Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-112 Sebuah Petunjuk


__ADS_3

Matahari sudah mulai meninggi, Lorena menatap wajah tampan yang ada dalam gendongannya.  Dia menjemur putranya supaya mendapatkan nutrisi dari sinar matahari. Sebenarnya seharusnya dia istirahat saja, tapi karena dia


tidak mau merepotkan Bu Yati, Lorena memilih mengurus sendiri putranya.


Dia merasa tidak nyaman sudah menumpang tinggal, numpang makan, merepotkan dengan bayinya lagi. Bu Yati juga bukan orang berada, mereka hidup serba pas-pasan dengan bekerja menjadi buruh tani di kebun karet, dan mengambil rumput untuk ternak tetangga


Saat ini Lorena sama sekali tidak memiliki uang, satu-satunya yang dimilikinya dalah cincin pernikahannya dari Sean, dia tidak mungkin menjual cincin itu. Entah nanti kalau terpaksa dia harus menjualnya.


“Sayang, sudah terlalu siang sekarang, ayo kita kembali kerumah,” ucapnya pada Baby Earl sambil berjalan perlahan menuju rumahnya Bu Yati.


Terbersit dalam fikirannya untuk pergi ke London bagaimanapun caranya, tapi kehadirannya dengan kondisi seperti ini pasti akan membuat orangtuanya khawatir, dan  akan menyalahkan Sean karena dianggap tidak bisa menjaga dirinya.


Lagi pula untuk saat ini dia tidak bisa pergi kemana-mana, dia masih dalam pemulihan kesehatan habis melahirkan. Mungkin kalau dia sudah mulai pulih dia baru memikirkan apa yang harus dilakukannya kemudian. Yang pasti dia belum bisa kembali menemui Sean sebelum urusan warisan dari kakek Sean beres. Lorena yakin semua yang terjadi padanya berkaitan dengan warisan Sean, dan dia tidak mau Baby Earl terancam keselamatannya.


Lorena terus berjalan perlahan menuju rumah Bu Yati. Meskipun dia masih merasakan sakit setelah melahirkan, tapi rasa sakit itu berubah bahagia disaat melihat wajah lucunya Baby Earl.


************


Masih di halaman parkir LP…


Sean dan Sam masih duduk bersandar di mobilnya Sean, saat sebuah mobil datang lalu parkir disamping mobilnya Sean. Dua orang pria berstelan jas keluar dari mobil itu. Salah satunya membawa sebuah koper, dia keluar dari mobilnya dan sempat menoleh pada Sean dan Sam.


“Aku sangat menghawartirkan mereka, Sam. Beberapa hari lagi Lorena akan melahirkan! Aku sangat cemas,” ucap Sean, kini menunduk dengan sedih.


“Kau bersabarlah, aku yakin Lorena akan ditemukan dalam keadaan selamat begitu juga bayinya,” ucap Sam.


Pria yang membawa koper itu menutup pintu mobilnya, dia sempat mendengarkan percakapan Sean dan Sam.


Setelah itu dua orang itu meninggalkan halaman parkir dan memasuki kantor LP.


“Kami akan mengunjungi napi bernama Tedi,” kata pria dengan stelan jasnya, disampingnya berdiri temannya yang juga mengagunakan stelan jas dengan membawa koper itu.


“Mana identitas kalian?” tanya Polisi yang bertugas di penerimaan tamu untuk napi..


“Kami pengacara,” jawab pria itu sambil mengeluarkan identitasnya juga yang membawa koper itu.

__ADS_1


Setelah mengecek identitas dan hal lain yang diperlukan untuk jadwal kunjungan, Petugas kepolisian memperbolehkan mereka bertemu dengan Pak Tedi.


“Ada apa? Bukankah pekerjaan kami sudah selesai, kami akan segera menghilang,” kata pria berjas itu yang ternyata si pengemudi  yang menculik Lorena.


“Ada yang ingin aku tanyakan,” kata Pak Tedi.


“Apa?” tanya si pengemudi.


“Dimana kalian membuang mayat wanita itu?” tanya Pak Tedi.


Ditanya begitu membuat dua orang itu terkejut, karena sebenarnya mereka membiarkan Lorena di kebun karet itu.


“Kau tidak perlu tahu dimana kami membuangnya,” kata si Pengemudi itu, temannya hanya diam saja mendengarkan.


“Aku harus tahu!” kata Pak Tedi.


“Tidak ada perjanjian kami haru memberitahukan dimana mayatnya, kami hanya mengeksekusi, setelah itu kita tidak ada urusan apa-apa lagi,” kata si pengemudi itu.


“Kalian akan mendapatkan uang lagi jika kalian mau memberitahuku,” kata Pak Tedi.


“Bukankah kalian bekerja professional? Seharusnya tidak ada sidik jadi disana,” kata Pak Tedi.


“Kami tidak bisa memberitahunya. Kami akan pergi ke luar negeri sekarang,” kata si Pengemudi lagi.


“Kalian benar-benar tidak bisa mengatakan dimana kalian membuang mayat itu?” tanya Pak Tedi.


“Kau fikir kami bodoh? Itu namanya bunuh diri! Dalam pekerjaan kami, kami tidak perlu menginformasikan hal itu yang penting kami sudah melenyapkannya, beres,” kata si Pengemudi itu tampak kesal.


Pak Tedi akhirnya diam, dia kesal tidak bisa mendapatkan informasi yang sebenarnya bisa menguntungkannya untuk mendapatkan uang dari Sean. Seharusnya dia tidak perlu menyuruh orang itu melenyapkan Lorena, cukup dia tawan saja sampai pembacaan warisan tapi tentunya itu akan beresiko segera ketahuan karena pembacaan warisan itu beberapa bulan lagi. Sean akan memilki banyak waktu untuk mencari Lorena, tapi kalau langsung melenyapkan kehadiran bayi itu, bisa dipastikan Sean tidak akan mendapatkan warisan itu.


Akhirnya dua orang itu mengakhiri pembicaraannya.


“Urusan kita selesai! Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi,” kata si Pengemudi, sambil berdiri diikuti temannya yang membawa koper.


Pak Tedi tidak bicara lagi, dia tidak bisa memaksa kalau kesepakatannya hanya sampai eksekusi saja, atau dia akan mendapat masalah dari dua orang pembunuh bayaran itu.

__ADS_1


Saat mereka ke parkiran, ternyata Sean dan Sam masih ada disana.


Di halaman parkir itu ada beberapa pria yang sedang menyebarkan selebaran brosur kendaraan bermotor, mereka membagi-bagikannya pada orang yang lewat di parkiran itu termausk si Pengemudi dan temannya.


Si Pengemudi menggeleng, sedangkan temannya menerimanya, Sales itu juga memberikan selebaran pada Sean dan Sam yang menerimanya dan membacanya sekilas.


Si pembawa koper itu tampak mengeluarkan ballpoint dari sakunya menulis seuatu dibalik brosur itu sambil berjalan. Saat melewati mobilnya Sean, tangannya menyelipkan brosur itu dikaca depan mobil Sean. Karena Sean dan Sam duduk disamping mobil membelakangani jadi mereka tidak tahu gerakan yang dilakukan si pembawa koper itu. Tidak berapa lama mobil yang ditumpangi dua orang itu melaju meninggalkan halaman parkir.


“Ayo kita pulang sekarang,” ajak Sam, yang diangguki Sean.


“Kau mau ke kantor atau ke rumah?” tanya Sam.


”Ke kantor saja, aku juga ingin bicara dengan Pak Deni,” jawab Sean.


“Baiklah, ayo,” ajak Sam, sambil membalikkan badannya masuk ke dalam  mobil dan duduk dibelakang stir. Sean berjalan memutar melewati depan mobilnya , kakinya berhenti melangkah saat melihat brosur sales itu menempel di kaca mobilnya.


“Padahal tadi sudah dibagikan kenapa dipasang disini juga?” keluh Sean, sambil mengambil selebaran kertas putih itu.


Sean meremas brosur itu lalu dilemparnya ke sebuah tong sampah yang ada dipinggiran trotoar halaman parkir. Tapi ternyata lemparannya tidak jitu, kertas itu malah menggelinding kesamping tong sampah, terpaksa Sean berjalan menuju tong sampah kembali mengambil brosur itu.


Saat akan kembali membuang brosur itu, matanya tertuju pada oret-oret di belakang brosur. Sangat aneh sales itu membagikan brosur bekas, padahal yang tadi dia terima brosur baru. Dengan iseng dibukanya brosur itu dan matanya terbelalak saat melihat tulisan besar di belakang brosur itu.


 “Istrimu ada di perkebunan karet.” Sean langsung shock saja saat membacanya. Tangannya langsung  gemetaran, dia melihat ke sekeling halaman parkir itu yang tampak banyak mobil dan motor berseliweran.


”Siapa yang menulis kertas ini?” Dia keheranan. Apakah tulisan itu ditujukan padanya?


“Sean! Ada apa? Ayo!” teriak Sam sambil membuka kaca mobilnya.


Sean masih mengedarkan pandangannya menebak-nebak siapa kira-kira yang menulis di brosur itu, apakah sales? Tidak mungkin sales yang rata-rata masih remaja.


“Sean!” panggil Sam lagi, dia heran melihat Sean malah seperti mencari seseorang.


Sean kembali membaca tulisan dikertas itu. Apakah ini serius? Istrinya ada di perkebunan karet?


**************

__ADS_1


__ADS_2