Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-74 Darren datang ke rumah sakit


__ADS_3

Lorena menoleh pada putranya yang masih duduk disampingnya.


“Sayang karena kau sudah datang, ibu pulang. Kau tunggu saja nanti sore ayahmu akan  kesini,” kata Lorena pada Earlangga.


“Iya Bu, terimakasih Ibu sudah menjaga istriku,” ucap Earlangga.


Lorenapun beranjak, melihat pada Valerie sebentar yang masih berbaring membelakangi, lalu keluar dari ruangan itu.


Earlanggapun bangun dan menghampiri Valerie. Merasa ada suara kaki melangkah mendekat, Valerie cepat cepat menghapus airmatanya dan memejamkan matanya pura-pura kembali tidur.


Terdengar suara seseorang yang duduk dikursi dekat tempat tidurnya, sepertinya Earlangga duduk disitu. Kemudian dirasakannya sebuah tangan menyentuh kepalanya dan mengusap rambutnya perlahan.


Valerie merasa bingung, apakah dia harus membalikkan badan atau masih berpura-pura tidur? Apakah sekarang Earlangga akan bertanya padanya soal malam itu?


Tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pelipisnya membuatnya merasa gugup dan tegang. Dirasakannya juga tangan itu mengusap perutnya perlahan. Tidak berapa lama Valerie mendengar sebuah langkah pergi menjauh juga suara pintu yang dibuka lalu ditutup. Sepertinya Earlangga keluar ruangan.


Valerie menghembuskan nafasnya dengan lega. Sekian lama dia tidak bergerak pura-pura tidur demi mendengarkan percakapan Earlangga dengan ibunya. Diapun membalikkan tubuhnya tidur terlentang menatap langit-langit.


Diarahkannya pandangannya ke pintu yang tertutup, diapun kembali memejamkan matanya, dengan fikirannya melayang kemana-mana. Memikirkan kenyataan ada kemungkinan Earlangga yang bersamanya malam itu. Meskipun Earlangga masih ragu-ragu siapa ayah dari bayi ini, tapi setidaknya dia semakin yakin kalau memang Earlangga pria di malam itu, artinya ini adalah bayinya  Ealangga. Pria itu sudah berusaha bersikap baik padanya dan bayinya.


Lagi-lagi Valerie menghembuskan nafasnya. Ada rasa bahagia muncul dihatinya, meskipun malam itu terjadi sangat buruk baginya tapi setidaknya kenyataannya membawanya  pada pria seperti Earlangga. Selain dia tampan dan kaya, pria itu sangat baik.


Terdengar suara pintu ruangan itu ada yang membuka,  pastilah itu Earlangga, kenapa dia merasa sangat gugup dan tegang sekarang setelah tahu kalau pria di malam itu kemungkinan Earlangga, hanya tinggal memastikan saja.


Valeriepun berusaha untuk tenang dan pura-prua tidak tahu soal pembicaraan itu. Dia akan menunggu Earlangga menyampaikannya padanya. Diapun membuka matanya dan menoleh kearah pintu. Tapi semua tidak sesuai dengan dugaannya.


Valerie terkejut saat melihat sosok pria yang membuka pintu. Raut wajahnya langsung masam. Bukan Earlangga yang sedang dia bayangkan, tapi Darren. Mau apa pria itu kemari?


Darren berjalan mendekat sambil tersenyum.


“Bagaimana keadaanmu? Kau lebih baik, sayang?” tanya Darren.


“Kau? Mau apa kau kesini? Darimana kau tahu aku ada disini?” tanya Valerie.


“Tentu saja aku tahu,” ucap Darren menghentikan langkahnya tepat didepan Valerie.


“Kau yang mencoba mencelakai kami?” tanya Valerie.


“Yaa..begitulah…” jawab Darren.


“Apa maksudmu begitu? Aku tidak ada urusan denganmu!” maki Valerie, dia berusaha bangun dari tidurnya dan duduk menatap Darren.


“Aku akan membawamu pergi dari sini!” kata Darren.


“Apa? Untuk apa?” tanya Valerie.


“Tentu saja


untuk tinggal bersamaku,” jawab Darren.


“Apa? Kau ini bicara apa?” tanya Valerie kebingungan.


“Karena kita memang harus tinggal bersama dengan bayi kita,” ucap Darren.


“Apa?” Valerie menatap Darren tidak percaya, dia sangat terkejut mendengar ucapannya Darren.


Darren menatap Valerie lalu pada perutnya yang terlihat sudah membesar.


Tangan Darren akan menyentuh perut itu tapi Valerie segera menepisnya.


“Jangan sentuh perutku!” bentaknya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin menyentuh bayiku,” jawab Darren.


“Bayimu apa?” Valerie semakin terkejut saja.


“Itu alasannya makanya aku akan membawamu pergi, aku tidak rela kau pergi dengan pria itu!” jawab Darren.


“Aku semakin tidak mengerti apa yang kau bicarakan?” Valerie semakin bingung saja.


“Selama ini kau tidak tahu pria yang bersamamu di club itu kan?” tanya Darren.


Valerie terdiam dan hanya menatap Darren.


“Pria itu adalah aku!” jawab Darren, membuat Valerie terkejut.


“Kebohongan apa lagi ini?” tanya Valerie.


“Aku tdak berbohong!” jawab Darren.


“Waktu itu kau bilang pria bule yang bersamaku!” kata Valerie.


“Aku hanya berbohong! Aku hanya ingin lari dari tanggungjawab, aku mengkambing hitamkan pria bule itu!” ucap Darren.


“Aku tidak percaya!” teriak Valerie, wajahnya langsung saja pucat.


Baru saja dia mendengar Earlangga menodai seorang gadis di club dan dia merasa yakin pria yang bersamanya adalah Earlangga, kenapa tiba-tiba Darren muncul mengaku ngaku pria itu?


“Itu kenyataannya. Sekarang aku berubah fikiran setelah melihat kau hamil bayiku. Aku ingin berubah. Aku ingin bertanggung jawab,” kata Darren.


“Aku tetap tidak percaya!” teriak Valerie.


“Aku bicara jujur sekarang! Dengar Valerie, aku memang sudah bersikap buruk selama ini. Dan aku juga yang membawamu ke club itu, aku yang menodaimu dan menyebabkanmu hamil. Tolong biarkan aku bertanggung jawab. Aku akan berusaha untuk berubah,” ucap Darren, mencoba meyakinkan Valerie.


Valerie menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru saja dia merasa senang pria itu ada kemungkinan Earlangga kenapa sekarang tiba-tiba Darren yang mengaku ayah dari bayi itu?


“Aku tidak mau! Aku sudah menikah dengan Earlangga!” tolak Valerie.


“Kenapa? Bayi itu adalah bayiku! Apa karena pria itu lebih kaya dariku? Kau tenang saja, asal kau tahu ayahku juga kaya raya, aku akan minta kerjaan pada ayahku asal kau mau ikut besamaku. Aku berjanji akan membahagiakanmu,” kata Darren, terus memutar otaknya untuk mempengaruhi Valerie.


“Omong kosong apa lagi ini? Aku tidak percaya! Tidak percaya!” teriak Valerie, mulai histeris.


“Pergi kau!” Valerie mengambil bantalnya dan dilemparkan pada Darren tapi Darren memiringkan tubuhnya menghindari lemparan bantal itu dan Pluk! Bantal itu mengena pada seseorang yang baru masuk di dekat pintu.


Valerie menoleh kearah pintu juga Darren. Ternyata Earlangga terkena bantal itu dan dia menangkapnya. Dia heran kenapa baru muncul dipintu malah mendapat lemparan bantal. Earlanga terkejut saat melihat ada Darren dalam kamar itu.


“Kau? Sedang apa kau disini?” tanya Earlangga, sambil masuk menghampiri Darren.


Valerie terkejut ternyata Earlangga mengenal Darren. Jangan-jangan pria yang kata Earlangga mengaku ayah bayinya itu memang Darren?


“Mau apa kau kesini?” tanya Earlangga, menatap Darren lalu pada Valerie.


Darren balas menatapnya.


“Sudah aku katakan, aku akan menjemput ibu bayiku,” jawab Darren.


“Kau seenaknya saja bicara!” maki Earlangga.


“Aku sudah mengatakan padamu, aku juga tidak main-main akan membawa Valerie dan bayiku bersamaku. Kalau kau khawatir dengan mereka, kau jangan khawatir, aku akan merawat mereka dengan baik, aku akan menemui ayahku dan bekerja,” kata Darren.


“Valerie itu isriku, kau tidak bisa sembarangan mengaku-ngaku menghamilinya dan membawanya pergi!” maki Earlangga.


“Tapi aku ayah dari bayi iu!” teriak Darren.

__ADS_1


“Sepertinya satu pukulan tidak cukup buatmu!” ucap Earlangga berjalan lebih dekat pada Darren.


“Cukup-cukup, kalian jangan berkelahi” larang Valerie. Melihat Darren juga sama sekali tidak mundur.


Darren menoleh pada Valerie, tangannya langsung meraih tangan Valerie. Earlangga yang melihat hal itu langsung menepiskan tangannya Darren.


“Kau tidak bisa seenaknya membawanya pergi!” maki Earlangga, sampai tangan Valerie terlepas dari genggamannya Darren.


“Kau membuat keonaran disini, pergi atau aku panggilkan satpam!” ancam Earlangga.


“Kau fikir aku takut?” tanya Darren sambil melirik kearah pintu.


Earlangga dan Valerie menoleh kearah pintu. Disana sudah berdiri teman-temannya Darren, mereka melihat kedalam sambil tersenyum sinis.


“Aku akan menelpon polisi!” kata Earlangga sambil meraih ponselnya.


Tapi Darren sudah menarik paksa Valerie turun dari tempat tidurnya.


“Kau macam-macam, aku bisa kasar padanya,” kata Darren, membuat Earlangga menghentikan gerakannya.


“Lepaskan!” teriak Valerie mencoba melepaskan pegangan Darren tapi pegangan itu semakin kuat.


“Darren lepaskan!” bentaknya.


Earlangga yang merasa khawatir dengan keadaan Valerie yang belum stabil apalagi dia seharusnya bedrest, jadi merasa cemas.


“Oke oke, jangan sakiti dia!” teriak Earlangga mengalah.


“Bagus!” jawab Darren tersenyum menang. Teman-temannya masih berjaga di pintu.


“Jadi apa maumu sekarang?” tanya Earlangga.


“Aku akan membawa Valerie pergi,” jawab Darren.


“Tidak bisa! Dia istriku!” maki Earlagga.


“Tapi dia hamil olehku jadi aku berhak atasnya. Kau siapkan saja surat perceraiannya!” kata Darren.


“Kau gila!” maki Earlangga.


“Ingat, aku bisa kasar padanya! Lagi pula apa salahnya? aku hanya ingin bertanggung jawab saja padanya dan bayinya!”Kata Darren.


“Hentikan kebohongan ini Darren! Bukan kau pria yang bersamanya!” teriak Earlangga dengan kesal.


Valerie terkejut Earlangga mengatakan itu, apakah ini saatnya Earlangga akan jujur soal itu?


Earlangga menatap Valerie.


“Sayang, aku ingin bertanya padamu,” ucap Earlangga, melangkah lebih dekat pada Valerie, wajahnya langsung berubah pucat. Valerie balas menatapnya.


“Aku ingin kau menjawab jujur,” ucap Earlangga, menatap mata cantik itu.


Valerie masih tidak bereaksi apa-apa.


“Apakah kau pernah..maksudku ada…ada pria yang ..yang…pernah menodaimu di sebuah club beberapa bulan lalu?” tanya Earlangga dengan terbata-bata, Dia cemas dan khawatir Valerie akan mengatakan iya dan marah padanya.


Valerie masih belum menjawab, dia menatap wajah pria yang di depannya itu. Ada sorot mata gelisah dimatanya Earlangga, ada kegelisahan disana.


“Valerie, tolong jawab aku. Aku pernah mabuk di club itu dan menodai seorang gadis tapi aku tidak mengingat wajahnya, gadis itu sudah pergi saat aku sadar. Apakah gadis itu kau?” tanya Earlangga, dengan hati-hati, kepalanya menyusun kata-kata yang sekira enak untuk didengar dan tidak menyinggung Valerie.


Mata pria itu menatap tajam Valerie, dia butuh jawabannya sekarang. Tapi wanita itu malah hanya menatapnya, seakan akan menguliti dirinya.

__ADS_1


Berbagai rasa berkecamuk di hatinya Valerie. Hatinya semakin yakin pria yang bersamanya itu adalah Earlangga. Ada butiran bening yang kini berkumpul dikelopak matanya.


 **************


__ADS_2