
Sean mengajak Lorena ke dalam kamarnya, mendudukkannya dipinggir tempat tidur, lalu Sean duduk disamping Lorena sambil memegang tangannya.
“Sayang aku minta maaf kalau acara resepsi kita terkendala, ibuku tidak menyetujuinya,” kata Sean.
“Tidak apa-apa, pesta kemarin juga sudah cukup,” jawab Lorena, sambil tersenyum.
“Aku juga sebenarnya ingin teman-temanku dan rekan bisnisku tahu aku sudah menikah denganmu,” ucap Sean.
“Daripada kau harus bertengkar dengar ibumu, lebih baik tidak usah. Yang penting kita sudah menikah,” jawab Lorena.
“Aku minta maaf belum bisa membahagiakanmu,” kata Sean, hatinya merasa sedih dan merasa bersalah membuat istrinya menangis.
Lorena tersenyum, tidak bicara lagi.
“Aku akan keruang kerjaku sebentar, kau istirahat saja,” kata Sean.
“Ya,” jawab Lorena. Sean kembali menciumnya, lalu keluar dari ruangan itu.
*************
Sam mengendarai mobilnya bersama Indri, setelah mengantarkan Sean dan Lorena ke rumahnya.
“Aku harus mengantarmu kemana?” tanya Sam.
“Ke supermarket saja, aku akan belanja beberapa keperluan,” jawab Indri.
“Baiklah,” jawab Sam.
“Ke supermarket didepan sana saja,” tunjuk Indri.
“Tapi aku tidak bisa menunggumu, aku banyak kerjaan,” kata Sam.
“Iya tidak apa-apa, tapi bisa kan kalau nanti malam kita makan malam?” tanya Indri.
“Nanti aku kabari lagi, soalnya Sean sedang sibuk sekarang, dia pasti butuh bantuanku,” jawab Sam.
“Baiklah, aku tunggu telponmu,” kata Indri.
Sam memarkir mobilnya disupermarket itu. Indripun keluar dari mobil itu sambil membawa kopernya.
“Aku pulang pakai taxi saja,” kata Indri.
Sam mengangguk, tidak berapa lama mobil Sam meninggalkan tempat itu.
Indri membalikkan badannya akan ke tempat penitipan barang, dia terkejut saat seseorang sudah berdiri di depannya.
“Nisa?” tanya Indri terkejut.
“Kenapa?” tanya Nisa.
“Sungguh mimpi buruk bertemu denganmu,” jawab Indri. Nisa malah tertawa.
“Apa kabarmu ibu Presdir?” tanya Nisa dengan sinis.
“Jangan menggangguku,” ucap Indri.
“Kau merasa terganggu melihatku? Apalagi kalau aku sudah menikah dengan Presdir Sean, kau pasti akan iri kalau kita berkumpul dengan istri-istri pengusaha yang lain, karena pasti aku yang lebih populer,” kata Nisa.
“Menikah? Dengan Presdir Sean? Hahhaha..” Indri tertawa.
“Mimpi!” seru Indri. Membuat Nisa kesal.
__ADS_1
“Jangan mengejekku, kau lihat nanti,” kata Nisa.
Indri menghentikan tawanya, mendekatkan kepalanya ke wajahnya Nisa.
“Tau tidak, Presdir Sean itu sudah menikah dengan Lorena, jadi tidak mungkin menikah denganmu!” kata Indri, sambil mencibir.
Mendengar perkataan Indri membuat Nisa terkejut.
“Kau bicara apa? Sean dan Lorena menikah?” tanya Nisa.
“Iya, kemarin. Kau lihat koperku ini? Aku baru pulang dari rumahnya Lorena, Kemarin mereka menikah, kata Indri sambil menunjuk kopernya. Wajah Nisa langsung pucat saja.
“Kau tidak berbohong kan?” tanya Nisa.
“Buat apa aku berbohong? Kau cek saja sendiri ke rumahnya Sean, ada Lorena disana. Aku baru saja mengantarnya pulang,” jawab Indri, dia merasa senang melihat Nisa pucat seperti itu.
Tanpa menunggu Indri bicara lagi, Nisa langsung beranjak dari hadapan Indri.
“Huu!” Cibir Indri, dia sangat tidak suka pada tingkahnya Nisa.
Nisa benar-benar shock mendengar Sean sudah menikah. Padahal dia sudah merasa percaya diri akan menikah secepatnya dengan Sean. Kalau Sean menikah dengan Lorena, bisa bisa Lorena cepat hamil dan kesempatannya untuk menikah dengan Sean akan hilang.
Nisa berbegas menjalankan mobilnya dengan kencang menuju rumahnya. Dia langsung menemui ayahnya yang ada diruang kerjanya, berteriak teriak memanggil ayahnya.
“Ada apa? Kau mengagetkanku!” tanya Pak Tedi dengan kesal.
“Gawat!” kata Nisa.
“Kenapa?” tanya Pak Tedi.
“Sean, Sean sudah menikah dengan Lorena!” jawab Nisa, sambil berdiri menatap ayahnya yang langsung terkejut saat mendengarnya.
“Apa maksudmu? Sudah menikah? Kau bercanda?” tanya ayahnya, tidak percaya.
Pak Tedi terdiam dan berfikir.
“Kalau begitu kau pergi ke rumahnya Sean, apa benar Lorena sudah menikah dengan Sean?”saran Pak Tedi.
“Buat apa aku kesana kalau mereka sudah menikah? Pasti soal kebohongan tes itu akan terungkap kalau Lorena bisa hamil,” jawab Nisa.
“Tapi Lorena belum hamil, kau masih punya kesempatan untuk menikah dengan Sean. Kau harus bisa menikah dengan Sean. Setelah reputasiku buruk gara-gara aku dikeluarkan dari tim pengacara keluarga Joris, aku susah mendapatkan klien. Aku butuh banyak uang untuk membuat firma hukum yang besar!” kata Pak Tedi.
“Tapi bagaimana caranya?” tanya Nisa.
“Kau dekati Ny.Grace. Kau harus membuatnya lebih menyukaimu karena kau akan memberi keturunan untuknya. Kau masih punya kesempatan, kau harus bisa membuat Ny. Grace mempercepat pernikahanmu dengn Sean,” jawab Pak Tedi.
“Baiklah aku akan kasana nanti malam membawakan makanan untuk Ny. Grace,” jawab Nisa, dengan lesu. Semoga saja dia bisa lebih cepat menikah dengan Sean sebelum Lorena hamil. Dia tidak peduli dengan status Sean yang sudah menikah, yang ada di benaknya dia menikah dengan Sean dan menjadi kaya raya, soal menyingkirkan Lorena belakangan, syukur syukur dia yang hamil duluan sebelum Lorena.
*******
Sean masuk kembali ke kamarnya, dilihatnya Lorena hanya duduk dipinggir tempat tidur melihat kearah jendela yang terbuka. Melihat istrinya melamun seperti itu membuat Sean merasa sedih dan kasihan.
“Sayang!” panggilnya, sambil menghampiri. Lorena menoleh padanya lalu tersenyum. Sean mendekatinya dan mencium bibir istrinya dengan lembut.
“Aku ada hadiah untukmu,” kata Sean.
“Hadiah? Hadiah apa?” tanya Lorena.
“Ayo ikutlah denganku,” jawab Sean, meraih tangannya Lorena.
Lorena keheranan tapi dia tidak banyak bertanya, langkahnya mengikuti langkah kaki suaminya.
__ADS_1
Sean mengajak ke ruang tengah rumahnya. Disana ada sebuah piano yang masih ditutup plastic bening. Sean langsung membuka plastic itu.
“Lihatlah, aku membelikanmu piano. Bagus tidak? Aku tidak terlalu tahu alat music tapi kata pemilik tokonya ini adalah piano terbaik,” kata Sean, tersenyum lebar sambil menatap istrinya yang sedang menyentuh piano itu.
“Iya ini piano yang bagus, kenapa kau membelikannya?” tanya Lorena.
“Karena aku ingin setiap pulang bisa melihatmu main piano seperti saat di kontrakan itu,” jawab Sean. Lorena menoleh pada suaminya itu.
“Kau diam-diam menyukai aku main piano?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Sean. Lorena menatap suaminya itu sambil tersenyum.
“Hem kau yang jutek itu ternyata sudah lama menyukaiku,” ucapnya, menggoda Sean yang langsung tertawa dan menghampirinya.
“Permainan musicmu sangat indah, aku menyukainya,” kata Sean, sambil memeluk Lorena.
“Aku juga membelikanmu biola,” ucap Sean, kembali melepas pelukannya, lalu mengambil sebuah bungkusan yang tidak jauh dari tempat piano.
“Kau juga membelikanku biola?” tanya Lorena.
“Iya, aku lihat kau tidak membawa biola, jadi aku memesannya ke toko alat music,” jawab Sean, sambil membuka bungkusan itu.
“Sayang, ini biola yang sangat bagus,” kata Lorena, mengambil biola itu dari tempatnya.
“Kau suka?” tanya Sean.
“Iya, terimakasih. Tadi kita buru-buru jadi aku lupa membawanya,” kata Lorena, sambil mengusap biola itu.
Sean terdiam, bukan karena terburu-buru tapi karena fikiran Lorena yang sedang kacau jadi lupa membawa alat music yang selalu menemaninya itu. Sekarang hati Sean merasa lega bisa melihat senyumannya lagi.
“Setiap malam, sebelum tidur, kau mainkan biolanya untukku,” kata Sean.
Lorena menoleh pada suaminya itu.
“Kau juga suka mendengarkan music biolaku?” tanya Lorena.
“Iya, aku sudah terbiasa mendengarnya sebelum aku tidur,” jawab Sean.
Lorena hanya tersenyum mendengar ungkapannya Sean.
Suaminya itu mendekatinya lagi, kembali memeluknya.
“Bagaimana kalau kita bulan madu?” tanya Sean.
“Bulan madu?” Lorena balik bertanya.
“Iya,”jawab Sean.
“Tidak ada bulan madu,” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka. Sean melepaskan pelukannya menoleh pada arah suara yang tiada lain adalah ibunya.
“Daripada bulan madu, lebih baik kau mempersiapkan pernikahanmu dengan Nisa, lebih cepat akan lebih bagus, jangan buang waktumu percuma,” kata Ny.Grace.
“Bu, berapa kali aku bilang, aku tidak mau menikah dengan Nisa,” kata Sean.
“Tidak ada salahnya kau menikah dengan Nisa. Kalau ternyata istrimu juga hamil ya tidak masalah, yang penting sampai batas waktunya kau punya anak, mau dari istrimu atau dari Nisa, tidak masalah,” ucap ibunya lalu beranjak keluar rumah, entah akan pergi kemana.
Lorena hanya diam mendengar perkataan mertuanya itu, dia mencoba menyabarkan hatinya supaya
mengiklaskannya setiap kali mertuanya membahas masalah anak.
“Jangan dengarkan ibu, ayo kita pergi bulan madu, aku tidak masalah sepulangnya bulan madu apakah kita akan cepat punya anak atau tidak, tidak apa-apa masih banyak waktu,” kata Sean, kembali memeluk istrinya. Dia bisa merasakan bagaimana perasaannya Lorena. Lorena tidak membalas ucapan suaminya.
__ADS_1
“Aku mencintaimu,” ucap Sean sambil menempelkan bibirnya ke pipi Lorena sangat lama. Lorena tersenyum melihat tingkahnya Sean, dia tahu suaminya berusaha menghiburnya.
*************