Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-93 Hilangnya Baby Al


__ADS_3

Hari telah gelap, saat Earlangga dan Valerie pulang. Lorena yang baru menuruni tangga rumahnya, tersenyum senang melihat putra dan menantunya berbicara sambil tertawa. Dia merasa lega melihat mereka bahagia, setelah hari-hari yang menyedihkan kemarin.


“Kalian sangat senang sekali,” ucapnya.


“Earlangga membelikanku banyak barang, aku juga membelikan beberapa buat Ibu, semoga ibu suka,” kata Valerie, tersenyum pada Ibu mertuanya.


“Memangnya kau membelikan Ibu apa?” tanya Lorena.


Valerie mengambil salah satu kantong yang sedang dibawa oleh pelayan rumah mereka.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki rumah itu.


“Wah wah ada yang sudah memborong toko rupanya,” terdengar suaranya Ny.Grace.


Semua mata menoleh pada Ny.Grace, mereka terkejut karena ternyata Ny.Grace tidak sendiri, dia bersama Jeni.


“Malam,” sapa Jeni.


“Malam, kau siapa?” tanya Lorena saat melihat Jeni.


“Ini namanya Jeni, putrinya Pak Brian, rekan bisnis kita. Tadi setelah meeting, aku mengajaknya makan malam disini,” jawab Ny. Grace.


Lorena menatap Jeni, entah kenapa dia merasa kalau Ny.Grace merencanakan sesuatu.


“Jeni, kau tunggu dulu disini, sebentar lagi jam makan amlam,” kata Ny. Grace, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.


“Baik Nyonya,” ucap Jeni.


Lorena melihat Ibu mertuanya naik, segera mengikutinya..


Jeni menoleh kearah Earlangga, lalu pada Valerie yang sedang memegang belanjaan, bahkan dilihatnya pelayan masih menurunkan nurunkan belanjaan.


“Pak Earl, lama tidak bertemu,” ucap Jeni.


“Hem,” jawab Earlangga pendek, lalu menoleh pada Valerie.


“Ayo sayang,” ajak Earlangga mengulurkan tangannya memeluk bahunya Valerie.


Valerie menatap Jeni sekilas lalu mengikuti suaminya tanpa bicara apa-apa.


Jeni langsung memberengut sebal melihatnya, diapun duduk di kursi itu. Melihat ke sekeliling.


“Jadi dulu kakek bekerja mengurus warisannya keluarga ini?” batinnya. Senangnya jika mempunyai suami seperti Earlangga dia tidak perlu memikirkan uang lagi, bersanta-santai saja dirumah, belanja keluar negeri, belanja barang barang branded, uangnya tidak akan habis, batinnya lagi.


Ny.Grace membuka pintu kamarnya, akan masuk tapi ternyata dia diikuti Lorena.


“Ada apa?” tanya Ny.Grace.


“Apa maksud ibu membawa gadis itu kemari?” tanya Lorena.


“Apa maksudmu? Aku hanya mengajak makan malam saja, apa salahnya?” jawab Ny.Grace.


“Jangan berbohong padaku, Ibu pasti merencanakan sesuatu kan? Kalau mengajak makan malam relasi, kenapa harus dirumah?” tanya Lorena.


Ny.Grace menatapnya.


“Kau ini kenapa? Aku bebas mengajak siapa saja makan dirumahku,” kata Ny.Grace.


“Tapi tidak dengan maksud lain,” ucap Lorena.


“Tidak dengan maskud lain bagaimana?” tanya Ny.Grace.


Lorena menatap ibu mertuanya.


“Ibu mau menjodohkan Earlangga dengan gadis itu?” tanya Lorena.


“Jawab jujur,” ucap Lorena lagi.


“Tidak begitu,” elak Ny.Grace.


“Jangan berbohong Bu, aku tahu niat ibu!” kata Lorena dengan nada keras.


“Kau berani sekali membentakku?” maki Ny.Grace.


“Karena ibu sudah keterlaluan!” teriak Lorena.


Earlangga dan Valerie yang akan ke kamarnya terkejut mendengar pertengkaran Lorena dan Ny.Grace. Merekapun menghampiri ke kamarnya Ny.Grace.

__ADS_1


“Aku tau niat Ibu untuk merusak rumah tangga putraku, apa yang telah kau lakukan dulu padaku tidak cukup?” tanya Lorena.


“Melakukan apa? Wajar aku membawa gadis kerumah, atau memilihkan wanita buat Earlangga, aku tidak memaksanya, aku hanya memilahkan kriterianya, siapa tahu dia cocok, kalau tidak coock, ya kita cari lagi yang lain,” jawab Ny.Grace tanpa rasa bersalah.


“Cukup Bu, cukup! Dulu Ibu membawa Nisa kerumah ini untuk dijodohkan dengan Sean, sekarang ibu bawa Jeni untuk dijodohkan dengan Earlangga? Apa ibu tidak punya hati? Putraku sudah menikah, biar putraku bahagia dengan wanita pilihannya!” kata Lorena.


Earlangga dan Valerie tertegun mendengar pertengkaran itu.


“Nenek, jadi Nenek membawa Jeni kerumah maksudnya mau dijodohkan denganku?” tanya Earlangga, menatap Neneknya.


“Nenek hanya memilah saja, nanti kau yang akan memelihnya mana yang kau suka,” kata Ny.Grace.


“Nek, aku sudah punya istri,” ujar Earlangga.


“Sampai kapanpun aku tidak merestui pernikahan kalian! Apalagi bayi kalian sudah meninggal, buat apa pernikahan ini dipertahankan?” kata Ny.Grace.


Valerie yang mendengar pertengkaran itu matanya mulai memerah, baru saja dia merasa bahagia diperhatikan Earlangga, sekarang neneknya Earlangga membuat ulah lagi membawa Jeni kerumah untuk dijodohkan dengan suaminya.


“Kau harus punya istri yang sepadan!” kata Ny.Grace.


“Aku menolak siapapun wanita yang Nenek bawa, jadi usaha nenek akan sia-sia,” kata Earlangga, lalu menoleh pada Valerie yang menunduk sedih dan sakit hati dengan sikap Ny,Grace.


“Sayang, ayo!” ajak Earlangga memeluk bahu Valerie mengajak pergi dari depan kamar Ny.Grace menuju kamar mereka.


Lorena menatap Ny.Grace.


“Hentikan semua ini Bu, belajar menerima keputusan orang lain! Kami ini bukan boneka Ibu,” kata Lorena.


“Kau berisik!” gurutu Ny.Grace.


Terdengar ponselnya berbunyi, diapun segera masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.


Lorenapun pergi meninggalkan kamar ibu mertuanya. Dia merasa kesal karena Ny.Grace melakukan hal sama yang dulu dilakukannya saat menikah dengan Sean dan belum juga mendapatkan keturunan. Kenapa Ibu mertuanya harus melakukannya lagi pada putranya?


Di dalam kamarnya Velerie kembali menangis.


“Nenekmu sangat membenciku, aku tidak tahu kesalahanku apa, kenapa Nenekmi tidak bisa menyukaiku?” ucapnya sambil terisak.


“Tidak sayang, lupakan saja, biarkan Nenek yang begitu, yang penting aku akan selalu bersamamu,” ucap Earlangga, sembik memeluk Valerie dengan erat.


Valerie mengusap airmatanya, lalu berdiri.


Valerie tidak menjawab, dia segera keluar dari kamarnya. Melangkah tergesa-gesa menuruni tangga menemui Jeni.


Jeni yang melihat Valerie turun, langsung menatapnya.


Valerie menghampiri dan menatapnya.


“Apa kau datang kesini karena akan dijodohkan pada suamiku?” tanya Valerie dengan nada tinggi.


Mendengar Valeri bicara keras, Jenipun berdiri balas menatapnya.


“Kalau iya kenapa?” tanya Jeni.


“Sebaiknya kau jauhi suamiku, jangan bermimpi untuk merusak pernikahan kami,” kata Valerie.


“Heh, kau ini siapa disini? Yang berkuasa disini Ny.Grace, dan dia menyukaiku, dia fikir aku lebih pantas menjadi istri Earlangga, sebaiknya kau ngaca!” kata Jeni dengan congkaknya.


“Aku tidak peduli apapun yang kau katakan, tapi yang pasti, pergi jauhi suamiku, jangan datang-datang lagi,” kata Valerie.


“Hem, sombong sekali kau!” gerutu Jeni.


“Aku tidak akan diam saja jika ada wanita yang mengganggu suamiku,” kata Valerie.


“Memangnya kau bisa apa? Heh?” tanya Jeni.


Sementara itu Ny.Grace  berada di kamarnya melihat nomor ponsel itu lalu mengangkatnya.


“Halo! Halo! Nyonya!” terdengar suara orang berteriak-teriak di sebrang.


“Hei hei iya ada apa? Jangan berteriak teriak!” kata Ny.Grace.


“Nyonya, kita dirampok,” jawab suara disebrang.


“Apa? Dirampok? Apa  maksudmu?” tanya Ny.Grace terkejut.


“Kita dia rampok dijalan saat sudah mengisi bensin di pom bensin dan bayi itu, bayi itu dibawa perampok itu juga!” jawab suara disebrang.

__ADS_1


“Ap, apa?” tanya Ny.Grace, sangat terkejut.


“Benar Nyonya, mereka bersenjata, maaf Nyonya, ini ada temanku yang cedera,” kata suara itu.


“Bayinya, dan bayinya?” tanya Ny.Grace dengan gugup.


“Bayinya dibawa kabur perampok itu, Nyonya, juga barang barang berharga kami,” jawab suara disebrang itu.


Nyonya Grace terdiam, dia shock bayinya Earlangga dibawa perampok, bagaimana ini? Bagaimana nasib Al?


“Hei, kau susul perampok itu!” teriak Ny.Grace.


“Nyonya, bagaimana bisa menyusulnya? Teman kami dicelakai sekarang ada di rumah sakit,” jawab pria itu.


“Kalian beneran bodoh!” maki Ny.Grace.


“Apa tidak ada tanda mobilnya apa yang digunakan?” tanya Ny.Grace, kepalanya sudah mulai pusing, hatinya benar-benar cemas.


“Kami tidak sempat melihat itu, kejadiannya sangat cepat, dapat informasi memang disitu sering terjadi perampokan mobil yang lewat,” kata suara disebrang.


Ny.Grace terdiam, wajahnya semakin pucat saja.


“Nyonya, bagaimana kalau kita lapor polisi saja?” tanya suara itu.


“Jangan jangan! Jangan lapor polisi! Biaya rumah sakit temanmu akan aku bayar, jangan lapor polisi,” cegah Ny.Grace.


Kemudian telponpun ditutup.


Ny.Grace terduduk ditempat tidur dengan lemas. Bayinya Earlangga, bayinya… bagaimana dengan bayinya? Kenapa harus di rampok segala? Kemana perampok itu membawa pergi Al? Bagaimana cara dia mencari perampok di London? Kalau lapor polisi akan merembet kemana-mana pasti ditanya siapa orangtua bayi itu dan segala-galanya. Kacau semua!


Bayi itu bayi itu…tidak tahu nasibnya sekarang, bagaimana kalau perampok itu menjualnya?  Fikiran Ny.Grace semakin kacau saja, memikirkan nasibnya Al ditangan perampok.


Tiba-tiba dia merasakan dadanya begitu sakit. Tangannya mengulur akan mengambil airminum untuk menenangkan diri, tapi rasa sakit didadanya begitu sakit.


Ny.Gracepun jatuh ke lantai bersama dengan gelas yang baru dipegangnya yang juga menyenggol  lampu tidur yang ikut terjatuh ke lantai menimbulkan bunyi yang berisik.


Brug! Prang! Pray! Berbagai suara benda yang jatuh terdengar kemana-mana.


Valerie yang sedang bicara dengan Jeni menghentikan bicaranya, dia mendengar sura dentuman berisik dilantai atas. Diapun menoleh kelantai atas, begitu juga Jeni.


Lorena yang sedang ada di kamarnya juga Earlangga keluar dari kamarnya.


“Ada apa Bu?” tanya Earlangga saat bertemu ibunya mencari arah suara.


“Tidak tahu, suaranya seperti dari kamar Ibu,” jawab Lorena.


Earlangga menoleh kearah tangga dilihatnya Valerie berdiri menatap kearahnya.


Earlangga dan Lorena langsung pergi ke kamarnya Ny.Grace.


“Bu, bu!” panggil Lorena menggedor gedor pintunya.


Tidak ada jawaban.


Earlangga langsung membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu, dilihatnya Neneknya itu sudah pingsan dilantai dengan gelas dan lampu pecah berserakan dilantai.


“Nenek! Nenek!” teriak Earlangga.


“Bu! Kau kenapa?” tanya Lorena, berjongkok memegang tubuhnya Ny.Grace.


Earlangga juga langsung  mendekati Neneknya.


“Kita bawa kerumah sakit,” ucap Lorena.


“Iya Bu, ayo!” kata Earlangga, langsung menggendong Ny.Grace, merekapun berlari kerlua dari kamar itu.


Valerie yang sedang berada diruang tamu terkejut melihat Earlangga yang membawa tubuh Ny.Grace berlari keluar rumah.


“Pak Sobri! Pak Sobri! Siapkan mobil!” teriak Earlangga, sambil terus berlari keluar rumah.


Jeni yang melihat Ny.Grace dibawa Earlangga terkejut bukan main, dia yang tadinya akan makan malam bisa batal kalau begini.


“Sebaiknya kau pulang!” kata Lorena pada Jeni.


Jeni langsung mengambil tasnya dengan kesal, diapun keluar menuju mobilnya, dilihatnya semua orang di rumah ini sibuk mengurus  Ny.Grace.


“Nenek-nenek, ada-ada saja,” keluhnya.

__ADS_1


*******************


__ADS_2