Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-82 Rencana Tinggal di London


__ADS_3

Ny.Grace berjalan mendekati Earlangga.


“Sayang, kenapa kau ngotot harus ke London?” tanya Ny.Grace, menatap cucunya.


“Karena Nenek sudah bersikap keterlaluan pada istriku, bagaimana kalau terjadi hal yang tidak-tidak pada bayiku? Istriku hampir saja keguguran,” kata Earlangga dengan ketus.


“Nenek juga tidak tahu kalau pria itu akan senekat itu, yang penting kan bayi itu baik-baik saja,” ujar Ny.Grace.


“Valerie harus bedrest baru bisa diketahui baik-baik saja, harus menunggu beberapa hari lagi,” kata Earlangga


“Apalagi begitu, kau tidak bisa membawanya ke London , bagaimana kalau terjadi apa-apa diperjalanan? Seperti guncangan pesawat atau sejenisnya atau udara yang tidak cocok di London? Kau juga kan alergi tinggal disini, apalagi dia? Dia juga pasti belum pernah keluar negeri,” kata Ny.Grace.


Earlangga terdiam mendengar perkataan Neneknya. Ada benarnya juga, dia tidak bisa membawa Valerie sekarang ke London karena kesehatan Valerie yang tidak memungkinkan.


Lorena menatap Earlangga.


“Sayang, Ibu juga tidak menyukai apa yang dilakukan Nenekmu pada Vakerie, tapi apa yang dikatakan Nenekmu ada benarnya juga, kau tidak bisa menjawab Valerie pergi jauh. Utamakan keselamatan Valerie dan bayinya,” kata Lorena.


Earlangga tampak berfikir.


“Baiklah aku akan tinggal disini sampai Valerie dinyatakan Dokter baik-baik saja,setelah itu aku akan membawanya ke London,” ujar Earlangga.


“Itu lebih baik,” ucap Lorena.


Earlangga menoleh pada Neneknya.


“Awas ya Nek, kalau Nenek mengganggu istriku dan bayiku lagi, aku tidak akan memaafkan Nenek,” ancamnya pada  Ny.Grace lalu menoleh pada Valerie dan sengaja pergi dari sana.


Ny,Grace langsung menoleh kearah Lorena.


“Kau lihat? Dia berani mengancam Neneknya, seperti bukan cucuku saja! Padahal dia di sekolahkan tinggi di Luar Negeri! Lihat cara dia bicara, apa mungkin bawaannya karena dilahirkan di kebun karet?” keluhnya.


“Ibu! Kenapa Ibu mengungkit-ungkit masalah itu? Itu tidak ada hubungannya dengan perilaku Earlangga,” kata Lorena dengan kesal.


“Emang kenyataannya begitu,” keluh Ny.Grace lalu pergi meninggalkan Lorena sendiri.


Lorena menghela nafas panjang, bicara dengan mertuanya membuatnya naik darah saja.


Earlangga membawa Valerie ke kamarnya. Hati Valerie merasa lega, meskipun rumah ini bagai neraka jika ada Ny.Garce, tapi setidaknya dia tahu kalau suaminya akan selalu membelanya.


Earlangga mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur, lalu diapun duduk disamping Valerie dan meraih kedua tangan wanita itu.


“Kau maafkan Nenekku Ya? Kau jangan dengarkan apapun perkataan Nenekku, abaikan saja,” ucap Earlangga, sambil menatap wajah Valerie.


Valerie mengangguk.


“Pria itu tidak mengganggumu kan?” tanya Earlangga lagi.


“Tidak,” jawab Valerie membuat hati Earlangga merasa lega.


Earlangga masih menatap wajahnya Valerie.


“Seharian kau tidak ada disini, aku sangat merindukanmu,” ucap Earlangga, mendengarnya membuat Valerie merasa senang, hatinya berbunga-bunga, kata-kata yang sangat membahagiakannya.


“Aku sangat khawatir dengan keselamatanmu dan bayi kita. Aku takut pria itu benar-benar membawamu pergi,” ucap Earlangga lagi.


Tangan Earlangga menyentuh pipinya Valerie dengan lembut. Menatap wajah itu lekat-lekat, dia tidak percaya ternyata wanita ini yang telah dinodainya malam itu, kenapa dia sampai tidak mengenalinya sama sekali? Tangannya menyentuh bibir Valerie, pandangannya terhenti pada leher dan dada wanita itu. Apa yang telah dilakukannnya kenapa dia meninggalkan tanda pada tubuh wanita ini dan sama seklai tidak disadarinya.


“Aku minta maaf atas kelakuanku padamu malam itu,” kata Earlangga.


“Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya.


“Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya,” ujar Valerie.


“Iya, aku mabuk. Waktu itu aku hanya ingin menyelamatkanmu supaya tidak menjadi mainan teman-temanku, jadi aku menerima tantangan dari Darren untuk minum, aku tidak suka mabuk-mabukan,” ucap Earlanga, bicara jujur.


“Kau ingat waktu itu Darren memukulmu. Aku tidak sempat melihatnya dengan jelas kau terjatuh begitu saja diatas sofa kami,” lanjut Earlangga, tangannya mengusap usap tangannya Valerie.

__ADS_1


“Aku merasa tenang sekarang, aku tidak dihantui rasa penasaran  lagi, aku sudah tahu siapa wanita itu,” kata Earlangga. Kini tangannya menyentuh perutnya Valerie.


“Kau mau kan memaafkanku? Aku berjanji akan bertanggungjawab padamu dan bayi kita,” lanjut Earlangga.


Valerie menatap mata pria itu yang sedang mengusap perutnya.


“Iya, aku memaafkanmu,” jawab Valerie.


Earlangga balas menatap mata Valerie, pandangan merekapun saling bertemu. Earlangga sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya perlahan dan mencium bibirnya Valerie dengan lembut.


Valerie merasakan tubuhnya panas dingin, jantungnya berdebar kencang, Rasa-rasanya seperti terbang ke langit ketujuh, ini adalah ciuman pertamanya Earlangga setelah semuanya terjawab. Rasanya tidak percaya pria itu menciumnya.


“Cepatlah mandi dan beristirahat, aku akan mengajakmu ke Dokter untuk memastikan keadaanmu, kita perlu USG,” ucap Earlangga, menyadarkan Valerie kalau Earlangga dari tadi sudah melepaskan ciumannya.


“Aku sudah diperiksa Dokter yang dipanggil Darren itu, tapi obatnya tertinggal dirumah itu,” ucap Valerie.


“Iya makanya, kita ke Dokter lagi saja untuk mendapatkan obat baru,” kata Earlangga, tangan kanannya mengusap punggungnya Valerie.


“Baiklah aku mandi sekarang,” kata Valerie.


 Earlangga menganguk. Valeriepun bangun dan pergi ke kamar mandi.


Earlangga terdiam masih terduduk dipinggir tempat tidur itu. Kini tempat tidur itu tidak terasa kosong, wanita hamil itu akan berbaring disisinya lagi. Beberapa saat kemudian dia beranjak keluar dari kamarnya.


Saat Valerie selesai mandi, pria itu tidak ada dikamarnya. Kemana dia? Terdengar suara pintu dibuka, Valerie langsung menoleh kearah pintu. Pria itu muncul dengan segelas susu ditangannya.


“Kau sudah mandi? Minumlah susunya mumpung masih hangat,” kata Earlangga.


“Kau membuatkanku susu lagi?” tanya Valerie sambil menghampiri.


“Sudah beberapa hari ini kau pasti tidak minum susu kan?” tanya Earlangga.


Valeriepun mengangguk.


“Ayo sini, duduklah,” ajak Earlangga sambil berjalan menuju sofa, diapun menyimpan gelas itu, lalu duduk disofa itu. Valerie mengikutinya duduk disofa yang terpisah.


“Kenapa kau duduknya jauh sekali?” tanyanya.


“Oh, memangnya aku harus duduk dimana?” tanya Valerie tampak bingung.


Earlangga tersenyum dan menepuk sofa disampingnya.


“Disini,” jawabnya.


Valerie terkejut mendengarnya dan tampak bingung. Earlangga menepuk lagi sofa disebelahnya, akhirnya Valerie bangun dan menghampirinya.


“Ayo duduklah!” ajak Earlangga sambil menarik tangan Valerie supaya duduk disampingnya.


“Minum susunya,” pinta Earlangga, meraih gelas itu dan diberikan pada Valerie.


Istrinya itu segera menerimanya dan mulai meminum susunya. Earlangga hanya memperhatikannya.


“Apa kau pernah ke London?” tanya Earlangga.


Valerie menggelengkan kepalanya.


“Kalau kau sudah lebih baik aku akan mengajakmu ke London. Bagaimana kalau kita tinggal saja di London? Kita bisa tinggal bersama kakek nenekku atau aku beli rumah baru,” ucap Earlangga.


“Kenapa kau ingin mengajakku ke London?” tanya Valerie.


“Karena aku tidak mau Nenek mengaganggumu lagi,” jawab Earlangga.


Valeriepun terdiam.


“Aku ingin kau tenang juga bayiku tumbuh sehat, sampai kau melahirkan,” ucap Earlangga lagi.


“Tolong maafkan Nenekku,” lanjut Earlangga, masih menatap Valerie.

__ADS_1


Mendengar ucapan-ucapan dari bibirnya Earlangga membuat rasa sakit dihatinya terobati.  Kata-kata itu teramat manis didengarnya.


“Kau serius akan membawaku ke London?” tanya Valerie.


“Tentu saja, meskipun aku tahu Nenekku akan melarangnya,” jawab Earlangga.


“Nanti sore kita ke Dokter, aku tidak bisa memanggil Dokter ke rumah karena kita perlu USG,” lanjut Earlangga lagi.


Valerie hanya diam.


“Kenapa kau diam saja? Aku terus yang bicara,” keluh Earlangga.


Valerie langsung tersenyum ditanya begitu.


“Kau jarang sekali tersenyum,” kata Ealrangga.


“Kau pasti lelah,” ucapnya lagi.


Valerie menyimpan gelas susu itu yang sudah kosong.


“Sepertinya kau lapar, “gumam Earlangga melihat gelas kosong itu, membuat Valerie tertawa.


“Bukan lapar, tapi aku haus,” jawabnya.


“Kau pasti belum makan apa-apa dari pagi kan?” tanya Earlangga.


“Belum,” jawab Valerie.


“Aku sudah minta Bu Asni menyiapkan makanan di bawah,” jawab Earlangga.


“Kau ?” tanya Valerie, terkejut.


“Iya, aku tidak mau kau menjadi kurus lagi, bayi juga pasti lapar, ayo kita makan. Beberapa jam lagi kita ke Dokter. Aku khawatir kejadian ini membuat bayiku kenapa-napa,” kata Earlangga, sambil bangun dan mengulurkan tangannya pada Valerie.


Valerie melihat tangan itu lalu pada wajahnya Earlangga.


“Kenapa? Ayo,” ajak Earlangga meraih tangannya Valerie, merekapun keluar dari kamar itu.


Di ruang makan, Bu Asni sudah menyiapkan berbagai macam makanan


“Valerie!” panggil Bu Asni, menatap Valerie dengan mata yang berkaca-kaca.


“Bu,” panggil Valerie.


Bu Asni langsung memeluknya, meskipun Valerie bukan anaknya tapi Valerie sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


Earlangga hanya tersenyum dan menarik kursinya lalu memanggil Valerie.


“Sayang, ayolah makan, kau bisa bicara nanti dengan Bu Asni setelah kau makan. Tapi ingat jangan lama-lama, kau harus istirahat sebentar lalu kita ke Dokter,” kata Earlangga.


Valerie melepaskan pelukannya lalu menoleh pada Earlangga.


“Kenapa aku merasa kau yang jadi perawatku?” tanyanya.


“Selama kau hamil, aku yang akan jadi perawatmu, ayo kemarilah!” jawab Earlangga.


Tangan pria itu kembali mengulur, membuat Valerie menoleh pada Bu Asni lalu tersenyum dan segera menghampiri meja makan.


“Duduklah,” ujar Earlangga, menarik kursi disampingnya. Valerie segera duudk dikursi itu.


“Ibu hamil harus banyak makan,” ucap Earlangga dengan semangat.


Melihat sikap manisnya Earlangga, benar-benar membuat Valerie bahagia. Meskipun pertemuan mereka karena sesuatu yang tidak baik, dia bahagia bisa bersama pria itu.


Bu Asni hanya tersenyum saja melihatnya, dia juga ikut bahagia Earlangga memperlakukan Valerie dengan baik. Diapun segera menyiapkan beberapa menu lagi.


**********************

__ADS_1


__ADS_2