Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-49 Sikap Ny.Grace yang aneh


__ADS_3

Earlangga masuk ke ruang kerjanya Ny.Grace. Disana masih ada tamu-tamu yang tadi.


“Duduklah, banyak yang ingin dibicarakan,” kata Ny.Grace, menatap cucunya yang baru datang.


“Baiklah,”jawab Earlangga, sambil duduk disalah satu kursi yang kosong.


Dia teringat Bu Asni, tadinya dia ingin bertanya soal pacarnya Valerie tapi dia tidak bisa menolak perintah Ny.Grace apalagi menyangkut masalah penting perusaahan.


Tidak terasa malam semakin larut  Earlangga berada di ruang kerja Ny. Grace sangat lama. Ny.Grace tipe yang sangat protective dalam pekerjaannya. Earlangga tidak banyak membantah karena dia belum faham betul dengan kondisi perusahaan yang baru dipegangnya itu. Hingga tengah malam barulah rapat itu selesai. Sebenarnya bukan selesai, tapi diambil keputusan sementara karena sudah larut.


Earlangga kembali ke kamarnya dengan  rasa kantuk yang menyerang. Saat membuka pintu, Valerie sudah tidur sambil berselimut penuh sampai ke setengah kepalanya.


Earlangga mengerutkan keningnya, kenapa Valerie tidur seperti itu? Tapi dia tidak berfikir macam-macam, diapun pergi ke kamar mandi berendam dengan air hangat sebentar lalu memakai pakaian tidur. Dia merasakan tubuhnya lebih segar sekarang.


Dilihatnya Valerie masih tidur nyenyak, seperti biasa tidur selalu membelakanginya. Ealrangga mencoba berbaring dengan santai, melipat kedua tangannya dibawah kepalanya. Dilirknya lagi Valerie tidak juga bergerak hanya terlihat punggungnya yang naik turun dibalik selimut, diapun mengalihkan pandangannya kearah tervisi yang ada disebrangnya.


Diliriknya lagi wanita yang berbaring disampingnya itu, dia tidur sangat pinggir, hampir diujung tempat tidur. Diperhatikannya juga selimutnya yang hampir menutupi seluruh kepalanya. Earlanggapun bangun dan menggeser tubuhnya mendekati wanita yang tertidur itu.


“Kenapa kau berselimut seperti ini? Apa kau kedinginan?” gumamnya, tangannya terulur menarik selimut atas Valerie untuk diturunkan sedikit.


Saat menarik selimut itu jarinya menyentuh kulit pipinya wanita hamil itu. Sontak dia merasa kaget saat merasakan kalau kulit itu terasa panas. Diapun panik.


Earlangga buru-buru bangun dan duduk disamping Valerie. Tangannya menyentuh kening dan pipi Valerie.


“Teryata kau sakit!” serunya dengan gugup.


Valerie hanya menggerakkan tubuhnya sedikit dan bergumam entah apa. Earlangga kembali menyelimutinya. Pantas saja wanita itu berselimut seperti itu ternyata dia demam.


Earlangga turun dari tempat tidur dan menelpon Dokter Egi.


“Dokter, istriku sakit, bisa kau panggilkan Dokter kandungan? Sekarang juga! Ke rumah! Badannya sangat panas! Iya tadi dia kehujanan! Aku sangat khawatir!” kata Earlangga dengan terburu-buru.


“Ya, aku tunggu sekarang juga!” serunya lagi, sambil menatap Valerie yang masih tertidur.


“Aduh apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak tahu cara merawat orang sakit,” kata Earlangga, sambil berjalan mendekat dan duduk dipinggir tempat tidur disamping Valerie.


“Apa yang kau rasa? Kau sakit!” kata Earlangga dengan bingung, menatap wajah Valerie yang memerah.


“Aku sudah menelpon Dokter,” lanjutnya.


“Aku kedinginan,” gumam Valerie, hampir tidak terdengar, lebih meringkukkan tubuhnya.


“Kedinginan? Tubuhmu sangat panas,” kata Earlangga, dengan cemas.


“Dingin,” gumam Valerie lagi. Dia terlihat menggigil.


Earlangga menoleh kearah AC yang biasa disetting dengan sangat dingin karena dia masih belum terbiasa dengan iklim tropis. Diambilnya remote AC lalu dimatikan.


“Apa yang Bapak lakukan?” tanya Valerie saat mendengar bunyi saat AC dimatikan.


“ACnya aku matikan, kau kedinginan,” jawab Earlangga, sambil kembali menghampiri Valerie.


“Tidak usah,” ujar Valerie.


“Tidak apa-apa, aku tidak tega melihat kau menggigil begini,” jawab Earlangga.

__ADS_1


Valerie tidak bicara lagi, dia masih memejamkan matanya merasakan tubuhnya yang terasa dingin. Earlangga menatapnya mesih dengan kebingungan.


“AC nya sudah aku matikan apa masih dingin?” tanyanya, karena melihat Valerie semakin memringkukkan tubuhnya.


“Apa bayimu juga kedinginan?” tanyanya, dia ingat kalau Valerie sedang hamil.


Valerie tidak menjawab, mana tahu bayinya kedinginan atau tidak, dia hanya merasakan tubuhnya menggigil. Earlangga kembali menyentuhkan tangannya keatas selimut, dia merasakan selimut itu terasa hangat karena tubuh Valerie yang panas tinggi, membuatnya semakin cemas saja.


Ditelponnya lagi Dokter Egi yang mengatakan kalau Dokter Dewi akan datang kerumahnya.


“Dokter Dewi? Dokter yang biasa Valerie kontrol?” tanya Earlangga.


“Bukan Pak, Dokter Dewi, Dokter yang ditugaskan khus menangani kehamilannya suster Valerie, eh maksudku Bu Valerie,” jawab Dokter Egi.


“Siapa yang meminta Dokter khusus?” tanya Earlangga keheranan, rasanya dia tidak pernah meminta Dokter khsusus untuk Valerie. Wanita itu control kehamilannya saja dia tidak tahu menahu.


“Ny.Grace yang menugaskannya,” jawab Dokter Egi.


Earlangga terkejut mendengarnya. Neneknya yang tidak menyukai Valerie, tapi menugaskan Dokter spesialis kandungan untuk Valerie, sungguh aneh.


“Ya sudah, aku tunggu dirumah,” ucap Earlangga sambil menutup telponnya.


Dia kembali merenung. Neneknya meminta pelayan menyediakan susu hangat saat tahu Valerie kehujanan, dan sekarang dia baru tahu ternyata neneknya juga suduah menugaskan Dokter khusus untuk menangani kehamilannya Valerie. Sungguh mencurigakan, fikirnya.


Earlangga melihat lagi Valerie yang masih menggigil, bahkan sekarang dia mendengar wanita itu bergumam


entah apa.


Earlangga cepat naik ke tempat tidur, menyentuh selimut yang menyelimuti tubuhnya Valerie.


Valerie.


“Kau masih dingin?” tanyanya, sambil menolah ke AC yang sudah dimatikan. Janganka dingin, Ealangga justru merakan ruangan itu sangat panas, dia tidak terbiasa dengan udara panas. Diliriknya lagi Valerie yang masih meringkuk.


 “Apa kalau ku peluk kau akan merasa hangat?” tanya Earlangga.


Karena merasa tidak tega, diapun berbaring dibelakang tubuhnya Valerie dan dengan ragu mengulurkan tangannya memeluk tubuh wanita hamil itu.


Tangan kanannya  mengulur memeluk pinggangnya Valerie. Bukan pinggang lagi tapi perut karena pinggang itu sudah mulai melebar karena kehamilannya.


Tangan Earlangga menyentuh perut yang mulai membulat itu.


“Bayimu pasti kedinginan,” ucapnya, semakin memeluk erat tubuh itu.


Kini punggungnya Valerie terasa menempel didadanya. Dia bisa mencium kalau Valerie tidak menggunakan parfum itu. Tapi tidak masalah, yang dirasakannya sekarang adalah, dia merasa pernah memeluk tubuh dengan ukuran seperti ini. Dia bukan tidak pernah punya pacar diluar negeri, tapi dia tidak pernah memeluk tubuh semungil ini di Luar negeri, kecuali… kecuali… kenapa dia merasa pernah memeluknya?


Earlangga menempelkan kepalanya ke atas kepala Valerie.


“Panasmu sangat tinggi, semoga kau dan bayimu baik-baik saja, kenapa Dokter itu lama sekali?” gumamnya.


Setelah cukup lama memeluk Valerie seperti itu, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.


“Itu Dokternya sudah datang,” seru Earlangga sembil  melepas pelukannya, diapun cepat-cepat turun dari tempat tidur dan pergi keluar kamar.


Setengah berlari dia menuju tangga.

__ADS_1


“Ada apa?”  tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya, diapun menoleh kebelakang, ternyata neneknya baru keluar dari kamarnya.


“Valerie demam,” jawab Earlangga.


“Apa? Demam?” tanya Ny.Grace terkejut.


“Iya, badannya sangat panas,” jawab Earlangga, semakin membuat Ny.Grace khawatir, tentu saja bukan khawatir pada Valerie tapi pada bayi itu.


“Panas tinggi?” tanyanya.


“Iya,” jawab Earlangga, terburu-buru menuruni tangga.


“Kau sudah memanggil Dokter?” tanya Ny.Grace.


“Sudah Nek,” jawab Earlangga bergegas menuju arah pintu utama. Tidak berapa lama dia kembali lagi dengan Dokter Dewi.


“Dokter, tolong periksa istri cucuku, aku tidak mau terjadi apa-apa pada bayinya,” kata Ny.Grace, dia khawatir kalau demam tinggi yang diderita Valerie akan membuat janinnya terganggu.


“Baik Nyonya,” jawab Dokter Dewi,sambil mengikuti langkahnya Earlangga menuju kamarnya. Dokter itu langsung mengeluarkan alat-alat kesehatannya dan segera memeriksa Valerie.


“Pastikan kalau bayinya baik-baik saja,” kata Ny. Grace berdiri mematung tidak jauh dari tempat tidurnya Valerie.


Earlangga menoleh pada neneknya, kenapa neneknya seperti merasa khawatir dengan bayinya Valerie? Sungguh aneh.


“Bagaimana?” tanya neneknya saat melihat Dokter Dewi selesai memeriksa Valerie.


“Dia mengalami demam, tapi saya sudah membawa obat penurun panas untuk ibu hamil, bisa langsung diminumkan padanya,” kata Dokter Dewi sambil membuka tasnya dan mengambilkan beberapa obat.


“Tolong cepat berikan obatnya,” kata Ny.Grace, tidak bisa menutupi kekhawatiarannya.


Yang difikirkan Ny.Grace  bukan Valerie, tapi bayi dalam kandungannya. Kalau sampai Valerie keguguran karena deman tinggi, meskipun dia tidak suka Earlangga menikahinya tapi bayi tu harapannya penerus keturunan keluarga Joris.


Kalau sampai bayi itu meninggal dan Earlangga tidak punya lagi anak, itu sangat tidak  diinginkannya. Masih lebih baik bayi ini lahir dan Earlangga bisa punya bayi lagi dari wanita lain, lebih banyak anak akan lebih baik, fikirnya.


Lagi-lagi Earlagga semakin heran dengan perhatian neneknya. Diapun menatap neneknya dengan tajam.


“Kau kenapa?” tanya neneknya, karena Earlangga menatapnya.


“Tumben sekali nenek perhatian pada Valerie,” jawab Earlangga.


Membuat Ny, Grace terkejut dan menyadari sikapnya yang tidak terkontrol.


“Aku hanya tidak mau dia keguguran dan orang-orang tahu dan mencemooh keluarga kita tidak becus mengurusnya,” dalih Ny.Grace.


Earlangga tidak bicara lagi. Dia berjalan mendekati tempat tidur saat Dokter Dewi mencoba membangunkan Valerie dan memberinya obat. Dia membantu membangunkan Valerie supaya bisa segera minum obatnya.


Melihat wanita hamil itu sudah meminum obatnya, dia merasa lega.


“Dia dan bayinya akan baik-baik saja kan?” tanyanya pada Dokter Dewi.


“Iya,biarkan dia istirahat,” jawab Dokter Dewi. Earlangga mengangguk.


Ny. Grace juga merasa lega Valerie sudah diperiksa Dokter, tapi hatinya menjadi gelisah melihat Earlangga perhatian pada wanita hamil itu, bagaimana kalau Earlangga malah jatuh cinta padanya?


***********

__ADS_1


__ADS_2