Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-101 Kecurigaan Sean


__ADS_3

Lorena memperhatikan Sean yang masih menelpon diluar. Kalau saja bukan karena pria itu begitu gigih memperjuangkan cintanya, mungkin dia akan memilih pergi jauh darinya meskipun dia yang memenangkan kontes itu mungkin dia akan melepasnya.


Menemukan pria yang benar-benar mencintainyapun ternyata bukanlah akhir dari segalanya. Aral melintang dalam sebuah hubungan masih terus saja ada dan tidak tahu kapan akan berhenti.


Diliriknya ibu mertuanya yang keluar ruangan dan berbicara dengan Sean, sepertinya akan pamit pulang, karena dilihatnya ibu mertuanya pergi menjauh. Bahkan ibu mertuanya itu tidak pamitan padanya.


Lorena menunduk sedih, mendapatkan suami yang mencintainya ternyata ada hal lain yang membuatnya tidak bahagia. Saat menoleh lagi kearah jendela, ternyata suaminya sedang menatapnya dari luar. Lorena kembali menunduk mengalihkan perhatiannya pada Sean.


Sean bisa melihat kesedihan dimata istrinya, tapi mau bagaimana lagi? Mereka harus menerima kemungkinan terburuk. Sean segera masuk keruangan itu, langsung duduk dikursi disamping Lorena yang tidak mau menatapnya.


“Ada yang tidak kau ceritakan padaku?” tanya Sean, menyentuh kepalanya Lorena mengusapnya perlahan.


Lorena menoleh menatap suaminya.


“Apa?” tanya Lorena. Matanya bertemu dengan mata suaminya.


“Kau tidak bercerita kalau ada Nisa ke rumah kemarin,” jawab Sean, menatap wajah istrinya itu.


Lorena terdiam dan berfikir.


“Iya, ada dia, kenapa?” tanya Lorena.


“Apa mungkin dia yang mencoba mencelakaimu?” tanya Sean.


“Nisa? Entahlah,” jawab Lorena.


“Terekam CCTV, kau makan makanan yang Nisa bawa kan?” tanya Sean.


Lorenapun kembali diam, dia baru ingat kalau dia sempat memakan buah mangga yang Nisa bawa.


“Aku makan buah mangganya,” jawab Lorena.


“Seharusnya kau tidak memakannya, sayang,” ucap Sean, masih dengan nada lembut, tidak ada tanda tanda dia menyalahkan atau marah atas kecerobohannya Lorena.


“Aku sangat ingin memakannya,” jawab Lorena. Dia masih ingat, rasa mual dan pahit dimulutnya membuatnya bergitu tergiur untuk makan asinan buah yang segar itu.


“Maaf aku sudah melakukan kesalahan,” ucapnya, kembali menatap Sean.


“Aku yang minta maaf karena tidak memperhatikanmu,” kata Sean, tangan kanannya mengusap perutnya Lorena.


“Aku tidak mau kehilangan bayi kita,” ucap Lorena, tangannya menumpang diatas tangannya Sean.


“Kalau kemungkinan buruk itu terjadi kita harus siap,” kata Sean, membuat Lorena terisak.


Sean bangun dari kursiya, pindah duduknya dipinggir tempat tidur pasien itu, menarik kepalanya Lorena supaya tidur dipangkuannya. Tangannya tidak berhenti mengusap punggung istrinya.


“Kalau aku tidak bisa mempertahankan bayiku, aku terpaksa harus mengijinkanmu menikahi wanita lain,” ucap Lorena, membuat Sean terkejut.


“Kau ini bicara apa? Tidak ada wanita lain, jangan berfikir macam-macam, jangan dengarkan perkataan ibuku,” potong Sean.


“Aku telah membuat kesalahan,” ucap Lorena.


“Sudahlah jangan bicara begitu terus. Baik buruk kita hadapi bersama, tidak perlu berfikir macam-macam,” kata Sean, menundukkan kepalanya mencium keningnya Lorena.

__ADS_1


“Apa Nisa memasukkan sesuatu pada makanan itu?” tanya Lorena.


“Tidak ada bukti, karena sisa makanannya tidak ada. Aku hanya merasa curiga saja. Sangat aneh dia tiba-tiba datang kerumah membawa makanan,” jawab Sean.


“Sebenarya dia ingin kau membebaskan ayahnya. Dia juga minta maaf padaku. Keluarganya jatuh miskin sekarang,” kata Lorena.


“Aku tidak mungkin membebaskan ayahnya yang telah berbuat kejahatan seperti itu. Dia harus diberi pelajaran tapi sepertinya mereka masih tidak kapok juga,” ucap Sean dengan ketus.


Lorena tidak menjawab lagi, kalau saja waktu itu Indri tidak datang mungkin sudah dari kemarin dia berbaring di rumah sakit ini dan mungkin saja bayinya sudah tidak tertolong.


“Kalau misalkan benar Nisa yang merencanakan ini semua, maukah kau membebaskan ayahnya? Aku ingin permasalahan ini selesai. Aku ingin hidup damai bersamamu dan bayi kita,” kata Lorena, menengadah menatap Sean.


Sean menunduk menatap istrinya, tapi tidak bicara apa-apa, sepertinya dia sedang berfikir, kemudian sebuah ciuman mendarat dikeningnya Lorena.


“Kau istirahat saja, semua itu urusanku. Aku mencintaimu tapi aku yang membawamu dalam kesulitan ini, aku minta maaf,” ucap Sean.


“Tidak perlu minta maaf, aku juga mencintaimu,” kata Lorena, tangannya mengangkat keatas meraih kepalanya Sean supaya mendekat. Sean balas menciumnya beberapa kali.


“Semoga kau dan bayi kita cepat sehat, sayang,” ucapnya. Lorena hanya mengangguk.


Terdengar suara ketukan dipintu, membuat Sean dan Lorena menoleh kearah pintu yang terbuka sedikit. Di jendela terlihat ada Sam dan Indri di luar.


“Masuklah!” seru Sean.


Sam dan Indri langsung mendorong pintu kamar itu segera masuk ke dalam.


“Lorena, aku sangat terkejut saat mendengar kau masuk rumah sakit. Kata Presdir Sam kau keracunan makanan, apakah karena kau makan asinan buah yang aku bawa?” tanya Indri. Wajahnya terlihat pucat, terlihat sekali dia merasa khawatir dan merasa bersalah.


Lorena mencoba duduk dibantu Sean, meskipun sebenarnya kepalanya masih terasa pusing. Sean langsung memeluknya supaya Lorena bersandar ke tubuhnya.


“Aku lebih baik sekarang,” jawab Lorena.


“Apa kau makan makanan yang Nisa bawa?” tanya Sean pada Indri.


“Tidak, aku segera mengusir Nisa kemarin. Memangnya kau makan makanan yang Nisa bawa?” Indri menoleh pada Lorena.


“Iya, aku makan mangganya,” jawab Lorena.


“Apa mungkin Nisa melakukannya? Dia ingin kau keguguran!” ucap Indri.


Sam menoleh pada Sean.


“Ayahnya Nisa berapa lama lagi dipenjara?” tanya Sam.


“Aku tidak tahu pasti, kau tanya pengacara saja,” jawab Sean.


“Apa mungkin Pak Tedi masih dendam padamu jadi merencanakan ini semua?” tanya Sam.


“Mungkin juga,” jawab Sean.


“Kalau benar begitu, mereka benar-benar keterlaluan. Sudah masuk penjara bukannya lebih baik malah semakin menjadi,” gerutu Sam.


Sean menoleh pada Indri.

__ADS_1


“Apa kau mau menunggui istriku disini? Aku dan Sam akan keluar,” Tanya Sean.


Indri menoleh pada Sean lalu pada Lorena.


“Baiklah aku akan menjaga Lorena disini,” jawab Indri.


Lorena menoleh pada Sean.


“Kau mau kemana?” tanya Lorena.


“Aku ada perlu sebentar, nanti aku kembali kesini, kau ditemani Indri dulu,” jawab Sean, tangannya mengusap rambutnya Lorena.


“Ingat kata Dokter, kau harus beristirahat suapya kondisimu dan bayi kita cepat pulih,” ucap Sean, kemudian mencium bibirnya Lorena.


Lorena tidak bicara apa-apa lagi saat Sean melepaskan pelukannya, beranjak meninggalkannya bersama Sam. Kini tinggal Lorena dan Indri yang ada dalam ruangan itu.


“Kau istirahat saja,” ucap Indri, sambil membantu Lorena berbaring.


“Apa Sean akan menemui Nisa?” tanya Lorena pada Indri.


“Entahlah,” jawab Indri, dia duduk dipinggir tempat tidur menatap Lorena yang sudah berbaring lagi.


“Tapi tidak ada bukti kalau Nisa akan mencelakaiku,” ucap Lorena.


“Siapa lagi kalau bukan Nisa? Para pelayan di rumahmu tidak akan seceroboh itu mengabaikan kesehatanmu dan bayimu, apa mereka mau dipecat? Saat melihatnya saja aku curiga dia berencana buruk, kau jangan percaya kata-katanya,” kata Indri.


Lorena menatap Indri.


“Kalau benar Nisa memasukkan sesuatu pada makanan itu, aku sangat berterimakasih padamu karena kau segera mengusirnya. Kalau tidak, mungkin bayiku sudah tidak tertolong,” ucap Lorena.


“Tapi sekarang bayimu baik-baik saja kan?” tanya Indri.


“Aku belum tahu, bayiku terganggu karenanya. Aku berharap dia bisa selamat,” jawab Lorena.


Indir


mengusap perut Lorena perlahan.


“Aku yakin dia pasti kuat,” ucapnya.


“Aku tidak bisa membayangkan kalau aku tidak bisa mempertahankannya. Ibu mertuaku bersikeras menikahkan Sean dengan wanita lain,” kata Lorena, membuat Indri terkejut dan menatapnya.


“Jadi ibu mertuamu masih membahas warisan itu?” tanya Indri. Lorena mengangguk.


Indri menatap Lorena dengan sedih.


“Kau tahu, seandainya aku tahu akan ada kejadian ini dibalik kontes itu, mungkin aku tidak akan ikut kotes itu. Seakarang aku malah bersyukur aku akan menikah dengan Presdir Sam jadi tidak mengalami hal buruk seandainya aku menikah dengan Presdir Sean,” kata Indri.


“Aku juga, yang membuatku bertahan hanya karena Sean sangat mencintaiku,” jawab Lorena.


“Iya, aku bisa melihat itu. Jadi sekarang kau harus bersemangat! Kau harus optimis, bicaralah pada bayimu supaya dia bisa sehat sampai saatnya dilahirkan nanti, supaya kau dan Sean juga bahagia dengan kehadirannya,” ucap Indri, masih mengusap perutnya Lorena sambil tersenyum.


“Kau benar, aku harap begitu. Aku ingin semua masalah ini berakhir dengan kebahagiaan,” ucap Lorena, diangguki Indri.

__ADS_1


*************


__ADS_2