Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-71 Pernyataan Darren


__ADS_3

Earlangga duduk diruang tamu, melihat kesekeliling ruangan itu. Kalau Jeni dan Darren adik kakak itu artinya Darren juga putranya Pak Brian. Kenapa Darren pekerjaannya malah memerasnya? Pak Briad adalah seorang pengusaha yang kaya. Benar-benar membuat Earlangga tidak mengerti.


“Apa kau bisa menelpon Darren secepatnya? Aku tidak bisa lama-lama,” ucap Earlangga, menoleh pada Jeni yang duduk disampingnya.


“Kenapa kau buru-buru sekali? Kau bisa minum dulu, santai saja,” ucap Jeni.


“Aku sedang banyak urusan,” jawab Earlangga.


Jeni menghela nafas panjang, kenapa Earlangga begitu ingin buru-buru pulang? Diapun mengeluarkan ponselnya dan mendial nomornya Darren.


Nisa duduk disebrang Earlangga, dia tidak berhenti menatap pria itu. Menatapnya membuatnya kembali pada masa lalu, perjuangannya untuk mendapatkan Sean berujung pada porak porandanya kondisi keluarganya. Ayahnya dipenjara dan mereka jatuh miskin membuatnya terpaksa menikah dengan Brian pria kaya yang sering main perempuan, alhasil rumah tangganyapun berantakan.


Lihatlah sekarang bayi itu, bayi yang ditunggu kelahirannya itu sangat begitu tampan, matanya yang kebiru-biruan menandakan pria itu masuk kelompok pria tampan di London sana.


Pria yang lahir dengan takdir memiliki kekayaan yang berlimpah. Seharusnya Jeni mendapatkannya setelah dia gagal mendapatkan Sean.


Seorang pelayan datang membawakan minuman dan makanan ringan dan disimpan diatas meja di depan Earlangga.


Earlangga menatap gelas-gelas yang ada di depannya.


“Kami tidak tahu kau suka minuman apa, jadi kami membuatkan berbagai jenis minuman, kau boleh memilihnya,” ucap Nisa, berusaha seramah mungkin.


“Terimakasih,” ucap Earlangga pendek, membuat Nisa tersenyum lagi, pria itu terlihat acuh tak acuh saja.


“Bagaimana?” tanya Earlangga kembali menoleh pada Jeni.


Jeni tidak menjawab, dia berbicara dengan Darren.


“Halo kak! Kau dimana?” tanya Jeni.


“Ada apa kau menelponku? Kurang kerjaan,” umpat Darren.


“Pak Earlangga ada dirumah mencarimu,” jawab Jeni.


Tiba-tiba  Earlangga langsung merebut ponselnya Jeni.


“Halo!” seru Earlangga.


Darren terkejut mendengar suara Earlangga di telpon.


“Kau ada dimana? Aku ingin bicara denganmu!” tanya Earlangga.


“Jadi kau mencariku?” tanya Darren sambil tertawa.


“Katakan kau dimana?” tanya Earlangga, tidak menanggapi pertanyaannya Darren.


“Baiklah, kita akan bertemu di taman kota, aku tunggu sekarang,” jawab Darren dan langsung menutup telponnya.


Earlangga mengeluarkan ponselnya dan langsung menyimpan nomornya Darren. Dulu Darren pernah menelponnya tapi dia sama sekali tidak berminat untuk menyimpan nomor telponnya. Tapi sekarang, sepertinya Darren sudah keterlaluan dan dia harus menyimpan nomornya jika suatu saat membutuhkannya, tidak perlu bertemu Jeni seperti ini.


“Aku pulang sekarang!” kata Earlangga memberikan ponsel itu pada Jeni sambil berdiri.


“Kau mau pulang?” tanya Jeni.


“Iya. Nyonya, aku permisi,” ucap Earlangga sambil menoleh pada Nisa, dan tidak menunggu jawaban lagi langsung pergi.

__ADS_1


“Pak Earlangga! Tunggu!” seru Jeni segera menyusul.


Nisa hanya diam saja melihat kepergiannya Earlangga. Sungguh tidak bisa dipercaya dia bisa melihat bayi yang jadi masalah dimasa lalu itu.


Earlangga langsung berjalan cepat keluar dari rumahnya Nisa, supir taxi masih menunggunya parkir di depan teras.


Dilihatnaya seseorang yang duduk di kursi roda sudah dari taman dengan dibantu oleh seorang perawat.


Earlangga menghentikan langkahnya. Dia teringat kalau Valerie pernah menjadi perawat di keluarganya  Darren, itu artinya Valerie merawat pria yang dikursi roda itu.


Pak Tedi menghentikan kursi rodanya, menatap pria yang baru keluar dari rumahnya itu. Dia seperti mengenalnya tapi dia lupa dimana, ingatannya sudah mulai berkurang.


“Pak Earl, sebenarnya aku tidak tinggal disini,” kata Jeni, saat Earlangga menaiki taxi, dia melongokkan wajahnya ke jendela yang terbuka.


Earlangga menoleh dengan tidak mengerti, katanya dia adik kakak dengan Darren.


“Sekarang aku tinggal dirumah ayahku, Pak Brian,” ucap Jeni.


“Jadi maksudmu…”


“Ayahku punya beberapa rumah,” kata Jeni.


Earlangga mengangguk saja lalu menoleh pada supirnya.


“Ayo kita pergi,” ucapnya. Pak supir langsung menyalakan mobilnya.


“Kapan-kapan aku dan ayahku akan mengundangmu kerumah kami,” ucap Nisa.


Earlangga tidak menjawab dia tidak tertarik dengan apapun yang diucapkan Jeni, dia menepuk kursinya pak supir yang segera menjalankan mobilnya.


Jeni berdiri dengan kecewa, kenapa begitu sulit mendapatkan Earlangga?


“Iya Bu, sebenarnya ada apa sih dia dengan kakak? Sepertinya penting banget,” ucap Jeni.


Nisa tidak menjawab, dia menoleh pada Pak Tedi yang meminta perawat membantunya menjalankan kursi rodanya mendekati.


“Ayah lihat pria tadi?” tanya Nisa pada Pak Tedi.


Pak Tedi tidak menjawab.


“Dia bayi itu, bayi kaya itu, dia bayi yang menyebabkan kehancuran keluarga kita, yang menyebabkan ayah seperti ini,” kata Nisa.


Pak Tedi tampak terkejut tapi dia hanya menggerak gerakkan bibirnya saja.


Nisa berjongok didepan Pak Tedi.


“Menurut ayah apa yang harus kita lakukan? Aku tidak menyangka bayi itu akan begitu tampan, dia sangat cocok dengan Jeni,” ucap Nisa.


“Tentu saja, lama semakin lama aku semakin menyukainya,” kata Jeni.


Nisa bangun dari jongkoknya dan menoleh pada Jeni.


“Bukankah kau sudah berubah sekarang? Kau terlihat lebih cantik sekarang, tapi kenapa Earlangga sama sekali tidak melirikmu?” tanya Nisa.


“Tentu saja itu karena perawat itu, dia terikat dengan perawat itu,” jawab Jeni memberengut kesal.

__ADS_1


“Seharusnya kau memikirkan cara lain untuk mendapatkannya. Dulu aku gagal mendapatkan Sean, tapi kali ini kau tidak boleh gagal,” ucap Nisa.


Jeni tidak menjawab , dia hanya menatap ibunya yang meninggalkannya masuk kerumah.


***********


Earlangga menuju tempat yang sudah Darren tentukan. Pria itu ternyata sudah menunggunya disana.


“Seharusnya kau yang datang lebih dulu, kau yang ada perlu denganku, kenapa jadi aku yang menunggumu?” tanya Darren dengan ketus.


Earlangga tidak menjawab, dia berjalan lebih dekat jadi berhadapan dengan Darren.


“Katakan padaku, apa maksudmu membuatku celaka?” tanya Earlangga.


Darren tersenyum sinis , balas menatap Earlangga.


“Kau tahu aku yang menyalip mobilmu?” tanya Darren.


“Tentu saja, aku tahu betul mobilku,” jawab Earlangga.


Darren malah tertawa.


“Katakan apa maksudmu melakukan itu semua?” tanya Earlangga dengan ketus.


Darren tampak berfikir sejenak, mungkin ini saatnya dia menjalankan perintahnya Ny,Grace.


“Aku cemburu,” jawab Darren.


“Apa?” Earlangga sangat terkejut mendengarnya.


“Aku cemburu karena Valerie pergi bersamamu,” jawab Darren.


“Kau tahu darimana Valerie bersamaku?” tanya Earlangga keheranan karena rencananya pulang kampung dengan Valerie rencana dadakan mana mana mungkin tiba-tiba Darren tahu semua itu.


“Aku kebetulan akan ke rumahmu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Di gerbang aku melihat kau keluar bersama Valerie jadi aku mengikutimu,” ucap Darren berbohong.


“Kau mau apa lagi ke rumahku? Sudah jelas jelas kau tidak akan memberimu uang lagi, aku tidak mau diperas,” bentak Earlangga, merasa kesal dengan sikapnya Darren.


“Bukan masalah uang,” ucap Darren, membuat Earlangga terkejut.


“Bukan? Terus mau apa? Kita tidak ada urusan!” ucap Earlangga.


“Kau salah, kita masih ada urusan,” kata Darren.


“Apa lagi? Cepat katakan, kenapa kau bisa berbuat nekat mencelakaiku?” tanya Earlangga.


“Setelah aku fikir-fikir, aku harus bicara jujur sekarang,” ucap Darren dengan serius.


“Jujur? Jujur soal apa?” tanya Earlangga.


“Sebenarnya bayi yang didalam kandungannya Valerie itu adalah bayiku,” jawab Darren membuat Earlangga terkejut.


“Apa? Kau ini bicara apa? Jelas-jelas waktu itu kau katakan kalau wanita yang bersamaku adalah Valerie, kenapa kau tiba-tiba mengaku bayi itu bayimu?” tanya Earlangga.


“Aku berbohong, aku hanya ingin uangmu saja, aku mengarang-ngarang cerita,” ucap Darren.

__ADS_1


Earlangga menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya. Kenapa semuanya jadi kacau begini? Dia sudah yakin Valeria adalah gadis itu, kenapa tiba-tiba Darren muncul dengan cerita yang berbeda?


********


__ADS_2