
Beberapa minggu kemudian…
Pagi ini Valerie bangun tidak seperti biasanya, dia merasakan tubuhnya lebih lemas dari biasanya. Kepalanya juga terasa sangat pusing, tapi dia mencoba untuk bertahan karena dia masih harus melakukan pekerjaannya mengurus makannya Earlangga dan menyiapkan beberapa obat alergi yang sudah mulai berkurang, hanya Vitamin untuk tubuh masih diperlukan karena Earlangga semakin hari semakin sibuk dan tidak sempat mengurus dirinya sendiri.
Setelah berdandan rapih, Valerie pergi kerumah utama pasiennya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Bu Asni saat melihat kedatangannya. Entah kenapa menurutnya gadis itu dari hari kehari semakin pucat dan terlihat lebih kurus.
“Aku hanya merasa sedikit pusing dan lemas Bu,” jawab Valerie, sambil duduk di salah satu kursi di ruang makan itu.
“Kau banyak begadang,” ucap Bu Asni sambil menyimpan beberapa menu makan dimeja.
“Sebentar lagi kuliahku akan beres Bu, aku menyiapkan beberapa lamaran ke rumah sakit,” jawab Valerie.
“Ibu sudah menyiapkan semua makanan yang kau pesan buat Pak Earlangga,” jawab Bu Asni.
“Terimakasih Bu. Pak Earlangga belum bangun?” tanya Valerie.
“Sudah, sebentar lagi dia datang,” jawab Bu Asni, sambil menyimpan sup diatas meja. Aroma sup itu tercium sangat harum dan pastinya sangat lezat.
Tapi tidak dengan Valerie, dia mencium bau yang amat sangat dan menusuk hidungnya, membuatnya ingin muntah.
“Ini apa Bu? Kenapa sangat bau?” tanya Valerie, sambil bangun dari duduknya dan menutup mulutnya.
“Bau? Apakah dagingnya bau?” tanya Bu Asni, sambil mengambil sendok dan menyiuk daging dalam sup dan diciumnya, tidak ada yang bau.
Valerie semakin tidak bisa menahan bau dari aroma sup itu yang membuatnya sangat mual dan ingin muntah. Diapun berlari pergi ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Tidak berapa lama gadis itu datang dengan wajah yang pucat dan hidung yang merah.
“Bu, sepertinya dagingnya sudah tidak segar, sebaiknya ganti saja nanti Pak Earlangga sakit perut, dia sangat sensitif pada makanan,” kata Valerie.
Bu Asni mengambil sup di atas meja itu lagi dan dihirupnya, tidak ada yang bau disana. Dia juga mencium sup yang masih ada di panci besar, tidak ada yang bau, yang ada aroma yang membuat perut terasa lapar.
“Tidak ada yang bau, dagingnya juga masih segar,” ujar Bu Asni, lalu menyodokan sup itu ke depan Valerie.
Gadis itu kembali menghirup aroma daging dalam sup, tiba-tiab saja dia merasakan mual yang amat sangat dan tidak tertahankan lagi. Tangannya kembali menutupi mulutnya, diapun berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa saja yang ada didalam perutnya.
“Sayang, kau kenapa?” tanya Bu Asni, segera berlari menghampiri Valerie.
“Entahlah Bu, tapi menurutku sup itu sangat bau,” jawab Valerie, sambil keluar dar kamar mandi.
“Kita tidak pernah membeli daging busuk, dagingnya masih segar,” kata Bu Asni, menatap Valerie dengan raut wajah keheranan. Valerie terdiam, tapi dia benar-benar mencium aroma bau dalam sup itu hingga membuatnya mual yang amat sangat.
“Mungkin aku sedang masuk angin,” kata Valerie, yang di angguki Bu Asni, merekpun pergi menuju meja makan lagi. Tapi belum juga dekat ke meja makan, Valerie kembali mencium aroma sup itu, diapun kembali menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi lagi.
Bu Asni semakin keheranan saja dengan sikapnya. Kenapa perilaku Valerie seperti wanita yang sedang mengidam? Apakah..apakah…Valerie hamil? Bu Asni kembali pergi ke kamar mandi menyusul Valerie, gadis itu kembali keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang pucat.
__ADS_1
“Aku tidak kuat mencium bau sup itu Bu,” ucapnya.
“Sup itu sangat bau, aku tidak bisa menemani Pak Earlangga makan kalau begitu,” ucapnya lagi, sambil mengusapkan tisu ke wajahnya.
Bu Ansi menatap gadis itu lekat-lekat, membuat Valerie menghentikan gerakannya dan balas menatap Bu Asni.
“Ada apa Bu?” tanya Valerie.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Bu Asni.
“Mungkin aku hanya masuk angin Bu,” jawab Valerie.
“Bukan itu maksudku,” kata Bu Asni.
“Maksud ibu apa?” tanya Valerie.
“Apa kau tidak sedang hamil?” tanya Bu Asni membuat Valerie terkejut, tubuhnya seketika tegang dan tangannya gemetaran, tissue ditangannya sampai terjatuh dan dia sangat gugup.
“Ham, hamil?” tanya Valerie, wajahnya semakin pucat.
Bu Asni mengangguk.
“Belilah tespack, biar Pak Earlangga Ibu temani, obatnya sudah kau simpan dalam piring kecil itu kan? Pergilah beli tes pack,” ujar Bu Asni.
“Aku akan bilang pada Pak Earlangga kau sakit, sangat tidak baik kalau kau muntah saat menemaninya makan,” kata Bu Asni.
Valerie mengangguk lalu beranjak meninggalkan Bu Asni yang hanya bisa menatapnya dikejauhan.
“Makanannya sudah siap? Terdengar suara Earlangga masuk keruang makan.
“Iya Pak, sudah siap,” jawab Bu Asni, buru-buru pergi ke ruang makan.
“Mana Valerie? Dia belum datang?” tanya Earlangga, sambil duduk dikursinya. Dia melihat obat sudah siap dalam piring kecil itu artinya Valerie sudah datang tadi.
“Maaf Pak Valerie sedang tidak enak badan jadi dia pulang,” kata Bu Asni.
“Dia sakit?” tanya Earlangaga, menatap Bu Asni.
“Iya, kepalanya pusing, dia harus istirahat sebentar, mungkin karena begadang terus, kuliahnya sebentar lagi beres dan sedang melamar-lamar ke rumah sakit, nanti juga baikan,” jawab Bu Asni.
“Kenapa melamar lagi ke rumah sakit? Aku memberinya gaji yang cukup besar, malah lebih besar dari bekerja jadi perawat dirumahsakit,”kata Earlangga.
“Dia juga membutuhkan karir, biar keahliannya bisa lebih berguna bagi banyak orang,” ujar Bu Asni.
Earlangga tidak menjawab lagi, dia mulai makan sarapannya ditemani Bu Asni.
__ADS_1
Valerie membeli beberapa tespack diapotik terdekat dengan tergesa-gesa dengan hati yang berdebar-debar dia benar-benar cemas. Sejak kejadian itu dia memang tidak mendapatkan mestruasi lagi. Gelisah dan ketakutan semakin menyerangnya.
Setelah mendapatkan tespack beberapa buah, diapun segera pulang. Waktu yang baik untuk mengetes kehamilan adalah pada saat bangun tidur. Meskipun dia sudah buang air tadi pagi, Valerie penasaran untuk mengetesnya, karena tes itu akan positif kalau dia benar-benar hamil meskipun melakukan tes tidak saat bangun tidur.
Valerie cepat cepat masuk ke kamar mandi dengan perasaan yang tidak karuan, wajahnya semakin pucat, ketakutan semakin menyelimuti dirinya. Dengan gemetaran, tangannya mengangkat tespack itu, dilihatnya garis merah mulai berjalan membentuk garis, jantungnya semakin berdebar kencang menanti apa hasilnya.
Dan tatkala dua garis merah membentuk dibatang tespack itu, diapun shock, dan hampir terjatuhh menabrak tembok dibelakangnya, kakinya langsung lemas, airmata langsung menggenang di pipinya. Test pack itu menyatakan dia positif hamil.
Perlahan tubuhnya turun kedasar lantai, tidak dihiraukannya lantai yang basah karena air. Tangannya gemetaran memegang tespack itu. Airmata turun deras membasahi pipinya. Dia hamil. Dia hamil oleh pria yang dia tidak tahu siapa.
Tangispun pecah menggema dikamar mandi itu. Dia terus menagis sesenggukan. Tangannya mulai memukuli perutnya dengan keras.
“Kenapa aku harus hamil? Apa tidak cukup penderitaan yang kau berikan?” teriaknya sambil terus memukuli perutnya.
Valerie terus menangis dan menangis tidak henti-hentinya.
“Sayang, apa kau didalam?” terdengar suara Bu Asni, memanggil- manggil dari luar lalu mengetuk pintu kamar mandi itu berulang-ulang.
“Sayang, kau didalam?” tanyanya , mendengar suara tangisan Valerie didalam kamar mandi itu.
Valerie menghapus airmatanya, dia berusaha untuk bangun meskipun kakinya terasa sangat lemas dan tidak mempi untuk berdiri. Diapun berjalan menuju pintu kamar mandi dan dibukanya. Bu Asni sudah ada didepannya, menatapnya menunggu jawaban.
“Apa hasilnya?” tanya Bu Asni.
Tanpa menunggujawaban Bu Asni sudah tahu jawabannya. Valerie berdiri mematung dengan tespack yang masih ada ditangannya, airmata menetes membasahi pipinya.
Bu Asni mengambil tespack itu dan melihatnya, diapun terkejut karena ternyata dugaannya benar, gadis itu hamil.
“Kau hamil?” tanya Bu Asni.
Valerie tidak menjawab, tatapan matanya kosong dan nanar.
“Kau hamil nak,” ucap Bu Asnil lagi, dengan bingung.
Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selema ini dia tida tahu pria yang dekat dengan Valerie, kecuali Earlangga, tapi tidak mungkin Earlangga melakukan hal yang tidak senonoh pada Valerie.
“Siapa ayah bayi itu?” tanya Bu Asni, menatap Valerie.
“Apa dia Pak Earlangga?” tanya Bu Asni lagi.
Valerie mengerjapkan matanya airmatapun jatuh ke pipinya, diapun menggeleng, membuat Bu Asni semakin penasaran.
Tapi sebelum dia bertanya lagi siapa ayah bayi itu, tiba-tiba Valerie terkulai lemas, Bu Asni segera menahannya dengan memeluknya, gadis itu pingsan.
**********
__ADS_1