Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-85 Apa benar cinta?


__ADS_3

Siang itu Jeni pulang ke rumah dengan marah-marah, memasuki ruang tamu dengan langkah yang dihentak-hentakan sambil menjinjing tasnya, diapun duduk disofa dan melempar tasnya ke sofa itu.


Dari atas tangga turun Darren dengan penampilan yang sangat berbeda, memakai stelan jas yang rapih, sapatu yang mengkilat dan wajah tampannya yang kelimis.


Langkah kakinya terus menghampiri Jeni.


“Kau tahu, aku sudah banyak berkorban untuk Earlangga. Aku sudah pergi ke salon merawat kecantikanku, ke butik mahal, aku juga bekerja di proyek yang sama dengan Ealrangga, tapi apa hasilnya?” keluh Jeni.


“Tentu saj kau tidak semenarik Valerie,” jawab Darren.


“Apa? Kau memandingkanku dengan perawat itu? Kau saja yang cinta buta sama dengan Earlangga tuh! Wanita gitu ko disukai,” keluh Jeni lagi, memberengut kesal.


“Dia itu lembut, ramah, tidak neko- neko, kau? Kecentilan! Aku saja kakakmu gerah melihat tingkahmu,” kata Darren.


“Eh emang kakak keren gitu? Mau merubah penampilan sekeren apapun, Earlangga yang paling keren!” teriak Jeni.


“Berisik, datang datang ngoceh!” geretu Darren.


“Aku sedang kesal! Apa kau tidak tahu, kalau Earlangga pindah tinggal di London, membawa Valerie?” kata Jeni, membuat Darren kaget.


“Apa?” tanya Darren.


“Iya, aku kan pegang proyek yang bekerjasama dengan Earlangga. Aku juga baru tahu tadi, sekarang proyeknya sudah dipegang oleh Pak Sean, jadi Earlangga tidak tinggal disini lagi,” kata Jeni.


Darrenpun terdiam, ternyata Earlangga pindah ke London,membawa Valerie juga? Bagaimana dia bisa bertemu dengan Valerie kalau mereka pindah ke London.


Melihat sikap Darren yang seperti kecewa, Jenipun tertawa.


“Hahah, rugi kan kau sudah berubah sekeren ini ternyata Valerie pergi jauh, nyesel kan? Sudah cari lagi gadis yang lain!” kata Jeni.


“Kau juga sudah cari pria yang lain!” balas Darren.


“Tidak bisalah, mana ada pria yang sekeren Earlangga, dia tajir didalam negeri dan diluar negeri! Hidupku enak kalau menikah dengan dia,” kata Jeni.


Darren tidak menjawab lagi, kenapa Valerie malah pergi jauh, bagaimana dia bisa mendekati Valerie? Ny. Grace lagi, katanya dia tidak butuh Valerie, ternyata malah membiarkannya ke London.


Darren kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya menelpon seseorang.


“Halo!” sapa Ny.Grace.


“Eh Nyonya! Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Darren.


“Hei apa maksudmu kau menelponku marah-marah, sangat tidak sopan!” maki Ny,Grace.


“Nyonya kan yang menyarankan aku untuk berubah? Aku sudah berubah sekarang, aku pria kaya sekarang, tapi kenapa Nyonya membiarkan Valerie pergi?” hardik Darren.


“Kau sudah berubah?” tanya Ny.Grace, terkejut. Ternyata Darren benar-benar berusaha mendapatkan Valerie.


“Tentu saja,” jawab Darren.


Ny.Gracepun terdiam seperti sedang berfikir.


“Earlangga memaksa pindah ke London. Aku tidak bisa mencegahnya,” kata Ny.Grace.


“Apa Nyonya tahu mereka tinggal dimana?” tanya Darren.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Ny.Grace.


Darrenpun terdiam, dia kesal bukan main, dia sudah capek-capek merubah penampilannya, berlajar bisnis juga, ternyata wanita yang diincarnya malah pergi dibawa Earlangga.

__ADS_1


“Masa Nyonya tidak tahu? Nyonya kan Neneknya,” ujar Darren.


“Aku juga tidak tahu. Sudah kau bersabar saja menunggu Valerie melahirkan, aku juga tidak mau ada apa apa dengan bayinya,” kata Ny.Grace.


Darrenpun diam. Ny.Grace benar, percuma juga dia mengejar-ngejar Valerie sekarang, hamilnya tambah besar, sepertinya dia harus menunggu Valerie sampai melahirkan, baru dia merebutnya dari Earlangga, itu akan lebih mudah karena Ny,Grace tidak menginginkan Valerie ada dikeluarganya. Diapun  menutup ponselnya.


 


 


*************


Hari tdak terasa berjalan cepat dan hari sudah malam. Valerie dan Earlangga baru selesai makan malam, saat terdengar suara kendaraan berisik memasuki halaman, bahkan lebih berisik dari  saat Josh dan Nick datang.


“Teman-temanku sudah datang, kau istirahat saja duluan!” kata Earlangga, menyelesaikan makannya, lalu meninggalkan ruang makan.


Valeriepun menyudahi makannya. Didengarnya suara berisik pria pria dengan bahasa Inggris, tunggu…ternyata bukan pria saja, ada banyak suara wanita juga.


Valerie segera beranjak meninggalkan dapur, berhenti dipintu yang menuju ruang tamu dan bersembunyi, mengintip tamu-tamu yang datang itu.


Valerie melirik pelayan yang membawakan banyak makanan dan minuman keruang tamu.


Diapun mengintip mereka, banyak sekali teman-temannya Earlangga, mereka duduk disofa ruang tamu sambil bersenda gurau dengan Bahasa Inggris.


Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang merasa was-was, ada rasa tidak suka saat ingat Earlangga mengatakan untuk dia tidur lebih dulu, ternyata teman-temannya ada wanita juga.


Dilihatnya teman prianya Earlangga yang begitu tampan-tampan dan modis, terlihat jelas dari pakaian yang mereka pakai, seperti pakaiannya Earlangga yang bermerk dan mahal-mahal.


Dilihatnya lagi wanita-wanita itu juga begitu cantik-cantik, dengan tubuhnya yang tinggi ramping, mereka terlihat pintar dan menarik. Gaya mereka penuh percaya diri dengan bajunya yang modis.


Valeriepun tertegun, melihat pada dirinya sebentar. Dia sangat jauh berbeda dengan mereka, wanita-wanita itu seperti model di tv tv.


Ada ragu di dalam hati Valerie, apakah setelah melahirkan nanti dia akan benar-benar hidup sebagai istrinya Earlangga atau hanya sampai bayi ini dilahirkan saja? Rasanya tidak percaya kalau Earlangga pernah menyatakan cinta padanya , apa itu benar cinta?


Benar kata Ny.Grace ada banyak gadis lain yang pantas untuk Ealrnagga. Suaminya itu menyuruhnya istirahat duluan, jangan-jangan malu memperkenalkannya pada teman-temannya kalau istrinya tidak secantik teman-temannya? Meskipun sekarang dia sudah menggunakan baju-baju bagus, tetap saja itik buruk rupa tidak bisa berubah menjadi angsa emas.


Ada banyak fikiran yang menyelimuti Valerie. Diapun berputar kearah ruangan lain, dia akan ke kamar saja, dan tidur, seperti yang Earlangga katakan kalau dia istirahat saja, mungkin Earlangga memang tidak mau diganggu.


Valeriepun menaiki tangga menuju kamarnya. Saat berjalan melewati lorong ruangan lantai atas. Dia mendengar suara-suara diruang kerjanya Earlangga.


“Ini proposalnya, kau baca dulu,” terdengar suara Nick. Valeriepun menghentikan langkahnya mendengarkan.


“Kita akan touring?” tanya Earlangga, menerima map itu sambil duduk disofa diikuti oleh Nick dan Josh, lalu membaca isi map itu.


“Itu biaya-biayanya,” kata Josh.


“Kemana istrimu?” tanya Nick.


“Aku suruh tidur,” jawab Earlangga.


“Hei aku masih memikirkan istrimu itu, kenapa aku merasa pernah melihatnya?” tanya Nick.


“Kau mungkin sempat melihatnya di club itu karena dia berada dekat denganmu dan jatuh juga ke sofa dekat denganmu,” kata Earlangga.


Nick dan Josh terkejut mendengarnya.


“Wanita di club? Apa maksudmu?” tanya Josh.


“Maksudmu wanita itu wanita virgin yang dibawa preman itu?” tanya Nick terkejut.

__ADS_1


Earlangga mengangguk.


“Jadi kau sudah menemukan wanita itu dan kau nikahi diam diam?” tanya Josh.


“Bukan diam-diam, aku hanya tidak mengundang teman-teman di London,” jawab Earlangga.


“Jadi wanita itu hamil?” tanya Nick.


“Iya, bayiku,” jawab Earlangga.


“Seharusnya kau tidak perlu menikahinya, kau hanya perlu bertangung jawab pada bayinya, itu sudah cukup,” kata Josh.


“Benar, kau kan tidak mengenalnya, kau juga tidak mencintainya,” kata Nick.


“Kalian salah ,aku mencintainya,” jawab Earlangga.


Nick malah tertawa.


“Man, kau bercanda. Kau tidak cinta padanya,” kata Josh.


“Apa maksudmu bilang begitu? Aku sayang padanya,” kata Earlangga.


“Kau sayang padanya karena dia hamil, coba kalau dia melahirkan aku yakin cintamu akan langsung hilang, kau hanya terbawa perasaan karena kau merasa bersalah aplagi kau membuatnya hamil,” kata Josh.


Valerie yang mendengarkan percakapan mereka terdiam, apa benar Earlangga menyukainya, perhatian padanya , mengatakan cinta padanya, karena dia mengandung anaknya?


Earlangga sudah lebih dulu tahu kalau dia wanita dimalam itu. Apakah karena rasa bersalah itu maka Earlangga berbuat baik padanya? Bagaimana kalau sudah melahirkan?


Valerie mengusap perutnya berulang kali, rasa sedih mulai merambat dihatinya. Apakah yang dikatakan teman-temannya Earlangga itu benar? Earglangga hanya akan mencintainya sampai bayinya lahir lalu cinta itu hilang?


“Kalian ini bicara apa?” terdengar lagi suara Earlangga dari dalam ruangan itu.


“Kau lihat dibawah? Elen, Prili, Jessica, mereka model Man, model international, cantik-cantik, selebritis, banyak lagi wanita cantik diluar sana,” kata Josh.


Valerie terdiam lagi, benar kata Josh gadis-gadis lain sangat cantik, pintar berkelas, banyak gadis yang bias dipilih oleh Earlangga. Kenapa dia merasa semakin buruk dan tidak pantas buat Earlangga. Karena dia melihat dari langsung seperti apa teman-temannya Earlangga itu.


Dengan lesu Valerie berjalan melewati ruangan itu,  berbelok menuju kamarnya. Dia tidak mau mendengar percakpan itu lagi. Hatinya mendadak gelisah dan sedih, dia merasa tidak yakin kalau Earlangga benar-benar mencintainya. Dia takut apa yang dikatakan Nick itu terjadi, Earlagga tidak akan perhatian lagi padanya jika dia sudah melahirkan.


Earlangga menoleh pada teman-temannya.


“Kalian salah, aku serius mencintai istriku, dia sangat baik dan tulus, aku mencintainya,” ucap Earlangga.


“Ya ya terserah kau saja, kita lihat nanti, apa kau akan bertahan dengan pernikahan seperti ini? Kau ingat, pernikahanmu bukan karena kau memilihnya karena cinta, tapi kau terpaksa menikahinya karena dia sedang hamil,” kata Nick.


“Sudah, cara berfikir kalian selalu ngeyel, karena kalian belum merasakan namanya cinta sejati, cinta sejati itu tidak selalu memandang kecantikan fisik,” kata Earlangga.


Jish malah tertawa.


“Sadahlah, kalian semakin berisik, ayo kita kebawah,” ajak Josh.


“Ayo! Nanti aku baca proposalnya,” kata Earlangga sambil menyimpannya diatas meja.


Merekapun keluar dari ruang kerjanya Earlangga.


Valerie berbaring ditempat tidurnya. Kamar yang begitu luas kini terasa hampa dan kosong, dia teringat perkataan teman-temannya Earlangga, kalau Earlangga mencintainya tidak benar-benar mencintainya, tapi karena rasa bersalah dan merasa bertanggungjawab pada bayinya. Apa benar begitu? Apakah jika dia sudah melahirkan dia akan kehilangan perhatian Earlangga lagi?


Terbersit lagi gadis-gadis yang ada diruang tamu itu, lalu pada ruangan dikamar ini yang begitu mewah dan megah, hatinya semakin merasa kecil saja, semakin merasa bagaikan langit dan bumi dengan Earlangga. Kasta yang selalu Ny.Grace ucapkan padanya, kini terlihat jelas dimatanya. Perlahan airmatanya menitik diujung matanya, apakah dia akan benar-benar mendapatkan cinta sejatinya Earlangga?


************

__ADS_1


__ADS_2