
Siang harinya Valerie bersiap-siap akan berangkat ke taman tempat dia bertemu dengan pria yang mengaku menghamilinya. Dilihatnya dicermin, perutnya semakin terlihat membesar. Disentuhnya pipinya yang tadi dicium Earlangga, diapun tersenyum. Tapi kemudian senyumnya hilang saat teringat lagi dia tidak boleh jatuh cinta pada Earlangga. Bagaimana dia tidak akan jatuh cinta? Pria itu memperlakukannya dengan sangat baik. Dia juga menciumnya sangat lembut.
Terdengar suara ponselnya berdering. Valerie segera mengambil ponselnya yang ada di atas kasur. Ternyata pesan dari pria itu yang akan menunggunya ditaman.
Valerie mencoba menenangkan hatinya, dia harus bertemu dengan pria itu. Diapun meraih tasnya dan keluar dari kamarnya.
Ditempat yang berbeda, Earlangga gelisah terus-terusan melihat jam tangannya, dia menunggu waktu yang telah ditentukan oleh pria itu. Setelah dia merasa cukup waktu yang dibutuhkannya sampai ke tamn itu, diapun meninggalkan kantornya.
“Pak hari ini ada tamu penting,” kata Bu Riska.
“Cancel saja,” jawab Earlangga tanpa menunggu sekretarisnya bicara lagi, dia bergegas keluar dari kantornya. Bu Riska yang menatapnya keheranan.
Valerie turun dari mobinya, langsung mengedarkan pandangannya mencari orang yang akan menemuinya ditaman yang sudah ditentukan pria itu. Dilihatnya seseorang yang berdiri di dekat sebuah kursi taman, pria itu berdiri membelakangi.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Valerie menghampiri pria itu. Dia tertegun saat melihatnya. Sekilas bagian belakang pria itu memamng mirip dengan pria di malam itu. Dan perasaan was-was dihatinya. Apa benar dia pria itu? Kalau benar, berarti memang bukan Earlangga yang menghamilinya. Ternyata ada pria lain yang memiliki tubuh hampir mirip dengan Earlangga.
Valerie melangkah perlahan menghampiri pria itu dengan jantung yang berdebar kencang, menebak-nebak mengira-ngira pria seperti apa pria yang mengaku telah menghamilinya itu.
Mendengar ada suara langkah mendekatinya, pria itu membalikkan badannya. Valerie tidak tenang menantikan melihat sosok pria itu. Dia terkejut saat melihatnya. Pria itu sangat tampan! Apalagi saat pria itu tersenyum membuat setiap wanita terkesima, senyumnya sangat manis.
“Valerie!” panggilnya, melangkah maju beberapa langkah.
“Kau…siapa?” tanya Valerie dengan terbata, dia masih bingung dengan semua ini. Hatinya bertany-tanya apa benar dia pria yang menghamilinya?
Pria itu masih menatapnya, matanya terlihat mulai memerah.
“Valerie..aku…aku minta maaf,” ucap pria itu.
Valerie tidak lepas menatapnya, membandingkan dengan pria yang berbaring menelungkup waktu itu.
Pria itu tiba-tiba meraih kedua tangannya Valerie, digenggamnya dengan erat.
“Valerie, aku minta maaf, aku telah membuatmu menderita, aku minta maaf,” ucap pria itu terbata.
Sebelah tangannya bergerak akan menyentuh perutnya Valerie, dengan spontan Valerie bergerak mundur.
“Maaf, aku tidak bermaksud…” ucap pria itu, terhenti melihat sikap Valerie.
“Aku hanya sangat terharu, akhirnya aku bisa menemukanmu,” lanjutnya.
“Kau mencariku?” tanya Valerie.
“Iya, aku mencarimu sejak kejadian itu, karena aku merasa bersalah padamu. Dan saat aku tahu keberadaanmu, kau sedang hamil, aku memberanikan diri menemuimu,” jawab pria itu.
Tidak jauh dair tempat mereka bicara, Earlangga menghentikan langkahnya. Ternyata Valerie menemui pria itu. Earlangga tidak bisa mendekati mereka sekarang, dia berlindung disebuah pohon dan mengeluarkan ponselnya lalu memfoto mereka.
Valerie mendengarkan perkataan pria itu, sekali lagi menimbang apakah ucapan pria itu benar?
__ADS_1
“Namaku Rey,” ucap pria itu, mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Dengan ragu Valerie menerima uluran tangannya itu.
“Rey?” ulang Valerie.
Pria itu mengangguk.
“Bisakah kita bicara duduk disana? Kau pasti lelah berdiri terus,” ajak Rey, menunjuk kursi taman.
Valerie masih bersikap ragu dan bingung. Tapi diapun duduk di kursi itu, diikuti Rey.
“Kenapa kau mencariku?” tanya Valerie.
“Aku ingin menebus kesalahanku, aku ingin bertanggungjawab, aku ingin kita menikah,” jawab Rey.
Valerie terdiam.
“Kau jangan khawatir, aku seorang pengusaha, jadi hidupmu dan bayi kita akan terjamin jika kau mau menikah denganku,” kata Rey.
Valerie menoleh menatap pria disampingnya itu. Pria itu sangat tampan dan sopan, tutur katanyapun baik tapi hatinya tak tergerak sedikitpun. Mungkin karena mereka baru bertemu.
Pria itu juga memilki belakang tubuh seperti pria yang di malam itu tapi pria itu..entahlah, dia bingung. Kenapa dia teringatnya pada Earlangga? Kenapa merasa Earlangga akan lebih mirip pria di malam itu? Apakah karena kalau pada Earlangga dia pernah melihatnya tanpa berpakaian sedangkan pria itu tidak? Tapi dia juga tidak mungkin mengeceknya dengan meminta pria itu membuka bajunya, sangat memalukan, tapi itu cara yang paling benar untuk memastikannya.
“Kau yakin aku wanita yang bersamamu?” tanya Valerie.
“Iya, maaf aku melakukannya saat kau tidak sadar. Aku sedang stress malam itu jadi aku datang ke club itu. Kebetulan disana ada kericuhan banyak pria-pria yang minum minuman dan bertengkar. Waktu itu aku mabuk dimeja sebelahnya. Saat kau ditinggalkan pria pria itu aku menghampirimu karena melihat kau akan terjatuh dari kursi. Dan saat menyentuh tubuhmu, aku, maaf aku tidak kuasa menahan diriku dan membawamu ke room service, maaf,” ucap Rey, dia menjelaskannya sambil menatap Valerie.
“Aku tahu semua ini sangat tiba-tiba. Tapi percayalah, aku bukan pria yang tidak bertanggung jawab. Aku tahu aku salah, jadi aku ingin menikahimu dan bertanggung jawab atas bayi yang kau kandung itu. Kau mau kan?” kata Rey, to de point.
“Aku tidak tahu..” jawab Valerie dengan pelan.
“Kau harus percaya padaku. Niatku baik makanya aku mencarimu, waktu itu juga aku tidak tahu kalau kau hamil, aku baru tahu sekarang-sekarang ini setelah menyuruh orang-orang untuk mencari keberadaanmu,” kata Rey.
Valerie masih diam saja.
“Kalau kau butuh waktu, kau boleh memikirkannya lagi. Kau juga tidak mungkin tiba-tiba menikah denganku, tapi aku ingin secepatnya, aku ingin bayi itu lahir setelah kita menikah. Aku ingin saat bayi itu lahir aku sudah bisa mendampingimu melahirkan,” kata Rey lagi.
Valerie kembali menatap pria itu, dia merasa bingung. Rey mengulurkan tangannya meraih tangan Valerie dan dipagangnya dengan lembut.
“Kau bisa mengajukan cerai secepatnya dengan suamimu itu. Kasihan dia, dia tidak bersalah tapi harus menanggung semua ini. Aku ingin bertanggung jawab pada bayiku, aku tidak mau memberatkan orang lain,” kata Rey.
Bercerai? Kata-kata itu sangat begitu membuat Valery galau. Apa dia harus bercerai dari Earlangga? Dia tahu Earlangga bukan ayah dari bayinya, tapi entah kenapa dia merasa berat berpisah dengan Earlangga. Perhatian pria itu membuatnya menyukainya. Tapi…tidak adil juga kalau Earlangga harus bertanggung jawab atas apa yang tidak dilakukannya. Apalagi tes DNA tetap harus dilakukan dan tentu saja akan terbukti kalau bayi ini bukan bayi Earlengga, dia tetap harus keluar dari rumah itu.
“Kau tidak perlu bercerai denganku!” tiba-tiba ada suara yang mengagetkan mereka.
Valerie terkejut saat melihat Earlangga sudah berdiri didekat mereka, begitu juga dengan Rey. Earlangga mendekati tempat mereka duduk.
“Kau tidak perlu menikah dengannya,” kata Earlangga lagi.
__ADS_1
Valerie bangun dair duudnay dan emnaghampri Ealrnagga.
“Pak, apa yang Bapak lakukan disini?” tanyanya, keheranan.
Earlangga tidak menjawab, dia berjalan lebih dekat pada Rey yang segera bangun dari duduknya.
“Kau pria yang mengaku menghamili Valerie?” tanya Earlangga menatap Rey.
“Kau suaminya Valerie?” tebak Rey.
“Siapa yang membayarmu?” tanya erlangga membuat Valerie terkejut dan langsung memegang tangan Earlangga.
“Pak, kau ini bicara apa?” tanya Valerie.
“Kau janagn percaya kata-katanya, karena pria ini sudah berbohong,” jawab Earlangga.
“Maksud Bapak apa?” tanya Valerie tidak mengerti.
Rey tertawa mendengar perkataannya Earlangga.
“Aku bicara yang sebenarnya. Aku datang hanya ingin bertanggung jawab atas kehamilannya Valerie. Aku minta maaf kalau kau tidak menyukainya, tapi aku tidak bisa membiarkan bayiku bersama orang lain. Valerie harus menikah denganku,” kata Rey.
“Dia tidak akan pernah berpisah denganku!” ujarEarlangga dengan tegas.
“Kenapa? Dia hamil olehku! Apa kau mau mengurus bayi yang bukan bayimu?” tanya Rey.
“Katakan saja kalau kau berbohong! Aku tidak tahu apa niat kebohonganmu ini, hanya saja tidak perlu berpura-pura lagi. Sebaiknya kau pergi atau aku akan melaporkanmu ke polisi, kau berbuat tidak menyenangkan, mengakui bayi dari istri seseorang,” ucap Earlangga menatap tajam Rey.
Rey kembali tertwa.
“Kau ini bicara apa? Aku hanya ingin bertanggung jawab, bukan melakukan kejahatan. Kasihan bayiku kalau harus hidup dengan ayah yang bukan ayah kandungnya! Valerie harus becerai darimu dan secepatnya menikah denganku!” ucap Rey.
“Sudah aku katakan kau jangan berbohongng!” bentak Earlangga, mulai kesal.
“Kau begitu yakin aku berbohong? Kau tau darimana? Aku jelas-jelas mengingat kejadian itu! Aku membawa Valerie ke room service, dan hal itu terjadi,” ucap Rey mencoba menjelaskan lagi.
“Kau tahu kenapa aku tahu kau berbohong?” tanya Earlangga.
Valerie yang mendengarkan perdebatan itu semakin bingung, dia berjalan lebih dekat pada mereka lalu menatap Earlangga yang tidak berkedip menatap Rey.
“Katakan, kenapa kau bilang aku berbohong? Valerie saja mengakui kalau dia tidak sadarkan diri saat di club itu,” kata Rey.
“Tentu saja kau berbohong karena pria yang bersama Valerie malam itu adalah aku,” jawab Earlangga.
Jawaban yang membuat Valerie seakan disambar petir disiang bolong, dia terkejut bukan main dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sambil menatap Earlangga.
Apa yang Earlangga katakan itu? Apa benar pria yang bersamanya malam itu adalah Earlangga? Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan Valerie, matanya terbelalak kaget, dia merasa shock dengan pengakuan Earlangga.
__ADS_1
*************