
Sean mengikuti langkahnya Earlangga masuk ke dalam rumah sakit.
“Kenapa kau berfikir nenek yang menyuruh orang untuk mengaku-ngaku menghamili Valerie, bayi itu bayimu kan?” kata Sean.
“Selama ini Nenek yang tidak menyukai pernikahanku dengan Valerie, yah. Aku yakin Nenek yang telah menyuruh Darren,” jawab Earlangga.
“Sayang jangan berprasangka buruk begitu, mana mungkin Nenekmu?” kata Sean.
“Mau siapa lagi yang tidak menyukai Valerie selain Nenek? Nenek sangat tidak menyukai Valerie karena dia orang biasa,” jawab Earlangga.
“Kau ini aneh. Apa karena itu Nenekmu akan sejahat itu pada cucunya sendiri? Curigamu berlebihan Earl,” keluh Sean.
“Aku harus menemui Nenek sekarang!” kata Earlangga tidak memperpanjang perdebatan dengan ayahnya.
Earlangga segera masuk ke dalam ruangan Valerie dirawat, dia mengambil kunci mobilnya yang disimpan diatas meja, kemudian mereka kembali ke parkiran, akan pulang ke rumah keluarga Joris.
“Aku juga harus membawa kembali Valerie yah. Mau bayi itu bayiku atau tidak, Valerie sudah menjadi istriku sekarang, sudah seharusnya dia bersamaku,” kata Earlangga.
Sean tidak bicara lagi, dalam hatinya dia masih ragu apa benar ibunya sejahat itu memisahkan Earlangga dengan Valerie?
******
Sesampainya di rumah, Earlangga langsung menemui Neneknya yang sedang ada diruang kerja diikuti Sean.
“Nenek!” panggil Earlangga tidak mau menunggu lama.
Ny.Grace yang ternyata sedang ada tamu, menatapnya tajam. Cucunya itu tanpa mengetuk pintu langsung saja masuk.
Earlangga tidak menghiraukan tamu-tamu itu dan langsung berjalan mendekati meja kerja neneknya.
“Katakan padaku, Nenekkan yang menyuruh Darren membawa Valerie?” tanyanya tanpa basa basi.
Sean mengikuti langkah Earlangga dan berdiri disamping putranya itu.
Tamu-tamu langsung menatap kedatangan mereka.
Sean menoleh pada tamu-tamu itu.
“Maaf, meetingnya ditunda, kami ada kepentingan keluarga,” kata Sean.
Para tamu yang duduk di sofa itu saling pandang dengan temannya lalu menoleh pada Ny.Grace yang langsung mengangguk tanda setuju dengan perkataannya Sean.
Setelah tamu-tamu itu pulang barulah Ny.Grace bicara pada Earlangga, cucu satu-satunya tapi sangat membuatnya pusing tujuh keliling.
“Kau, sangat tidak sopan! Kau datang seenaknya keruanganku mengacaukan meeting kerjaku!” maki Ny.Grace, tanpa bangun dari duduknya, menatap Earlangga dengan tajam.
Melihat sikap Ny.Grace yang marah, Sean langsung menengahi.
“Tolong ibu, maafkan Earlangga,” kata Sean.
Ny.Grace langsung bangun dan berdiri menatap Earlangga.
“Mentang-mentang kau dibesarkan di London, kau tidak menghargai Nenekmu ini?” bentaknya.
“Nenek, aku akan menghormati Nenek jika Nenek tidak melakukan hal itu!” jawab Earlangga sama sekali tidak takut pada Neneknya.
“Apa maksudmu? Melakukan apa?” tanya Ny.Grace, dengan kesal.
“Nenekkan yang menyuruh Darren untuk mengaku-ngaku menghamili Valerie dan sekarang pria itu membawanya?” jawab Earlangga.
Ny.Grace terkejut mendengarnya, ternyata Darren sudah melakukan tugasnya untuk membawa Valerie jauh dari Earlangga dan preman itu belum menghubunginya.
“Nenek tidak tahu menahu soal itu,” ucap Ny.Grace.
__ADS_1
“Aku tidak percaya!” jawab Earlangga, bersikukuh.
“Terserah kau percaya atau tidak,” jawab Ny.Grace.
Sean berjalan mendekati ibunya.
“Bu, tolonglah jujur, apa benar ibu yang menyuruh orang untuk membawa Valerir?” tanya Sean.
“Sudah ibu katakan, ibu tidak tahu,” jawab Ny.Grace, sebenarnya dia juga memang tidak tahu karena Darren belum memberikan laporannya.
Sean menoleh pada Earlangga.
“Nak, ibu tidak melakukan itu,” ucap Sean.
“Aku tidak percaya ,Ayah!” jawab Earlangaga.
“Terserah kau mau percaya atau tidak,” ucap Ny.Grace.
Earlangga tidak beranjak dari tempatnya berdiri, dia menoleh pada Sean.
“Ayah, aku minta maaf, aku harus kembali ke London,” kata Earlangga.
“Apa?” Sean dan Ny.Grace terkejut.
“Jika aku tidak bisa menemukan Valerie, aku akan kembali tinggal di Lodon mengurus perusahaanku di sana. Maaf aku tidak bisa menjalankan perusahaanmu, aku menolak semua warisan yang diberikan untukku,” jawab Earlangga.
Perkataan Earlangga semakin membuat Sean and Ny.Grace terkejut saja.
“E e, kau ini bicara apa?” tanya Ny. Grace, langsung menghampiri Earlangga.
“Apa maksudmu menolak semua warisanmu? Siapa yang akan menjalankan perusaahaan keluarga ini?” tanya Ny.Grace, kembali menatap Earlangga.
Earlangga menatap Neneknya.
Ny.Grace menoleh pada Sean.
“Sean, lihat anakmu ini!” kata Ny.Grace.
Sean menoleh pada Earlangga.
“Nak, jangan seperti itu, meskipun kau besar di London, tapi kau anak Ayah dan Ibu,” kata Sean.
“Aku tahu Ayah, aku hanya sebatas anak Ayah dan Ibu dan tidak perlu mendapatkan warisan apapun, aku tidak mau menjalankan perusaahn keluarga Joris,” jawab Earlangga, menggelengkan kepalanya.
“Earl!” bentak Ny.Grace dengan kesal.
“Aku akan mencari Valerie sampai ketemu setelah itu aku akan membawanya ke London! Jangan harap aku akan kembali kesini. Aku besar disana dan aku terbiasa tinggal disana,” ucap Earlangga, sambil membalikkan badannya.
Ny.Grace kebingungan dengan sikap Earlangga yang keras kepala. Ternyata cucunya itu benar-benar tidak bisa dikendalikan.
Dilihatnya Earlangga berjalan menuju ruang kerjanya.
“Iya, iya, kau boleh bersama perawat itu!” seru Ny.Grace dengan kesal.
Terpaksa Ny.Grace mengalah, kalau sampai Earlangga benar-benar pergi ke London, bisa-bisa tidak ada lagi penerus keluarga Joris, bagaimana urusannya? Masa perusahaan sebesar ini tidak ada yang bertanggung jawab?
Earlangga menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Ny.Grace.
“Katakan kemana Darren membawa Valerie pergi? Aku akan menyusulnya,” tanya Earlangga.
“Nenek juga tidak tahu,” jawab Ny.Grace.
Sean menoleh pada ibunya.
__ADS_1
“Jadi ibu yang melakukan semua ini? Ibu menyuruh orang untuk membawa Valerie?” tanya Sean, tidak percaya.
“Ibu melakukannya karena ibu tidak mau Earlangga semakin dekat dengan wanita itu! Earlangga berhak mendapatkan yang lebih baik,” kata Ny.Grace.
Sean menggeleng-gelengkan kepalanya karena kesal, kenapa ibunya berbuat sejahat itu pada Earlangga.
“Kenapa ibu setega itu? Earlangga cucu Ibu, kenapa Ibu tega merusak kebahagiaannya?” tanya Sean.
Ny.Grace tidak menjawab.
“Sekarang katakan dimana Valerie?” tanya Earlangga.
“Nenek tidak tahu, tapi sebelum pria itu mengembalikan Valerie, ada syarat untukmu,” jawab Ny.Grace.
“Syarat? Syarat apalagi?” tanya Earlangga.
“Berjanjilah kau akan menjadi penerus keluarga Joris, dan tidak perlu kembali ke London,” jawab Ny.Grace.
“Selama ada Valerie bersamaku, aku akan melakukannya,” jawab Earlangga.
“Oke, Deal,” jawab Ny.Grace.
Dalam hati Ny.Grace sebenarnaya sangat kesal, kesal bukan main dengan cucunya itu yang keras kepala. Earlangga benar benar pria yang susah dikendalikan.
Ny.Grace mengambil ponselnya diikuti Earlangga dan Sean, melakuka panggilan ke nomornya Darren.
Tapi sudah beberapa kali menelpon Darren ternyata tidak bisa dihubuungi.
“Bagaimana?” tanya Sean.
“Tidak bisa dihubungi , kenapa ya?” kata Ny.Grace.
“Kenapa?” tanya Earlangga.
“Tidak tahu, telpon pria itu tidak bisa dihubungi,” jawab Ny.Grace kebingungan.
Earlangga langsung merebut ponsel Ny.Grace. Neneknya itu sampai terkejut dengan sikap beraninya Earlangga, dia langsung mendelik pada Sean, Putraya saja tidak pernah bersikap seberani itu.
Earlangga mendial nomornya Darren, ternyata hanya nada tutut tutut saja.
“Kenapa tidak bisa dihubungi?” tanya Earlangga, diapun mengeluarkan ponselnya. Dia sempat menyimpan nomot telpon Darren saat dirumah Nisa, barangakali nomor di Neneknya dengan nomornya berbeda. Setelah dicek ternyata sama.
Earlanggapun kebingungan, lalu menatap Neneknya.
“Nenek tahu kan kemana Darren membawa Valerie?” tanya Earlangga.
“Tidak tau, dia belum melaporkan apa-apa,” jawab Ny.Grace.
“Terus bagaimana ini? Kenapa Darren tidak bisa dihubungi?” tanya Sean juga kebingungan.
Ny.Grace mengambil ponsel ditangan Earlangga, kembali mendial nomornya Darren ternyata memang tidak aktif. Diapun semakin bingung lalu menatap Earlangga dan Sean bergantian.
“Nenek tidak tahu pria itu membawa pergi kemana perawat itu, telponnya masih tidak bias dihubungi,” ucapnya.
Earlangga dan Sean semakin cemas mendengarnya, kemana Darren membawa Valerie?
*************
Readers maaf beberapa hari kedepan up tidak teratur dan sedikit-sedikit cos author sedang
keluar kota, ibu mertua author meninggal karena diabet sudah bertahun tahun.
Disini daerah pegunungan jadi sinyal juga kurang bagus.
__ADS_1
********