
Hampir dua jam Sean berada di dalam ruang kerja ibunya dengan bersama tamu itu. Kemudian dia keluar ruangan akan berangkat dengan tamu-tamunya. Sebelum berangkat dia ke kamarnya Lorena dulu untuk memberitahu istrinya.
Saat menuju pintu kamarnya, dia mendengar yang bercakap-cakap di dalam kamarnya, sepertinya istrinya tidak sendirian. Benar saja pintu kamarnya terbuka, ada beberapa pelayan perempuan di dalam kamarnya. Sean semakin terkejut saat masuk kamar begitu banyak botol-botol berdus dus.
“Ini apa?” tanyanya, terkejut. Para pelayan itu langsung mundur, memberi jeda Sean bicara dengan Lorena.
Lorena menoleh pada Sean dengan wajahnya yang tampak muram.
“Kau lihat, sabun-sabun itu sangat bau, tidak ada sabun yang wangi,” keluh Lorena, membuat Sean kebingungan dan menoleh pada salah satu pelayan itu.
“Kami sudah membawa berbagai macam sabun Pak, tapi semua ditolak ibu, sudah tidak ada lagi prodak sabun yang tersisa,” kata pelayan itu.
Sean menoleh pada Lorena yang sedang mencium sebuah botol, dia langsung memegang hidungnya dan memberikan botol itu pada pelayan yang lain, yang segera menyimpannya dalam dus. Diambil lagi sabun yang lain begitu, lagi-lagi Lorena menutup hidungnya lalu memberikan botol itu pada pelayan.
“Sayang, sabun sebanyak ini tidak ada yang kau suka?” tanya Sean.
“Kenapa sabun-sabun ini sangat bau,” keluh Lorena lagi. Sean berjalan mendekati Lorena, tiba-tiba tangan Lorena terentang kearahnya tidak lupa dia menutup hidungnya.
“Kau juga bau, Sean, sudah aku katakan jangan pakai sabun itu,” kata Lorena, membuat Sean menghentikan langkahnya.
Sean mengambil satu botol yang ada didalam dus itu lalu diciumnya, harum tidak masalah, dia ambil lagi yang lain juga harum.
“Sayang, sepertinya kau ada masalah dengan penciumanmu, ayo kita ke Dokter THT!” kata Sean.
“Benarkah? Aku merasa baik-baik saja, tapi memang sabun-sabun ini sangat bau, tidak ada sabun yang ku suka,” jawab Lorena.
Sean menoleh pada pelayan-pelayannya.
“Tolong bereskan semuanya, bawa keluar dari kamarku,” perintahnya.
“Baik Pak,” jawab pelayan-pelayannya yang langsung memberikan dus dus yang berisi botol-botol sabun berbagai merk itu. Sean terpaksa duduk berjauhan dengan Lorena. Dia duduk di pinggir tempat tidur, menatap istrinya yang duduk di sofa sambil menutup hidungnya.
Sean merasa heran kenapa istrinya bersikap begitu.
“Sayang, aku ganti pakaianmu, kita ke Dokter sekarang. Tadinya aku ada pekerjaan keluar tapi melihat kau seperti ini, aku harus membawamu ke Dokter THT, sepertinya kau ada masalah dengan hidungmu,” kata Sean.
Lorena menoleh pada Sean. Suaminya itu mengaggukkan kepalanya.
“Aku baik-baik saja,” ucap Lorena.
“Kau bisa bilang begitu kalau sudah dari Dokter. Ayo ikut denganku, jangan membantah,” kata Sean.
“Baiklah,” jawab Lorena, dengan cemberut, dia merasa baik-baik saja, tapi Sean malah mengajaknya ke Dokter THT.
Lorena bangun dari duduknya menuju lemari pakaian, saat melewati Sean lagi-lagi dia menutup hidungnya sambil meliriknya, membuat Sean kesal saja dengan tingkahnya tapi dia hanya menatapnya, istrinya benar-benar harus dibawa ke dokter THT.
Bahkan di dalam mobilpun istrinya tidak mau duduk di depan, sehingga Sean jadi seperti supir saja, duduk di depan sendirian.
“Sayang, aku ini bukan supir,” kata Sean.
“Aku tidak mau dekat-dekat denganmu,” jawab Lorena.
Sean kecewa mendengarnya, sikap istrinya malah semakin aneh, kalau berjauh-jauhan begini bisa gawat, untuk menciumnya saja tidak bisa.
“Kita langsung ka Dokter THT, untung ada jadwal Dokternya sekarang,” kata Sean.
Sesampainya di rumah sakit, Sean mengajak istrinya ke ruang praktek Dokter THT. Tidak harus menunggu lama, karena keluarga Sean eksklusif bekerja sama dengan rumah sakit ini jadi diberi perlakuan khusus tidak perlu antri.
__ADS_1
“Silahkan duduk!” kata Dokter THT itu saat Sean dan Lorena masuk dalam ruangan itu.
Sean menoleh pada Lorena untuk duduk duluan, tapi saat Sean akan duduk disampingnya, lagi-lagi Lorena menutup hidungnya lagi dan menatap Sean, membuat Sean kesal saja.
“Lihatlah Dok, tingkahnya seperti itu, dia terus terusan mengatakan aku bau, sampai aku harus mandi berkali-kali dengan berganti-ganti sabun. Hari ini juga dia menolak semua sabun yang disediakan pelayanku,” keluh Sean, tidak jadi duduk, dia berdiri saja menjauh.
Dokter yang berusia masih muda itu menatap Lorena yang juga menatapnya.
“Tapi suamiku memang bau, Dok. Aku tidak tahu kenapa dia begitu, biasanya dia harum,” jawab Lorena.
Sean memberengut saja mendapat jawaban dari istrinya. Seumur hidupnya baru sekarang dikatakan bau oleh istrinya.
“Mari saya periksa,” kata Dokter, menunjuk ke kursi periksa, disana ada alat-alat pencahayaan dan alat-alat lainnya untuk memeriksa hidungnya.
Sean hanya berdiri di kejauhan sambil bersandar di tembok, melipat kedua tangannya didadanya.
“Bagaimana Dok?” tanya Sean, tidak sabar.
“Semua normal, tidak ada masalah,” jawab Dokter, setelah memeriksa hidungnya Lorena.
Lorenapun kembali ke kursi didepan meja praktek Dokter itu.
“Tapi kenapa istriku seperti itu?” tanya Sean, masih berdiri dekat tembok, dia tidak mau dekat-dekat istrinya kalau tidak mau dikatai bau lagi.
“Coba aku lihat lagi hasilnya,” jawab Dokter.
Seorang perawat masuk kedalam ruangan itu.
“Dok, ini data pasien yang tadi,” kata perawat itu.
Dokter duduk kembali di kursinya dan perawat itu duduk disamping Lorena. Perawat itu tersenyum pada Lorena.
“Dokter! Kenapa kepada perawat tadi istriku tidak mengatakan bau, padahal parfumnya sangat kuat,” kata Sean, dia juga masih mencium parfum perawat tadi.
Dokter menatap Lorena yang juga menatapnya.
“Kau mencium parfum perawat tadi?” tanya Dokter.
“Iya, wangi,” jawab Lorena.
Mendengar jawaban istrinya, Sean buru-buru duduk dekat istrinya, spontan Lorena langsung menutup hidungnya lagi.
“Kau bau!” keluhnya, dan matanya langsung menyipit tidak suka pada suaminya.
“Tuh snagat aneh kan Dok! Coba apa aku sebau Itu?” Sean berdiri mendekati Dokter. Dokter itu mencium bau badannya Sean.
“Aku tidak bau kan?” tanya Sean. Dokter mengangguk.
“Secara medis juga ibu ini tidak ada masalah,” kata Dokter bingung.
“Apa aku harus menggunakan parfum wanita baru tidak dikatakann bau?” keluh Sean.
“Tapi tadi saya memeriksanya juga pasien tidak ada masalah,” ucap Dokter.
Perawat tadi datang lagi keruangan itu dengan membawa berkas-berkas. Semua mata memandangnya.
“Ada apa?” tanya perawat.
__ADS_1
“Coba kau duduk lagi disamping istriku,” jawab Sean. Perawat itu bingung tapi dia menurut saja, Lorena hanya menatap perawat itu yang kebingungan.
“Gantian aku yang duduk,” kata Sean.
Perawat itupun bangun, dan Sean yang duduk dikursi itu, Lorena langsung saja menutup hidungnya. Sean langsung bangun dan menoleh pada Dokter THT.
“Dok coba kau duduk disini,” kata Sean.
Dokter itupun bangun lalu duduk dikursi samping Lorena, Lorena hanya diam saja.
“Ternyata istriku mengatakan bau kalau aku mendekatinya!” keluh Sean, lalu menoleh pada perawat itu.
“Perawat tolong cium aku, bau tidak?” kata Sean.
“Apa?” perawat itu terkejut. Lorena langsung memberengut sebal pada suaminya. Apa maksudnya menyuruh perawat menciumnya?
“Maksudku aku bau tidak?” Sean meluruskan, barulah perawat itu mengerti, hatinya sudah senang tiba-tiba disuruh mencium pria tampan.
Perawat itu mendekati Sean dan menajamkan penciumannya mengendus bau tubuh Sean.
“Tidak bau, harum,” jawab perawat.
Lorena yang melihat perawat itu mendekati suaminya membuatnya kesal buat apa suaminya berbuat seperti itu segala. Dia tidak bicara tapi matanya memerah.
“Mungkin istri Bapak sedang hamil, jadi sensitive pada bau-bauan!” kata perawat itu tiba-tiba, membuat Sean menatap perawat itu.
“Kau serius?” tanya Sean, hatinya senang mendengarnya, diapun menoleh pada Lorena, tapi istrinya itu sama sekali tidak terlihat bahagia, wajahnya malah terlihat memerah.
“Bisa jadi,” kata Dokter THT.
“Aku rujuk ke Dokter kandungan saja ya,” kata Dokter THT itu.
“Apa hubungannya hidung dengan hamil? Hamil kan diperut bukan di hidung,” kata Sean kebingungan.
“Itu hanya sugesti saja Pak, dicoba saja, orang yang ngidam memang suka aneh-aneh,” kata perawat.
Meskipun tidak mengerti dan membingungkan, tapi kalau ternyata Lorena hamil Sean akan merasa senang sekali. Diliriknya lagi istrinya hanya diam saja menunduk.
“Ini catatannya Dok,” kata perawat itu memberikan selembar kertas pada Dokter lalu keluar dari ruangan itu.
“Apa kita perlu ke Dokter kandungan Dok?” tanya Sean.
“Tidak apa-apa, dicoba saja, karena dari segi medis hidung istri anda tidak ada masalah,” kata Dokter.
“Baiklah, terimakasih Dok, saya akan ke Dokter kandungan yang disini saja, kemarin kami konsultasinya dengan Dokter Ramli di rumah sakit lain,” ucap Sean.
Dokter itu menulis disecarik kertas lalu diberikan pada Sean.
“Langsung ke Dokter Tati, sekarang sedang praktek,” kata Dokter THT itu.
Sean jadi teringat dengan Dokter yang memalsukan hasil tesnya Lorena, informasi dari Pak Deni Dokter itu sudah dipecat dari rumah sakit ini.
“Iya terimakasih Dok,” kata Sean. Lalu menoleh pada Lorena.
“Ayo sayang, kita ke Dokter kandungan,” ajak Sean.
Lorena tidak bicara dia bangun dan keluar dari ruangan itu, diikuti Sean.
__ADS_1
*********