
Earlangga menoleh pada Bu Riska.
“Kau boleh pergi, kalau kau akan pulang duluan pulang saja,” kata Earlangga.
“Baik Pak,” jawab Bu Riska, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Valerie tersenyum pada Earlangga dengan wajahnya yang memerah, dia ketahuan makan seperti anak kecil dengan saos dan mayonaise menempel dimulutnya.
Earlangga berjalan mendekati Valerie, diambilnya sapu tangan disaku dan dengan tidak sungkannya melap mulutnya Valerie, yang terkejut dengan sikap Earlangga yang tidak disangka-sangkanya itu.
“Kau boleh makan sepuasnya, jangan terganggu karena aku datang,” kata Earlangga, memahami sikapnya Valerie yang terciduk makan sosis sambil berdiri.
“Maaf,” ucap Valerie, dengan ragu melanjutkan memakan sosis bakarnya lagi.
Earlangga hanya tersenyum saja, dia semakin merasa bersalah saja kalau mengganggu kesenangannya Valerie, setelah penderitaan yang dia berikan pada gadis ini.
Tiba-tiba berdatangan beberapa pedagang menghampiri Valerie.
“Bu, anda belum membayar dagangan saya,” kata salah satunya.
“Iya kami mau tutup,” kata penjual yang lainnya, membuat Earlangga terkejut, juga Valerie.
Yang membuat terkejut Earlangga bukanlah belum dibayarnya tapi banyaknya penjual yang menyebutkan jenis makanan yang dimakan oleh Valerie.
“Kau makan sebanyak itu?” tanya Earlangga, tidak percaya menatap Valerie.
“Aku sangat lapar,” jawab Valerie, dengan wajah yang langsung pucat dan seperti ingin menangis karena tatapan Earlangga, membuat Earlangga tersadar sudah membuatnya tidak nyaman.
“Aku minta maaf, kau boleh makan apapun yang kau suka, aku akan membayarnya,” jawabnya, dan langsung mengeluarkan uangnya diberikan pada pedagang-pedagang itu.
Valerie tersenyum lagi sambil menghabiskan sosisnya.
“Aku mau dua lagi,”pesannya pada penjual sosis itu,membuat Earlangga menoleh lagi pada Valerie keheranan, apa masih belum kenyang?
“Tapi Bu, kita akan tutup, kantor sudah tutup,” kata penjual sosis itu.
“Tidak apa-apa , kau masih boleh berjualan,” ucap Earlangaa pada penjual itu.
“Baik Pak,” jawab penjual sosis itu, kembali menyalakan alat pembakaran sosisnya.
Valerie masih serius menunggunya dengan senang hati. Dia tidak peduli orang-orang keheranan dengan cara makannya yang seperti kelaparan, dai memang lapar, setelah selama ini susah sekali untuk makan.
“Ada makanan lain yang kau inginkan? Aku akan meminta penjualnya jangan dulu meninggalkan kios,” kata Earlangga.
Valerie menoleh pada Earlangga, matanya langsung berbinar-binar.
“Apa bisa?” tanya Valerie dengan ragu.
“Tentu saja,” jawab Earlangga, lalu memanggil seseorang penjaga kios itu.
“Jangan dulu tutup,” kata Earlangga.
“Tapi Pak, semua karyawan sudah pulang, tidak akan ada lagi pembeli, ini juga sudah gelap,” kata penjaga kios.
“ Jangan dulu tutup sebelum istriku selesai membeli,” ulang Earlangga memperjelas.
“Baik Pak,” jawab penjaga kios itu sambil menepuk-nepuk tangannya berseru-seru pada penjual yang sedang menutup dagangannya supaya kembali berjualan. Terpaksa pedagang-pedagang itu buka kembali, menunggu sampai pemilik perusahaan itu menyuruh mereka tutup.
Ruangan itupun menjadi terang benderang, lampu-lampu dinyalakan karena memang sekarang sudah gelap, karyawan juga hamper seluruhnya sudah pulang, hanya beberapa ruangan di gedung bertingkat itu yang masih menyala menandakan ada beberapa karyawan yang lembur dengan pekerjaannya.
Earlangga menunggu Valerie berwisata kuliner sedirian, dia hanya menunggu duduk disalah satu kursi. Diperhatikannya gadis itu yang sekarang pindah dari satu kios ke kios lainnya, mencicipi ini dan itu. Kalaua Valerie tiap hari begini, bisa dibayangkan bayinya pasti akan gemuk.
Meskipun Earlangga merasa kesal pada Darren yang malah memerasnya, tapi demi tidak terganggunya masa kehamilan Valerie, dia tidak mempermasalahkannya, dia akan lebih pusing kalau Valerie tidak bahagia.
**************
__ADS_1
Sebulan kemudian…
Praktis sebulan itu Valerie tidak bekerja di rumah sakit. Earlangga melarangnya untuk bekerja dan hanya memperbolehkan Valerie keluar rumah untuk mencari makanan yang disukainya itupun dengan ditemani supirnya.
Pak Sobri selalu menjaga ketat dipintu utama juga satpam yang sudah bersiap siaga jika dilihatnya Valerie keluar rumah dengan mencurigakan. Earlangga benar-benar tidak membiarkan celah sedikitpun untuk Valerie meninggalkan rumah itu. Juga mencegah jangan sampai Darren tiba-tiba muncul menemui Valerie dan membuat semuanya jadi kacau.
Sore ini Earlangga pulang lebih awal, dilihatnya Valerie sudah rapih seperti akan bepergian.
“Kau mau kemana?” tanyanya, sambil menyimpan ponsel dan dompet dari saku bajunya.
Valerie kembali merapihkan pakaiannya di cermin.
“Ini jadwal saya control Pak, saya sudah membuat janji dengan Dokter Dewi,” jawab Valerie.
“Kau mau control?” tanya Earlangga menatap Valerie yang juga menoleh ke arahnya.
Earlangga melihat kearah perut Valerie yang mulai terlihat membesar, istrinya itupun sudah tidak sekurus bulan yang lalu, dia terlihat lebih segar sekarang. Dilihatnya Valerie sudah mau berdandan sehingga sudah tidak sepucat dulu lagi, membuatnya merasa senang. Apalagi ternyata sekarang Valerie terlihat lebih cantik
“Kenapa?” tanya Valerie sambil melihat kaarah perutnya.
“Perutnya sudah mulai terlihat,” jawab Earlangga.
“Iya, masa kehamilannya sudah bertambah, saya juga terlihat lebih gemuk,” kata Valerie sambil mengusap perutnya.
“Kau tidak suka gemuk?” tanya Earlangga, melihat pipi yang mulai cubi itu.
“Tidak, saya tidak mempermasalahkan itu, yang penting bayi saya sehat itu yang penting,” jawab Valerie sambil tersenyum, membuat Earlangga senang mendengarnya.
Sebagian wanita mengeluh ketakutan gemuk, Valerie terlihat adem adem saja dengan tubuhnya yang mulai berubah.
“Kau menyayangi bayimu?” tanya Earlangga.
“Iya, saya menyayanginya,” jawab Valerie, kembali mengusap perutnya yang membulat. Earlangga hanya tersenyum, inginnya dia memeluk ibu dan bayinya itu.
“Baiklah, saya berangkat dulu, Pak,” ucap Valerie.
“Ada apa Pak?” tanya Valerie.
“Aku akan menemanimu control,” jawab Earlangga.
“Tapi, Pak,” Valerie menatap Earlangga dengan keheranan.
Earlangga balik menatapnya.
“Mulai sekarang jangan panggil aku Bapak. Sangat aneh kau memanggil seperti itu terus,” kata Earlangga.
“Tapi Pak, masa saya harus memanggil nama? Saya tidak berani,” jawab Valerie, menggelengkan kepalanya.
“Aku kan suamimu, jangan sungkan padaku,” ucap Earlangga, sebelah tangannya menyentuh punggungnya Valerie mengajak keluar. Valerie malah mendongak menatap wajahnya.
“Kenapa? Kalau kau tidak suka memanggilku nama, kau bisa memanggil panggilan yang Nella sebutkan,” ucap Earlangga.
“Panggilan dari Nella?” Valerie mengingat-ingat, dia teringat kalau Nella menyarankan untuk memanggil Earlangga dengan sebutan sayang, diapun tersenyum dan wajahnya langsung memerah.
“Nella suka bercanda, saya tidak akan berani mengatakannya,” ucap Valerie sambil menunduk.
Earlangga tidak bicara apa-apa lagi, dia hanya tersenyum dan memeluk bahunya Valerie untuk keluar dari kamar itu.
Sampailah mereka ditempat prakteknya Dokter Dewi…
“Silahkan berbaring,” perintah Dokter Dewi.
Valerie akan naik ke tempat periksa tampak ragu, dia menoleh pada Earlangga. Pria itu mengerti dan bangun dari duduknya.
__ADS_1
“Bapak disini saja, tidak perlu keluar, Bapak bisa lihat USG bayinya,” kata Dokter Dewi, sambil berjalan mendekati tempat periksa.
Earlangga menghentikan gerakannya, bagitu juga Valerie tidak bicara apa-apa, diapun berbaring. Sebenarnya dia merasa malu harus memperlihatkan perutnya pada Earlangga. Tapi tidak ada pilihan lain, Dokter Dewi pasti mengiranya mereka pasangan suami istri yang sebenarnya.
Ini pertama kalinya Earlangga melihat perut bulatnya Valerie. Meskipun dia sering melihat perut ibu hamil di internet tapi melihat perut yang mengandung bayinya itu adalah untuk pertama kalinya.
“Bapak bisa melihatnya lebih dekat,” kata Dokter Dewi.
Dengan ragu Earlangga mendekati tempat periksa, berdiri disamping tempat periksa itu dan melihat ke layar , sedangkan Dokter Dewi menggerakan alat USG nya diatas perutnya Valerie.
Earlangga dan Valerie melihat kearah layar komputer itu.
“Usianya sudah 13 minggu, bayinya sehat,” kata Dokter Dewi.
“Ini kepalanya sudah mulai membentuk,” lanjut Dokter Dewi ,menunjukkan gambar dikomputer itu, yang sebenarnya Earlangga maupun Valerie tidak mengerti dengan gambar yang berupa titik-titik itu.
“Untuk lebih jelasnya nanti kita bisa lihat di jadwal control berikutnya,” kata Dokter Dewi, masih menggerakkan-gerakan alat diatas perutnya Valerie.
“Bayinya laki-laki atau perempuan?” tanya Earlangga, ada haru dalam hatinya, seumur hidupnya baru sekarang melihat janin yang merupakan bayinya ada di layar itu.
“Belum bisa dilihat Pak, belum terbentuk sempurna. Jadi tetap jaga kesehatannya ya Bu, kesehatan ibu juga bayinya biar pertumbuhannya tidak terganggu,” kata Dokter Dewi, sambil menghentikan pemeriksaannya dan menyimpan alatnya, kembali ke meja kerjanya.
Earlangga mendekati Valerie yang akan bangun dan segera membantunya duduk. Menyentuh tangan wanita itu, wanita yang sedang hamil bayinya, ada perasaan lain muncul dihatinya, rasa yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Diapun menatap Valerie yang tampak bingung karena Earlangga membantunya bangun tapi malah diam menatapnya.
“Aku senang bayi kita sehat,” ucap Earlangga dengan lirih.
“Bayi? Bayi kita?” tanya Valerie dengan pelan, membuat Earlangga tersadar.
“Bayimu adalah bayiku juga,” jawab Earlangga hampir berbisik karena mereka sedang di ruang prakteknya Dokter Dewi, tangannya menyentuh perutnya Valerie dan mengusapnya lembut, dia sangat menyayangi bayinya, lalu ditatapnya lagi wanita yang juga sedang menatapnya membuat pandangan mata mereka bertemu. Apakah dia juga menyayangi ibunya?
“Terimakasih,” ucap Valerie, hatinya merasa senang Earlangga menyayangi bayi dalam perutnya.
Earlangga hanya tersenyum sambil mengangguk dan membantu Valerie turun.
Setelah Dokter Dewi memberikan resepnya, merekapun keluar dari ruangan itu. Mereka senang mengetahui kondisi bayi yang sehat-sehat saja.
“Kau tetap harus makan yang banyak, biar kau dan bayimu sehat,” ucap Earlangga, berjalan disamping Valerie menyusuri lorong rumah sakit itu.
“Iya, aku senang bayinya sehat,” ucap Valerie sambil mengusap perutnya.
Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya, membuat Earlangga juga melakukan hal yang sama.
“Pak!” panggil Valerie, menatap Earlangga.
Pria itu balik menatapnya tanpa bicara.
“Saya sangat berterimakasih karena Bapak sangat perhatian pada saya juga bayi saya,” ucap Valerie.
“Bayi kita,” jawab Earlangga, membuat hati Valerie terharu karena Earlangga selelu menyebutnya bayi kita.
“Terimakasih,” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca, dia tidak menyangka kalau masa kehamilannya tanpa ayah dari bayinya itu justru mendapatkan kasih sayang dari pria yang tidak dia kenal sama sekali sebelumnya.
Earlangga menatap wajah Valerie, sebenarnya ingin sekali dia mengatakan kalau dia ayah bayi itu, tapi dia tidak mau merusak moodnya Valerie.
“Bolehkah aku memelukmu?” tanyanya, membuat Valerir terkejut dan menatapnya, dia melihat tatapan mata serius dari matanya Earlangga, dengan ragu diapun mengangguk.
Earlangga melangkah maju lebih dekat pada Valerie dan tangannya mengulur meraih tubuh itu dan memeluknya dengan erat. Valerie bingung dengan sikapnya, tapi dia tidak bertanya apa-apa, hanya merasakan pelukan itu membuatnya merasa nyaman.
Tiba-tiba Earlangga mencium bau ditubuhnya Valerie, parfumnya, parfum wanita yang malam itu bersamanya.
“Kau menggunakan parfum lagi?” tanya Earlangga.
“Iya, saya sudah tidak terlalu mual sekarang,” jawab Valerie.
Earlangga tersenyum dan langsung mencium rambutnya Valerie.
__ADS_1
**************