Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-103 Selalu bersamamu


__ADS_3

Beberapa hari kemudian…


“Bagaimana kondisi istriku Dok?” tanya Sean, setelah Dokter memeriksa Lorena pagi ini.


“Setelah melihat hasil pemeriksaan beberapa hari ini, kondisi ibu dan bayi sudah membaik, pasien boleh dibawa pulang,” jawab Dokter.


“Bagaimana dengan bayinya? Apakah tidak ada dampak buruk setelah keracunan itu?” tanya Sean lagi, tidak sabar menunggu jawaban Dokter dengan hati yang gelisah.


“Kondisi janin sudah lebih baik, hanya kandungannya masih lemah, jadi ibu harus bedrest, tidak boleh beraktifitas berat,” jawab Dokter.


“Jadi bayiku bisa bertahan?” tanya Sean lagi dengan wajah sumringah, sambil menoleh sebentar pada istrinya yang juga tersenyum senang mendengarnya.


“Iya, hanya tetap harus dijaga  karena kandungannya sangat lemah,” kata Dokter lagi. Setelah Sean bertanya ini dan itu, Dokterpun keluar dari ruangan itu.


Sean menoleh pada Lorena yang duduk menatapnya sambil tersenyum. Istrinya terlihat lebih cantik dengan senyum di bibirnya, senyum yang sempat hilang beberapa hari ini, lalu menoleh pada Sam.


“Sam tolong telpon orang untuk membereskan barang-barang istriku,” kata Sean.


Sam hanya mengangguk lalu pergi keluar ruangan menelpon Pak Sobri.


“Sayang, kita bisa pulang sekarang,” kata Sean sambil menghampiri Lorena.


“Iya, aku sudah bosan disini,” jawab Lorena.


Sean membungkukkan badannya menyentuh perutnya Lorena yang sudah mulai membulat.


“Sayang, ayah senang kau bisa bertahan, kita bisa pulang sekarang,” ucapnya sambil mencium perutnya istrinya.


Lorena hanya tersenyum saja melihat Sean mencium perutnya. Dia juga sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa bayi mereka.


Seorang perawat menghampiri mereka.


“Ibu akan pulang sekarang, Pak?” tanyanya.


“Iya tolong dibantu,” jawab Sean.


Perawat mendekati Lorena, memeriksa lagi beberapa hal yang perlu diperiksa, membantunya untuk bersiap-siap pulang.


Tidak berapa lama Lorena dan Sean sudah keluar dari rumah sakit.


Sekitar satu jaman perjalanan dari rumah sakit ke rumahnya Sean. Akhirnya mobil yang dikendarainya sudah berhenti di depan teras rumahnya Sean yang sepi. Sean membantu istrinya turun dari mobilnya.


Saat mereka akan memasuki pintu, muncul Ny.Grace yang sudah berdandan rapih akan pergi keluar.


“Kau sudah pulang?” tanya Ny.Grace.


“Iya,” jawab Sean, tangannya memeluk pinggang istrinya.


“Bagaimana bayinya?” tanya Ny.Grace, yang ada dalam benaknya hanya bayinya yang utama.


“Bayinya sudah lebih baik hanya kandungannya lemah jadi harus bedrest,” jawab Sean.


Ny.Grace berjalan mendekat dan menatap Lorena.


“Kau harus menjaga cucuku dengan baik,” kata Ny.Grace. Lorena hanya mengangguk, meskipun hatinya kecewa yang difikirkan ibu mertuanya hanya bayinya saja, tapi dia mencoba memahami karena bayinya selain cucu pertama ibu mertuanya, bayinya juga adalah aset yang perlu dipertahankan.

__ADS_1


“Ayo sayang, ingat kata Dokter, kau harus bedrest,” ajak Sean. Lorena menoleh pada suaminya. Hanya suaminyalah yang menjadi penguat hatinya. Diapun tersenyum, lalu mengandeng tangannya Sean, tapi kakinya tidak mau melangkah masuk.


“Kenapa?” tanya Sean, menatap istrinya keheranan.


“Aku mau duduk ditaman saja, kemarin bosan di dalam kamar terus,” jawab Lorena.


“Baiklah, aku temani,” jawab Sean.


Lorena senang mendengarnya, merekapun berjalan-jalan ditaman yang ada dihalaman rumah.


“Hari ini kau berangkat bekerja?” tanya Lorena, masih memeluk tangannya Sean.


“Tidak kalau kau mau aku temani,” jawab Sean, membuat Lorena menatapnya.


“Kenapa?” tanya Sean. Istrinya malah tersenyum.


“Aku senang melihatmu bisa tersenyum lagi,” jawab Sean.


“Aku hanya ingin kau temani saja,” jawab Lorena.


“Ya, aku tidak akan bekerja hari ini, aku milikmu sekarang,” kata Sean, membuat Lorena kembali tertawa. Sebuah ciuman mendarat dipipinya.


“Hanya sekarang?” tanya Lorena.


“Tentu saja tidak, selamanya sayang,” jawab Sean, diapun tersenyum, memeluk pinggang istrinya yang mulai melebar karena kehamilannya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain selalu bersama wanita yang dicintainya dan bayinya sekarang.


Terdengar suara handphone Sean berbunyi. Dikeluarkannya ponselnya dibalik sakunya dan menjawab


panggilan itu.


“Kalau kau sibuk tidak perlu terus-terusan menemaniku,” kata Lorena.


“Tidak, tidak, kejadian kemarin membuatku takut, aku merasa bersalah aku terlalu sibuk,” jawab Sean.


“Kau belum bercerita, sebenarnya kau sudah menemui Nisa, kan?” tanya Lorena.


“Iya, tapi kau jangan khawatir dia tidak akan berani mengganggumu lagi,” jawab Sean.


“Apa benar Nisa yang mencoba maracuniku supaya aku keguguran?” tanya Lorena.


“Iya. Tapi kau jangan khawatir dia tidak akan berani mengganggumu lagi,” jawab Sean.


Lorena terdiam mendengar perkataan Sean.


“Apa aku perlu menelpon orangtuamu?” tanya Sean.


“Tidak, tidak usah, nanti mereka khawatir berlebihan. Ini juga cucu pertama buat mereka, lagi pula mereka ada di London sekarang,” jawab Lorena.


Tiba-tiba Sean menghentikan langkahnya, berdiri menghadap Lorena dan menatapnya.


“Seharusnya kau bisa melewati kehamilanmu dengan bahagia, aku minta maaf. Kalau bukan karena statusku dan warisan dari kakekku mungkin kita tidak akan mengalami banyak gangguan seperti ini. Aku akan merasa bersalah kalau terjadi hal buruk padamu dan bayi kita. Sebagai suami aku merasa tidak bisa menjaga anak dan istriku,” ucap Sean.


“Tidak begitu sayang, kau suami dan ayah yang baik,” kata Lorena, menatap wajah didepannya itu.


“Terimakaih atas pengertianmu. Aku mencintaimu,” ucap Sean sambil mencium bibirnya Lorena.

__ADS_1


“Aku selalu membayang-bayangkan bayi kita seperti siapa,” gumam Sean, setelah melepas ciumannya.


“Pasti sepertimu, seperti siapa lagi?” jawab Lorena, tangannya menyentuh dada suaminya.


“Dia pasti sangat lucu. Kapan kita akan membeli perlengkapan bayi?” tanya Sean.


“Masih lama,” jawab Lorena.


Sean tidak menjawab, dalam benaknya dia berharap tidak akan ada halangan apa-apa lagi yang akan mengganggu kandungannya Lorena. Dia ingin istrinya bisa menjalankan kehamilannya dengan baik.


“Apa aku perlu menyiapkan nama-nama bayi kita dari sekarang? Karena aku belum tahu bayi kita itu laki-laki atau perempuan, aku akan mencari nama untuk bayi perempuan dan bayi laki-laki,” kata Sean.


“Terserah kau saja,” jawab Lorena. Meskipun menyiapkan nama itu terlalu dini tapi dia tidak ingin mengganggu kesenangannya Sean.


Mereka sampai di dekat kolam kecil yang ada taman halaman rumah itu. Sean mendudukkan Lorena dikursi taman, kemudian dia berdiri sambil melipat kedua tangannya, menatap Lorena.


“Kenapa kau selalu menatapku seperti itu?” tanya Lorena.


Sean tidak menjawab, dia malah berjongkok didepan istrinya meraih kedua tangannya dan digenggamnya.


“Dulu aku banyak mengencani gadis-gadis,” ucap Sean, membuat Lorena memberengut. Melihat istrinya cemberut, tangan Sean menyentuh bibirnya.


“Jangan cemburu dulu,” ucapnya.


“Tapi waktu itu aku tidak mengerti apa yang namanya cinta, aku hanya menyukai mereka sekedar melihat mereka cantik dan ada teman hang out, aku gampang bosan. Berbeda dengan sekarang. Sekarang aku hanya ingin ada satu wanita saja dalam hidupku. Aku tidak pernah bosan meskipun setiap hari wanita yang aku lihat hanya dirimu. Aku hanya ingin bersama wanita yang aku cintai saja, kau dan bayi kita,” lanjut Sean.


Lorena terdiam mendengarkan.


“Pekerjaanku sangat banyak, aku sudah sibuk dari remaja. Kadang aku merasa lelah dengan semua itu, sekarang aku ingin menikmati waktuku hidup dengan normal. Kau harus tahu kau sangat berharga buatku. Kau sudah membuat aku menyadari kalau aku juga manusia biasa yang mempunyai perasaan, aku bukan robot pencetak uang,” ucap Sean sembil mencium tangan istrinya.


Lorena menatap pria yang masih berjongkok didepannya, hatinya terharu mendengar perkataannya Sean, dia bisa membayangkan bagaimana sepinya hati Sean selama ini.


“Aku mencintaimu dan bayi kita,” kata Sean lagi, kedua tangannya kini mengusap perutnya Lorena.


“Aku juga mencintaimu, bayi kita juga mencintai ayahnya,” jawab Lorena, sambil menunduk, kedua tangannya menumpang diatas tangannya Sean.


“Apa bayi kita bisa mendengar apa yang aku katakan?” tanya Sean.


“Tentu saja, dia pasti mendengar,minimal dia bisa merasakan kasih sayang ayahnya,” jawab Lorena, mengangguk.


“Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian berdua,” kata Sean.


“Aku dan bayi kita akan baik-baik saja,” ucap Lorena, meyakinkan Sean.


Pria itu mendekatkan kepalanya lalu mencium perut istrinya.


“Aku tidak sabar ingin melihat kau lahir,” ucapnya, kembali mengusap-usap perut itu. Lorena hanya tersenyum melihat sikap suaminya, dia juga tidak sabar ingin melihat bayinya lahir.


********


 


Maaf, yang slow slow dulu…authornya ingin berdua-duaan saja…


Author mau novel ini end di populer minimal 1 M. Perlu minimal 10 hari untuk mencapai 1 juta.

__ADS_1


Jadi yang udah bosan, maaf ya, aku tidak tega kalau Sean end dibawah 1 juta.


__ADS_2