Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-12 Bertemu Lagi


__ADS_3

Beberapa hari kemudian…


Hampir tiap hari hujan karena sudah memasuki musim hujan, Earlangga sudah tidak lagi dihantui mimpi buruk, dia sudah mulai bisa menjalani hari-harinya seperti biasa.


 Josh dan Nick sudah kembali ke London. Kini Earlangga sudah mulai diberikan tanggung jawab mengurus perusahaan setelah pengalihan beberapa perusahaan yang menjadi hak warisnya. Sedangkan Sean mengurus beberapa perusahaan yang ada di Luar Negeri.


“Kau akan mulai bekerja hari ini?” tanya Sean pada Earlangga. Mereka sedang ada di meja makan pagi ini, tempat biasa mereka bisa berkumpul pagi-pagi sebelum


beraktifitas.


“Iya ayah,” jawab Earlangga.


“Ayah beberapa hari ini akan ke Paris bersama ibumu juga nenekmu, kau baik-baik di rumah,” kata Sean.


“Ke Paris? Apa kalian akan berbulan madu lagi?” tanya Earlangga, membuat orangtuanya tertawa.


“Tidak sayang meskipun ada kenangan di Paris, ayah mau bekerja disana,” jawab Sean disela tawanya, sambil menoleh pada istrinya yang juga menoleh padanya.


“Tapi bulan madu lagi juga tidak apa-apa,  ya kan sayang?” tanya Sean.


“Kita bukan pengantin baru, bukan bulan madu lagi,” jawab Lorena, mencondongkan tubuhnya kearah Sean dan langsung dicium suaminya.


“Tidak ada salahnya kalian bulan madu lagi, mungkin kalian bisa punya anak lagi, punya anak satu itu kurang,” kata Ny.Grace.


“Tapi sudah sekian puluh tahun kami tidak diberi keturanan lagi, rasanya tidak mungkin punya anak lagi,” kata Sean.


“Mungkin nanti kita akan dapat cucu kalau Earlangga sudah menikah,” ucap Lorena.


“Aku belum kefikiran untuk menikah,” kata Earlangga sambil menyantap makanannya.


“Ingat pesan nenek, carilah gadis yang sepadan, tidak ada gadis yang akan  menolakmu,” kata Ny.Grace.


“Tapi yang penting nomor satu itu gadis baik-baik, menyayangimu juga, soal status kedudukan itu nomor sekian,” ucap Lorena.


“Kau salah, justru status dan kedudukan nomor 1, itu yang harus diperhatikan Earlangga. Jangan kencan dengan gadis sembarangan, harus pilih pilih yang terbaik,” potong Ny.Grace, menatap tajam pada Lorena, dia selalu berbeda pandangan dengan menantunya itu.


“Tapi kalau soal uang dan status kita sudah tidak membutuhkannya lagi Bu, kita sudah lebih dari cukup mempunyai itu semua, yang penting biarkan Earlangga menemukan cinta sejatinya, menikah dengan gadis yang dicintainya,” kata Lorena.


“Kau ini selalu membantah, aku ingin yang terbaik buat Earlangga. Orang miskin hanya akan memoroti uangnya saja, berbeda dengan gadis kaya, dia terbiasa punya kekayaan dari orang tuanya, masa kau tidak mengerti juga,” ucap Ny.Grace.


Lorena terpaksa diam, suusana kembali hening, tiap Ny.Grace yang mengambil keputusan, dia tidak mau ada yang membantahnya, kepetusannya selalu dianggap benar.


“Sudahlah, Earlangga juga masih harus banyak belajar menjalankan perusahaan, soal gadis nanti saja dibicarakannya,” kata Sean, dia tidak mau ada keributan dipagi hari ini.


Lorena menatap Earlangga, menyentuh tangan putranya.


“Semoga kau menemukan gadis yang kau cintai sayang, ibu ingin kau selalu bahagia,” ucap Lorena.


“Terimakasih Bu,” jawab Earlangga sambil memegang tangan ibunya.


“Aku sayang ibu,” ucapnya, ibunya hanya tersenyum. Ny. Grace cemberut saja, sedangkan Sean menatap putranya juga tersenyum.


“Baiklah, aku berangkat sekarang,” kata Earlangga, mengakhiri sarapannya dan beranjak.


“Kalau ada apa-apa kau bisa minta batunan Pak Ardi,” kata Ny.Grace.

__ADS_1


“Baik Nek,” jawab Earlangga.


Earlangga mendekati neneknya, mencium pipi Neneknya, lalu mencium pipi ibunya yang dibalas Loeena dengan mencium kepalanya dan terakhir mencium pipi ayahnya, Sean hanya menepuk bahunya.


“Aku berangkat!” kata Earlangga, sambil keluar dari ruangan itu.


“Hati-hati sayang!” seru Lorena.


“Iya Bu!” jawab Earlangga.


Earlangga menjalankan mobilnya keluar dari gerbang, tapi saat akan belok kakan, hampiri saja dia menabrak sebuah motor yang belok ke kiri, diapun mengerem mobilnya dengan cepat dan langsung membunyikan klakson dengan keras, kaca jendela dibukanya.


“Hei! Apa kau tidak punya mata?” maki Earlangga, dia terkejut karena motor itu tiba tiba saja ada didepannya, bagaimana kalau sampai menabraknya? Diapun melongokkan kepalanya.


“Maaf Pak, saya hanya sedang parkir!” jawab pengendara motor itu, sambil menoleh pada Earlangga. Pandangan merekapun bertemu, setelah hampir satu minggu lebih mereka tidak bertemu.


“Heh, kau grabfood itu kan?” tanya Earlangga, ternyata dia akan menabrak Valerie, yang baru keluar dari rumahnya Bu Asni.


“Bukan Pak, saya petugas delivery Resto Samin,” jawab Valerie.


“Ah sama saja, kau belum mengembalikan bajuku?” tanya Earlangga, tiba-tiba dia teringat kalau Valerie akan memcucikan bajunya yang kena tumpahan makanan.


“Maaf Pak bajunya belum kering, tiap hari hujan, nanti saya antarkan ke kantor,” kata Valerie.


“Lama amat, sudah lebih dari satu minggu, jangan-jangan kau jual bajunya,” tuduh Earlangga.


“Buat apa menjual baju bekas,” gerutu Valerie.


“Pokoknya cepat kembalikan, aku tidak mau pakaianku ada padamu,” keluh Earlangga.


“Iya Pak, nanti saya antarkan sekalian delivery,” jawab Valerie.


“Huh, orang kaya sombong amat, kalau aku yang bicara dia tidak menoleh sedikitpun tapi kalau dia yang mau bicara seenaknya saja maki-maki orang,” gerutu Valerie, sambil memutar motornya.


Setelah itu Valerie menjalankan motornya menuju Resto yang buka jam 10 siang. Hari ini dia tidak ada kuliah, karena ujian sudah beres, hanya tinggal mengumpulkan uang untuk membayar utang pada Nella dengan cara dicicil dengan gajinya.


“Kau bantu mengirimkan food box ke panti asuhan Kasih Bunda, ada perusahaan yang membuat acara sentunan disana,” kata Pak Dimas, Manager di Resto Samin.


“Baik Pak,” jawab Valerie.


Valerie pun ikut bersama teman-teman kerjanya menuju Panti Asuhan Kasih Bunda memba kan food Box dengan motornya karena lokasi panti itu tidak terlalu jauh dari Resto Samin.


Sesampainya disana terlihat ada tenda –tenda yang dipasang di depan Panti juga kursi- kursi tamu yang sudah diisi tamu undangan  dan juga anak-anak panti, acara sedang  berlangsung  dari tadi dan sebentar lagi saatnya untuk makan siang.


“Kau bantu membagikan makanannya, kita kurang orang,” kata Willy, ketua rombongannya.


“Baik Pak,” jawab Valerie,  Willy dipanggil Pak padahal usianya hanya beberapa tahun lebih tua darinya, Karena posisinya sebagai koordinator acara jadi semua memanggilnya Bapak.


Valeriepun bergabung dengan karyawaan lain menyiapkan pembagian makan siang untuk anak-anak panti dan para tamu undangan.


“Kau simpan kotak-kotak ini untuk meja-meja yang di depan, untuk para tamu istimewa. Ada satu kotak yang paling special karena isinya berbeda, buat Bapak yang berjas biru tua itu,” kata Pak Willy, sambil menunjukkan box box yang berbeda dengan yang lain lalu pada seseorang yang duduk membelakangi yang sedang berbicara dengan seseorang sepertinya pemilik panti.


Valerie menoleh kearah yang ditunjuk oleh Pak Wiilly, melihat potongan belakang kepala pria itu ada rasa yang tiba-tiba muncul, sekilas bagian belakang pria itu mengingatakannya pada pria yang berbaring menelungkup diatas tempat tidur. Tapi segera dihilangkannya bayang-bayang itu. Dia sudah mencoba untuk mengiklaskan, merelakan apa yang telah terjadi padanya dan memulai hidup baru dengan semangat baru.


“Kau malah melamun, ayo cepat!” tegur Pak Willy.

__ADS_1


“Baik Pak,” jawab Valerie.


Valerie menoleh pada meja-meja yang di depan deretan kursi-kursi itu. Para anak-anak panti sudah berlarian menghampiri dan mengantri  mengambil makanannya.


Valerie membawa beberapa kotak makanan ke meja paling depan.


“Silahkan!” ucap Valerie, sambil menyimpan sebuah kotak di depan seorang tamu.


“Silahkan!” ucapnya lagi setiap menyimpan kotak mkanan itu.


“Terimakasih,” jawab pemilik panti yang sedang berbicara dengan seseorang, Valerie hanya melihat sepatu hitammnya yang mengkilat di kakinya yang menopang dikakinya yang lain.


Valerie membaca kotak yang terakhir itu yang ternyata ada namanya, Earlangga. Ko namanya seperti Presdir itu? Diapun menoleh kearah pria berjas itu, bersamaan dengan mata pria itu menoleh keearahnya.


“Kau?” tanya Earlngga terkejut tidak menyangka akan bertemu gadis grabfood itu.


“Pak ini…” Valerie membaca kotak yang ada namanya.


“Ini buat Pak Earlangga,” kata Valerie.


“Iya, aku itu, simpan disana,” jawab Earlangga lalu berbicara lagi dengan pemilik panti tidak menghiraukan keberadaannya. Sudah bisa ditebak Valerie pasti sikap pria itu akan acuh pada orang lain.


Valerie menyimpan kotak itu diatas meja.


“Pak Earlangga, saya akan mengambil tanda terima dulu, ditunggu sebentar,” kata pemilik Panti sambil beranjak dan di angguki oleh Earlangga.


Earlangga kini menatap Valerie yang akan pergi.


“Tunggu!” serunya membuat Valerie menoleh.


“Ada apa?” tanya Valerie.


“Mana bajuku? Berikan disini  saja! Kau tidak perlu ke kantor!” kata Earlangga.


“Ada disana Pak,” jawab Valerie tangannya menunjuk kearah parkiran.


“Ayo kita ambil. Aku sangat sibuk sebentar lagi akan pergi,” kata Earlangga, sambil bangun dari duduknya, akhirnya Valerie berjalan menuju parkiran diikuti Earlangga.


“Kenapa langkahmu lambat sekali, seperti kura-kura, aku mengikutimu sampai kakiku pegal!” keluh Earlangga, karena menurutnya Valerie berjalan sangat lambat.


“Kakiku kan pendek, Pak,” jawab Valerie, sambil cemberut, ini orang bawaannya menggerutu melulu.


“Hei hei kau mau kemana  ini?” tanya Earlangga.


“Ke motorku, Pak,” jawab Valerie, merekapun sampai di motor deliverynya Valerie.


“Mana bajuku?” tanya Earlangga.


Valerie membuka bagasi motornya dan mengeluarkan sebuah bungkusan. Earlangga terkejut melihat bungkusan yang dimasukkan ke bagasi motor itu.


“Apa yang kau lakukan dengan bajuku? Kau lipat lipat kecil dan dimasukkan ke bagasi motor?”


tanya Earlangga, menatap Valerie.


“Iya Pak, soalnya sekarang musim hujan, nanti kehujanan kalau saya bawa-bawa,” jawab Valerie.

__ADS_1


“Kau malah merusak bajuku!” keluh Earlangga dan langsung berwajah masam, melihat bungkusan yang jadi kecil itu.


************


__ADS_2