
Hari menjelang sore saat Sean keluar dari area outbond didaerah itu.
“Bagaimana Pak? Apakah tempatnya sesuai dengan yang anda inginkan?” tanya seorang pria yang berdiri berhadapan dengan Sean.
“Cukup, jadi besok aku sewa tempatnya, kau berurusan dengan Pak Deni saja,” Jawab Sean.
“Baik Pak,” jawab pria itu, sambil menoleh pada Pak Deni yang juga menoleh padanya.
“Saya nanti menyusul ke kantor untuk pembicaraan lebih lanjut,” kata Pak Deni. Pria itu mengangguk lalu meninggalkan Pak deni dan Sean berdua.
Sean menoleh pada Pak Deni.
“Pak Deni sepertinya aku akan pulang, tubuhku terasa lelah, beberapa hari ini aku jarang berolah raga jadi tubuhku tidak vit,” kata Sean.
“Apa dirumah itu kau membutuhkan sesuatu? Atau tinggal saja di hotel supaya kebutuhanmu tercukupi. Kau juga tidak menjaga pola makanmu,seharusnya kau tidak makan diwarung itu, perutmu sangat sensitif,” kata Pak Deni. Dia jadi teringat Sean makan diwarung jagung bakar itu.
“Tidak, aku baik-baik saja,” kata Sean.
Pak Denipun diam.
“Baiklah sekarang aku akan pulang,” jawab Sean, Pak Deni hanya mengangguk.
Selama perjalanan pulang entah kenapa Sean merasakan tubuhnya tidak nyaman, padahal tadi dia sudah minum vitamin juga. Sepertinya tubuhnya benar-benar akan sakit.
Sesampainya dirumah, Lorena sedang bermain piano, tapi bukan sedang tampil melainkan sedang mempelajari sebuah lagu.
Sean masuk kedalam rumah, tanpa bicara apa-apa, dia merasaan kepalanya tersa begitu pusing.
“Kau sudah pulang?” tanya Lorena.
“Tumben sekali kau sudah pulang,” lanjutnya, menatap Sean.
Sean hanya mengangguk dan terus berjalan melewati ruangan menuju kamarnya.
Lorena tidak bicara apa-apa lagi, dia kembali serius mempelajari lagu.
Malam telah tiba. Saat makan malam, Sean tidak turun ke ruang makan. Karena hari ini Laura pulang, jadi Lorena makan hanya sendirian.
“Pak Firman, apa kau sudah memberitahu tamuku untuk makan?” tanya Loena.
“Sudah Nona, sudah diberitahukan jadwal makan jam 7,” jawab Pak Firman.
Lorena mengakhiri makannya, dia merasa heran kenapa Sean tidak ikut makan, apa dia sudah makan diluar?
Karena penasaran, Lorenapun menemui Sean ke kamarnya.
Tok tok tok… Lorena mengetuk pintu kamarnya Sean.
“Sean! Apa kau di dalam? Kau belum makan malam,” kata Lorena.
“Ya, nanti aku makan,” jawab Sean terdengar samar-samar oleh Lorena.
Lorena mengerutkan dahinya kenapa suara Sean terdengar begitu pelan?
“Sean! Apa kau sedang tidur?” tanya Lorena lagi.
“Ya,” jawab Sean.
“Sean, apa kau baik-baik saja?” tanya Lorena, dia heran kenapa Sean tidak membuka pintunya.
Tidak ada jawaban dari dalam. Lorenapun membuka pintu kamanya Sean perlahan ternyta tidak dikunci. Diapun melongokkan kepalanya melihat kedalam kamar.
Dilihatnya pria itu sedang tidur berselimut. Sontak saja dia terinagt saat Sean sakit dirumah kontrakannya juga begitu, dia akan membungkus dirinya dengan selimut.
“Sean, apa kau sakit?” tanya Lorena.
“Hanya sedikit pusing saja,” jawab Sean.
Lorenapun mendekatinya, dia melihat wajah Sean yang pucat.
Diapun duduk disamping Sean dan memegang dahinya, terasa begitu panas.
“Kau sakit!” kata Lorena.
“Tidak, aku baik –baik saja,” jawab Sean.
“O, oeek,” Tiba-tiba Sean merasakan perutnya mual, dia langsung turun dari tempat tidur, belari ke kamar mandi. Lorena mengikutinya dengan rasa yang khawatir.
“Sean, kau baik-baik saja?” tanya Lorena.
Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya terdengar Sean muntah muntah lagi.
Terdengar suara handphone Sean berdering terus menerus. Karena bunyinya yang berisik, Lorena mengakat telpon itu. Ada tulisan Pak Deni di layar.
“Siapa pak Deni?” gumamnya, tapi itukan urusan pribadinya Sean. Tapi Sean sedang ada dikamar mandi, apa lebih baik diangkat saja? Barangkali penting, mungkin temannya Sean yang menelpon itu. Lorenapun mengangkat telponnya.
“Halo!” sapanya.
Pak Deni tampak keheranan karena yang menerima telpon adalah seorang perempuan.
“Ini benar nomornya Pak Sean?” tanya Pak Deni, dia merasa mungkin saja dia salah tekan nomor.
“Iya benar. Kau pasti temannya kan?” tanya Loena.
Pak Deni terdiam.
“Iya,” akhirnya Pak Deni menjawab.
“Pak Sean sedang ada dikamar mandi, dia sedang sakit,” jawab Lorena.
“Sakit?” tanya Pa Deni terkejut.
“Iya, dia sedang muntah muntah, tadi badannya juga panas, mungkin belum bisa bertemu denganmu dulu,”jawab Lorena.
“Ya terimakasih,” jawab Pak Deni. Telponpun ditutup.
Pak Deni langsung saja mengontak Dokter yang sudah dipersiapkannya dari kemarin. Dia melihat Sean makan jagung bakar sudah bisa menebak pria itu akan jatuh sakit, dia tidak boleh makan sembarangan.
Lorena melihat Sean keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
“Apa kau baik-baik saja? Tadi temanmu menelpon, jadi aku angkat, “ kata Lorena sambil memperlihatkan handphone Sean.
Sean menghampirinya dan menerima handphonanya, dilihatnya panggilan yang masuk ternyata dari Pak Deni.
“Sebaiknya kau istirahat saja,” kata Lorena.
Sean tidak menjawab, kepalanya sangat pusing, perutnya juga terasa sakit. Diapun kembai naik ke tempat tidur.
“Kau tidur saja, mau aku panggilkan Dokter?” tanya Lorena, sambil menyelimuti Sean.
“Tidak usah,” jawab Sean, menggeleng.
“Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu,” kata Lorena.
Sean tidak menjawab, Lorena menatapnya sebentar, dia merasa kasihan pria itu teriihat sangat pucat, ini adlah yang kedua kalinya dia melihat pria itu sakit.
Lorenapun keluar dari ruangan itu. Diapun menuju dapur, meminta koki untuk membuat minuman hangat buat Sean. Dia kembali kemarnya Sean dengan baskom kompresan di tangannya.
“Badanmu panas sekali, sebaiknya kau panggilkan dokter ya,” kata Lorena, sambil mengompres dahinya Sean.
Sean menggeleng.
“Kenapa? Tidak apa-apa, dari pada kau begini, aku jadi khawatir,” kata Lorena.
Terdengar suara langkah mendekati kamarnya Sean. Pak Firman mengetuk pintu yang terbuka itu.
“Ada apa?” tanya Lorena
“Nona, ada temannya Pak Sean, dia membawa Dokter,” jawab pak Firman.
Lorena mengerutkan keningnya, temannya Sean?
“Iya.” Jawab Pak Firman.
Lorenapun bangun dari duduknya, kemudian keluar kamar mengikuti pak Firman.
Sesampainya diruang tamu, dia bingung karena begitu banyak orang. Siapa mereka?
“Malam Bu, saya temannya Pak Sean, membawa Dokter dan tim medis lainnya,” kata pak Deni. Begitu mendengar Sean sakit, dia langsung mengontak Dokter yang di persiapkannya itu.
Lorena menatap Pak Deni, apa benar temannya Sean? Kenapa tua sekali? Fikirnya. tapi dia tidak bicara apa-apa lagi, diapun mengangguk dan membalikkan badannya masuk ke ruangan lain menuju kamarnya Sean.
Begitu sampai, Pak Deni langsung saja bicara dengan Dokter.
“Tolong diperiksa Dok, sedetil detilnya,” kata pak Deni.
Dokter dan tim medis lainnya segaar memeriksa Sean. Pak Deni berdiri tidak jauh dari tempat tidur Sean. Pria paruh baya itu terlihat sangat perhatian. Lorena memperhatikannya, ternyata temannya Sean begitu perhatian pada Sean.
“Bagaimana dengan keadaannya?” tanya Pak Deni pada Dokter.
“Apa yang sudah dimakannya? Pak Sean harus tetap menjaga pola makannya, juga harus beristirahat yang cukup,” kata Dokter itu. Dia menuliskan resep buat Sean. Pak Deni langsung menerimanya.
Lalu Pak Deni mengantar Dokter itu keluar rumah, begitu juga dengan Lorena.
Pak Deni menoleh pada Lorena.
“Saya akan memastikan keadaan Pak Sean,” kata Pak Deni, sambil mengangguk pada Lorena lalu menuju kamarnya Sean.
“Sudah aku katakan, tidur di hotel saja, pola makanmu tidak teratur, kalau jauh begini aku tidak bisa mengurusmu,” kata Pak Deni.
Lorena akan menuju kamarnya sean, saat mendengar Pak Deni bicara dengan Sean, dia menghentikan langakhnya di dekat pintu.
“Kau juga makan sembarangan, kau tidak terbiasa dengan semua itu, dari dulu ususmu sangat sensitive terhadap makanan,” kata Pak Deni.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” kata Sean.
“Sebaiknya besok kita pulang,” kata Pak Deni.
“Tidak,” jawab Sean menggeleng.
“Tapi kau sakit,” kata Pak Deni.
“Aku akan membantu Lorena latihan,” kata Sean.
“Kau sedang sakit, harus istirahat tidak ada latihan-latihan,” kata Pak Deni.
“Tapi…”
“Aku akan membatalkannya,” jawab Pak Deni.
Sean tidak bicara lagi, dia masih memejakamkan matanya.
Lorena mengintip mereka dibalik pintu. Dihatnya Pak Deni membetulkan selimut Sean, dia tersenyum ternyata teman-temannya Sean sangat perhatian.
“Apa dia sudah tidur?” tanya Lorena pada pak Deni yang sedang membetulkan selimutnya Sean.
Pak Deni menoleh kearah Lorena.
“Nona, maaf kalau Pak Sean merepotkanmu,” kata Pak Deni.
“Tidak apa-apa, di ibukota aku mengontrak dirumahnya, aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri,” jawab Lorena.
Sean merasa tidak nyaman dia disebut saudara oleh Lorena.
“Sebenarnya saya bisa menyediakan perawat kalau kau tida keberatan,” kata Pak Deni pada Lorena.
“Tidak apa-apa, aku yang akan menjaganya,” jawab Lorena.
Pak Deni tersenyum mendengarnya, dia menatap gadis itu sejenak, jadi rupanya gadis itu yang tinggal satu kontrakan dengan Sean?
“Baiklah kalau begitu saya permisi, saya akan menebus obatnya dulu,“ jawab Pak Deni.
Lorena mengangguk, di akan mengantar Pak Deni tapi Pak Deni menolaknya.
“Tidak usah di antar, saya bisa sendiri,” kata Pak Deni.
“Baiklah, terimakasih” jawab Lorena. Pak Deni pun keluar dari kamarnya Sean.
Lorena menatap Sean yang berbaring lemah. Diapun menghampirinya, duduk disamping kepalanya Sean. Tangannya menyentuh dahinya Sean yang panasnya masih tingggi.
__ADS_1
“Kau lebih baik sekarang? Pak Deni sedang menebus obatnya, bersabarlah sebentar,” kata Lorena.
Sean tidak bicara apa-apa, dia memejamkan matanya mencoba tidur karena kepalanya terasa begitu pusing.
Setelah menebus obat, Pak Deni kembali ke rumahnya Lorena untuk mengantarkan obatnya. Dilihatnya Lorena sedang mengompres dahinya Sean. Diapun tersenyum. Dia senang ada wanita yang memperhatikan Sean. Yang dia tahu pacar-pacarnya Sean tidak ada yang seperti itu. Selain Sean sering mengganti pacarnya, Sean juga tidak pernah merepotkan pacar-pacarnya itu, mereka hanya pergi makan ke restaurant mewah dan shoping
saja.
“Ini obatnya?” tanya Lorena kepada Pak Deni yang segera mengangguk.
“Sean kau minum obatnya dulu,” jawab Lorena, membangunkan Sean, diapun membantu meminumkan obat itu.
Setelah Sean minum obat, barulah Pak Deni pulang.
Kini Lorena berdiri menatap Sean yang kembali berbaring.
“Sean,”panggilnya, sambil duduk disamping tubuh Sean.
Pria itu menatapnya.
“Aku minta maaf, benar-benar minta maaf,sudah membuatmu repot, kau juga kehujanan dan makan jagung bakar, aku lupa kau kan sangat sensitive terhadap makanan,” kata Lorena. Sean tidak menjawab.
“Aku fikir kau hanya tidak suka pedas saja,” jawab Lorena.
Sean tidak menjawab, menatap gadis itu yang sedang menatapnya.
“Tidak apa-apa, kau tidak perlu merasa bersalah begitu,” ucap Sean.
Lorena tersenyum mendengarnya, diapun membetulkan selimutnya Sean.
“Tidurlah, aku akan menjagamu disini,” katanya, masih dengan senyum manisnya membuat Sean merasa senang. Diapun mencoba memejamkan matanya lagi.
Malam semakin larut, Lorena menunggu Sean semalaman sambil megompresnya dengan sabar padahal dia juga sudah mengantuk tapi ditahannya rasa kantuknya itu.
Menjelang pagi, Sean bangun dengan kondisi yang sedikit lebih baik, perutnya tidak terlalu mual seperti semalam. Diliriknya kesebelahnya, ternyata gadis itu tidur menelungkup disampingnya. Seanpun tersenyum, dia melepas kompresan dikeningnya yang sudah dingin.
Tangannya terulur menyentuh rambutnya Lorena yang masih terlelap. Sepertinya Lorena tetidur menjelang pagi. Rambut itu terasa begitu lembut, hatinya semakin mencintai wanita ini. Dia senang Loena perhatian padanya, tapi dia juga tidak tahu apakah Lorena akan bersikap seperti itu jika tau yang sebenarnya tentang dirinya?
Diusap usapnya lagi rambut itu. Lorena yang merasa ada pergerakan dikepalanya, perlahan membukakan matanya. Sean buru-buru menarik tangannya.
“Kau sudah bangun?” tanya Loena.
“Iya,” jawab Sean. Lorena segera bangkit dan memegang dahinya Sean.
“Panasnya sudah mulai turun, apa kau merasa lebih baik?” Tanya Lorena.
“Iya, aku sudah lebih baik,” kata Sean.
Terdegar suara ketukan dipintu, Lorena menoleh kearah pintu ternyata ada Pak Firman
dengan seoang pelayan yang membawakan bubur.
Pak Firman menatap Lorena.
“Nona, saya sudah diberitahu Pak Deni makanan yang biasa dimakan olah Pak Sean, saya minta maaf keena
toledor soal ini,” kata Pak Firman.
Sean langsung menoleh ke pada Pak Fimran.
“Tidak Pak, tidak apa-apa, aku lebih baik sekarang,” kata Sean.
Lorena menoleh pada Pak Firman.
“Minta tolong pada koki untuk memasak sesuai anjuran Pak Deni,” kata Lorena. Pak Firman mengangguk diapun keluar dengan pelayan itu.
“Kau harus sarapan sekarang, ayo aku bantu kau duduk,” kata Lorena, sambil mencondongkan tubuhnya kearah Sean membantu pria itu duduk.
Lorena menyusun bantal bantal dibelakang punggungnya Sean, sampai rambutnya menyentuh wajahnya Sean. Kalau mereka sepasang kekasih, ingin sekali Sean mencium rambutnya.
“Kau nyaman sekarang?” tanyanya.
“Iya, terimakasih,” ucap Sean.
Lorena tidak menjawab, diapun mengambil bubur itu dan kembali duduk di pingir Sean.
“Kau makanlah, supaya kau cepat sembuh,” kata Lorena, sambil menunduk mengaduk aduk buburnya lalu menyendokkannya buat Sean. Sean menatap bubur itu sebentar.
“Kau jangan takut, aku tidak memasukkan racun pada bubur ini, kau tidak akan sakit perut lagi,” ucap Lorena. Membuat Sean tersenyum dan memakannya.
“Sean,” panggil Lorena.
“Apa?” tanya sean.
“Kau beruntung temanmu sangat baik. Waktu kau sakit di rumah di ibukota, Pak Sam sangat perhatian padamu, sekarang Pak Deni juga perhatian padamu, kau pasti teman yang baik sehingga mereka juga menjadi perhatian padamu,” kata Lorena.
Sean terdiam tidak menjawab. Lorena tidak tahu kalau pak Deni bukan temannya.
“Aku minta maaf tidak bisa mangantarmu nge Gym,” kata Sean.
“Tidak apa-apa, lagi pula aku tidak terlalu memikirkan konttes itu lagi,” kata Lorena.
Kenapa?” tanya Sean, terkejut.
“Segimana takdirnya saja jodohku dengan siapa,” jawab Lorena.
“Tapi kau harus lulus kontes itu,” kata Sean, dia tidak mau hasil kontes dimenangkan oleh gadis lain, dia ingin Lorena yang berhasil menang kontes dan menikah dengannya.
Lorena menatap Sean.
“Aku sedang berfikir, bagaimana kalau aku ternyata jatuh cinta pada orang lain tapi bukan pada pak Sam,” ucap Lorena sambil menatap Sean.
“Apa kau jatuh cinta pada orang lain?” tanya Sean.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Lorena, kembali mengulurkan sendok ke mulut Sean.
*********
Maaf banyak typo padahal udh di edit pada robah lagi
__ADS_1
Sinyalnya juga jelek loading terus berjam jam