
Entah untuk yang keberapa kalinya, akhir -akhir ini mereka harus melihat lagi pemakaman. Tapi pemakaman yang sekarang dikunjungi Valerie dan Earlangga adalah makam orang tuanya Valerie.
Setelah kembali dari London, sesuai rencana awal, Earlangga dan Valerie mengunjungi kota kelahirannya Valerie. Kota yang sangat jauh dari ibukota. Mereka haru menempuh seharian perjalanan baru sampai di lokasi makamnya orang tua Valerie.
Valerie tidak bisa menahan tangisnya karena begitu rindu pada orang tuanya.
“Ayah Ibu, aku pulang. Sekarang aku tidak sendiri lagi, ada suamiku dan bayi kami,” ucap Valerie, berjongkok di depan dua buah kuburan berdampingan itu.
“Ayah, Ibu, aku minta maaf karena aku baru sekarang mengantar Valerie menemui kalian,” kata Earlangga yang berdiri dengan menggendong Al.
“Ayah dan Ibu tidak perlu cemas, aku akan selalu menjaga putrimu supaya selalu bahagia bersamaku,” kata Earlangga lagi.
Valerie menengadah menatap suaminya yang hanya berdiri saja karena menggendong Al. Diapun tersenyum.
Earlangga membungkukkan tubuhnya lalu mencium kening Valerie.
“Aku mencintaimau,” ucapnya, Valerie hanya tersenyum, hatinya senang mendapat ungkapan cinta dari suaminya.
“Aku tidak akan lama Bu, aku dan suamiku juga bayi kami akan kembali pulang, aku merasa senang akhirnya aku bisa mengunjungi makam kalian, semoga kalian bahagia dengan kedatanganku ini,” ucap Valerie.
Ungkapan terakhir untuk orang tuanya. Diapun berdiri dan menatap Earlangga.
Ditatapnya suaminya itu, tidak pernah terbayangkan kalau dia akan datang ke kota kelahirannya sudah menjadi seorang istri juga Ibu.
“Apa kau ingin melihat rumah tempat tinggalku dulu?” tanya Valerie.
“Tentu saja,” jawab Earlangga.
Valerie menoleh lagi pada makam keluarganya.
“Ayah Ibu kami pulang, kami akan mampir sebentar kerumah kita dulu,” ucapnya, lalu tangannya menggandeng tangannya Earlangga dan merekapun meninggalkan pemakaman itu.
Kerumahnya Valerie tidak terlalu jauh. Rumah itu tampak sudah kusam dan kotor karena sudah lama tidak ditempati.
“Apa kau tidak menyuruh orang untuk membersihkannya?” tanya Earlangga.
“Dulu iya, tapi karena Ny.Nisa tidak menggajiku lagi jadi aku tidak bisa membayar orang yang mengurus rumah orang tuaku,” jawab Valerie.
“Kita tidak mungkin bermalam disini, rumah ini sangat kotor. Kasihan Al,” ucap Earlangga.
“Iya, nati kita cari hotel, tapi dari sini lumayan jauh harus ke kota,” jawab Valerie.
“Iya tidak apa-apa,” kata Earlangga.
Valerie membuka pintu rumah itu. Tiba-tiba seseorang menyapanya.
“Valerie? Kau pulang?” tanya seorang ibu yang lewat.
“Iya,” jawab Valerie.
“Kau dengan siapa?” tanya Ibu itu yang langsung tersenyum senang melihat pria tampan didepannya yang terlihat macho dengan mengendong bayi.
“Ini suamiku, dan ini bayi kami,” kata Valerie memperkenalkan.
“Wah kau sudah menikah rupanya. Apa kalian akan tinggal disini?” tanya ibu itu lagi.
“Tidak, kami hanya sebentar, aku dan suamiku akan kembali ke kota,” jawab Valerie.
“Oh, ada waktu mampir kerumah,” kata Ibu itu.
__ADS_1
“Iya kapan-kapan terimakasih,” jawab Valerie.
Ibu itupun pergi.
Valerie masuk kedalam rumah itu, tapi Earlangga tidak masuk , karena rumah itu sangat berdebu.
“Sayang, sebaiknya cari orang untuk merawat rumahmu lagi, rumahnya juga perlu direnovasi, jadi kalau kita kapan-kapan kesini, kita tidak perlu mencari hotel, rumahnya bisa ditempati,” kata Earlangga, bicara dari luar, masih menggendong Al.
“Iya, nanti kita cari orang,” jawab VaLerie.
Earlangga berjalan ke ujung teras. Rumah yang sebenarnya sangat asri karena halamannyapun luas, bisa untuk anak-anak bermain sepedah, hanya sayang karena tidak ada penghuninya rumah itu menjasi sangat kotor.
Ternyata dari tempat Earlangga berdiri itu bisa melihat pemandangan jauh ke perkebunan. Daerah yang masih sangat segar dengan banyak pohon-pohon hijau, tidak seperti di kota yang ada hanyalah gedung-gedung menjulang tinggi.
“Kau sedang apa?” tanya Valerie tiba-tiba muncul dibelakang Earlangga.
“Aku sedang memikirkan kira-kira kita akan merenovainya seperti apa. Nanti kita cari arsitek untuk membuat taman didepan. Al pasti senang bermaian sepeda disini karena halamannya luas,” jwab Earlangga.
Valerie menatap Earlangga lagi.
“Kenapa?” tanya Earlangga.
“Aku senang aku bisa bertemu dengamu sebelum aku melahirkan, jadi aku tidak pulang tanpa suami atau dikatakan orang membawa anak haram,” ucap Valerie, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Earlangga menatap istrinya itu dengan lembut.
“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Earlangga.
“Semua sudah berlalu, yang penting sekarang aku sudah bersuami dan bayiku sudah mempunya ayah,”ucap Valerie sambil tersenyum.
“Kau tahu, dulu aku begitu tidak suka saat ayah dan ibuku memintaku pulang. Aku sudah betah tinggal di London. Tapi sekarang aku merasa bersyukur karena aku pulang kesini bertemu denganmu, ibu dari anaka-anakku,” kata Earlangga dengan jujur.
“Iya, anak-anak, kita tidak mungkin punya anak satu saja kan? AL butuh adik,” ucap Earlangga.
“Al masih kecil untuk punya adik,” ucap Valerie, wajahnya langsung memerah saja.
Earlangga tersenyum dan menatapnya.
“Tidak masalah buatku, mereka bisa bermain bersama,” ucap Earlangga.
“Ah tidak, kita butuh beberapa tahun lagi untuk Al punya adik,” kata Valerie.
“Lama sekali? Aku mau tahun depan Al sudah punya adik,” ucap Earlangga.
Valerie tertawa lalu berjinjit dan mencium pipi suaminya.
“Aku juga mencintaimu,” ucapnya.
“Iya aku tahu,” jawab Earlangga balas mencium pipinya Valerie lalu mencium pipinya Al.
Tiba-tiba Earlangga terdiam.
“Kau kenapa?” tanya Valerie.
Earlangga melihat pada tangannya yang basah.
“Ya ampun AL mengompol, pasti pempersnya bocor,” ucap Valerie.
Earlangga sekarang memberengut, baru sekarang dia diompoli bayinya.
__ADS_1
Valerie tertawa melihat reaksinya Earlangga.
“Maaf ya sayang, perjalanan jauh jadi pipisnya penuh,” ucap Valerie.
Valeriepun segera menggendong Al dan pergi ke mobil menggantikan pampers bocornya Al.
Earlangga yang tadi memberengut kembali tersenyum, suka dukanya mempunyai bayi, tidak seharusnya dia marah atau kesal karena kena ompolnya Al. Diapun menghampiri Valerie yang beres menggantikan pempersnya Al.
Valerie langsung menoleh pada Earlangga.
“Kita cari hotel sekarang? Al juga sepertinya lelah,” ucapnya.
“Yang kau fikirkan Al terus, aku juga lelah dan butuh perhatian,” kata Earlangga, membuat Varerie tertawa.
Tidak berapa lama merekapun meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya Valerie itu.
Untuk mendapatkan hotel yang bagus ternyata sangat jauh harus ke kota jadi mereka memilih diperjalanan pulang saja, barulah mereka mendapatkan hotel yang dibutuhkan.
Earlangga langsung berbaring saja karena lelah menyetir seharian.
Valerie membaringkan AL di samping Earlangga. Tiba-tiba tangan Earlangga menarik tubuhnya Valerie membuatnya terjatuh kepelukannya Earlangga.
“Kau mengagetkanku, Al bisa bangun,” keluh Valerie.
“Aku rasa disini sudah cocok,” jawab Earlangga menatap wajah yang ada diatasnya itu dengan rambutnya yang tergerai sebagian mengenai wajahnya.
“Cocok untuk apa?” tanya Valerie.
“Untuk membuat adik buat Al,” jawab Earlangga.
“Aku kan sudah bilang, Al masih terlalu kecil, dia..” belum slesai Valerie bicara, Earlangga sudah menggulingkan tubuhnya berubah posisi.
“Kau mengagetkanku lagi,” ucap Valerie, dia akan protes tapi mulutnya sudah terkunci dengan ciumannya Earlangga.
Rasanya sungguh aneh, dia pernah melahirkan bayi dari pria ini, tapi dia baru merasakan benar-benar disentuh pria itu sekarang. Mungin satu hal yang membedakan yaitu sadar dan cinta.
“Kau pernah berjanji untuk tidak meninggalkanku tapi kau pergi begitu saja. Kali ini berjanjilah lagi kalau kau tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Earlangga, setelah melepaskan ciumannya.
Valerie menatap pria itu, bagaimana dia bisa melepaskan pria seperti Earlangga? Selain dia tampan dan kaya, dia juga penyayang, dia merasa jadi wanita yang paling beruntung didunia ini.
“Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu,” ucap Valerie dengan jujur.
Earlangga menatapnya lekat-lekat, dia merasa bahagia, hidupnya terasa lengkap sekarang, bukan lengkap lagi, tapi sempurna. Earlangga mengusap rambut Valeri dan kembali menciumnya.
“Saatnya membuat adik buat Al,” ucap Earlangga.
“Tapi Earl. Al masih…” ucap Valerie, tapi Earlangga kembali menciumnya membuatnya tidak bisa menolak lagi.
Dalam beberapa saat tangan Valerie sudah menyentuh punggung diatasnya yang kini tidak menggunakan pakaian. Punggung yang pernah dia lihat di malam kejadian itu, punggung yang membuatnya shock dan tidak mau melihat wajah pemiliknya. Tapi sekarang dia sudah yakin kalau pemilik punggung itu benar-benar Earlangga, suaminya.
Kalau dulu dia pergi saat melihat punggung itu, tidak dengan sekarang, dia merasa bahagia bisa memeluk dan mengusap punggung itu penuh kasih.
Baby Al yang tidur disebelah orang tuanya tampak tidak terganggu, bayi mungil itu tidur dengan lelapnya.
THE END
***********
Jangan lupa like vote terakhir...
__ADS_1
************