Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-109 Kehamilan Jeni ( Part 2 )


__ADS_3

Jeni menatap wanita itu yang langsung memeluk Dion itu, hatinya langsung dibakar cemburu.


“Ada apa?” tanya wanita itu keheranan, melihat pada Dion lalu pada Jeni dan Nisa.


Jeni menatap wanita itu, kenapa wanita itu ada dirumahnya Dion, siapa dia?


“Dion! Siapa dia? Kenapa dia ada disini? Kenapa dia memanggilmu sayang?” tanya Jeni, menoleh pada Dion.


“Ini istrinya Dion,” Ibunya Dion yang menjawab, membuat Jeni terkejut bukan main.


“Is istri?” tanya Jeni.


“Mereka baru menikah di Luar Negeri,” jawab Ibunya Dion lagi.


Bagaikan disambar petir di siang bolong, Jeni mematung saking shocknya mendengar kabar itu.


“Menikah? Dion menikah diluar negeri?” tanyanya, lalu menatap Dion dengan mata yang memerah.


“Iya aku sudah menikah, sebaiknya kau pergi saja, aku tidak mungkin menikah denganmu, atau sebaiknya kau gugurkan saja daripada bayi itu bikin ribet,” kata Dion dengan mudahnya bicara.


Jeni terdiam dan butiran airmata menetes dipipinya.


“Kau keterlaluan Dion, kau keterlaluan! Kau bilang ada pekerjaan diluar negeri ternyata kau menikah?” teriak Jeni, langsung mendekati Dion dan memeluknya.


Ayahnya Dion langsung menarik tangannya Jeni sempai lepas lalu menatap Jeni dan Nisa.


“Apa yang dikatakan Dion benar, kami tidak mungkin menikahkan Dion dengan wanita ini, sebaiknya kalian pergi dan jangan ganggu kehidupan Dion Lagi,” usir ayahnya Dion.


Nisa menatap semua orang  yang ada disana itu.


“Kalian, kalian semua, awas kalian!” teriaknya dengan marah.


“Pak, ini benar-benar bayinya Dion,” ucap jeni.


“Kau mendengar kan apa yang dikatakan Dion? Selain dia sudah menikah dia juga tidak mau mengakui bayi itu. Kau harus melakukan tes DNA untuk membuktikannya,” kata ayahnya Dion.


Jenipuan terdiam, begitu sakitnya hamil tapi tidak diakui oleh siapapun. Pria yang menghamilinya tidak mengakui perbuatannya dan malah menyuruhnya menggugurkannya.


Ibunya Dion mendekati Jeni dan Nisa yang memegang tangannya Jeni yang terisak.


“Kami sudah terbiasa menerima tamu orang-orang yang mau memeras kami, jadi kalian tidak akan berhasil, sebaiknya kalian pergi dari sini!” usir ibunya Dion.


“Tapi ini bayinya Dion!” teriak Jeni dengan kesal, disela tangisnya.


“Buktikan dengan tes DNA kalau bayi itu lahir, benar bayinya Dion atau bukan. Kalau benarpun aku yakin kau sengaja menjebak Dion supaya menikahimu demi mendapatkan pria kaya,” ucap Ibunya Dion, menatap Jeni dengan sinis.


 “Tapi kami tidak peduli dia anaknya Dion atau bukan, yang kami akui bayi dari hasil pernikahannya dengan Vera, bukan dengan wanita diluar nikah, daripada bikin ribet lebih baik gugurkan saja,” kata Ibunya Dion.


Mendengar ucapan  Ibunya Dion benar-benar membuat Jeni dan Nisa sakit hati.


Jeni hanya bisa menangis dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, keluarga Dion tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya.


Nisa semakin merasa hatinya yang tesayat-sayat, dia merasakan betapa sakitnya dihina dan direndahkan. Selama ini dia yang selalu menindas orang lain, tapi sekarang dia sendiri dan putrinya yang dilecehkan oleh orang lain.


Ditatapnya keluarga Dion satu persatu.


“Kalian pasti akan dapat balasannya!” makinya, lalu menoleh pada Jeni.


“Sayang, ayo pulang!  Jangan pedulikan pria brengsek itu!” kata Nisa.

__ADS_1


“Dion, ini bayimu!” kata Jeni, sambil terisak.


Tapi Dion malah mengajak istrinya masuk kedalam rumah, membuat Jeni merasa sedih.


Nisa menarik tangan  Jeni supaya masuk kemobil mereka. Tidak berapa lama mobil itu meninggalkan rumahnya Dion.


Selama si perjalanan Jeni terus saja menangis, tiba-tiba saja dia teringat Valerie yang tidak dipercayai hamil oleh Earlangga dan dituduh sengaja menjebak Earlangga dengan kehamilannya. Sekarang dia yang dituduhkan seperti itu, dan rasanya begitu sakit. Earlangga masih lebih baik karena mau mengakui bayinya Valerie, tapi Dion? Dion benar-benar mencampakkannya.


Nisa tidak bisa berbuat apa-apa, dia merasa sedih dengan apa yang dialami oleh Jeni.


“Sudahlah jangan terus-terusan menangis,” ucap Nisa.


“Kenapa aku mengalami hal seperti ini? Aku tidak mau hamil sendirian,Bu,” ucap Jeni.


“Sudah kau diam saja, nanti kita fikirka jalan keluarnya,” kata Nisa.


“Apa mungkin memang aku harus menggugurkannya?” tanya Jeni.


“Tidak ada jalan lain kalau memang harus digugurkan! Hidup kita juga sudah susah, di tambah bayi tanpa ayah, akan sangat merepotkan,” jawab Nisa.


Jeni tidak bicara lagi, sepertinya memang harus digugurkan fikirnya, benar kata ibunya.


“Kalau kau tidak punya bayi kau masih punya kesempatan untk mencari pria kaya lagi jadi memang harus di gugurkan,” kata Nisa.


Jeni kembali menghapus airmatanya, mencoba untuk tegar.


Tiba-tiba dia ingat dulu pernah membuat Lorena hampir keguguran.


“Ibu tahu dimana bisa mendapatkan obat itu,” ucap Nisa, sambil terus menjalankan mobilnya.


Setelah mendapatkan obat yang dibutuhkannya, Nisa menjalanan mobilnya menuju rumahnya, hari juga sudah sore jadi lebih baik pulang dan beristirahat.


Jeni menerima botol itu. Dia baru tahu kalau Ibunya berbuat seperti itu.


Sesampainya dirumah, Nisa langsung di hampiri perawatnya Pak Tedi.


“Nyonya! Pak Tedi meninggal, Nyonya! Tadi saya menelpon Nyonya tidak aktif,” kata perawat itu.


“Apa?” Nisa dan Jeni terkejut.


“Kau serius?” tanya Nisa menatap perawat itu.


“Benar Nyonya,” jawab perawat itu.


Nisa dan Jeni


langgsung berlari kekamarnya Pak Tedi. Benar saja ayahnya itu sudah berbaring kaku


diatas tempat tidur.


“Kenapa bisa begini?” tanya Nisa pada perawat itu dengan marah.


 “Nyonya, obat-obatan yang dibeli banyak yang dikurangi tidak sesuai dosis, badannya Pak Tedi semakin drop karena  kurang perawatan juga, terapi sudah distop jadi penyakitnya semakin parah,” Jawab Perawat itu.


“Apa maksudmu bicara begitu? Kau menyalahkanku?” bentak Nisa.


“Kenyataannya


memang begitu, Nyonya,” jawab Perawat itu.

__ADS_1


Nisa menoleh pada ayahnya, memang benar apa yang dikatakan perawat itu adalah benar. Karena kondisi kurang dana otomatis dia mengurangi dosis obat ayahnya juga terapinya.


Ada sedih dihatinya dengan apa yang di alaminya ini, dia bingung apa salahnya karena dia menjadi begini?


Jeni tampak terisak melihat kakeknya meninggal. Tapi kemudian menoleh pada ibunya.


“Bu, aku sedih kehilangan kakek, tapi mungkin ini yang terbaik? Jadi kita tidak punya beban biaya rumah sakit lagi,” kata Jeni.


“Kau benar, ini sudah yang terbaik,” jawab Nisa, lalu menoleh pada perawat itu.


“Kau siapkan pemakamannya,” kata Nisa.


“Maaf Bu, saya mau berhenti bekerja sekarang juga, saya sudah mengepak  koper saya,” jawab Perawat itu membuat Nisa terkejut.


“Apa maksudmu berhenti?” tanya Nisa.


“Tentu saja Bu, yang saya rawatkan sudah meninggal, ibu juga sudah berbulan- bulan tidak menggaji saya, jadi saya tidak mau mengurus mayatnya Pak Tedi,” jawab Perawat itu membuat Nisa marah.


“Kau itung-itungan begitu ya?” bentak Nisa.


“Maaf Nyonya, saya bekerja untuk mencari uang,” kata Perawat itu, lalu keluar dari ruangan itu. Nisa kesal melihatnya, kemudian dia memanggil kepala pelayannya.


Seorang yang dipanggil yang datang semua pekerja juga satpam di gerbang.


“Apa apan ini?” tanyanya pada para  pekerja dirumahnya. Mereka datang dengan membawa koper koper mereka.


“Maaf Nyonya, kami berhenti karena Nyonya sudah berbulan-bulan tidak membayar gaji kami,” jawab salah seorang dari mereka, membuat Nisa semakinmarah.


“Kalian ini apa-apaan? Kalian tahu aku sedang kesulitan keuangan, nanti juga gaji kalian aku bayar, cepat urusi mayatnya ayahku!” kata Nisa.


“Maaf Nyonya, kami berhenti saat ini juga, permisi,” ucap salah satu dari mereka, lalu semuanya keluar dari kamarnya Pak Tedi.


Nisa benar-benar terkejut lalu memanggil mereka lagi.


“Hei hei tunggu! Nanti gaji kalian aku bayar! Kalau kalian pergi aku tidak akan membayarnya sepeserpun!” teriak Nisa.


Para pekerja itu tidak menggubris apa yang dikatakan Nisa, mereka segera keluar dari rumah itu.


“Oh jadi begitu? Setelah aku miskin kalian pergi? Pergi saja kalian! Aku juga bisa mendapat pekerja yang lebih baik dari kalian!” teriak Nisa, dengan marah.


Diapun kembali ke kamarnya Pak Tedi.


“Jeni terpaksa kita harus mengurus mayatnya kakekmu,” kata Nisa.


“Tidak ah Bu, Ibu saja,” tolak Jeni, lalu keluar dari kamar itu.


“Jeni! Ibu tidak mungkin mengurusnya sendiri! Ibu butuh bantuanmu untuk  mencari bantuan pada tetangga!” teriak Nisa.


“Tidak ah, aku juga capek,” kata Jeni, masih terus saja pergi menuju kamarnya.


Nisa benar-benar kesal dengan semua ini. Dilihatnya tubuh ayahnya yang terbaring kaku. Dia tidak mungkin membiarkan ayahnya terus dikamar itu, diapun keluar rumah segera mencari bantuan pada tetangga.


Jeni membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dia merasa sedih dengan penolakannya Dion.  Dia tidak menyangka Dion akan benar-benar menghianatinya. Dia fikir Dion yang suka main perempuan itu akan berubah menyayanginya jika dia melayani apapun keinginannya, ternyata semua janjinya palsu, Dion tetap berselingkuh dan menikah dengan orang lain.


Kemudian Jeni bangun dan mengeluarkan botol yang dari ibunya tadi. Ibunya benar dia harus menggugurkan kandungannya karena dia harus mendapatkan pria yang kaya untuk merubah seluruh hidupnya yang kacau balau.


Dia tidak akan bisa mendapatkan pria itu kalau dalam keadaaan hamil apalagi punya anak. Sekarang ibunya sudah jatuh miskin, tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari ibunya, untung saja kakeknya meninggal jadi dia tidak perlu membayar biaya rumah sakit lagi.


Jeni turun dari tempat tidurnya, lalu pergi ke meja mengambil gelas yang berisi air minumnya. Lalu diapun meneguk obat itu dan minum air di dalam gelasnya.

__ADS_1


************


__ADS_2