Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-17 Perawat Pribadi


__ADS_3

Bu Asni menghampiri Valerie.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku harus bekerja tapi Pak Earlangga malah menyuruhku menyiapkan sarapan dan obat untuknya?” tanya Valerie.


“Menurutku sebaiknya kau turuti perkataannya Pak Earlangga, karena kau juga tinggal disini. Kalau misalkan Pak Earlangga menyuruhmu berhenti bekerja di Resto itu tidak masalah. Untuk menjadi perawatnya Pak Earlangga tentunya dia akan menggajimu lumayan besar, bagaimana menurutmu?” kata Bu Asni.


Valerie berfikir keras, apa yang dikatakan Bu Asni benar, apalagi dia tinggal di rumah ini. Masa dia menolak bekerja pada Pak Earlangga?


“Baiklah kalau begitu, aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku di Resto,” jawab Valerie. Akhirnya Valerie kembali memundurkan motornya, sedangan Bu Asni duluan pergi ke rumah majikannya.


Saat Valerie masuk ka rumah besar itu, Bu Asni sudah menyiapkan banyak makanan dimeja.


“Dimana dia akan makan?” tanya Valerie, sambil melihat makanan yang sudah siap di atas meja.


Tapi belum juga Bu Asni menjawab, terdengar suara langkah sepatu memasuki ruang makan itu. Valerie menoleh kearah yang datang, ternyata pria itu sudah mandi dan berdandan rapih dengan stelan jasnya, dia terlihat sangat menawan. Valerie tampak tertegun melihatnya, siapa gadis yang tidak tertarik melihat pria setampan itu? Sungguh bahagianya kalau dia bisa mendapatkan kekasih seperti ini tapi itu semua mustahil,  pria sekaya ini tidak akan


menikahi gadis biasa seperti dirinya, apalagi kalau tahu kenyataan dirinya yang ternoda, rasanya tidak mungkin ada pria yang akan benar-benar menyayanginya.


Earlangga menghentikan langkahnya saat sudah dekat ke meja makan, dia bukannya duduk tapi menatap Valerie yang berdiri menatapnya dari tadi.


“Kenapa kau masih menggunakan baju itu?” tanya Earlangga, saat melihat Valerie masih menggunakan seragam grabfoodnya.


“Aku masih  harus ke Resto memberitahukan kalau aku mengundurkan diri juga mengembalikan motornya,” jawab Valerie.


Earlangga tidak menjawab, dia langsung mengambil satu buah kursi lalu duduk disana, matanya menatap menu di meja makan. Valerie berjalan mendekat dan duduk dikursi sebelahnya Earlangga.


“Apa yang harus ku makan sekarang?” tanya Earlangga.


Valerie hanya menatap wajahnya.


“Kenapa?” tanya Earlangga, karena Valerie tidak menjawab pertanyaannya.


“Kau akan berangkat bekerja? Apa kau merasa lebih baik?” tanya Valerie, mendekatkan tubuhnya dan tangannya terulur menyentuh keningnya Earlangga.


Earlangga hanya menatap wajah itu yang mendekat, bau parfum itu kembali tercium olehnya.


“Panasmu sudah turun,” ucap Valerie, kembali menjauh menurunkan tangannya dari kening Earlangga, lalu berganti melihat makanan diatas meja.


“Pagi ini kau harus makan ini,” kata Valerie, menyimpan beberapa makanan di piringnya Earlangga.


Pria itu malah menatap makanan itu, tidak langsung memakannya.


“Apa tidak ada makanan yang lain?” tanyanya.


“Ini bagus untuk kesehatanmu. Kau juga harus mulai belajar makan makanan yang ada disini,” jawab Valerie.


Eralangga tidak bicara lagi, diapin mulai makan.


“Tidak enak, tidak jelas rasanya,” keluh Earlangga, sambil menyimpan sendoknya.


“Kau kan ingin aku merawatmu, jadi kau harus mau makan makanan yang aku pilihkan, aku tidak bisa memberimu makan yang beraneka rasa,” kata Valerie.

__ADS_1


Earlangga terdiam, dia ingin Valerie menjadi perawatnya karena bau parfum yang dipakainya, bukan karena ingin dirawat.


“Apa aku boleh ke kamarmu, aku akan mengambil obat,” kata Valerie.


“Ambil saja,” jawab Earlangga.


Valeriepun meninggalkan ruangan makan itu. Tidak berapa lama dia sudah kembali dengan sebuah kantong obat.


“Bu Asni, aku butuh tempat untuk tempat obat,” kata Valerie.


Bu Asni segera mengambilkan sebuah toples lalu diberikan pada Valerie. Gadis itu menata obat-obat itu disana. Earlangga sesekali memperhatikannya.


Valerie kembali duduk disamping Earlangga dan menyimpan piring kecil yang sudah berisi obat-obat yang harus diminum Earlangga.


“Apa kau sakit?” tanya Earlangga tiba-tiba membaut Valerie terkejut.


“Sakit? Tidak!” jawab Valerie.


“Iya sayang kau telihat sangat pucat,” kata Bu Asni sambil menyimpan gelas berisi air putih di atas meja ke depan Valerie.


“Aku hanya kurang tidur,” jawab Valerie, sebenarnya dia memang merasa tubuhnya kurang nyaman.


“Aku juga terlalu lelah,” lanjutnya.


“Kau berhenti bekerja di grabfood itu, kau cukup merawatku, aku akan menggajimu lebih dari cukup. Nanti siang kau harus mengantar obat ke kantorku. Kau bisa minta supir mengantarmu,” kata Earlangga.


Valerie tidak menjawab, dia memikirkan memanng dia merasa tubuhnya lemas hari ini, dia tidak bersemangat.


“Iya Pak, nanti siang aku ke kantor,” jawab Valerie.


Valerie mengambil beberapa butir obat di piring kecil itu, diulurkannya pada Earlangga yang segera mengambilnya dan meminum air dari gelas yang Valerie sodorkan.


“Kau jangan makan sembarang, “ kata Valerie.


Earlangga tidak menjawab. Pria itu bangun dari duduknya, lalu meninggalkan ruangan itu.


Bu Asni menoleh pada Valerie yang juga menoleh kearahnya.


“Kau juga harus banyak istirahat, sepertinya kau terlihat sakit, sayang,” kata Bu Asni.


“Apa benar begitu?” tanya Valerie.


“Iya,” jawab Bu Asni.


“Aku akan beristirahat sebentar,” jawab Valerie, sambil merapihkan kotak obat.


“Aku akan menyimpan kotak obat ini di kamarnya Pak Earlangga,” ucap Valerie lalu beranjak, Bu Asni tidak menjawab, dia mulai sibuk merapihkan makanan  yang ada dimeja.


Saat berada di kamarnya Earlangga, Valerie menyimpan kotak obat itu di dekat meja rias, dia akan melangkah menjauh tapi melihat bayanagnya di cermin dia pun jadi bercermin dan menatap wajahnya di sana, disentuhnya keningnya, keningnya terasa dingin. Dia memang terlihat sangat pucat.


Dia harus menemui Dokter Egi sekarang, membicarakan tentang pekerjaannya yang harus merawat Earlangga, dia juga harus ke resto memberitahu Bu Indri kalau dia menungdurkan diri.

__ADS_1


Tempat pertama yang dikunjunginya adalah rumah sakit tempat Dokter Egi praktek, karena lokasinya lebih dekat dia lalui.


Saat memasuki ruang tunggu rumah sakit itu, dia melihat banyaknya ibu-ibu yang mengantri untuk berobat sambil membawa bayi-bayi mereka.


“Suster Valerie!” tiba-tiba ada yang emanggilnya. Valerie langsung menoleh.


Ternyata Dokter Egi, dia juga akan menuju ruangannya yang melewati Dokter anak berada.


“Dokter Egi, kau ada disini?” tanya Valerie, saat Dokter Egi menghampirinya.


“Sebentar lagi jam praktekku, ada apa kau kemari?” tanya Dokter Egi.


“Aku ada perlu,” jawab Valerie.


“Apa kau sakit?” tanya Dokter Egi tiba-tiba.


“Tidak,” jawab Valerie menggeleng.


“Kau terlihat pucat,” kata Dokter Egi.


“Aku terlalu lelah dan kurang tidur,” jawab Valerie.


“Mari aku periksa, kau juga harus istirahat dan minum obat,” kata Dokter Egi.


“Tidak usah Dok, aku baik-baik saja, aku hanya butuh istirahat,” tolak Valerie.


“Baiklah, ada apa kau mencariku?” tanya Dokter Egi.


“Pak Earlangga memintaku menjadi perawat pribadinya,” jawab Valerie.


“Oh itu, iya Pak Earlangga sudah menelponku. Aku sih tidak keberatan kalau aku lebih focus merawatnya, nanti aku mencari asisten baru,” kata Dokter Egi.


“Jadi tidak masalah Dok?” tanya Valerie.


“Tentu saja tidak, untuk melihat perkembangannya kau bisa menghubungiku,” kata Dokter Egi.


“Baiklah kalau begitu Dok,” ucap Valerie.


“Kau yakin tidak ingin aku periksa?” tanya Dokter Egi.


“Tidak Dok, terimakasih, aku harus ke resto untuk mengundurkan diri,” jawab Valerie.


“Baiklah, sebaiknya kau langsung istirahat, jangan sampai kau sakit, kau kan sekarang harus merawat pasien khusus, kau harus menjaga dirimu baik-baik,” pesan Dokter Egi.


“Iya Dok, terimakasih,” jawab Valerie, lalu beranjak meninggalkan tempat itu, sedangkan Dokter Egi berjalan menuju ruang prakteknya.


Valerie melihat lagi di kaca pigura bertuliskan pesan pesa kesehatan yang dilewatinya, lalu menyentuh keningnya, tidak panas, apa benar dia begitu pucat sampai-sampai orang-orang berkomentar seperti itu? Tapi rasanya biasa saja, ya memang ada rasa-rasa tidak nyaman tapi biasa saja.


*******


 

__ADS_1


 


__ADS_2