
Pelayan itu menyudahi menyuapi Valerie.
“Sedikit lagi Bu,” kata pelayan itu.
“Sudah cukup, aku merasa mual,” jawab Valerie.
Earlangga langsung menghampiri.
“Kau harus makan banyak,” ucapnya.
Valerie menatap Earlangga.
“Tidak, perutku sedang mual,” ucap Valerie.
“Kau ingin muntah? Aku antar ke kamar madi,” kata Earlangga.
“Tidak, aku bisa sendiri,” jawab Valerie sambil turun dari tempat tidurnya. Earlangga langsung mengulurkan tangannya akan membantu, Valerie menatapnya.
“Tidak usah, aku bisa sendiri,” kata Valerie.
Earlanggapun diam, kalau benar Valerie hamil olehnya tentu saja dia adalah suami yang sangat tidak peduli pada istrinya, membiarkan istrinya merasa sakit sendirian, tapi untuk detik ini Valerie tidak tahu soal kecurigaannya kalau bayi itu adalah bayinya.
Valerie berjalan menuju kamar mandi, Earlangga memperhatikannya, sebenarnya dia ingin membantu tapi Valerie menolaknya, tentu saja Valerie akan tanda tanya kenapa dia begitu perhatian padanya?
Dilihatnya Valerie sudah masuk ke kamar mandi. Pelayan tadi membawa mangkuk mangkuk keluar dari kamar itu.
“Tunggu tunggu!” panggil Earlangga.
“Ya Pak?” pelayan itu membalikkan badannya.
“Kau temani istriku selama aku kerja, kalau dia butuh apa-apa, kau bantu dia,” kata Earlangga.
“Ya Pak, ini saya juga sudah ditugaskan oleh Ny.Grace untuk menjaga Bu Valerie,” jawab pelayan itu.
Earlangga mengerutkan keningnya. Sikap neneknya itu makin lama semakin aneh, kenapa neneknya begitu peduli pada Valerie, rasanya tidak hanya alasan tidak mau dicemooh orang, atau neneknya itu mengetahui sesuatu? Atau diam-diam merencanakan sesuatu? Sangat membingungkan.
“Siapa namamu?” tanya Earlangga.
“Tari Pak,” jawab pelayan itu.
“Tari, kau bisa menelponku jika ada apa-apa pada istriku,” kata Earlangga.
Tari mengangguk.
“Ada lagi Pak?” tanya Tari.
“Itu saja,” jawab Earlangga.
Tari pun segera keluar dari kamar itu.
Earlangga mendengarkan suara yang muntah dikamar mandi. Dia melamun, apa yang harus dilakukannya jika benar Valerie adalah wanita itu? Dan bayi itu adalah bayinya?
Apakah dia harus berterus terang pada Valerie? Bagaimana reaksi Valerie kalau tahu dia adalah pria itu? Apakah dia akan menerimanya, memaafkannya atau sebaliknya Valerie akan membencinya? Earlangga mengusap keringat dingin dikeningnya, rasa bersalah itu semakin bertumpuk dihatinya, apalagi melihat penderitaan masa kehamilannya Valerie.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Earlangga langsung menoleh.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya, dia begitu cemas.
“Aku hanya mual dan pusing saja,” jawab Valerie mendekati tempat tidur. Earlangga langsung menghampiri mengulurkan tangannya akan memegang Valerie, tapi lagi-lagi Valerie menolaknya.
“Aku bisa sendiri, Pak,” ucapnya.
Earlangga jadi menghentikan gerakannya, dia hanya bisa menatap istrinya itu kembali berbaring dan berselimut.
Earlangga duduk dipinggir tempat tidur dan menatapnya.
“Apa ada yang kau inginkan?” tanya Earlangga.
“Tidak, aku tidak ingin apa-apa,” jawab Valerie.
Earlangga kembali diam, lalu berdiri.
“Aku akan berangat kerja, kalau ada apa-apa aku sudah menyuruh Tari untuk menjagamu,” ucapnya.
“Iya Pak, terimakasih,” jawab Valerie, dia merasa tidak enak Earlangga sangat perhatian padanya.
Earlangga sebenarnya ingin menemaninya, tapi tentu saja dia tidak bisa memaksa, Valerie akan curiga kalau dia terlalu perhatian. Diapun pergi menuju pintu kamar tapi kemudian membalikkan badannya.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” ucapnya.
“Soal apa?” tanya Valerie.
“Apa kau tidak ingin bertemu pria yang menghamilimu itu?” tanya Earlangga.
__ADS_1
Valerie tidak langsung menjawab, dia malah menatapnya.
“Tidak,” jawab Valerie.
“Kau menyerah untuk mencari pria itu?” tanya Earlangga lagi.
“Tidak, aku sudah memutuskan,” jawab Valerie.
“Memutuskan apa?” tanya Earlangga dengan hati yang berdebar debar.
“Aku memutuskan untuk membesarkan bayi ini sendiri, aku punya pekerjaan, aku pasti bisa membesarkannya, meskipun tidak hidup mewah, tapi aku yakin aku bisa mencukupinya,” jawab Valerie.
Mendengarnya membuat hati Earlangga semakin merasa bersalah.
“Kau yakin akan melakukannya?” tanya Earlangga.
“Iya,” jawab Valerie, dalam benaknya dia ingat tawarannya Ny.Grace. Dia belum memberikan jawaban apa-apa pada Ny.Grace.
“Bagaimana jika pria itu muncul?” tanya Earlangga.
“Semoga saja tidak muncul, aku sudah mulai terbiasa menjalani kehamilanku sendirian,” jawab Valerie.
Mendengarnya membuat hati Earlangga semakin gelisah, ternyata Valerie tidak menginginkan kehadiran pria itu lagi dan ingin membesarkan bayinya sendirian.
“Kau yakin tidak menginginkan pria itu datang?” tanya Earlangga lagi.
“Tidak Pak, aku membencinya,” jawab Valerie, membuat Earlangga terdiam, ternyata Valerie membenci pria yang menghamilinya. Bagaimana ini?
Dilihatnya istrinya itu menarik selimutnya lebih tinggi dan mencoba tidur. Earlangga tidak mengajak bicara lagi, dengan lesu dia keluar dari kamar itu. Semua ini sangat membingungkannya. Bagaimana jika Valerie tahu kalau pria itu dirinya? Apakah dia akan memaafkannya? Earlanggapun bertekad nanti malam dia akan ke club malam itu lagi.
*************
Seharian ini Earlangga memikirkan perkataan Valerie itu. Valerie memutuskan membesarkan bayi itu sendirian. Kalau benar itu bayinya, apakah dia akan membiarkan Valerie pergi membawa bayinya?
Dilihatnya jam tangannya, hari sudah sore, para karyawan juga sudah mulai pulang.
Earlangga menunggu gelap bebarapa jam lagi, kemudin dia memutuskan untuk pergi ke club malam itu.
Saat memasuki parkiran club itu lagi-lagi dia menjadi pusat perhatian karena mobil mewah yang ditumpanginya.
Beberapa pasang mata melihat kearahnya yang memarkir mobil.
“Sepertinya club ini akan menjadi langganan pria tajir,” ucap seorang pria yang tiada lain Darren. Dia sedang nongkrong bersama teman-temannya.
“Kau benar, mobil mewah lagi,” gumam temannya.
“Itu bukannya si bule itu?” tanya temannya Darren.
“Kau benar, ternyata dia benar-benar tajir, setelah mobil sportnya aku ambil, masih ada lagi mobil mewah lainnya.
Earlangga mengunci pintu mobilnya. Dia berdiri sebentar dan menatap gedung itu, diapun berjalan menuju pintu masuk, tiba-tiba kakinya berhenti saat beberapa kaki loncat dari balik tembok dan mengahadangnya.
Earlangga menatap Darren.
“Kau, kau lagi?” tanya Earlangga.
“Tentu saja, siapa lagi?” jawab Darren.
“Jangan menghalangi langkahku,” ucap Earlangga , sambil terus masuk, tapi langkahnya terhenti dia dihalangi oleh Darren dan teman-temannya.
“Mobil baru?” tanya Darren.
“Jangan ganggu, kau kan sudah mendapatkan mobilku! Itu harganya sangat mahal,” jawab Earlangga.
Darren malah tertawa.
“Ngomong-ngomong kemana teman bulemu itu?” tanya Darren.
“Bukan urusanmu,” jawab Earlangga dengan ketus, lalu melangkahkan kakinya terus masuk ke gedung itu. Darren dan teman-temannya menertawakannya.
Tiba-tiba Earlangga menggantikan langkahnya, dan membalikkan badannya menatap Darren.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” kata Earlangga.
“Soal apa?” tanya Darren, dengan tampang acuh tak acuh.
Earlangga menghampiri Darren.
“Apa kau tahu siapa gadis yang bersamaku malam itu?” tanya Earlangga.
“Gadis?” Darren mengerutkan dahinya.
“Iya,” jawab Earlangga.
__ADS_1
“Ternyata kau bermalam dengan gadis juga malam itu?” tanya Dareen, sambil mengingat-ingat apa Earlangga bersama gadis malam itu? Dia hanya focus pada mobil mewah itu.
“Iya,” jawab Earlangga.
“Kenapa kau menanyakan gadis itu? Apa kau hanya menidurinya tanpa mengajaknya bicara? Atau minta telponnya jika kau butuh dia lagi?” tanya Darren diikuti tawa teman-temannya.
“Tidak. Aku ingin tahu siapa namanya,” jawab Earlangga.
Darren kembali berfikir, dia waktu itu tidak begitu tahu apakah Earlangga bersama dengan Valerie atau tidak, karena memang tidak melihatnya.
“Apa gadis itu gadis virgin yang aku bawa?” tanya Darren.
Earlangga terdiam, satu satunya pentunjuk adalah itu, dia meniduri gadis yang masih suci malam itu.
“Iya,” jawab Earlangga.
Darren dan teman-temannya malah tertawa dan bersiul siul.
“Pantas kau mencarinya lagi,” ucap Darren.
“Katakan padaku, siapa dia?” tanya Earlangga.
Darren tersenyum senang, dia sudah bisa menebak kalau begitu gadis yang dimaksud Earlangga adalah Valerie.
“Kau ingin membookingnya lagi?” tanya Darren.
“Aku hanya ingin tahu identitasnya,” jawab Earlangga.
Darren melangkah lebih dekat pada Earlangga.
“Tentu saja tidak gratis, apalagi aku harus membayar gadis itu tidak murah,” jawab Darren.
“Maksudmu apa?” tanya Earlangga.
“Dia itu agak agak jual mahal, tentunya harus menyiapkan uang yang lumayan besar untuk membookingnya,” jawab Darren.
“Aku hanya ingin tahu siapa gadis itu? Bukan mau membookingnya,” tanya Earlangga, dia tidak langsung menyebutkan Valerie.
“Sudah aku bilang tadi, informasi ini sangat mahal,” jawab Darren.
“Kau benar-benar tahu siapa gadis yang bersamaku?” tanya Earlangga.
“Kalau yang kau maksud gadis virgin itu aku tahu,” jawab Darren.
“Katakan siapa dia?” tanya Earlangga, mulai kesal dengan susahnya Darren memberikan informasi,
“Aku bilang tidak murah, kau harus membayarku,” jawab Darren.
“Tapi kau harus jujur padaku, atau aku bisa membayar orang untuk menghabisimu,” kata Earlangga.
“Wow wow ternyata sekarang kau punya nyali!” Darren malah tertawa.
“Katakan!” pinta Earlangga.
“Baiklah, aku minta sejumlah uang sekarang,” kata Darren.
“Kau sudah mengambil mobilku, itu sudah lebih dari cukup membuatmu jadi kaki tanganku!” maki Earlangga.
“Whus wush..itu kisah lama bung, kau kalah, kau mabuk, kau saja tidak tahu dengan siapa kau bermalam,” kata Darren.
“Brengsek kau, cepat katakan siapa?” tanya Earlangga, tidak sabar.
“Aku sudah bilang, aku minta sejumlah uang,” jawab Darren.
Earlangga merasa kesal tapi tidak ada jalan lain selain menuruti keinginan Darren, diapun mengeluarkan dompetnya, dan Darren langsung merebutnya.
“Hei apa yang kau lakukan?” teriak Earlangga, sambil akan merebut dompetnya, tapi Darren mengacungkannya keatas, lalu membuka dompetnya Earlangga. Diambilnya semua uang yang ada di dompet.
“Ternyata uangmu banyak juga,” ucapnya, mengambil semua uang itu dan langsung menghitungnya.
Earlangga mengambil kembali dompetnya yang sekarang kosong, Darren menoleh pada teman-temannya memperlihatkan uang setumpukan ditangannya.
“Kita pesta teman!” serunya diikuti seruan teman-temannya.
“Cepat katakan siapa gadis itu?” tanya Earlangga, memasukkan dompet kesakunya.
Darren menatap Earlangga.
“Sebenarnya aku tidak tahu pasti,” ucap Dareen membuat Earlangga kasal.
Tangan Earlangga langsung meraih kerah bajunya Dareen membuat teman-teman Darren mendekati, tapi Darren mengacungkan tangannya menahan teman-temannya, merekapun mundur lagi.
Darren menepiskan tangannya Earlangga sampai terlepas.
__ADS_1
“Tenang Bung!” ucapnya, lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka galery.
**************