Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-68 Rencana pulang kampung


__ADS_3

Lorena kembali masuk ke dalam rumah, dia tidak terlalu mempermasalahkan urusannya Earlangga dengan pria yang memakai mobilnya Earlangga.


Saat akan menuju ruang makan, dilihatnya dari jendela, Valerie sedang berdiri di taman belakang, sesekali tangannya menyentuh perutnya yang semakin membesar. Lorenapun berbelok arah, pergi ke taman belakang.


Valerie tampak terkejut melihat ibu mertuanya menghampirinya.


“Kau merasa baik sekarang?” tanya Lorena, menghentikan langkahnya di teras belakang.


“Iya Bu, aku sudah tidak mual-mual lagi,” jawab Valerie sambil tersenyum, dia mencoba membiasakan memanggil ibu. Tangannya  kembali mengusap perutnya.


“Ada yang ingin aku tanyakan,” kata Lorena.


“Soal apa Bu?” tanya Valerie.


“Orangtuamu sudah tidak ada kan?” Lorena memastikan lagi, karena waktu penikahan Valerie menyebutkan orang tuanya sudah meninggal.


“Iya Bu, “ jawab Valerie.


“Sejak kau menikah dengan Earlangga, kau sama sekali tidak meminta restu pada orang tuamu, maksudku kau tidak berkunjung pulang kampung dengan Earlangga, bahkan tidak ada saudaramu yang diundang,“ kata Lorena.


Valerie, terdiam, dia tidak mengerti apa yang akan dibicarakan ibu mertuanya.


“Kau pasti rindu kampung halamanmu kan?” tanya Lorena.


“Iya,” jawab Valerie mengangguk lemah.


“Kau bisa meminta Earlangga untuk menemanimu pulang kampung. Dia juga harus tahu asal usulmu,” kata Lorena.


Valerie menatap wajah ibu mertuanya yang balas menatapnya.


“Kau terlalu menjaga jarak dengan suamimu, itu tidak baik untuk kalian berdua, apalagi  sebentar lagi kalian akan punya bayi, seharusnya hubungan kalian semakin baik,” kata Lorena.


Valerie masih menimbang-nimbang ucapan ibu mertuanya. Memang benar dia merasa kesepian di kota besar ini. Tinggal seorang diri tanpa sanak saudara, kerabat yang diikutinyapun sudah meninggal dan sekarang dia mengikuti Bu Asni yang juga orang asing, juga tinggal dirumah keluarga suami yang belum seratus persen menganggapnya menantu di rumah ini.


“Nanti jam makan siang, antar makanan buat Earlangga sekalian kau mengajaknya menemanimu pulang kampung,” ujar Lorena.


“Baik Bu, nanti aku akan bicara pada Pak Earlangga,” jawab Valerie.


Lorena mengernyitkan dahinya, Valerie masih juga memanggil Bapak, tapi dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Diapun mengangguk dan masuk kedalam rumah.


Valerie menatap kerpergian ibu mertuanya, dia merasa senang ternyata ibu mertuanya sangat perhatian padanya, ibu mertuanya tahu kalau dia sangat rindu pada ayah dan ibunya yang telah tiada. Seandainya mereka masih hidup, mereka pasti senang sebentar lagi akan mendapatkan cucu meskipun tanpa tahu siapa ayah dari cucunya.


Earlangga membawa kekesalannya pada Darren ke kantor. Seharian ini dia mendadak jadi bos yang pemarah. Bu Riska sampai berfikir dua kali setiap akan melaporkan sesuatu.


Earlangga masih terbawa persaan soal Darren yang terus menekannya dan ingin memerasnya. Sedangkan dia tidak bisa membiarkan Darren terus terusan memerasnya, dia tidak suka dikendalikan oleh orang lain. Jangankan Darren oleh neneknyapun dia tidak mau dikendalikan seenaknya.


Terdengar pintu lift terbuka, Valerie muncul dari pintu lift itu dengan membawa sebuah kantong ditangannya. Sudah lebih dari sebulan dia tidak pernah datang lagi ke kantor ini untuk membawa makan siang. Kalau bukan karena ibu mertuanya yang menyuruhnya mengantar makanan ini mungkin dia memilih diam saja dirumah, meskipun diam dirumah sekarang sangatlah tidak nyaman karena Ny.Grace sudah tinggal lagi di rumah.


Dilihatnya Bu Riska sedang duduk di mejanya yang terletak dekat ruangannya Earlangga. Kaki Valeriepun menuju mejanya Bu Riska.


Dari kejauhan terdengar suara orang marh-marah di dalam ruangan, dia sempat akan menghentikan langkahnya karena ini bukan waktu yang tapat untuk menemui Earlangga.


Bu Riska menoleh pada Valerie yang berdiri menghentikan langkahnya.


“Kau? Eh Bu!” ucap Bu Riska yang terpaksa harus memanggil Valeria ibu, diapun berdiri.


Valerie mendekati Bu Riska dengan ragu, karena suara orang marah marah di dalam ruangan itu semakin terdengar. Valeriepun menatap Bu Riska.


“Pak Earlangga sedang sibuk?” tanya Valerie.


“Iya, kau bisa mendengar sendiri,moodnya sedang tidak baik,” jawab Bu Riska.


Valeriepun menunduk dan melihat kantongnya, apa sebaiknya dia pulang saja dan menitipkan makanan ini pada Bu Riska?

__ADS_1


Beberapa orang karyawan keluar dari ruangan Earlangga dengan menunduk lesu, setalah diomeli bosnya karena pekerjaannya yang tidak beres. Bu Riska hanya menatap mereka sebentar lalu menoleh pada Valerie.


“Ibu masuk saja,” kata Bu Riska.


“Ah tidak, lebih baik aku titipkan  saja makanannya disini, aku tidak mau mengganggu Pak Earlangga,” ucap Valerie, sambil menyimpan kantong makanan itu diatas mejanya Bu Riska.


“Bu Riska!” terdengar suara paggilan dari Earlangga.


“Ya Pak!” sahut Bu Riska, lalu buru-buru menuju ruangannya Earlangga setengah berlari.


“Kenapa kau lambat sekali?” bentak Earlangga.


“Maaf Pak,” ucap Bu Riska.


“Apa tidak bisa kau lebih cepat?” bentak Earlangga lagi.


“Iya Pak,” jawab Bu Riska, dengan wajahnya yang pucat, tidak biasanya atasannya seperti ini.


“Anu Pak,” ucap Bu Riska dengan gugup, seharian ini dia kena omel terus oleh atasannya itu.


“Apa lagi? Ambil berkasnya! Aku suntuk melihat berkas yang terus-terusan menumpuk dimejaku!” ucap Earlangga, berdiri menatap Bu Riska.


“Itu Pak, ada Bu Valerie,” jawab Bu Riska.


 Mendengar jawaban Bu Riska membuat Earlangga terkejut.


“Apa? Istriku kesini?” tanya Earlangga.


“Iya Pak, sedang ada dimeja saya!” jawab Bu Riska.


“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?” keluh Earlangga, lalu berjalan keluar ruangan. Dilihatnya istrinya itu sedang berdiri disamping mejanya Bu Riska dengan memegang sebuah tali kantong yang ada diatas meja Bu Riska.


Valerie menoleh kearah pintu dan melihat pria itu muncul dipintu itu, hatinya merasa tegang takutnya Earlangga tidak suda dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu, tapi ternyata semua jauh dari bayangannya, pria itu langsung tersenyum saat melihatnya.


“Sayang, kenapa kau tidak bilang kalau akan datang?” tanya Earlangga sambil menghampiri.


“Tapi sepertinya..Bapak sedang sibuk, maaf aku mengganggu,” lanjut Valerie dengan terbata-bata, sambil menunjukkan kantong yang dibawanya. Meskipn Earlangga adalah suaminya, tetap saja dia merasa Earlangga adalah orang yang menggajinya.


Earlangga tersenyum dan lansung mengambil kantong makanan itu.


“Seharusnya kau menelponku kalau mau datang,” ucapnya, tangan kanannya memeluk bahunya Valerie.


“Ayo masuklah,” ajak Earlangga. Valerie hanya mengangguk, mengangkat wajahnya sebentar menoleh pada pria bertubuh tinggi tegap itu yang memeluk bahunya, wajah sangar yang dibayangkannya ternyata tidak ada.


Bu Riska keluar dari ruangannya Earlangga hanya meliriknya sebentar, melihat wajah bosnya yang tidak lagi sangar.


“Sepertinya istrinya harus datang ke kantor tiap hari biar tidak marah-marah,” batinnya.


Earlangga mengajak Valerie duduk di sofa yang ada diruangan itu. Diapun duduk disamping istrinya.


“Kau tidak bilang akan kemari,” kata Earlangga, menatap istrinya. Setiap melihat wanita yang menjadi istrinya itu dengan perut hamilnya, dia merasa senang, apalagi Valerie terlihat semakin segar dan berisi.


“Maaf aku mengganggu pekerjaan Ba..mu…” ucap Valerie meralat panggilannya.


Earlangga tersenyum meliaht istrinya malah gugup tidak jelas, pasti mendengar tadi marah-marah pada karyawannya.


“Tidak, kau kan istriku kau bisa datang kapan saja,” kata Earlangga.


“Sebenarnya ibu yang menyuruhku datang kesini” ucap Valerie.


“Ibu? Kenapa?” tanya Earlangga keheranan.


“Ibu menyarankan aku mengajak Ba..mu..ke kampung halamanku,” jawab Valerie.

__ADS_1


Earlangga menatap Valerie dengan heran.


“Ke kampung halamanmu?” tanya Earlangga, tidak mengerti.


“Iya, ibu menyarankan begitu, “ jawab Valerie mengangguk, dalam hatinya dia khawatir Earlangga akan menolak, karena dia bukanlah orang yang penting buat Earlangga.


“Kau ingin pulang kampung?” tanya Earlangga.


“Iya, sejak aku menikah aku tidak mengunjungi makam orang tuaku,” jawab Valerie.


Earlanggapun diam, dia baru sadar kalau dia tidak memperlakukan istrinya dengan baik. Mereka menikah tidak seperti orang pada umumnya  yang ada kunjungan dua keluarga. Mereka menikah asal begitu saja menikah, yang difikirkan hanya nama baik keluarganya, sama sekali tidak memikirkan kalau Valerie pun memiliki keluarga.


Earlangga menatap Valerie yang menunduk sambil mengusap perutnya. Diapun menyimpan tangannya diatas tangan Valerie yang memegang perutnya.


“Baiklah, kita akan ke kampung halamanmu,” jawab Earlangga, membut Valerie terperangah dan langsung mengangkat wajahnya tidak percaya.


“Ba..Kau mau ikut ke kampung halamanku?” tanya Valerie, menatap wajah  suaminya.


“Tentu saja, kau mau berangkat kapan? Besok?” tanya Earlangga.


“Apa Ba..kau tidak sibuk? Kampung halamanku jauh,” jawab Valerie.


“Tidak apa-apa, aku juga harus berkunjung ke kampung halaman istriku kan? Apa tidak ada keluarga yang bisa kau kunjungi disana?” tanya Earlangga.


Mendengar jawaban Earlangga benar-benar membuat hati Valerie bahagia, setidaknya dia pulang dalam keadaan hamil didampingi suaminya meskipun bukan pria ayah dari bayinya, matanya langsung saja memerah.


“Hanya kerabat-kerabat jauh saja, kerabat dekatku sudah meninggal saat bekerja dirumahnya Bu Nisa,” jawab Valerie.


“Baiklah, kita berangkat besok,” ucap Earlangga.


“Terimakasih,” jawab Valerie, sambil tersenyum, dia benar-benar bahagia mendengarnya.


Tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipinya, membuat Valerie terkejut lagi, dia kembali mendapat ciuman dari pria itu, wajahnya langsung memerah.


“Ayo mana makan siangku, aku sudah lapar,” kata Earlangga.


Valerie mengangguk dan segera menyiapkan makan siang buat Earlangga. Pria itu tampak lahap makan makanan yang dibawanya, membuatnya semakin bahagia melihatnya.


“Apa kau sudah makan?” tanya Earlangga menghentikan makannya dan menatap Valerie.


“Aku? Aku…” Valerie teringat kalau dia memang belum makan, karena dia datang ke kantor belum jam makan siang.


Earlangga menatapnya.


“Kau belum makan?” tanyanya.


“Belum, tadi aku…” belum selesai Valerie bicara, sendok yang dipegang Earlangga sudah ada tepat didepan mulutnya.


“Kalau begitu kau makan juga, kurasa ini menunya masih boleh dimakan ibu hamil,” kata Earlangga.


Valerie menatap sendok yang berisi sayuran itu lalu pada Earlangga.


“Kau hanya menuliskan menu makanannya yang harus Bu Asni siapkan untukku, tapi kau tidak pernah tahu rasanya kan? Makanlah bersamaku,” kata Earlangga, mendekatkan lagi sendoknya.


Dengan ragu, Valerie  membuka mulutnya dan makanan itu masuk kemulutnya.


“Kau juga harus makan banyak, karena kau kan berdua dengan bayi kita,” ucap Earlangga, menyodorkan lagi sendoknya ke mulut Valerie.


“Tapi Pak eh, Earl, makanannya nanti habis,” kata Valerie.


“Kalau istri dan bayiku yang menghabisikannya tidak masalah,” jawab Earlangga sambil tersenyum, sebuah suapan masuk lagi ke mulutnya Valerie.


“Kau juga harus makan,” kata Valerie, sambil mengunyah makannya. Earlangga mengangguk dan sendok itu masuk ke mulutnya.

__ADS_1


Rasanya tidak bisa terlukiskan senangnya hati Valerie, merasa ada yang memperhatikannya dan menyayanginya dalam kondisinya yang seperti ini. Sesekali dia menatap Earlangga yang terus menyuapinya. Sepertinya dia semakin menyayangi suaminya itu.


************


__ADS_2