Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-45 Barter Biaya kontrakan


__ADS_3

Malam telah tiba, semakin malam semakin gelap, lampu-lampu itu terlihat lebih indah. Kalau Lorena melihat pemandangan di depan, tidak dengan Sean, dia malah memperhatikan gadis yang sedang menikmati pemandangannya dilembah itu, pemandangan dilembah itu tidak lebih cantik dari pemadangan gadis disampingnya.


Mobil rombongan Pak Denipun sudah sampai di warung-warung jagung bakar itu, mereka jadi ikutan berteduh diwarung-warung yang terpisah dengan warung tempat Sean berada. Mereka bersantai makan jagung bakar dengan kopi panas, disaat hujan rintik-rintik. Malam itu masih hujan tapi tidak sederas waktu sore.


Mereka duduk duduk lesehan sambil melihat pemandangan ke lembah.


“Seumur hidupku baru sekarang aku digaji hanya untuk menunggu Presdirnya pacaran,” ucap salah seorang karyawan yang bersama Pak Deni. Membuat karyawan lain tertawa.


“Sudah nikmati saja, yang penting digaji, atau kita bisa minta uang lembur saja ya Pak?” tanya temannya pada Pak Deni.


“Kalau suasana hatinya Pak Sean sedang bagus sih kayanya bakal di acc minta dihitung lembur,” jawab Pak Deni diikuti tawa yang lain.


Sean melihat Lorena mulai menguap.


“Kau mengantuk?” tanya Sean.


“Iya, kenapa mengantuk ya, padahal aku tidur cukup nyenyak,” Jawab Lorena, sambil memeluk kedua lututnya.


“Kalau kau mau, kau boleh bersandar dibahuku,” ucap Sean dengan hati-hati, dia tidak mau dianggap pria yang genit, nanti malah Lorena jadi tidak menyukainya.


Lorena menoleh kearah Sean.


“Boleh aku bersandar?” tanyanya memastikan.


“Ya boleh,” jawab Sean dengan mantap. Lorena berfikir sebentar, lalu menggeser duduknya lebih rapat dan menyandarkan kepalanya ke bahunya Sean.


Pria itu tersenyum, gadisnya bersandar dibahunya. Seandainya mereka sepasang kekasih, mungkin dia sudah sambil memeluknya, dan malam ini akan semakin terasa indah.


Sean mendengar handphonenya berdering, diapun membukanya, ternyata pesan dari pak Deni memberitahu kalau mereka sudah sampai di warung itu.


“Apa kita akan bermalam?” tanya Pak Deni lewat pesan.


Sean melirik Lorena yang bersandar dibahunya. Gadis itu masih betah melihat pemandangan di lembah.


“Ke rumahmu kira-kira berapa jam lagi?” tanya Sean.


“Sekitar 4-5 jaman lagi,” jawab Lorena.


Sean melihat jam dihandphonenya pukul 8 malam, berarti mereka akan sampai dirumah Lorena sekitar pukul 12 sampai jam satu malam.


“Apa kita akan mencari penginapan?” tanya Sean, dengan ragu-ragu, dia tidak mau dicap pria yang mesum.


“Sekarang jam berapa?” tanya Lorena.


“Jam 8,”jawab Sean.


“Kalau begitu kita berangkat sekarang, nanti terlalu malam sampai dirumah,” ucap Lorena. Sambil bangun dari bersandarnya. Sebenarnya Sean masih betah Lorena bersandar dibahunya, tapi kalau terlalu malam juga kasihan Lorena, belum harus mencari penginapan lagi.


“Kau yakin kita berangkat sekarang?” tanya Sean, menatap Lorena, sebenarnya dia tidak tega mengganggu kesenangannya tapi diwarung itu sampai terlalu malam juga tidak baik untuk kesehatannya.


Lorena mengangguk.


“Kau masih betah disini?” tanya Sean lagi.


“Lain waktu kita kesini lagi,” jawab Lorena.


Sean menatap gadis itu, sepertinya Lorena masih betah, mungkin lain waktu mereka ke sini lagi.


Sean mengirim pesan pada Pak Deni kalau mereka akan melanjutkan perjalanan.


Lorena berdiri menatap sekali lagi ke lembah, lalu keluar dari warung itu diikuti Sean.


Sean melihat mobil mobil karyawannya ada diujung warung sana. Diapun masuk ke mobilnya diikuti Lorena.


Selama perjalanan Lorena tidak banyak bicara, dia tertidur dengan pulas, untungnya dia memakai blazernya Sean yang tebal, jadi tubuhnya terasa lebih hangat.


Empat jam kemudian, mobilnya memasuki jalanan besar yang luas. Sean melihat kesekeliling, ternyata itu adalah perkotaan. Dia fikir Lorena bilang pulang kampung itu berarti rumahnya ada di kampung, ternyata dia salah, mereka ada diperkotaan yang ramai.


“Kita kemana lagi? Ini sudah masuk perkotaan,” tanya Sean, Lorena tampak mengerjapkan matanya, dia tertidur lumayan lama.


“Maaf aku mengantuk tadi,” ucap Lorena, sambil membetulkan duduknya dan melihat keluar. Diapun memberikan arah jalan ke rumahnya. Satu jam kemudian, mereka memasuki pusat kota yang semakin ramai.


“Rumahmu dimana?” tanya Sean, dia masih bingung, kerena setelah ditunjukan sama Lorena alamatnya malah semakin masuk ke pusat kota, dia fikir akan masuk ke pelosok.


“Itu, yang rumah bercat putih,” ucap Lorena, menunjuk sebuah rumah disebelah kiri jalan raya itu.


Sean melihat rumah yang ditunjuk Lorena, di depannya itu ada sebuah rumah yang terlihat agak jauh dari jalan raya tapi gerbangnya tepat di jalan utama.


Dilihatnya nomor rumah itu.


“Ini rumahmu?” tanyanya sambil menghentikan mobilnya.


Sean menoleh ke sebelah kiri, ada sebuah pagar  tinggi yang kokoh, di kanan kiri pagarnya terdapat tanaman merambat.


Sean mengerutkan keningnya, apa dia tidak salah lihat? Rumah Lorena sangat megah seperti rumah-rumah pejabat, harga rumah itu pasti milyaran rupiah apalagi berada dipusat kota.


“Iya, itu rumahku,” jawab Lorena. Sean membelokkan mobilnya dan berhenti di depan pagar. Lorena menekan klakson beberapa kali. Dilihatnya satpam turun menghampiri gerbang.


Lorena melongokkan kepalanya kepada satpam.


“Ini aku Pak!” teriaknya.

__ADS_1


Pak satpam mengerjapkan matanya, dia tidak menyangka majikanya akan datang selarut ini dengan mobil yang tidak dikenalinya.


Tidak berapa lama gerbangpun dibuka. Sean menjalankan mobilnya memasuki gerbang. Sean masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, semuanya benar-benar diluar dugaannya.


Tadinya perkiraan Sean yang namanya pulang kampung itu, selain rumahnya ada dikampung, rumah yang ditempatipun sederhana atau minimal bagus, tapi ternyata rumah yang disebut rumahku oleh Lorena itu sangat megah dan mewah.


“Ini rumahmu?” tanyanya sekali lagi.


“Iya,” jawab Lorena.


Sean tidak bicara lagi, dia masih kaget ternyata Lorena  anak orang kaya! Tapi kenapa dia ikut kontes segala? Bersusah payah belajar memasak dan mencuci segala?


Mobilpun berhenti di depan teras. Lorena segera keluar diikuti Sean, dia merasa bingung, siapa sebenarnya Lorena? Kenapa dia tinggal dirumah yang megah ini? Kenapa Lorena repot-repot mengikuti kontes segala? Pertanyaan itu terus muncul di kepalanya.


Saat memasuki rumah, terasa begitu sepi.


“Kau tinggal disini dengan siapa?” tanya Sean.


“Sendiri,” jawab Lorena.


“Sendiri?” tanya Sean tidak percaya.


“Orangtuaku ada di Luar negeri,” jawab Lorena.


“Ya kadang sepupuku main kesini atau menginap, tapi itu juga jarang,” lanjut Lorena.


Sean masih bingung dengan kenyataan ini, dia penasaran kenapa Lorena mengikuti kontes? Dengan kecantikannya juga statusnya, pasti banyak pria-pria yang menyukainya. Sean semakin pusing saja memikirkan banyaknya saingan yang akan dia hadapi jika menginginkan menikah dengan Lorena.


“Malam nona,” sapa seseorang yang masuk keruang tamu.


“Pak Firman, minta tolong siapkan kamar tamu buat temanku,” kata Lorena.


Pria yang disapa Pak Firman itu mengangguk, lalu pergi meningalkan mereka.


Lorena berbalik menatap sean. Kalau dulu Lorena yang bertanya-tanya siapa Sean, sekarang Sean yang berbalik bertanya siapa sebenarnya Lorena? Pantas saja begitu sulit membuat gadis itu jatuh cinta padanya, karena gadis itu sudah memiliki segalanya, dia benar-benar harus bekerja keras untuk membuat Lorena jatuh cinta padanya.


“Malam ini kau bermalam disini, nanti Pak Firman akan menunjukkan kamarnya,” kata Lorena.


“Kalau butuh apa-apa bilang saja pada Pak Firman. Kamarku ada di sebelah sana, aku mau istirahat, besok kita bicara lagi,” ucap Lorena.


Sean hanya mengangguk.


“Selamat malam,” ucap Lorena.


“Malam,” jawab Sean. Dilihatnya Lorena menaiki tangga rumah itu, berbelok ke sebelah kanan. Sean hanya menatap gadis yang masih memakai bajunya itu menaiki tangga rumahnya satu persatu. Hatinya sebagian bertanya-tanya, apakah dia akan berhasil membuat Lorena jatuh cinta? Kalau untuk mendapatkan gadis lain, diiming iming harta saja mungkin akan mudah mendapatkannya, tapi bagaimana dengan Lorena? Melihat dia melewati tangga rumah yang megah ini saja, dia merasa melihat seorang putri kerajaan di negeri dongeng.


“Kamarnya sudah siap,” kata Pak Firman, tiba-tiba muncul. Sean pun mengangguk, diapun mengikuti Pak Firman kesebuah ruangan luas lainnya, disana juga ada tangga yang sama besar dengan tangga yang tadi hanya ini berbelok ke sebelah kiri.


Sean mengirim pesan supaya semua karyawannya mencari hotel terdekat saja.


Sedang mengetik pesan ke Pak Deni, terdengar samar-samar music biola mengalun.


“Apa Lorena memainkan biola? Bukankah kamarnya ada di ruangan lain?” batin Sean.


Diapun mendekati jendela, dan membuka gordennya. Dia pun tersenyum saat melihat diseberangnya ada bayang-bayang seorang gadis yang duduk dan memainkan music biola itu. Sean kembali  tersenyum, ternyata kamarnya berseberangan  jendela dengan kamarnya Lorena.


Sean membayangkan jika pagi hari dia membuka jendela dan Lorena juga sama maka mereka akan bertemu pandang dijendela masing-masing, sungguh sangat manis.


Bayang-bayang siluet itu terlihat begitu indah. Gadis itu masih menggunakan blazernya yang kebesaran, duduk menyebelahi jendelanya sambil memainkan biola itu, lagu yang biasa dimainkan saat di kontrakan.


“Aku jatuh cinta padamu, aku benar-benar jatuh cinta padamu,” ucap Sean.


Lama dia berdiri di jendela itu hingga suara music itu menghilang,  dan gadis itu menutup gorden tebalnya hingga tidak ada lagi siluet gadis itu.


Seanpun akhirnya melakukan hal yang sama, menutup gorden jendelanya, kemudian berbaring ditempat tidur. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Sekarang dia tinggal menginap di rumah gadis itu. Apa dia akan pulang ke ibukota besok?


Sean sangat bingung. Dia masih betah bersama Lorena. Melihat kondisi Lorena yang sebenarnya membuatnya semakin merasa takut kehilangan gadis itu, bagaiman kalau Lorena benar-benar tidak kembali lagi mengikuti kontes? Dia benar-benar akan merasakan bagaimana rasanya patah hati, tidak melihatnya berhari-hari saja dia merasakan hampa dihatinya, apalagi kalau sampai kehilangannya?


Karena banyak yang difikirkan Sean, diapun tidur menjelang pagi.


**************


 


Keesokan harinya…


Handphone Sean terus berdering berpuluh puluh kali. Dengan mata yang masih berat, diraihnya telponnya itu.


“Halo!” sapanya dengan lesu.


“Siang Pak, Bapak ada dimana?” terdengar suara Pak Deni dari sebrang.


“Siang,” jawab Sean, tiba-tiba dia terkejut dengan ucapannya. Ko Siang? Diapun membuka matanya lebar-lebar, ternyata benar sudah siang. Diapun buru-buru bangun dan membuka gorden jedela kamarnya, matahari tinggi langsung menyilaukan matanya.


Dilihatnya jam di dinding pukul 11 siang. Ya ampun dia tidur nyenyak sekali sampai bangun sesiang ini.


“Ya Pak Deni, aku ada di rumah gadisku,” jawab Sean.


“Gadis? Gadisku?” tanya Pak Deni, tidak mengerti.


Sean memegang keningnya, dia bingung menjelaskannya pada Pak Deni.

__ADS_1


“Gadis yang bersamaku,” jawab Sean.


“Ya maaf,” ucap Pak Deni, merasa tidak nyaman dengan reaksinya.


“Kalian ada dimana?” tanya Sean.


Pak deni menyebutkan hotel tempat pak Deni dan karyawannya menginap.


“Baiklah aku akan kesana sekarang,” kata Sean. Setelah menutup telponnya, Sean langsung mandi dan berganti pakaian.


Saat keluar dari kamarnya, rumah itu terasa sangat sepi, tidak beda jauh dengan rumahnya, hanya sendiran, dia masih mending ada Sam yang sesekali menemaninya.


Saat menuruni tangga, dia bertemu dengan Pak Firman.


“Pak, dimana Lorena?” tanyanya.


“Nona Lorena tadi ada diluar,” jawab Pak Firman.


Baru juga Pak Firman menjawab, yang ditanyakan mucul dari pintu.


“Kau sudah bangun?” serunya sambil tersenyum, gadis itu terlihat ceria pagi ini,  bukan pagi, tapi siang ini.


Sean menatap wajah Lorena yang terlihat fresh.


“Kau mau pergi?” tanya Lorena saat melihat Sean sudah rapih dan tangannya memegang kunci mobil.


“Aku ada urusan pekerjaan dengan temanku,” jawab Sean.


“Jadi kau ada pekerjaan dengan temanmu dikota ini juga?” tanya Lorena tidak mengerti.


“Iya, mungkin membuatku  lama tinggal dikota ini,”jawab Sean.


“Begitu ya,” ucap Lorena.


Sean tampak memikirkan sesuatu.


“Mmm sementara aku ada pekerjaan di kota ini, apa aku boleh mengontrak disini?” tanya Sean.


“Apa? Mengontrak dirumahku?” tanya Lorena.


“Iya,” jawab Sean.


“Mmm..” Lorena tampak befikir.


“Kalau aku tinggal di hotel, uangku akan habis untuk biaya di hotel,” Kata Sean beralasan, sebenarnya dia hanya berat untuk berpisah dengan Lorena.


Lorena masih belum menjawab.


“Kau kan punya utang sewa kontrakan dirumahku, jadi kau tidak perlu membayarnya, jadi kita impas. Aku hanya mengontrak beberapa hari disini sampai aku kembali ke ibukota, tapi kau boleh selamanya mengontrak dirumahku, bagaimana?” tanya Sean.


“Kau disini berapa hari?” tanya Lorena.


“Sekitar 10 hari kurang,” jawab Sean.


Lorena berfikir itu sama dengan hari dia kembali lagi ke ibukota untuk ikut kontes.


“10 hari?” tanya Lorena.


“Iya, jadi kita bisa ke ibukota bersama-sama lagi” jawab Sean.


Lorena masih tidak menjawab, dia menatap Sean.


“Gantinya kau bisa tinggal dirumahku gratis,” ucap Sean.


Lorena berfikir lagi, tidak ada salahnya barter biaya kontrakan, jadi dia tidak punya utang pada Sean.


“Kau serius aku gratis tinggal dirumahmu jika kau disini beberapa hari?” tanya Lorena.


Sean mengangguk.


“Baiklah kalau begitu,” jawab Lorena.


“Kau bisa ijin dulu pada orangtuamu juga aku tidak masalah,” kata Sean. Dia berfikir kalaupun dia harus digrebek disuruh cepat-cepat menikah dengan Lorena juga dia tidak masalah, malahan lebih bagus.


“Baiklah, orangtuaku pasti mengijinkan. Kau kan temanku, kau juga sudah baik padaku,” kata Lorena. Mendengarnya membuat Sean merasa senang, meskipun Lorena menyebutnya hanya teman.


“Jadi kau mau keluar sekarang?” tanya Lorena.


“Iya, aku akan bertemu temanku sekarang, mungkin pulang larut malam, banyak pekerjaan,” jawab Sean. Pak Deni dan karyawan lainnya sudah menunggunya di hotel tempat mereka menginap.


“Eh kau tidur biasanya jam berapa?” tiba-tiba Sean ingat sesuatu.


“Kenapa kau menanyakan jam tidurku?” tanya Lorena, tidak mengerti.


“Hanya bertanya saja,” jawab Sean.


“Jam 10-11 malam,” ucap Lorena.


Seanpun tersenyum, dia menanyakan jam tidur Lorena, maksudnya akan membatasi jam kerjanya juga supaya dia bisa pulang dan mendengarkan Lorena bermain biola.


***********

__ADS_1


__ADS_2