
Dengan terburu-buru Earlangga membuka bungkusan itu dan dia terkejut saat melihat bajunya menjadi kusut karena lipatan, juga bekas noda yang tidak hilang sempurna.
“Apa ini? Kau mencuci bajuku tidak?” tanyanya dengan kesal.
“Tentu saja mencucinya Pak, bahkan berkali-kali,” jawab Valerie.
“Kau harus komplen pada Loundry nya kenapa mencucinya tidak bersih,” keluh Earlangga.
“Aku mencuci pakai tangan Pak, tidak ada uang buat ke Loundry, aku baru bekerja, aku belum mendapat gaji,” ujar Valerie.
Mendengar jawaban Valerie, membuat Earlangga terdiam.
“Ya sudah kau cuci saja lagi, pokoknya nodanya harus hilang,” kata Earlangga, kembali memberikan bajunya itu. Valerie menerimanya dengan wajah masam. Dia bingung bagaimana cara menghilangkan noda itu? Dia sudah mencuci baju itu beberapa kali tapi noda makanan itu masih saja membekas.
Earlanggapun beranjak meninggalkan Valeri yang hanya mematung.
Dia tersadar dari lamunannya saat ada sebuah panggilan telpon dari seseorang. Dilihatnya siapa yang menelpon, ternyata muncul nama Dr. Egi.
“Halo Dr. Egi!” sapa Valerie.
“Aku sudah menerima surat lamaran kerjamu,” kata Dr. Egi.
“Iya Dok, bagaimana, apa aku bisa bekerja di tempat praktek Dokter? Aku belum bisa melamar ke rumah sakit, kuliahku belum selesai,” ucap Valerie.
“Bisa,justru itu aku mengabarimu, kebetulan asistenku pulang kampung, kau bisa bekerja di tempat praktekku, tapi hanya jam-jam pratek saja,” jawab Dokter Egi.
“Jam prakteknya jam berapa Dok? Kalau siang aku bekerja di Resto,” jawab Valerie.
“Jam 8 malam,” jawab Dokter Egi.
“Bisa Dok, aku kerja sampai sore,” jawab Valerie.
“Aku juga menjadi Dokter pribadi beberapa keluarga kau bisa membantuku,” kata Dokter Egi.
“Baik Dok, aku siap,” jawab Valerie.
“Nanti malam kau temani aku ke rumah pasienku pukul 8 malam, kebetulan malam ini bukan jadwal praktek ditempat,” kata Dr. Egi.
“Baik Dok, nanti aku langsung datang ke tempat praktek Dokter,”jawab Valerie.
“Sip,” jawab Dr. Egi.
__ADS_1
“Terimakasih Dok,” lanjut Valerie, senyum mengembang di bibirnya, akhirnya dia mendapat pekerjaan yang sesuai dengan pedidikannya meskipun masih sampingan dan hanya beberapa jam saja dalam seminggu, itu sudah sangat lumayan baginya, setidaknya dia sudah mulai meniti karirnya di bidang kesehatan.
Bersamaan dengan telpon ditutup, Valeripun dipanggail Pak Willy.
“Ayo kita siap-siap kembali ke resto!” serunya.
“Baik Pak,” jawab Valerie, diapun berjalan menuju tempat teman-temannya yang bersiap-siap akan ke Resto, bersamaan dengan Earlanggapun menaiki mobilnya meninggalkan panti asuhan itu.
Pria itu sama sekali tidak meliriknya atau membunyikan klakson saat berpapasan dengannya yang berjalan kaki. Valeria hanya melihat mobil itu menjauh, mana mungkin pria kaya yang tampan akan meliriknya yang hanya seorang pegawai delivery makanan, batinnya.
*************
Pukul 7 malam, Valerie sudah datang ke tempat prakteknya Dr. Egi.
“Apa kita akan langsung ke rumah pasien?” tanya Valerie.
“Iya, kau ambil data-data keluarganya Pak Sean, putranya dari bayi tinggal di London dan baru datang kesini beberpa hari yang lalu, jadi dia belum terbiasa dengan kondisi iklim disini, dia mengeluh kulitnya merasa terbakar kalau terlalu lama terkena sinar matahari,” jawab Dr. Egi.
Valerie hanya mengangguk saja sambil mengambil map berkas keluarga Pak Sean.
Satu jam kemudian, mobilnya Pak Egi menyusuri jalan kota. Valerie mengerutkan keningnya saat Pak Egi mulai mendekati tempat tinggalnya.
“Rumah Pak Sean itu disekitar sini, Dok?”tanya Valerie.
Valerie tidak menjawab dia hanya mengangguk-angguk saja, tapi dia semakin keheranan sasat Pak Egi mulai memelankan mobilnya saat mendekati tempat tinggalnya, apalagi mobil itu berhenti tepat di gerbang rumah mewah majikan Bu Asni.
“Ini kan rumahnya keluarga Tuan Joris Dok,” kata Valerie.
“Iya, Tn.Joris itu kakeknya Pak Sean, dia pengusaha yang kaya raya dari dulu,” jawab Pak Egi. Valerie kembali terdiam, selama tinggal bersama Bu Asni, dia tidak pernah sekalipun masuk ke rumah itu apalagi bertemu dengan penghuni rumah mewah itu.
Pak Satpam langsung membukakan pintu gerbangnya, sepertinya memang Pak Satpam sudah mengenal Dr. Egi.
Mobil Dokter Egi pun memasuki rumah mewah itu, dan berhenti di teras. Seseorang membuka pintu rumah itu yang berukuran tinggi dan lebar.
Valerie menatap sekeliling, rumah itu sangat luas dan megah, halamannya saja melebihi lapang sepak bola, ada air mancur di tengah-tengah halaman itu tepat di depan teras. Benar-benar rumah yang sejuk.
“Silahkan masuk Dok! Pak Earlangga sudah menunggu di kamarnya,” kata seseorang pria yang membukakan pintu itu.
“Terimakasih Pak Sobri,” jawab Dr. Egi.
Valerie kembali mengerutkan keningnya, nama pasien itu sama dengan Presdir itu, sangat kebetulan, dia jadi teringat bajunya yang belum sempat di cuci, mungkin nanti setelah bekerja dengan Dr.Egi baru bisa mencuci baju itu.
__ADS_1
Dr. Egi masuk ke rumah itu diikuti Valerie. Gadis itu melihat ruangan luas yang sunyi senyap. Rumah yang bagaikan istana itu terasa begitu dingin tidak ada suara apapun. Valerie membayangakn pasti penghuninya sangat kesepian.
“Kenapa sepi sekali?” tanya Valerie.
“Pak Sean dan istrinya juga ibunya, Ny. Grace sedang ke Paris, jadi kita akan memeriksa Pak Earlangga saja,” jawab Dr. Egi. Valerie hanya mengangguk saja.
Dokter Egi mengetuk pintu kamarnya Earlangga.
“Siapa?” terdengar suara dari dalam.
“Saya Pak, Dokter Egi,” jawab Dokter Egi.
“Masuk, tidak dikunci,” jawab suara dari dalam.
Dokter Egi membukakan pintu kamar itu.
Seorang pria sedang berdiri membelakangi menatap keluar lewat jendela kamarnya yang terbuka membiarkan angin dingin masuk ke kamar itu.
“Malam Pak,” ucap Dokter Egi.
Valerie melihat pria itu, lagi-lagi hatinya tersentak kaget saat melihat bagian beakang pria itu, mengingatkannya pada kejadian itu agi. Valerie menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa setiap melihat bagian belakang seorang pria selalu mengingtkannya pada sosok yang berbaring di tempat tidur itu?
“Kenapa jendelanya dibuka?” tanya Dokter Egi.
“Aku selalu merasa kepanasan, aku belum terbiasa iklim disini, kulitku juga merah merah,” jawab pria itu sambil membalikkan badannya menatap Dokter Egi, dan dia tersentak kaget saat melihat seseorang yang bersama Doter Egi, apalagi Valerie, dia tidak menyangka akan bertemu Presdir itu disini.
Sepertinya mimpi buruk dimana mana bertemu Presdir sok itu.
“Kau! Sedang apa kau ke kamarku? Kau akan memberikan bajuku? Kenapa datang ke rumahku? Aku menyuruhmu mengantarkannya ke kantor buka ke rumahku!” Earlangga langung saja menghardik sambil berjalan menghampiri Valerie.
Dokter Egi tampak kebingungan.
“Pak, Ini perawat yang bekerja di klinikku, namanya Valerie,” jawab Dokter Egi, membuat Earlangga terkejut.
“Perawat?” tanya Earlangga keheranan.
“Iya Pak,” jawab Dokter Egi.
Earlangga menatap Valerie.
“Kau saudara kembarnya grabfood itu? Kau sangat mirip,” tanyanya, membuat Valerie memberengut, saudara kembar darimana?
__ADS_1
******