anjing. Para pesertapun menjerit panic, berburu mencari perlindungan, sebagian langsung memeluk Sam.
“Pak Presdir!Pak Presdir!” teriak mereka, memeluk Sam dengan erat,sampai Sam sesak nafas mendapat pelukan begitu banyak. Mereka takut ada anjing liar yang akan menggigit mereka.
Sebagian berbalik akan memeluk Sean karena Sam sudah penuh dengan pelukan, tapi Sean langsung membentak mereka.
“Jangan! Jangan memelukku! Pergi! Jangan dekat-dekat!” teriak Sean, mengedepankan kedua tangannya ke arah peserta yang akan memeluknya. Membuat para peserta terkejut dengan reaksinya.
“Hanya Lorena yang boleh memelukku!” teriak Sean.
“Huuu!” gerutu peserta, merekapun berbalik berburu pada Sam yang mendapat pelukan banyak dari peserta lain, mereka bertumpuk memeluk Sam.
Lorena melangkah maju, akan mendekati Sam, tapi langkahnya terhenti karena tangannya dipegang oleh Sean.
“Kau mau kemana?” tanya Sean.
“Aku mau berlindung pada Presdir Sam,” jawab Lorena.
“Jangan, kau berlindung padaku saja,” larang Sean, membuat Lorena memicingkan matanya.
“Bukankah kau tadi melarang peserta berlindung padamu?” tanya Lorena.
“Hanya kau yang boleh berlindung padaku,” jawab Sean, membuat Lorena tertawa, merasa lucu dengan sikapnya Sean.
“Apa yang kalian lakukan?” Tanya Sam pada gadis gadis yang memeluknya itu, membuatnya sesak nafas.
“Takut anjing Pak Presdir!” jawab Evi.
“Benar pak Presdir, takut anjing!” seru yang lainnya, sambil terus memeluk Sam.
“Takut anjing?” Tanya Sam.
“Iya Pak Presdir, takut anjing,” jawab para peserta bersamaan.
“Aku juga takut anjing!” jawab Sam.
“Apa?” Teriak peserta bersamaan.
Terdengar lagi suara gonggongan anjing yang ramai.
“Aaaaa!” jerit peserta, merekapun melepas pelukannya Sam dan berlari menyerbu Sean akan memeluk pria itu.
“Jangan! Jangan memelukku! Awas awas! cuma Lorena saja yang boleh memelukku! Kalian tidak boleh memelukku!” teriak Sean.
Tangan Sean langsung menarik Lorena kedekatnya dan memeluknya erat dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sibuk menepis-nepis tangan peserta yang akan memeluknya, membuat para peserta mencibir.
“Huuu!” cibir mereka, tidak jadi memeluk Sean.
Sam langsung memberengut karena para peserta tidak lagi memeluknya.
Tiba-tiba terdengar lagi gonggongan anjing yang ramai.
“Gog gog gog gog!” suara anjing itu begitu ramai.
“Aaa!” para peserta kembali menjerit dan berlari bersembunyi dibelakang punggung Sean begitu juga dengan Sam berlindung bersama peserta yang lain dibelakang Sean, yang sedang memeluk Lorena dengan kedua tangannya.
Lorena menatap pria yang memeluknya itu, begitu juga dengan Sean. Ternyata benar, ini pelukan pria bertopeng itu dan sekarang pria bertopeng itu tidak memakai topengnya lagi, dia adalah Sean, Sean yang dikenalnya, Asisten Sean.
**************
__ADS_1