Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-64 Nonton Bioskop ( part 1 )


__ADS_3

Sean berjalan mondar mandir diruangannya, bukan karena dia sibuk bekerja, yang ada di fikirannya adalah kemana dia akan mengajak Lorena kencan nanti malam. Kepalanya terasa begitu pusing, dia tidak mau kencannya akan gagal.


Sean berdiri dipintu ruang kerjanya, melihat sekretraisnya yang sedang mengetik dikomputernya.


“Bu Devi!” panggilnya. Yang dipanggil langsung menoleh.


“Ya Pak, ada apa?” tanya Bu Devi.


Sean garuk-garuk kepalaya yang tidak gatal dia terlihat bingung.


“Ada apa Pak?” Bu Devi keheranan, tidak biasanya atasannya seperti itu.


“Dulu waktu Bu Devi pacaran kalau kencan pergi kemana?” tanya Sean.


Bu Devi terkejut dengan pertanyaan Sean.


“Mm kemana ya, banyak sih Pak, paling sering makan atau jalan-jalan, ya kemana saja, kadang nonton bioskop juga,” kata Bu Devi.


“Nonton bioskop? Apa serunya nonton bioskop?” tanya Sean.


“Bapak tidak suka nonton Bioskop?” tanya Bu Devi.


Sean menggeleng, seumur hidupnya karena kesibukannya dia tumbuh jadi pria yang tidak normal, tidak bisa hdiup selayaknya remaja umumnya. Semua yang dibutuhkannya hanya tinggal bilang saja pada Pak Deni semua akan tersedia dengan cepat.


Terkadang dia bingung apa yang diinginkannya, karena tidak ada satupun yang kurang dalam hidupnya, kecuali satu ya, satu, kasih sayang yang tulus. Semua orang tahu dia memilki banyak uang, jadi selalu ada embel embel uang dibalik kebaikan orang disekitarnya.


“Kalau Bapak tidak suka ke bioskop, ya mending makan malam saja,” kata Bu Devi.


“Tidak, tidak, ke bioskop pastinya sangat seru, film apa yang ditonton?” tanya Sean.


“Film hantu, hehhe..” jawab bu Devi sambil tertawa.


“Ha? Film hantu? Apa serunya film hantu?” tanya Sean.


“Kan kalau nonton film hantu kalau lagi tegang tegangnya ada hantu, kan bisa meluk pacar,Pak!” jawab Bu Devi masih terus tertawa.


Sean mengerutkan dahinya, dia belum pernah seperti itu, sepertinya sangat menyenangkan kalau Lorena memeluknya karena takut ada hantu di film seperti kata Bu Devi tadi.


“Apakah wanita suka ke bioskop nontan film hantu dengan pacarnya?” tanya Sean, memasktikan lagi,


“Ya sebenarnya bukan filmnya pak, Cuma kan seru dipeluk peluk pacar gitu,” jawab Bu Devi.


“Oh begtu ya, jadi sampai sekarang Bu Devi suka menonton bioskop dengan suami?” tanya Sean lagi.


“Tidak,” jawab Bu Devi.


“Kenapa?” tanya Sean, keheranan.


“Nonton filmnya sama pacar yang sudah putus,hehhe..” jawab Bu Devi, membuat Sean memberengut, kalau begitu itu ide yang tidak baik, nanti bagaimana kalau dia dan Lorena putus?


“Tapi seru Pak! Sampai sekarang kenangan itu tidak pernah terlupakan,” kata Bu Devi.


“Seru?” tanya Sean.


“Iya, apalagi saat bau pesing, sampai pindah pindah tempat duduk,haha” jawab Bu Devi, kembali tertawa.


“Bau pesing? Pesing apa?”tanya Sean, kebingungan.


“Bau pesing kencing tikus hehhe..” lagi-lagi bu Devi tertawa. Sean langsung memberengut lagi, apa serunya nonton bisokop dengan bau kenicng tikus, bisa-bisa gatal gatal tubuhnya.


Saat mereka mengobrol datanglah Pak Deni.


“Pak, Pak Deni!” panggil Sean.

__ADS_1


“Ya Pak!” jawab Pak Deni setelah dekat dengan Sean.


“Disini ada bioskop bagus?” tanya Sean.


“Bioskop? Ada Pak di mall,” jawab Pak Deni.


“Coba kau booking bioskop itu, aku mau menonton bioskop dangan pacarku nanti malam,!” perintah Sean.


“Saya tanya dulu pak, coba bisa dadakan booking tidak?” jawab Pak Deni.


“Jam 7 malam, terus, minta filmnya film hantu, benarkan Bu Devi? Hantunya hantu apa?” tanya Sean menoleh pada Bu Devi.


“Pak Sean mau booking bioskop?” tanya Bu Devi.


“Tentu saja, aku akan menonton nanti malam. Film hantu apa yang membuat Bu Devi dipeluk pacarnya?” tanya Sean dengan serius. Pak deni tampak tersenyum, tapi sean sama sekali tidak bercanda, diapun kembali diam.


“Ya hantu jaman dulu Pak. Tidak tahu kalau sekarang film hantu apa,” jawab Bu Devi.


“Ya sudah Pak Deni, pokoknya film hantu saja,” kata Sean pada Pak Deni.


“Baiklah, saya hubungi marketing mallnya dulu. Biasanya ada beberapa studio, kita booking satu studio dengan film hantu,” kata Pak Deni.


Sean langung mengangguk.


Pak Deni mengambil handphone-nya.


“Dan Satu lagi pak!” seru Sean.


“Apa pak?” tanya Pak Deni.


“Kursinya, kursinya ganti yang baru, aku tidak mau yang bau kencing tikus. Sterilkan dulu gedung bioskopnya!”  perintah Sean.


“Baik Pak!” jawab Pak Deni. Diapun langsung sibuk dengan telponnya.


“Ada apa?” tanya Sean.


“Bapak serius tidak pernah nonton bioskop?” tanya Bu Devi.


“Belum pernah,” jawab Sean, menggeleng. Bu Devi tersenyum kecut, dia merasa kasihan dengan atasannya itu yang memiilki banyak uang tapi belum pernah ke bioskop.


Sean akan masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba Bu Devi nyeletuk.


“Beli popcorn Pak, jangan lupa!” seru Bu Devi.


“Oh harus beli popcorn juga?” tanya Sean sambil membalikkan badannya.


“Aku tidak tahu kalau ke bioskop bisa pacaran, pacar-pacarku dulu maunya makan di restaurant merah, tidak ada yang minta nonton bioskop,” gumam Sean, sambil meninggalkan Bu Devi yang menatapnya dengan rasa kasihan.


“Sst!” tiba-tiba terdengar suara Pak Deni, membuat Bu Devi menoleh pada Pak Deni, yang menggelengkan kepalanya.


“Maaf Pak, aku hanya bingung saja, masa Pak Sean belum pernah nonton bioskop,” kata Bu Devi.


“Memang tidak pernah, dia sangat sibuk dari kecil, dan kerumunan orang banyak akan tidak aman buatnya,” jawab Pak Deni.


“Kalau begitu bagaimana dengan sekarang Pak?” tanya Bu Devi, dia jadi cemas karena dia yang memberi saran nonton Bioskop.


“Kau tenang saja, Pak Sean tidak sendirian, ada orang-orangku yang mengikutinya,” jawab Pak Deni. Bu Devi hanya mengangguk.


Seharian ini Sean tidak sabar menunggu sore. Dia akan secepatnya pulang,mandi berdandan rapih dan mengajak Lorena kencan nonton film hantu di bioskop. Kata Bu Devi wanita biasanya suka menonton film hantu di bioskop. Semoga saja Lorena juga suka menonton film hantu.


Seanpun mempercepat pekerjaannya. Dia senang Pak Deni sudah memberi laporan kalau satu studio sudah dia sewa termasuk mengganti semua kursi di bisokop itu dengan yang baru dan steril, tidak lupa dengan penjual popcornnya.


Akhirnya jam sudah menujukkan pukul 5 sore. Sean buru-buru meninggalkan kantornya, dia segera pulang ke rumah, menebak-nebak apakah Lorena juga sudah pulang atau belum. Ternyata sudah pulang. Dari luar terlihat banyak kendaraan yang parkir dirumahnya, juga supir supir yang menunggu di teras depan ruangan yang dibuat untuk ruangan les biola.

__ADS_1


Dari luar sudah tidak terdengar lagi berisik suara biola yang berderit derit salah, karena ruangannya sudah kedap suara.


“Lorena sudah pulang?” tanya Sean pada Pak Roby.


“Sudah pak,” jawab Pak Roby.


Seanpun masuk kedalam rumah, tidak langsung ke kamarnya, tapi dia menuju ruangan les, dia melihat dari jendela ke dalam ruangan itu.


Dilihatnya Lorena sedang mengajar anak-anak bermain biola. Tidak terasa ada senyum dibibirnya. Hanya melihat dari kejauhan wanita itu rasanya begitu sangat bahagia. Wanita itu sangat istimewa menghuni isi hatinya.


Merasa ada yang memperhatikan, Lorena menoleh kearah jendela. Sean terkejut saat Lorena menoleh kearahnya. Dia malu ketahuan sedang memperhatikannya. Lorena tersenyum melihat Sean mengintipnya dijendela. Melihat Lorena tersenyum hati Sean semakin berbunga-bunga, diapun balas tersenyum. Dilihatnya Lorena melanjutkan lagi melatih anak-anak.


Sean terdiam beberapa saat, tiab-tiba terbersit dalam fikirannya bagaimana kalau Lorena tahu dia adalah Presdir yang asli yang kontesnya sekerang diikuti Lorena? Entah kapan dia bisa mengatakannya. Dia harus memastikan dulu kalau Lorena tidak akan membencinya saat tahu kalau yang mencari istri lewat kontes itu dirinya, bukan Sam.


Seanpun meninggalkan ruangan itu, dia naik ke atas menuju kamarnya, beristirahat sebentar, kemudian dia  mandi dan berdandan rapih. Ini adalah kencannya yang pertama jadi tidak boleh gagal.


Setelah merasa dirinya sempurna, Sean menuju kamarnya Lorena dan mengetuk pintunya.


Tok tok tok.. terdengar pintu diketuk.


Lorena yang juga sudah berdandan cantik, segera membuka pintu kamarnya. Si pria tampan itu sudah berdiri menatapnya.


“Apa kau sudah siap?” tanya Sean, menatap wajah cantik itu.


“Sudah,” jawab Lorena.


Sean melihat jam tangannya.


“Ayo kita berangkat, sebelum pukul 7,” kata Sean.


“Sebelum pukul 7? Memangnya kita akan kemana?” tanya Lorena.


“Aku mau mengajakmu nonton bioskop,” jawab Sean. Membuat Lorena terkejut.


“Nonton bioskop?” tanya Lorena.


“Iya, kau tidak suka?” tanya Sean yang juga terkejut takut Lorena tidak suka.


“Aku suka, sudah lama aku tidak nonton bioskop,” jawab Lorena.


Senyum mengembang di bibirnya Sean, ternyata idenya Bu Devi sangat jitu, Lorena mau diajak nonton bioskop.


“Ayo kita beragkat!” ajak Sean.


“Ya sebentar aku ambil tas dulu” kata Lorena , diapun masuk lagi kedalam mengambil tasnya.


“Ayo!” ajaknya pada Sean. Merekapun berjalan meninggalkan ruangan itu.


Berjalan berdua dengan Lorena beringingan begini rasanya beda dari yang biasanya, karena sekarang yang disampingnya itu adalah pacarnya, bukan tetangga kamar lagi.


Pak Roby tampak terkejut melihat mereka berjalan berdua, beberapa pelayan yang lewatpun langsung bergosip ria.


Tanpa bicara apa-apa Sean dan Lorena keluar dari rumah itu.


Pelayan-pelayan itu langsung saja berebut bertumpuk dipintu.


“Mereka sangat akur sekarang, apakah sekarang mereka pacaran?” tanyanya pada temannya.


“Jangan bergosip, kerja kerja kerja!” umpat Pak Roby. Merekapun bubar sambil mendelik pada Pak Roby.


Pak Roby hanya melihat mobilnya Sean keluar dari halaman rumah itu, diapun menutup pintunya.


********************

__ADS_1


Maaf ya baru up, kemarin mati lampu seharian.


__ADS_2