
Earlangga menunggu Valerie dengan gelisah, saat Dokter yang memeriksanya sudah keluar dari ruangan tindakan itu dia langsung menghampirinya.
“Bagaimana keadaan istri saya Dok?” tanyanya dengan cemas.
“Hanya luka ringan saja,” jawab Dokter.
“Bagaiaman dengan kandungannya?” tanya Earlangga lagi.
“Kami sudah memberikan obat penguat kandungan. Tinggal tunggu perkembangannya, jika pendarahannya terhenti kehamilannya bisa dilanjutkan. Pasien harus bedrest,” jawab Dokter itu.
“Tidak ada yang membahayakan yang lainnya Dok?” tanya Earlangga lagi, serasa belum puas dengan jawaban Dokter itu.
“Tidak ada, asal pasien bedrest dan pola makan dijaga juga jangan stress, semua akan kembali normal,” jawab Dokter.
Earlangga melirik kearah pintu yang terbuka itu, dia melihat Valerie memiringkan kepalanya menatapnya, wajahnya terlihat masih pucat.
“Saya permisi dulu,” ucap Dokter.
“Iya Dok, terimakasih,” jawab Earlangga.
Setelah Dokter itu pergi, Earlangga masuk keruangan menghampiri Valerie yang menatapnya.
“Bayiku baik-baik saja?” tanya Valerie.
“Iya sayang, bayi kita baik-baik saja,” jawab Earlangga, sambil menyentuh tangannya Valerie.
“Pak, Pasien akan dipindahkan keruang perawatan,” kata perawat yang masih ada di ruangan itu.
“Baik,” ucap Earlangga, mengangguk.
Tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah kaki mendekati ruangan itu. Earlangga dan Valerie menoleh kearah pintu, ternyata Ny.Grace dan Lorena yang datang.
“Sayang! Apa kau baik-baik saja?” tanya Lorena langsung menghampiri Earlangga dan Valerie.
Tangannya menyentuh lengan Earlangga lalu menoleh pada Valerie.
“Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baika saja? Bagaimana bayimu?” tanya Lorena memberondong dengan pertanyaan.
“Aku baik-baik saja Bu,” jawab Valerie.
“Syukurlah, kalian membuat ibu khawatir,” ucap Lorena.
“Valerie sempat pendarahan, jadi dia harus bedrest. Mudah mudahan dia cepat pulih,” ucap Earlangga,lalu menoleh pada neneknya.
“Seharusnya kau hati-hati,” ucap Ny.Grace.
“Orang itu menyalip dan berhenti begitu saja di depanku,” kata Earlangga.
“Sudahlah yang penting kalian baik-baik saja. Ayahmu akan menyusul kesini sebentar lagi,” ucap Lorena.
Dua orang perawat menghampiri mereka.
“Maaf Pak Bu, Pasiennya akan dipindahkan,” ucap salah satu perawat itu.
“Baiklah, silahkan,” jawab Lorena.
Sementara perawat-parawat itu mengurus Valerie, Lorena menarik tangan Earlangga keluar dari ruangan itu.
“Orang yang membuatmu kecelakaan itu mana? Dia tidak kesini?” tanya Lorena.
“Tidak Bu, dia pergi,” jawab Earlangga.
“Seharusnya dia bertanggung jawab,” ucap Lorena.
Ny.Grace yang mendengar perkataan Lorena jadi merasa kesal pada Darren yang sudah bertindak ceroboh.
“Sudahlah lupakan saja, yang penting Earlangga baik-baik saja,” ucap Ny.Grace.
Lorena menatap Earlangga dan mengusap lengan pria muda itu.
“Aku sangat khawatir, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu,” ucapnya.
Earlangga tersenyum dan memeluk bahu ibunya.
“Aku juga sayang pada Ibu,” ucapnya.
Lorena tersenyum dan kembali mengusap tangan putranya, kemudian merekapun menuju ruangan rawat inapnya Valerie.
Ny.Grace hanya menatap kepergian mereka, lalu mengambil ponselnya dan menelpon Darren.
“Apa Earlangga tahu kau yang membuatnya kecelakaan?” tanya Ny.Grace.
__ADS_1
“Sepertinya begitu, dia pasti mengenali mobilku!” jawan Darren.
“Kau ini benar-benar ceroboh, kenapa kau memakai mobilnya Earlangga?” bentak Ny.Grace.
“Nyonya, aku menyukai mobil itu, kua kan tidak menyuruhku menggunakan mobil yang lain,” jawab Darren.
“Kau benar-benar…” Ny.Grace menggerutu tidak jelas, saking kesalnya pada Darren.
“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Earlangga pasti akan mencariku,” jawab Darren.
“Aku ingin kau secepatnya mebawa Valerie, tapi ingat kau tidak boleh membuat dia kehilangan bayinya, kalau kau melakukan itu, aku akan memasukkanmu ke penjara,” ancam Ny.Grace.
“Kau lupa Nyonya, aku melakukan ini juga atas perintahmu!” kata Darren.
“Tapi aku tidak menyuruhmu mencelakai mereka! Aku hanya menyuruhmu menggagalkan mereka pulang kampung!” maki Ny.Grace.
“Ya ya aku minta maaf Nyonya,” ucap Darren.
“Bawa secepatnya wanita itu,” kata Ny.Grace.
“Baik Nyonya, kau tenang saja, aku bisa diandalkan, yang penting jangan lupa bayarannya Nyonya,” ucap Darren.
Ny.Grace tidak menjawab, diapun menutup telponnya, lalu melihat kearah Earlangga dan Lorena yang sudah menghilang dibalik belokan koridor rumah sakit itu, diapun melangkahkan kakinya menyusul mereka.
Earlangga duduk dikursi dekat tempat tidur pasien, tangannya menggenggam tangannya Valerie.
“Aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini,” ucap Earlangga.
“Ini bukan salahmu,” jawab Valerie, dilihatnya tangan Earlangga yang terus memegangnya.
“Semoga bayi kita bik-baik saja,” ucap Earlangga, sebelah tangannya menyentuh perutnya Valerie.
“Apa yang akan kau lakukan jika terjadi sesuatu pada bayiku?” tanya Valerie.
“Pertanyaan apa itu? Bayinya baik-baik saja, kau hanya perlu istirahat, Dokter sudah memberimu obat,” kata Earlangga.
“Iya sayang, kau jangan banyak fikiran, kau harus istirahat,” ucap Lorena.
Valerie menoleh pada ibu mertuanya yang selalu bersikap manis padanya. Dia menyukai ibu mertuanya itu yang selalu lemah lembut padanya. Valerie kembali menoleh pada Earlangga.
“Aku hanya cemas, apa kau akan meninggalkanku jika sampai aku keguguran?” tanya Valerie.
“Kau ini bicara apa? Bayi kita biak-baik saja, sudah aku katakan kau akan selalu bersamaku,” ucap Earlangga, tangannya mengusap pipinya Valerie yang terasa begitu dingin.
Terdengar suara sepatu memasuki ruangan itu. Earlangga menoleh pada yang datang ternyata Ny.Grace yang masuk ke ruangan itu.
Earlangga menoleh pada ibunya.
“Bu, bisa minta tolong jaga dulu Valerie, aku ada perlu keluar,” ucap Earlangga.
Ny.Grace langsung saja menatapnya tajam.
“Aku mau kemana? Sebaiknya kau temani Valerie, dia lebih membutuhkanmu,” kata Ny.Grace, perkataannya membuat orang lain keheranan.
“Aku harus menemui seseorang,” jawab Earlangga, sambil beranjak. Dia menoleh pada Valerie sebentar lalu meninggalkan ruangan itu.
“Mau kemana dia?” gumam Lorena, sambil menghampiri Valerie.
Ny.Garce terdiam, dia menebak-nebak, apakah Earlangga akan menemui Darren?
Earlangga memanggil taxi dan menyebutkan alamat club malam itu. Meskipun pasti tempat itu masih tutup, dia bisa menanyakan Darren pada satpam yang pasti mengenalnya.
Sesampainya di club malam itu, Earlangga menghampiri satpam.
“Pak, saya sedang mencari Darren tapi saya tidak tahu alamat tempat tinggalnya,” kata Earlangga.
“Darren?” tanya Satpam.
Earlangga mengangguk.
“Kau temannya?” tanya Pak Satpam, menatap Earlangga, meskipun Earlangga tidak sering ketempat itu, tapi melihat perawakannya sangat mudah untuk dikenali.
“Iya, aku ada perlu dengannya,” jawab Earlangga.
Tanpa banyak bicara lagi Pak Satpam langsung memberikan alamat rumahnya keluarga Nisa.
“Terimakasih,” ucapnya lalu meninggalkan tempat itu menggunakan taxi yang tadi pergi menuju rumahnya Nisa.
Tidak butuh waktu lama menuju alamat yang dikatakan satpam itu. Taxi sudah mendekati rumahnya keluarganya Nisa. Earlangga keheranan, kalau melihat dari rumah itu yang berada di kawasan elit, rasanya sangat aneh kalau Darren pekerjaannya hanya jadi pengangguran dan jadi preman pengganggu saja.
Saat taxi akan mendekati gerbang rumahnya Nisa, ada sebuah mobil yang juga akan masuk kerumah itu. Satpam rumah itu membukakan gerbangnya.
__ADS_1
Setelah mobil itu masuk, gerbang akan ditutup kembali tapi terhenti karena taxi membunyikan klaksonnya.
“Kau siapa?”tanya satpam.
“Aku ingin bertmu Darren, ini rumahnya kan?” tanya Earlangga, sambil membuka kaca mobilnya.
“Iya, kau siapa?”tanya satpam.
“Aku Earlangga,”jawa Earlangga.
Pengendara mobil yang baru memasuki gerbang itu, melihat dari kaca spion kirinya, dia melihat ada taxi yang berhenti dibelakangnya. Diapun menjalankan mobilnya tapi saat penumpang taxi itu membuka kaca jendela, dia langsung menghentikan mobilnya.
“Earlangga!”gumamnya tidak percaya, dan langsung membunyikan klakson membuat satpam menoleh kearah mobil itu.
Pengemudi mobil itu cepat turun dari mobilnya dan bergegas menghampiri taxi.
“Pak Earlangga!” serunya.
Earlangga terkejut saat melihat orang yang menghampirinya.
“Jeni?” tanyanya keheranan.
“Pak Earlangga! Kau kesini? Kau mencariku ya? Aku tidak menyangka kau akan kerumahku, kenapa kau tidak menelponku dulu?” tanya wanita itu yang ternyata adalah Jeni.
Earlangga terdiam dan semakin heran saja, Jeni mengatakan itu rumahnya? Jadi dia dan Darren tinggal dirumah yang sama?
“Aku mencari Darren, apa ini rumahnya?” tanya Earlangga.
Jeni berjalan lebih dekat dan menatap Earlangga keheranan.
“Iya, ini rumah kami, Darren kakakku,” jawab Jeni.
Earlanggapun terdiam, jadi Jeni dan Darren kakak adik?
“Ayo masuklah, aku juga baru datang, nanti aku telpon kakakku kalau kau ada rumah,” ucap Jeni, tanpa menunggu jawaban dari Earlangga, diapun menjauh dan kembali menuju mobilnya.
Melihat Jeni kembali menjalankan mobilnya, Earlangga menoleh pada supir taxi.
“Masuk Pak,” ucap Earlangga.
“Baik Pak,” jawab Pak supir, lalu menjalan mobilnya memasuki pekarangan rumahnya keluarga Nisa.
Jeni menghentikan mobilnya didepan teras, diapun bergegas kedalam rumah dan memanggil-manggil ibunya juga pelayan mereka.
“Siapkan minum untuk tamuku dan makanan-makanan yang enak, cepat!” perintahnya saat pelayan itu datang.
“Baik Non,” jawab pelayan lalu meninggalkan ruangan itu.
“Ada apa? Kau begitu terburu-buru!” terdengar suara Nisa keluar dari ruangan lain.
Jeni langsung berlari menghampiri ibunya.
“Earlangga Bu, Earlangga datang kemari, itu mobilnya ada diluar,” seru Jeni, sambil memegang tangan ibunya, wajahnya sangat berseri-seri, dia merasa senang dan tidak menyangka kalau Earlangga akan kerumahnya meskipun Earlangga kerumah karena mencari Darren.
“Earlangga? Bayi kaya itu?” Nisa tampak terkejut.
“Iya,” jawab Jeni, lalu berbalik berlari keluar rumah, saat melihat taxi itu berhenti dibelakang mobilnya.
Nisa mengerutkan dahinya melihat taxi itu, apa benar Earlangga mengunakan taxi? Kenapa? Diapun melangkah mengikuti langkahnya Jeni yang sudah lebih dulu menyambut Earlangga.
“Aku senang Pak Earlangga mau berkunjung kerumahku, ayo masuk!” ajak Jeni, saat Earlangga turun dari taxi.
Dia langsung memeluk tangan Earlangga supaya masuk kedalam rumah.
Nisa menatap pria yang baru turun dari taxi itu. Pria itu berbadan tinggi tegap sama dengan Sean hanya kulitnya terlihat lebih pucat, wajahnya juga sangat tampan seperti ayahnya.
Nisa langsung tersenyum ramah, dia sangat menyukai pria ini yang memiliki daya pikat sangat kuat, pantas saja Jeni langsung menyukainya, apalagi dengan kakayaannya yang melimpah semakin menambah daya tariknya.
“Kau Earlangga?” tanya Nisa.
“Iya Nyonya,” jawab Earlangga.
Nisa masih tersenyum senang melihatnya, apalagi melihat tangan Jeni yang memeluk tangan Earlangga, dia merasa sangat setuju kalau Jeni bersanding dengan Earlangga. Tapi bukankah keberadaannya harus dirahasiakan untuk masuk kedalam keluarganya Sean? Sedangkan Earlangga malah datang ke rumahnya?
“Aku kesini mencari Darren,” ucap Earlangga.
“Ayo masuklah, kita bicara didalam,” ajak Nisa.
Jeni menoleh pada Earlangga dan kembali menarik tangannya.
“Ayo masuk, nanti aku akan menelpon kakak, supaya cepat kesini,” ajak Jeni, Earlangga terpaksa mengikuti langkah Jeni dan ibunya masuk kerumah itu.
__ADS_1
*************