
Valerie melihat makanan di kantong itu, sebenarnya dia tidak lapar tapi mengingat bayi dalam kandungannya diapun terpaksa bangun dan mulai membuka kantong itu yang berisi nasi kotak, diapun segera memakannya.
Saat makan itu, matanya mulai berlinang airmata, dia merasa sedih sendirian dikamar ini, dirumah yang tidak tahu siapa pemiliknya. Hatinya terus bertanya-tanya apa motif Darren melakukan ini semua.
Sejam kemudian pintu kamarnya ada yang membuka. Darren masuk dengan sebuah kantong plastic putih ditangannya.
“Kau sudah makan? Ini obatmu!” ucap Darren, memberikna kantong itu pada Valerie yang segera mengambilnya.
Darren membalikkan badannya akan keluar dari kamar itu tapi langkahnya terhenti saat Valerie memanggilnya.
“Darren, tolong lepaskan aku, aku ingin pulang,” ucap Valerie.
Darren kembali membalikkan badannya.
“Sudah aku katakan kau akan bersamaku sampai aku melahirkan,” kata Darren.
“Apa yang menyuruhmu melakukan ini adalah Ny.Grace?” tanya Valerie.
Darren menatap Valerie yang menatapnya tajam.
“Kenapa kau berfikir begitu?” tanya Darren.
“Karena Ny.Grace tidak menyukai aku menjadi istrinya Earlangga,” jawab Valerie.
“Kalau tahu begitu, buat apa kau ingin pulang?” tanya Darren, dia kembali mengalah menghampiri Valerie.
“Dengar, menurutku, kau tidak perlu kembali lagi kerumah itu,” ucap Darren.
“Kenapa?” tanya Valerie.
“Karena Ny.Grace takkan berhenti menyingkirkanmu,” jawab Darren.
“Jadi benar Ny.Grace yang menyuruhmu?” tanya Valerie.
Darren tidak menjawab, dia membalikkan badannya keluar dari kamar itu. Dari sikap Darren, Valerie sudah bisa menebak, benar Ny.Grace yang menyuruh Darren. Darren tidak bisa memaksakan diri mengaku-ngaku dia pria di club itu karena dirinya melihat bagian tubuh belakangnya Earlangga yang selama ini selalu membayanginya, dan pemilik tubuh itu bukanlah Darren.
Pintu kamar itu kembali tertutup, membuat Valerie kembali sedih dan kecewa. Dia bingung bagaimana caranya supaya bisa kabur dari tempat ini.
***************
Keesokan harinya…
Valerie tahu ini sudah siang, dia terkurung dikamar ini semalaman. Dia hanya bisa melihat keluar lewat jendela kaca yang telah diapsang teralis besi. Darren sama sekali belum membukakan pintu kamarnya. Entah kemana pria itu? Apakah pria itu pergi meninggalkannya? Atau memang belum bangun?
Valerie berjalan menuju pintu dan memukul-mukul pintu itu.
“Darren! Darren!” teriaknya, sama sekali tidak ada jawaban. Gagang pintu dicobanya dibuka juga masih terkunci.
Sementara itu yang dipanggil-panggilnya sedang mengintai rumahnya Ny.Grace. Setelah dipastikan mobilnya Earlangga meninggalkan rumah itu, Darren menuju gerbang satpam.
“Aku ingin bertemu Ny.Grace,” ucap Darren.
“Dari siapa?” tanya satpam.
“Darren,” jawab Darren.
Pak Satpam menelpon Ny.Grace dari telpon yang ada di pos.
Ny.Grace yang sedang berada diruang kerjanya sangat terkejut mendapat telpon dari satpam kalau Darren ingin menemuinya.
Pak Satpam membuka pintu gerbnag.
“Nyonya, ingin bicara!” kata Pak satpam.
Darrenpun masuk dan langsung menuju pos satpam mengikuti Pak Satpam, yang menunjukkan telpon yang tergeletak dimeja.
Darren segera mengambil gagang telpon itu.
“Halo!” sapa Darren.
“Hei, buat apa kau datang kerumahku?” maki Ny.Grace, dia sangat terkejut karena Darren berani datang kerumah.
“Aku harus bertemu dengan Nyonya. Polisi sedang mengejarku, ponselku aku buang, jadi aku tidak punya nomo ponsel Nyonya,” ucap Darren dengan pelan.
“Dengar, temui aku di taman kota, sebelum menantuku mengenalimu!” kata Ny.Grace dengan kesal.
“Baiklah,” jawab Darren lalu menutup telponnya, diapun keluar dari pos itu.
“Terimakasih,” ucap Darren lalu bejalan keluar pagar.
__ADS_1
Satpam hanya menatapnya dengan bingung, tapi dia tidak banyak bertanya lagi, kembali menutup gerbangnya setelah Darren yang berjaket dengan model kerah tinggi dan menggunakan topi hampir menutupi mukanya menyetop taxi lalu naik taxi itu meninggalkan rumah itu.
Baru juga satpam akan menutup gerbang, terdengar klakson mobil di depan gerbangnya.
“Pak Earlangga!” kata Satpam, dengan keheranan karena Earlangga belum lama meninggalkan rumah.
Satpampun membuka gerbang itu lebar-lebar.
Earlangga menjalankan mobilnya memasuki gerbang lalu menghentikannya.
“Siapa orang tadi?” tanya Earlangga, sambil membuka kaca jendela. Dia keheranan melihat seseorang yang keluar dari gerbang lalu naik taxi.
“Itu tamu buat Nyonya Grace, tapi tadi tidak sempat masuk, hanya menelpon di pos lalu pergi,” jawab satpam.
“Menelepon dipos lalu pergi? Sangat aneh,” gumam Earlangga.
Diapun kembali menutup jendela tapi kemudian dibuka lagi.
“Kau tahu siapa tamu itu?” tanya Earlangga.
“Namanya Darren,” jawab satpam, membuat Earlangga terkejut.
“Apa? Darren?” tanya Earlangga tidak percaya. Ini pasti ada kaitannya dengan Valerie, terus kenapa pria itu akan menemui Neneknya?
Earlanga segera menjalankan mobilnya memasuki halaman rumah.
Ny.Grace tergesa-gesa keluar dari ruang kerjanya, karena tergesa-gesa dia hampir bertabrakan dengan Lorena.
“Ibu mau kemana?” tanya Lorena, menatap ibunya tang terlihat buru-buru.
“Aku ada urusan penting,” jawab Ny.Grace dan kembali berjalan meninggalkan Lorena.
Ny.Grace tidak mau kalau sampai Lorena tahu dia janjian dengan Darren. Dia terpaksa harus menemani pria itu lagi dan jangan sampai anggota keluarganya mengetahuinya.
Di teras sudah ada supir yang menunggunya didalam mobil. Ny.Grace langsung masuk kedalam mobil itu.
“Cepat jalan!” perintah Nyonya Grace pada supirnya.
Mobil itupun melaju meninggalkan teras.
Earlangga yang menjalankan mobilnya memasuki halaman, melihat mobil Neneknya meninggalkan teras.
Earlangga melihat mobil neneknya itu memutari taman dihalaman lalu menuju gerbang keluar dari rumah itu. Diapun mengerutkan keningnya, tadi kata satpam ada Darren ke rumah. Jangan-jangan Neneknya akan menemui Darren?
Earlangga yang tadinya akan menghentikan mobilnya, kembali menjalankannya. Dia harus mengikuti kemana neneknya pergi, apakah memang akan menemui Darren atau memang ada urusan lainnya?
Mobil Earlangga dengan cepat keluar lagi dari rumah itu. Pak Satpam yang akan menutup gerbang kembali membukanya dengan bingung. Mobil Earlangga langsung keluar dan belok kiri mengikuti arah jalan raya yang memang satu arah.
Earlangga mencari mobil Neneknya yang sudah pergi duluan, dia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Neneknya itu? Dia harus segera menemukan Valerie. Dia tidak bisa membiarkan Valerie berlama-lama bersama Darren.
Di taman kota…
Darren menunggu Ny.Grace dengan tidak sabar. Dia tidak punya nomor Ny,Grace dan tidak bisa menghubunginya, diapun duduk kembali di kursi taman itu sambil melihat kearah sekeliling yang sepi.
Earlangga mengikuti mobil Neneknya dari kejauhan, mobil itu memasuki area taman kota. Hatinya semakin tidak sabar saja siapa yang akan ditemui Neneknya ditaman kota. Tidak mungkin Neneknya janjian dengan relasi di taman kota, kecuali kalau memang akan menemui Darren.
Mobil Ny.Grace berhenti dihalaman parkir taman itu. Ny.Grace segera turun dan mencari-cari dimana Darren menunggunya.
Langkah kakinya Ny. Grace memasuki taman itu sambil mencari-cari Darren. Akhirnya ditemukannya pria itu sedang duduk disebuah kursi taman.
Darren langsung berdiri saat melihat Ny.Grace menemuinya.
Ny.Grace menghentikan langkahnya di depan Darren.
“Dimana wanita itu?” tanya Ny.Grace.
“Disuatu tempat bersamaku,” jawab Darren.
“Bagaimana dengan bayinya?” tanya Ny.Grace.
“Bayinya baik-baik saja, aku sudah meminta Dokter memeriksanya tadi malam dan juga membelikannya obat,” jawab Darren.
“Bagus, apa tempatnya aman?” tanya Ny.Grace.
“Tentu saja aman,” jawab Darren.
“Tapi kalau polisi mencium keberadaanku, aku harus pindah dari tempat itu, jadi aku butuh uang,”lanjut Darren.
“Seharusnya aku tidak menyuruhmu melakukan ini, aku tidak tau kau berurusan dengan polisi,” kata Ny.Grace.
__ADS_1
“Karena itu aku butuh bantuan Nyonya,” ucap Darren.
“Bantuan apa?” tanya Ny,Grace.
“Nyonya harus membebaskanku dari kejaran polisi, kalau tidak mau akan membawa wanita itu pergi berpindah-pindah dan itu membahayakan bayinya, tapi itu sih terserah Nyonya karena aku tidak ada urusan dengan bayi itu,” jawab Darren.
Ny.Grace tampak berfikir. Kalau Darren membawa Valerie pindah-pindah itu akan membuatnya kesulitan mendapatkan bayi itu, apalagi usianya baru 3 bulan lebih masih harus menunggu 5 bulanan lagi Valerie melahirkan.
“Aku sudah melakukan sesuai perintah Nyonya jadi aku minta bayarannya, sesuai perjanjian 50 persen. Nyonya juga harus membayarku sekarang,” kata Darren.
Ny.Grace tampak berfikir, kemarin dia berjanji untuk mengembalikan Valerie dari orang yang disuruhnya, tapi setelah difikir -fikir kalau memang Earlangga tidak tahu keberadaanya Valerie, lebih baik dia membiarkan Valerie bersama pria ini.
Earlangga mencari-cari kemana Neneknya pergi. Hingga dari kejauhan dia melihat Neneknya berbicara dengan seorang pria yang memakai topi. Hatinya langsung saja menebak kalau pria itu adalah Darren.
Diapun mengendap-endap dibalik pohon-pohon taman, mendekati tempat Neneknya bicara itu.
“Aku akan transfer uangnya, tapi ingat, jangan sampai terjadi apa-apa pada bayi itu atau kau akan menyesal,” kata Ny.Grace.
“Jadi, ini yang terjadi sebenarnya?” terdengar suara yang mengagetkan Ny.Grace dan Darren, mereka melihat ke arah suara dan ternyata Earlangga sudah menghampiri mereka.
Ny.Grace terkejut melihat cucunya suduh ada dihadapannya.
“Kau mengikutiku?” tanya Ny.Grace.
“Kenapa Nenek tega padaku?” tanya Earlangga dengan nada tinggi.
“Earl, aku ini Nenekmu, tidak seharusnya kau membentak Nenek begitu!” hardik Ny.Grace.
“Valerie Istriku berarti cucu Nenek juga, tapi kenapa Nenek tega menyakitinya?” balas Earlangga dengan kesal.
Earlangga menoleh pada Darren dan langsung mendekatinya.
“Katakan dimana Valerie sekarang?” tanya Eaelangga, menatap pria itu.
Darren menoleh pada Ny.Grace.
“Tidak perlu pedulikan Nenekku! Dimana Valerie?” bentak Earlangga, tangannya langsung mencengkram kerah jaketnya Darren.
“Earlangga! Earl! Jangan berkelahi!” teriak Ny.Grace, tangannya segera meraih tangan Earlangga supaya melepaskan Darren tapi Earlangga tidak mau melepaskannya.
“Aku tidak akan melepaskannya sampai dia mengatakan dimana Valerie sekarang juga!” kata Earlangga.
Darren menatap pria di depannya itu, menepis tangan Earlangga dan melepaskannya dari cengkramannya.
“Katakan dimana Valerie sekarang?” tanya Earlangga dengan marah.
“Aku tidak akan mengatakannya,” jawab Darren.
“Kau!” Earlangga akan malayangkan tinjunya tapi ditahan Ny.Grace.
“Earl!” teriak Ny.Grace.
Earlangga menatap Ny.Grace.
“Sebenarnya Nenek maunya apa? Kalau tahu begini, setelah menemukan Valerie, aku akan membawanya ke London! Jangan pernah berharap aku akan mengurus perusahaan keluarga Joris lagi, aku tidak akan pernah kesini lagi,” kata Earlangga.
Ny.Grace terkejut mendengar ancamannya Earlangga.
“Earl, jangan begitu, jangan pulang ke London,” kata Ny.Grace.
“Maaf Nek, aku akan membawa Valeri ke London sekarang juga!” ucap Earlangga lalu menoleh pada Darren.
“Ayo ikut aku, bawa aku ke tempat kau membawa Valerie! Atau aku akan menelpon polis sekarang juga!” kata Earlangga.
Darren tampak bingung, dia menoleh pada Ny.Grace, ingin tahu apa pendapat Ny.Grace.
Wanita paruh baya itu mengangguk padanya. Akhirnya Darrenpun beranjak, diikuti oleh Earlangga.
Ny.Grace kesal bukan main, kenapa dia tidak tahu kalau Earlangga mengikutinya? Semuanya jadi kacau! Apalagi Earlangga akan pulang ke London, dia tidak mau itu terjadi. Apa yang harus dilakukannya untuk membuat Earlangga tidak kembali ke London?
************
Readers maaf ya ceritanya flat dan bertele-tele.
Sebenarnya aku ingin mempercepat tapi tidak tahu kenapa beberapa hari ini aku bawaannya ngantuk terus jadi ga bisa nulis banyak.
************
__ADS_1