
Setelah pengacara-pengacara itu membacakan kekayaan yang dimiliki oleh Earlangga, merekapun meninggalkan ruang kerja nya Ny. Grace. Tinggal Earlangga dan kedua orang tuanya dan neneknya.
“Sayang, kau dengarkan begitu banyaknya kekayaan keluarga kita yang ada di pundakmu,” kata Ny. Grace menatap cucunya itu.
“Iya Nek!” jawab Earlangga.
“Jadi kau harus bekerja dengan baik, jangan main-main yang tidak jelas,” lanjut Ny. Grace.
“Bu, Earlangga di London juga memegang salah satu perusahaannya ayah,” kata Lorena.
“Tapi di keluarga ini dia pewaris tunggal, tidak perlu berbagi seperti di London karena ada keluarga dari pamannya,” ucap Ny. Grace.
“Earlangga juga memiliki kekayaan dari keluarga ayahnya di Perancis,” kata Lorena, dia merasa tidak enak Ny. Grace memojokkan putranya terus. Keluarganya di London juga kaya raya tapi tidak pernah menekan Earlangga seperti yang Ny. Grace lakukan pada putranya.
“Ya ya aku juga tahu kalian juga keluarga yang kaya raya,” ucap Ny. Grace.
“Bukan begitu Bu, maksudku Earlangga juga sudah banyak beban di pundaknya, biar dia menjalaninya dengan normal saja,” kata Lorena.
“Tidak Bisa, yang harus difikirkan adalah orang-orang kecil yang bergantung pada perusahaan-perusahaan yang kita miliki, itu yang penting, kalau Earlangga tidak menjalankan perusahaan dengan baik bisa bisa akan bangkrut dan itu artinya akan banyak orang yang kena dampaknya. Jadi mulai sekarang stop bermain-main lagi, sudah bukan waktunya berleha-leha,” kata Ny. Grace.
Lorena kembali diam, memang sudah bicara dengan mertuanya yang segala galanya harus sesuai dengan pemikirannya saja.
“Dan ingat satu hal, “ ucap Ny. Grace, menatap Earlangga.
“Apa?” tanya Earlangga.
“Tentang gadis yang akan kau nikahi nanti,” ucap Ny. Grace, membuat Lorena dan Sean juga menatapnya.
“Kau tidak boleh sembarangan memilih gadis. Dari awal nenek sudah menekankan, yang menjadi istrimu harus dari keluarga yang terpandang, apalagi kau punya keturuan Bangsawan Perancis, malu kalau kau sembarangan mendapatkan gadis,” kata Ny. Grace.
“Bu, biarkan Earlangga memilih gadis yang dicintainya,” ucap Lorena.
“Benar Bu,” sahut Sean.
“Tidak bisa, dulu aku bisa berfikir begitu pada Sean, karena aku membutuhkan persyaratan untuk warisannya Sean, tapi tidak sekarang. Semua kekayaan sudah jatuh pada Sean dan Earlangga, jadi sekarang Earlangga harus bisa mendapatkan gadis yang sesuai dengan status keluarga kita,” kata Ny. Grace.
Mendengar perkataan dari mertuanya Lorena kembali diam.
“Kau dengarkan kata nenek?” tanya Ny. Grace.
“Iya Nek,” jawab Earlanagga.
“Carilah istri yang cantik dan dari keluarga kaya, karena kau memang pantas mendapatkannya. Percaya pada nenek, banyak gadis gadis dari keluarga terpandnag pasti mau menikah denganmu, jadi jangan memilih sembarangan, kau mengerti kan?” tanya Ny. Grace lagi.
“Iya Nek,” jawab Earlangga, dia tidak terlalu ambil pusing dengan ketentuan dari neneknya, karena dia juga memang belum menemukan gadis yang benar-benar di cintainya.
“Bagus!” jawab Ny. Grace, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
Sean menoleh pada Earlangga.
“Sayang, kau akan mulai bekerja kapan? Kau masih akan jalan-jalan dengan teman temanmu?” tanya Sean.
“Iya, tapi tidak ada salahnya aku melihat kantor ayah sambil mengajak teman-temanku, mungkin suatu saat aku bisa bekerja berbisnis dengan mereka. Josh dan Nick juga memegang perusahaan ayahnya di London,” jawab Earlangga.
“Baguslah, kalau begitu, bagaimana kalau besok saja kita ke kantor ayah, sepertinya kau dan temanmu sangat lelah, tapi semua baik-baik saja, kan? Tidak ada kejadian apa-apa semalam?” tanya Sean, menatap putranya.
“Iya yah ada orang-orang yang mengganggu kami dan mobilku dirampas,” jawab Earlangga.
“Sudah tidak apa-apa, kau bisa membeli mobil lagi,” jawab Sean, sambil menepuk bahunya Earlangga.
__ADS_1
Pria itupun beranjak dan menatap istrinya.
“Sayang, aku berangkat bekerja dulu,” kata Sean sambil mencium Lorena, lalu menoleh pada Earlangga dan kembali menepuk bahunya, lalu diapun keluar dari ruangan itu.
Kini Lorena menatap Earlangga lekat-lekat. Melihat tatapan ibunya, Earlangga sudah mulai risih, dan Lorena bisa melihat itu.
“Apa terjadi sesuatu tadi malam?” tanya Lorena.
“Tidak Bu, tidak ada apa-apa,” jawab Earlangga.
“Kau serius?” tanya Lorena lagi.
“Iya hanya ada orang-orang yang mengganggu kami karena temanku bule semua mereka tahu kami pendatang,” jawab Earlangga.
“Baiklah kalau begitu, kalau kau butuh teman bicara, kau bisa bicara dengan ibu. Tunggu, kau belum bertemu paman Sam bukan?” kata Lorena.
“Paman Sam siapa?” tanya Earlangga.
“Paman Sam dulu asisten ayahmu tapi sekarang sudah memiliki perusahaan sendiri, dia juga punya anak laki-laki tidak beda jauh usianya denganmu, namanya Romi, nanti ibu perkenalkan dengannya. Kalau teman-temanmu pulang ke London, kau bisa berteman dengan Romi, dia anak yang baik,” kata Lorena.
“Baik Bu,” jawab Earlangga.
“Aku akan menemui teman-temanku dulu,” lanjut Earlangga, sambil keluar dari ruangan itu. Lorena hanya menatap kepergian putranya, dia bisa tahu ada yang disembunyikan putranya.
Earlangga mencari teman-temannya yang ternyata sedang main tenis meja di belakang rumahnya.
“Setelah kita mabuk kemarin, kita harus mengeluarkan racun racun dalam tubuh kita!” kata Nick, sambil memukul bolanya.
“Kalian melihat gadis yang bersamaku tidak?” tanya Earlangga.
“Tidak,” jawab Nick.
“Sepertinya begitu,” jawab Earlangga.
“Ko begitu?” tanya Nick, menghentikan permainannya.
“Karena gadis yang bersamaku tidak ada dikamar, aku juga tidak tahu wajahnya seperti apa, aku mabuk dan tidak mengenali wajahnya,” kata Earlangga.
“Aneh sekali wanita itu pergi tanpa menunggu bayaranmu, atau mungkin dia mencuri uang dan ponsel atau arlojimu terus kabur?” ucap Josh, dia juga menghentikan permainannya, melap wajahnya dengan handuk kecil sambil menghampiri Earlangga.
“Tidak, semua barang-barangku ada padaku,” kata Earlangga.
“Sungguh aneh,” gumam Nick, sambil mengambil minuman dibotol yang ada di atas meja di taman itu.
“Jadi wanita itu bukan wanita penghibur?” tanya Josh.
“Sepertinya bukan. Aku harus mencarinya,” jawab Earlangga, membuat Nick dan Josh tertawa.
“Buat apa mencarinya? Yang lalu biarkan berlalu, mungkin dia juga sudah biasa tidur dengan siapa saja, kau jangan terbawa perasaan, jangan bermain api dengan wanita seperti itu mereka lama-lama akan memeras kita,” kata Nick.
“Dia masih gadis Nick, aku telah menodainya, aku merasa bersalah,” kata Earlangga dengan jujur.
Kedua temannya menatapnya.
“Kau serius?” tanya mereka.
“Iya, itu yang aku fikirkan sekarang. Aku takut aku telah memaksa seseorang yang masih suci, aku takut saat aku mabuk aku menyakitinya, aku merasa bersalah,” jawab Earlangga.
Nick dan Josh terdiam.
__ADS_1
“Bisa jadi dia gadis baik-baik, karena uangmu masih utuh,” kata Josh diangguki Nick.
“Aku sudah menghancurkan masa depan gadis itu. Kasihan dia,” ucap Earlangga.
“Tapi kita tidak tahu siapa gadis itu dan memangnya kalau kau menemukannya kau akan menikahinya?” tanya Josh.
“Aku juga tidak tahu hanya saja aku ingin minta maaf telah menyakitinya,” ucap Earlangga.
“Sudahlah Earl, jangan terbawa perasaan. Mungkin semua tidak seperti yang kau bayangkan,” kata Nick, yang diangguki Josh.
“Lupakan saja, karena gadis itu juga meninggalkanmu, itu artinya gadis itu tidak mau ada masalah lebih lanjut,” ucap Josh.
Erlanggapun diam, apa memang dia harus melupakannya? Dia hanya ingin memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.
“Sayang!” terdengar suara Lorena memanggil Earlangga.
“Ya Bu!” sahut Earlangga.
“Romi datang!” kata Lorena.
“Romi?” tanya Earlangga, menatap ibunya yang muncul di pintu.
“Kebetulan Romi membawa makanan dari ibunya buat ibu. Ibunya punya restaurant,” jawab Lorena smabil menoleh pada seseorang yang ada dibelakangnya.
“Hai!” sapa seorang pria muda bertubuh tinggi tegap. Dia tersenyum saat melihat Earlanggadan kedua temannya.
“Aku Romi, kau pasti Earlangga kan? Ayahku sering membicarakanmu,” kata Romi, sambil mengulurkan tangan pada Earlangga juga Josh dan Nick.
“Kakak! Ayo berangkat! “ terdengar suara seorang gadis dari dalam rumah.
“Sebentar!” jawab Romi.
“Itu adikku Nella, dia masih kuliah sekarang sedang ujian akhir, aku akan mengantarnya kuliah,” kata Romi pada Earlangga.
Lorena menoleh pada Earlangga.
“Sayang kalau kau tidak ada acara, kau ikut saja dengan Romi, supaya kau mengenal wilayah ibu kota,” ujar Lorena pada Earlangga.
“Ayo kalau mau ikut,” ajak Romi.
“Ibu benar,” jawab Earlangga lalu menoleh pada kedua temannya.
“Kalian mau ikut?” tanya Earlangga.
“Tapi kami harus mandi dulu!” jawab Josh.
“Tidak apa-apa, aku tunggu sebentar, jadwal kuliah adikku masih satu jam lagi, Cuma dia memang begitu suka cerewet,” kata Romi.
“Baiklah, kalian tunggu ya!” Josh dan Nick langsung berlari kedalam rumah.
Earlangga menoleh pada Romi.
“Kau pasti sangat mengenal ibukota ini,” ucap Earlangga.
“Tentu saja, aku lahir dan besar disini, kalau kau butuh bantuanku kau bisa mengandalkanku,” jawab Romi sambil tersenyum.
Lorena senang melihat Romi dan Earlangga cepat akrab, dia berharap putranya akan betah tinggal disini.
**********
__ADS_1
Readers karena novel ini pembacanya sedikit, author minta tolong like di tiap bab ya, karena author mengusahakan up dua bab tiap hari.