Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-3 Tiba di rumah


__ADS_3

Earlangga sampai di rumah orang tuanya.  Dia dan dua temannya langsung masuk keruang tengah. Kepala pelayan memberitahukan kedatangannya pada Lorena yang sedang ada di kamarnya.


“Ibu!” panggil Earlangga saat melihat ibunya turun dari tangga.


“Sayang, kau sudah sampai?” tanya Lorena, tersenyum senang melihet putranya muncul.


“Iya Bu, aku membawa teman-temanku, mereka ingin melihat tanah kelahiranku, sama denganku, ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku disini,” kata Earlangga.


“Iya, tidak apa-apa, anggap saja rumah sendiri, buat kalian senyaman mungkin,” ucap Lorena menoleh pada teman bulenya Earlangga, Josh dan Nick yang tersenyum padanya.


Earlangga memeluk ibunya dan mencium pipinya. Josh dan Nick mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


 “Kau sudah tiba?” terdengar suara seorang wanita yang juga turun dari tangga. Ny.Grace muncul menatap kedatangan cucunya.


“Iya Nenek. Sepertinya nenek akan bepergian?” jawab Earlangga.


“Aku ada acara dengan teman,” jawab Ny.Grace.


Earlangga memeluk neneknya dan mencium pipinya.


“Kau bersama temanmu?” tanya Ny.Grace.


“Iya, ini Josh dan Nick,” jawab Earlangga.


“Hai Grandma!” sapa Josh dan Nick.


“Kau harus mengajak temanmu jalan jalan Earl,” kata Ny.Grcae.


“Tentu saja, Nek,” jawab Earlangga.


Ny.Grace menatap Earlangga.


“Kau terlihat lebih dewasa sekarang, nanti kau temui ayahmu ada banyak yang harus dibicarakan ,” kata Ny.Grace.


“Iya, Nek,” jawab Earlangga.


“Biar Earl istirahat dulu Bu, soal pekerjaan nanti saja dibicarakannya,” kata Lorena. Dia tidak nyaman Earlangga baru datang akan langsung dikasih pekerjaan.


Ny. Grace langsung menoleh pada Lorena.


“Kau selalu begitu, menyepelekan hal hal besar. Apa aku tidak mengerti juga Earlangga punya banyak tanggung jawab mengurus seluruh kekayaan keluarga Joris, dia cucuku satu-satunya,” kata Ny.Grace dengan ketus.


“Nenek tenang saja, aku akan bekerja dengan giat,” kata Earlangga, sambil memeluk neneknya.


“Aku tahu kau bisa diandalkan. Seharusnya dari remaja kau sudah belajar bisnis, gara-gara kau tinggal di London, kau jadi banyak bermain padahal tugasmu disini sangat banyak,” ucap Ny.Grce.


Lorena tidak bicara apa-apa, dia memang tidak mengijnkan Earlangga tinggal disini karena tidak mau nasibnya seperti Sean, ayahnya yang dari kecil harus mengurus perusahaan.


Ny.Grace menepuk bahunya Earlangga, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.


“Earl, ajak teman-temanmu ke kekamarnya, mereka pasti ingin beristirahat,” ucap Lorena.


“Iya Bu. Nanti malam kami tidak makan dirumah, temanku ingin makan diluar,” jawab Earlangga.


“Baiklah, tapi jaga diri kalian, karena kau juga belum mengenal kota ini, atau kau pakai supir saja,” kata Lorena.


“Tidak Bu, tidak perlu pakai supir, aku juga membawa mobil sportku,” kata Earlangga.


“Ya terserah kau saja,” jawab Lorena, mengusap bahu putranya.


Bayi yang dilahirkan dikebun karet itu tumbuh menjadi pria yang sangat tampan.


“Dimana ayah?” tanya Earlangga.


“Ayahmu belum pulang,” jawab Lorena.


Kepala pelayan langsung menghampirinya.


“Kamarnya sudah siap, Bu,” kata kepala pelayan.


“Terimakasih Pak Dirja,” jawab Lorena pada kepala pelayannya yang baru, sambil menoleh pada Earlangga.


“Baiklah, aku istirahat Bu,” kata Earlangga, yang dijawab anggukan oleh Lorena.


Putranya dan kedua temannya mengikuti Pak Dirja ke kamar tamu.

__ADS_1


Josh dan Nick langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


“Lelahnya!” ucap Nick, sambil merentangkan kedua tangannya menatap langit-langit.


“Tenang, kita keluar nanti malam, aku ingin mencari gadis-gadis cantik,” kata Josh.


“Kau yang dikejar gadis-gadis saja,” keluh Earlangga.


“Memangnya kita akan kemana nanti malam?” tanya Nick.


Josh mengulurkan ponselnya dari sakunya.


“Ini tempatnya! Lokasinya juga masih didalam kota,” jawab Josh, sambil memperlihatkan ponselnya pada Nick.


“Kita ke club malam?” tanya Nick.


“Kemana lagi tempat party?”jawab Josh.


“Tapi ingat kalian jangan mabuk, tidak enak pada orang tuaku, disini tidak sebebas di London,” kata Earlangga memperingatkan.


“Kau tenang saja, aku ini jago minum tidak akan mabuk,” kata Josh.


**********


Malam telah tiba…


Earlangga dan kedua temannya menuju lokasi yang didapat oleh Josh dari seaching di ponselnya ke sebuah club malam yang terkenal di ibukota.


Di halaman parkir tampak begitu penuh dengan kendaraan.


“Sangat ramai, sepertinya akan seru,”kata Josh, dia membuka kaca jendela, saat melihat gadis-gadis cantik dengan gaun gaun pendek yang memperlihatkan kakinya, dia langsung saja bersiul menggoda gadis-gadis yang lewat memasuki club malam itu.


Mobil sport keluaran terbaru yang dikendarai Earlangga tentu saja menjadi pusat perhatian, karena selain itu mobil mewah, mobil dengan  model terbaru itu terlihat sangat keren dan canggih.


Setiap orang yang melewatinya pasti melirik pada mobil mewah itu. Tidak terkecuali mata-mata segerombolan pemuda yang nongkrong didepan pintu masuk.


“Bos, mobil keren Bos!” kata salah satu pemuda itu.


“Kau benar Rendi, sepertinya aku baru melihat mobil model seperti itu,” jawab yang dipanggil Bos itu yang tiada lain Darren. Dia dan teman-teman gengnya nongkrong di club malam itu.


“Itu mobil keluaran baru Bos, harganya fantastic Bos!” kata temannya yang lain.


Ada sosok mata lain yang mengagumi kehadiran mobil mewah itu.


“Kau lihat Jeni, mobil mewah! Keren banget!” ucap seorang gadis menghentikan langkahnya menarik tangannya Jeni.


“Mana, Prili?” tanya Jeni.


“Tuh!” jawab Prili, menunjuk pada mobilnya Earlangga.


“Wuih mantap mobilnya,” kata Jeni,membelalakkan matanya.


“Coba kita lihat pengemudinya seperti apa? Apa sekeren mobilnya?” tanya Prili, Jeni pun menghentikan langkahnya, berdiri menunggu sosok yang ada dimobil itu.


Earlangga mematikan mobilnya. Josh dan Nick keluar dari mobilnya lebih dulu.


“Bule!” seru Prilli.


“Aku hanya mau pria local saja,” kata Jeni.


“Kenapa kalau Bule? Kita bisa diajak tinggal diluar negeri,” ujar Prilli.


“Buat kau saja!” kata Jeni, sambil melangkahkan kakinya, tapi Prili menariknya lagi.


“Apa?” tanya Jeni.


“Lihat itu!” jawab Prilli, membuat Jeni memelirik kearah yang ditunjuk Prilli.


Mata Jeni langsung terhenti psda sosok pria tampan yang keluar dari mobil itu. Pria yang memiliki tubuh sama dengan pria bule tadi hanya kulitnya tidak sepucat orang kulit putih.


Jeni langsung tersenyum, dia menyukai pria itu dari pandanngan pertama. Pria itu sangat tampan.


“Hei, hei, sadar!” Prili menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajahnya Jeni.


“Kau menggangguku!” kata Jeni menepiskan tangannya Prili.

__ADS_1


“Dia sangat tampan,” ucap Jeni.


“Kau benar, tapi mungkin dia sudah punya pacar!” kata prili.


“Punya pacar?” tanya Jeni menatap Prili.


“Iya, pria setampan itu tidak mungkin tidak punya pacar!” jawab Prili.


Jenipun terdiam, matanya mengikuti arah Earlangga dan kedua temannya menuju pintu masuk.


“Ayo kita juga masuk, acara ulang tahunnya sudah dimulia!” kata Prilli.


Merekapun melangkahkan kakinya menuju pintu masuk.


Darren dan kawan-kawannya melihat Earlangga dan kedua temannya masuk, mereka bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri mobil sport mewah itu.


“Gila Bos! Keren banget!” seru temannya, mereka menyentuh bodynya mobil yang mengkilat.


Dareen berdiri mematung menatap mobil mewah itu, dia juga sangat tertarik dengan mobil mewah itu, dia jadi berfikir bagaimana cara mendapatkan mobil itu supaya mobil itu jatuh ke tangannya.


Seorang temannya mencoleknya dan memberikan ponselnya.


“Siapa?” tanya Darren.


“Pelanggan kita,” jawab temannya.


Dareen langsung menerima telpon itu.


“Tapi aku sedang tidak membawa barangnya,” kata Darren.


“Benar, itu barang asli, tidak, aku tidak main-main lagi, kalau kau tidak percaya kita bisa testi pada wanitamu,” kata Darren sambil tertawa.


“Tidak bisa besok?” tanya Darren.


“Baiklah, aku harus mengambil barangnya dulu,” jawab Dareen lalu telponpun ditutup.


“Apa?” kata temannya.


“Aku harus mengambil barangnya dirumah,” ujar Darren.


“Kalau kau pulang, bule-bule itu keburu pulang juga Bro, siapa tahu dia cuma mampir sebentar, kesempatan mendapatkan mobil sport ini bisa gagal,” kata temannya.


“Kau benar, tapi si Paul minta barangnya sekarang mau dia pake,” ujar Darren. Kemudian terbersit sesuatu. Diapun melakuka panggilan pada seseorang.


Valerie sedang membuka-buka bukunya dengan serius. Meskipun dia terancam tidak bisa mengikuti ujian, dia tetap harus belajar siapa tahu dia beruntung bisa ikut ujian.  Dilihatnya ponsel yang tergeletak di mejanya berdering. Dilihatnya muncul nama Darren. Mau apa anak majikannya itu menalpon.


“Ya halo,” sapanya.


“Valerie!” panggil Darren.


“Ya Tuan!” jawab Valerie.


“Aku butuh bantuanmu!“ jawab Darren.


“Bantuan apa?” tanya Valerie.


“Ambilkan Sesuatu di kamarku, tapi ingat jangan sampai ketahuan oleh ibuku, lalu antar barang itu kesini,” jawab Darren.


“Aku sedang belajar!” kata Valerie.


“Hei, kau ini susah amat disuruh?” gerutu Darren.


“Aku mau ujian besok,” kata Valerie.


“Kau akan aku bayar, tenang saja, aku tahu ibuku belum memberimu gaji, nanti kau dapat uang dariku, tapi ambilkan barang itu sekarang di kamarku lalu kau pakai taxi dan antarkan kesini,” ujar Darren.


Mendengar Darren akan memberinya uang, Valerie jadi tertarik  siapa tahu uang dari Darren bisa buat menyicil biaya kuliahnya meskipun sedikit.


“Baiklah,” ucap Valerie.


“Oke, sekarang kau pergi ke kamarku, ingat jangan sampai ketahuan ibuku. Ambil bungkusan kecil berwarna coklat yang ada dilaci lemariku yang paling bawah,” kata Darren.


“Iya Tuan, nanti saya ambilkan,” kata Valerie.


“Aku kirimkan alamatku disini, ongkos taxinya aku yang bayar,” ujar Darren.

__ADS_1


“Baiklah!” jawab Valerie. Diapun mengambil sweaternya, keluar dari kamarnya menuju kamarnya Darren.


***********


__ADS_2