
Dokter wanita itu memeriksa Valerie yang masih tidak sadarkan diri diatas tempat tidur. Di dadanya tertulis nama Meta.
“Bagaimana keadaannya Dok?” tanya Bu Asni pada Dokter Meta, saat Dokter itu menyelesaikan pemeriksaannya.
Untung saja Dokter Meta tidak ada jam praktek pagi, jadi bisa langsung datang saat ditelpon Bu Asni. Kebetulan lokasi praktek Dokter Meta tidak jauh dari komplek rumah ini.
“Dari hasil pemeriksaan kehamilannya sekitar 6 minggu tapi untuk memastikan harus di USG jadi bisa langsung datang ke tempat praktekku, tidak jauh tempatnya dari sini,” jawab Dokter Meta.
“Baik Dok,” kata Bu Asni, kembali melirik Valerie.
“Aku buatkan resep penguat kandungan, bisa ditebus diapotik manapun,” kata Bu Meta lagi, dia duduk dikursi yang ada dikamar itu dan menuliskan resep.
“Ibunya jangan terlalu capek, karena ini masa-masa awal kehamilan jadi agak rentan, terus jaga juga pola makan, badan ibunya kurus, sebaiknya makannya harus ditingkatkan, ingat sekarang ada bayi yang harus diberi makan,” lanjut Dokter Meta.
Bu Asni menoleh lagi pada gadis yang masih belum siuman itu, gadis itu memang lebih kurus dari saat dia datang kerumah ini.
Setelah mendapatkan resep dari Dokter Meta, Bu Asni duduk dikursi yang dekat tempat tidurnya Valerie, dia masih bertanya-tanya siapa ayah bayi itu?
Dilihatnya ada pergerakan dari Velerie, gadis itu mulai siuman.
“Sayang, kau sudah sadar?” tanya Bu Asni.
Valerie memegang kepalanya yang terasa berat, dia membuka matanya dan menatap Bu Asni. Wanita paruh baya itu tidak bicara, dari sorot matanya terlihat banyak pertanyaan disana, melihatnya membuat Valerie kembali menangis sesenggukan.
Bu Asni terdiam, membiarkan Valerie menangis sampai puas.
“Aku harus apa sekarang?” tanya Valerie sambil menghapus airmatanya.
“Kau harus meminta pertanggung jawaban pria itu,” jawab Bu Asni.
“Aku tidak tahu siapa pria itu Bu,” jawab Valerie kembali menangis, jawabannya Valerie membuat Bu Asni terkejut.
“Apa maksudmu tidak tahu?” tanya Bu Asni.
“Sesorang sudah menodaiku saat aku tidak sadarkan diri disebuah club, aku tidak tahu pria itu,” jawab Valerie, kembali menangis lagi, membuat Bu Asni terkejut.
“Kau dinodai pria yang tidak dikenal?” tanya Bu Asni.
Valerie mangangguk, menangis lagi meratapi nasibnya.
__ADS_1
Bu Asni terdiam, dia merasa kasihan melihat nasib gadis itu. Kalau seperti ini bagaimana cara mencari pria itu?
“Aku harus menggugurkan kandungan ini, aku tidak mau hamil Bu,” ucap Valerie, mengeleng-gelengkan kepalanya, menatap Bu Asni disela matanya yang berair.
“Kau jangan bertindak gegabah. Kalau kau hamil itu artinya ada bayi yang memiliki hak untuk hidup,” kata Bu Asni.
“Tapi aku tidak menginginkan bayi ini. Aku tidak bisa melahirkannya, bagaimana nasibnya nanti, bagaimana kalau bayi ini menanyakan ayahnya, aku sendiri tidak tahu ayahnya siapa,” ucap Valerie.
“Kau tenanglah dulu, “ ujar Bu Asni, sambil bangun mengambilkan air minum yang ada di meja lalu kembali mendekati Valerie.
“Ayo minumlah,” Bu Asni mengulurkan air itu. Valerie mencoba bangun dan duduk, menatap Bu Asni dengan nanar.
“Ayo minumlah, supaya kau lebih tenang,” kata Bu Asni lagi.
Valerie mengambil gelas itu dan diminumnya.
“Kau benar-benar tidak tahu pria itu?” tanya Bu Asni.
Valerie menggelengkan kepalanya sambil menunduk menatap air dalam gelas yang sedang dipegangnya.
“Kau harus berusaha untuk mengingatnya,” ujar Bu Asni, masih menatap Valerie, dia bisa merasakan bagaimana bingungnya gadis di depannya itu.
Dalam benaknya Valerie kembali terbayang Earlangga yang berenang di villa itu. Tapi dia tidak bisa langsung menuduh Earlangga yang menodainya, karena tidak ada bukti apapun, kalau soal miirp, mungkin ada banyak pria yang memiliki tubuh seperti Earlangga.
Lagi pula rasanya terlalu kebetulan dia bisa kenal dengan pria yang menodainya, jadi bisa jadi tidak mungkin Earlangga juga. Kalaupun Earlangga, masa dia tidak mengenali dirinya juga? Pasti pria itu melihat wajahnya.
Kecuali memang kalau pria itu tukang main perempuan dan sudah terbiasa berganti-ganti perempuan, mungkin dia akan lupa wajah wanita yang pernah ditidurinya.
Valerie menatap Bu Asni yang kembali duduk dikursi itu.
“Aku harus pergi dari rumah ini, perutku lama kelamaan akan membesar, aku akan membuat malu ibu,” kata Valerie.
“Memangnya kau akan pergi kemana?” tanya Bu Asni.
“Aku tidak tahu, aku tidak punya siapa-siapa di kota ini, tapi aku tidak mau kehamilanku menjadi aib buat ibu, aku harus pergi,” jawab Valerie.
“Jangan dulu berfikir begitu, bagaimana kalau kita cari dulu siapa ayah bayi itu?” saran Bu Asni.
“Tapi Bu, aku yakin pria itu adalah pria yang tidak baik,” jawab Valerie.
__ADS_1
“Siapapun ayah bayi itu, ayahnya harus tahu kau hamil, soal bagaimana nanti kita fikirkan nanti saja. Kau tidak bisa menanggung penderitaan ini sendiri, harus ada pria yang bertanggung jawab atas kehamilanmu,” kata Bu Asni.
“Aku takut Bu, aku takut bertemu pria itu, aku tidak mau kehamilan ini Bu,” ucap Valerie. Bu Asnipun terdiam.
“Bagaimana kalau pria itu ternyata pria beristri? Aku tidak mau menikah dengan pria beristri,” lanjut Valerie, dia kembali sesenggukan menangis.
Bu Asni semakin bingung saja melihatnya.
“Nanti siang apa kau akan ke kantornya Pak Earlangga?” tanya Bu Asni.
“Apa tadi dia bertanya soal aku?” Valerie balik bertanya.
“Iya aku bilang kau sedang sakit tapi sebentar lagi pulih,” jawab Bu Asni.
Valeriepun terdiam, dia sangat bingung.
“Seperinya aku memang harus pergi dari rumah ini Bu, Bagaimana kalau Pak Earlangga dan keluarganya yang lain tahu? Juga pekerja-pekerja lainnya, aku akan mempermalukan ibu,” lanjut Valerie.
“Kita harus bicara dengan Pak Earlangga,” kata Bu Asni.
“Jangan Bu!” cegah Valerie.
“Pak Earlangga majikan disini, dia wajib tahu,” kata Bu Asni.
“Bisakah untuk sementara ini kehamilanku dirahasiakan Bu? Aku belum tahu apa yang terbaik yang harus aku lakukan,” pinta Valerie.
“Baiklah kalau begitu. Tapi yang pasti bagaimanapun ayah bayi itu, kau harus tahu dulu siapa ayah bayimu ini. Soal dia adalah pria yang tidak baik atau dia pria beristri, itu urusan nanti,” kata Bu Asni.
Valeriepun terdiam.
“Ibu akan menebus obat, kau tunggu disini. Nanti siang kalau kau merasa lebih baik kau harus ke kantornya Pak Earlangga. Dia akan curiga sakitmu parah kalau kau tidak menemuinya,” kata Bu Asni.
“Baiklah Bu,” jawab Valerie.
Bu Asni bangun dari duduknya dan keluar dari kamarnya Valerie. Gadis itu hanya menatap kepergiannya Bu Asni.
Valerie berfikir keras, kalau dia mengikuti sarannya Bu Asni, dia harus mencari pria itu, bagaimana mencarinya? Apakah dia harus menemui Darren dan mengatakan kalau dia hamil? Pria itu pasti akan menertawakannnya. Pria yang benar-benar tidak punya hati, batinnya.
**********
__ADS_1