Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-123 Si cantik istriku


__ADS_3

Sean dan Sam sudah tiba di perkebunan karet.


“Kita cari lokasi es kelapa viral itu sekalian kita beristirahat,” kata Sean. Sam mengangguk. Ternyata tempat lesehan es kelapa itu tidak terlalu jauh dari lokasi rumahnya Bidan Eno.


Benar saja, warung lesehan itu sangat ramai, bahkan banyak kendaraan di area parkir disamping warung lesehan itu penuh oleh mobil-mobil bagus.


“Lihat, begitu ramai, waktu kita kesini rasanya tidak ada tempat ini kan?” tanya Sean pada Sam.


“Iya,” jawab Sam.


“Berarti hanya dalam waktu beberapa bulan saja lesehan ini berkembang pesat, sangat hebat,” kata Sean.


“Benar,” jawab Sam.


“Apa yang menyebabkan viralnya?” tanya Sean, matanya melihat spanduk bertuliskan es kelapa si cantik.


“Aku baru terfikir, kenapa namanya si cantik? Apa penjualnya cantik?” tanya Sean.


“Entahlah,” jawab Sam.


Sam memarkir mobilnya di parkiran yang penuh itu setelah dipandu petugas parkir. Merekapun turun dari mobilnya menuju warung lesehan es kelapa itu.


Sean melihat orang-orang hilir mudik makan di warung itu. Batok kelapa sampai menumpuk penuh didepan warung itu.


“Kita akan bertanya pada siapa? Yang makan disini sepertinya bukan orang sini,” tanya Sean, dia masih berdiri mematung.


Seorang pelayan menghampiri mereka.


“Silahkan Pak, masih kosong disebelah sana!” kata pria itu.


“Iya terimakasih,” jawab Sean.


“Aku mau nanya, kenapa es kelapanya dinamakan si cantik?” tanya Sam.


“Salah satu pemilik warungnya cantik. Bapak mau pesan apa?” jawab pegawai itu


“Aku mau sate saja,” jawab Sean.  Sam juga memesan menu yang sama. Merekapun segera duduk di bangku yang kosong.


Disebelah mereka tampak beberapa pemuda sedang makan dengan lahapnya sambil bersenda gurau.


“Aku sudah beberapa kali kesini tidak melihat si cantik itu,” kata seorang pria.


“Kau kesini mau makan atau melihat si cantik?” tanya temannya.


“Dua-duanya” jawab pria itu diikuti tawa yang lainnya.


Datang seorang pelayan membawakan tambahan es kelapa hijau.


“Pak, aku ko tidak melihat lihat si cantik? Biasanya dia ada di kasir,” kata pria tadi.


“Bu Laura sedang ada di ibukota, es kelapa sicantik buka cabang disana,” jawab pelayan itu lalu pergi.


“Wah kalau begitu kita coba kapan-kapan makan disana,” kata pria itu sambil tertawa.


“Si cantik itu janda bukan? Di medsos di fotonya ada yang membawa bayi,” tanya temannya.


“Tidak tahu juga, tidak ada berita dia janda atau bukan,” jawab yang lainnya.


“Dia memang cantik, sepertinya blasteran, cantiknya seperti model,” kata pria tadi.


Mendengar kata blasterasn tiba-tiba ada sesuatu yang berdesir di hatinya Sean, tapi kan yang blasteran itu banyak, lagipula pemiliknya bernama Laura, dia ingat saat bicara dengan pengasuh bayi itu  nama pemiliknya Bu Laura, jadi bukan Lorena. Hanya kebetulan blasteran mungkin.


Sam tampak asyik dengan hanpdone-nya sambil menunggu pesanan datang.


“Aku jadi penasaran, secantik apa si cantik itu sampai viral,” ucap Sam.


“Ingat Sam, kau akan menikah dengan Indri.” kata Sean.

__ADS_1


“Aku hanya ingin tahu ko bisa viral kenapa? Sampai orang-orang makan disini mau lihat si cantiknya juga,” jawab Sam. Diapun mulai searching, sedangkan Sean masih kebingungan memikirkan kemana dia akan mencari Lorena saat ini.


Sam searching viral es kelapa si cantik. Muncullah berbagai foto dan informasi di layar ponselnya.


“Sean! Sean!” panggil Sam, wajahnya langsung pucat, jantungnya berdebar kencang. Dia terlihat gugup, matanya tertuju ke layar, tangannya menggapai-gapai menyentuh Sean.


“Ada apa? Kau membuatku kaget saja,” keluh Sean.


“Si cantik, Sean!” seru Sam.


“Ada apa si cantik? Memang cantik banget sampai kau terus menatapnya?” tanya Sean, diapun memiringkan tubuhny dan melihat ke ponselnya Sam. Dan dia langsung terdiam saat melihat gambar-gambar di ponselnya Sam.


Bibirnya tiba-tiba langsung kelu. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Si cantik yang berjualan es kelapa itu adalah istrinya. Matanya langsung berkaca-kaca, apalagi foto itu masa-masa lesehan tidak seramai ini.  Sam juga hanya bisa diam, merasa tidak percaya dengan penglihatannya.


“Si cantik, Lorena? Istriku? Istriku berjualan es kelapa dengan ba..bayiku?” gumam Sean. Yang diangguki Sam.


Sam mencari-cari lagi fotonya si cantik, ada yang sedang menggendong bayi tapi bayi itu sangat kecil, setelah itu tidak ada lagi foto si bayi.


Sean langsung mengambil ponselnya Sam melihat-lihat foto itu dan diperbesar.


“Istriku berjualan es kelapa dengan bayiku?” gumamnya lagi. Beberapa tetes airmata menetes dipipinya. Rasanya tidak  tega melihat istrinya dengan pakaian yang sederhana  berjualan es kelapa sambil menggendong bayinya, sedangan dia hidup dengan kemewahan.


Sean jadi teringat saat dia dan rekannya makan di es kelapa si cantik di ibukota.


“Tapi Sam, pemilknya bernama Laura,” Sean menoleh pada Sam.


“Mungkin Lorena ingin menghilangkan jejaknya,” jawab Sam.


“Tapi kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia tidak pulang menemuiku?” tanya Sean, dengan bingung.


“Sean, bagaimana kalau kita bicara dengan pemilik warung ini? Tadi aku dengar si cantik ada di ibukota, jadi disini ada pemilik warung  yang lain,” ucap Sam.


Tanpa menunggu jawaban Sean, Sam bangun dan segera menuju lokasi kasir. Sean segera mengikutinya.


“Mba, bolehkan saya bicara dengan pemilik warung ini?” tanya Sam.


Kasir itu menatapnya.


“Ada apa Kiki?” tanya suara seseorang yang keluar dari sebuah ruangan yang sepertinya sebuah kantor.


Sam menoleh pada yang keluar itu, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.


“Ada perlu apa Pak? Ada masalah? Ada layanan yang kurang?” tanya Bu Yati.


Sam tersenyum pada Bu Yati.


“Tidak Bu, sebenarnya saya ingin bertemu dengan si cantik,” jawab Sam.


“Aku suaminya,” tiba-tiba Sean langusung saja bicara.


Mendengarnya  membuat Bu Yati kebingungan, dia mulai gemetaran, dari sekian banyak pembeli yang ingin bertemu tidak ada yang mengaku suaminya dan menurut feelingnya pria tampan ini benar-benar suaminya Laura.


Sean memperlihatkan ponsel Sam tadi.


“Ini kan si Cantik? Lorena!” kata Sean.


“Bukan Lorena, tapi Laura,” jawab Bu Yati.


“Dia baru melahirkan kan?” taya Sean, dengan tatapan yang nanar, dia sudah tidak kuat lagi menahan ingin mendapatkan kenyataan kalau Laura itu adalah Lorena.


Bu yati semakin gemetaran dan gugup, dia tidak tahu harus berkata apa.


Tiba-tiba Sean teringat pengasuh bayi itu mengatakan mereka tinggal di Grand Valley. Hatinya langsung saja tidak karuan, dia yakin Laura adalah Lorena.


“Sam kita pulang sekarang juga,” ajak Sean.


“Sean, kita cari tahu dulu benar atau tidak Laura itu Lorena,” kata Sam.

__ADS_1


“Aku yakin ini Lorena,Istriku! Si cantik itu istriku!” teriak Sean dengan kencang sampai membuat orang-orang menoleh kearah mereka.


Melihat ada yang ribur rebut, Pak Aping yang sedang mengatur pesanan, segera menghampiri, dia bingung melihat istrinya tampak pucat dan membisu.


“Kalian siapa? Kenapa membuat keributan?” tanya Pak Aping.


Sean menoleh pada Pak Aping.


“Ini benar kan si cantik? Yang membawa bayi ini si cantik?” tanya Sean masih menunjukkan ponselnya Sam itu.


Pak Aping menatap Sean, melihat seksama siapa kedua pria ini.


“Aku suaminya, dia baru melahirkan? Dia dan bayiku selamat?” ucap Sean, sudah sedari tadi  menahan airmatanya yang mulai menetes dipipinya, dihapusnya air mata itu.


Melihat sikapnya Sean, Pak Aping pun merasa yakin kalau dua pria itu bukanlah orang jahat.


“Katakan padaku, dia sudah melahirkan? Bayi di foto itu adalah bayiku?” tanya Sean.


“Mari kita bicara didalam,” kata Pak Aping, mempersilahkan masuk ke ruang yang berkaca hitam mungkin untuk bisa memantai kondisi diluar dari dalam.


Sean dan Sam akhirnya masuk ke dalam ruangan itu yang ternyata memang sebuah kantor.


“Apa kau yakin Laura istrimu?” tanya Pak Aping.


“Namanya Lorena, bukan Laura,” jawab Sean.


“Dia menghilang saat hamil besar karena ada orang jahat yang menculiknya. Beberapa bulan ini aku mencarinya kemana-mana,” kata Sean lagi, dia tidak kuat merasakan sesak yang timbul didadanya.


“Laura ditemukan  melahirkan di kebun karet,” jawab Pak Aping.


Sean dan Sam terkejut mendengarnya, mereka menatap Pak Aping dan Bu yati bergantian.


“Apa? Me..melahirkan di kebun karet? Bayiku dilahirkan dikebun karet?” tanya Sean dengan hati yang miris, rasa sedih dan bersalah semakin menyelimuti dirinya. Dia tidak menyangka istrinya akan menderita seperti itu. Diapun terisak. Kalau Pak Tedi masih hidup, mungkin dia akan memukuli Pak Tedi dengan tangannya sendiri.


“Kasihan sekali istriku…” gumamnya dengan lirih, sambil kembali menghapus airmatanya, mencoba untuk tegar.


Sam terdiam, dia juga merasakan hal yang sama, dia tidak menyangka kalau Lorena akan mengalami hal setragis itu.


“Bayinya, bagaimana dengan bayiku?” tanya Sean, setelah lebih tenang.


“Bayinya laki-laki namanya Earlangga,” jawab Pak Aping.


Lagi-lagi hati Sean terasa tersayat-sayat, membayangan  istrinya melahirkan sendiri dikebun karet.


“Earlangga,” gumam Sean lagi, dia ingat bayi yang dia gendong itu bernama Earlangga. Dia  merasa tidak percaya kalau bayi itu adalah darah dagingnya. Dia masih merasakan kulit bayi itu yang lembut.


“Aku sudah bertemu Earlangga,” kata Sean masih dengan nada lirih, karena kesedihan kembali menyelimuti hatinya.


“Dimana kau bertemu bayimu?” tanya Sam, terkejut.


“Di resto es kelapa di ibukota. Aku sempat menggendongnya,” jawab Sean.


“Kau sudah yakin si cantik adalah Lorena?” tanya Sam.


Sean mengangguk.


“Lorena tinggal di Grand Valley, mereka tinggal dirumahku. Kenapa istriku tidak menemuiku? Kenapa?” ucap Sean, sambil menatap Sam.


“Mungin Lorena masih takut ada orang jahat yang mengancam bayimu,” kata Sam.


Sean terdiam lagi lalu menatap Pak Aping dan Bu Yati.


“Aku berterimakasih atas pertolongan kalian. Aku berterimakasih kalian sudah merawat istri dan anakku. Aku berjanji aku tidak akan melupakan budi kalian,” ucap Sean, mulai bisa bicara dengan lancar, dia sudah lebih tenang sekarang.


“Aku akan kembali ke kota, aku akan menemui anak dan istriku,” ucap Sean, sambil menoleh pada Sam.


“Sam ayo kita pulang sekarang, kita langsung ke Grand Valley,” kata Sean, yang diangguki Sam.

__ADS_1


Akhirnya mereka berpamitan pada Pak Aping dan Bu Yati, mereka langsung kembali ke ibukota meskipun hari sudah mulai gelap.


************


__ADS_2