
Pagi ini tidur Sean terganggu mendengar ada suara berisik. Tangannya menggapai-gapai tubuh istrinya di tempat tidur yang ternyata kosong. Kemana Lorena? Terdengar lagi suara berisik sepertinya dari kamar mandi.
“Oeek! Oeek!” Suara itu masih terdengar diikuti suara kran air. Sepertinya Lorena mengalami morning sick. Tapi suara muntah istrinya terdengar berbeda, malah lebih terdengar seperi kesakitan. Sean menajamkan pendengarannya. Diapun segera bangun dan turun dari tempat tidur.
“Sayang, kau kenapa?” tanyanya, berjalan menuju kamar mandi ditengah rasa kantuknya.
Ternyata pintu kamar mandi itu tidak terutup rapat. Sean mendorong pintu itu perlahan. Dilihatnya istrinya sedang bersandar ditembok kamar mandi sambil memegang perutnya.
Mendengar ada yang membuka pintu kamar mandi, Lorena menoleh. Sean terkejut melihat kondisi istrinya yang sangat pucat dengan matanya yang merah, wajah dan sebagian rambutnya basah terkena air.
“Kau kenapa?” tanya Sean sangat terkejut, dia segera mendekati Lorena, meraih kedua tangannya, lalu menyentuh pipi istrinya.
“Perutku sangat sakit,” jawab Lorena dengan pelan hampir tidak terdengar, menatap suaminya dengan pandangan mata merahnya yang sayu.
“Kau kenapa sayang?” tanya Sean, semakin panik. Pipi istrinya begitu dingin.
“Perutku sakit, sangat sakit,” keluh Lorena, kini mata mereh itu terggenang airmata.
“Sakit? Kita ke Dokter sekarang,” ucap Sean, hatinya menjadi gelisah dan khawatir melihat kondisi istrinya seperti itu.
Belum juga Lorena menjawab, tubuhnya langsung terkulai jatuh pingsan, membuat Sean terkejut dan buru-buru memeluk tubuhnya Lorena.
“Lorena! Bangun! Kau kenapa?” tanya Sean, sambil menepuk-nepuk pipinya Lorena, hatinya semakin cemas saja melihat istrinya pingsan.
Sean berteriak-teriak memanggil kepala pelayan sambil menggendong istrinya keluar dari kamar mandi, lalu ditidurkan ditempat tidur. Dicarinya mantel panjang untuk menutup tubuh istrinya, dengan mulutnya yang terus berteriak teriak memanggil Pak Sobri. Teriakan Sean membuat beberapa pelayan menghampiri begitu juga dengan Ny,Grace.
“Ada apa kau berteriak-teriak?” terdengar suara Ny. Grace, masih dengan berbalut baju tidur berjalan menuju kamarnya Sean, begitu juga dengan Pak Sobri dan beberapa pelayan lainnya.
Sean kembali mengangkat tubuh Lorena yang sudah dipakaikan mantel hangat olehnya.
“Pak Sobri siapkan mobil, aku akan membawa istriku ke rumah sakit!” kata Sean, sambil berjalan dengan langkah cepat keluar dari kamarnya.
Pak Sobri dan pelayan lainnya tampak ikut panik, dia segera berlari menuju ruangan belakang memanggil manggil supir keluarganya Sean supaya menyiapkan mobil.
“Apa yang terjadi?” tanya Ny.Grace, mengikuti langkahnya Sean.
“Lorena pingsan, aku akan membawanya ke rumah sakit,” jawab Sean, tanpa menghentikan langkahnya.
“Kau pergilah, ibu menyusul,” kata Ny.Grace, lalu membalikkan badannya, bergegas kembali menuju kamarnya.
Sean tidak bicara apa-apa lagi, sesampainya di teras, mobilnya melaju menghampirinya.
“Cepat!” teriaknya dengan keras, membuat supir panik saja. Dalam beberapa menit mobil itu sudah meluncur meninggalkan rumahnya Sean.
**********
Di Rumah Sakit…
Sean berjalan mondar mandir dengan gelisah. Kenapa Dokter begitu lama menangani sitrinya? Apakah Lorena bukan pingsan biasa? Hatinya semakin merasa khawatir.
Tidak berapa lama datang Ny.Grace yang sudah berganti pakaian.
“Bagaimana? Kenapa lama sekali masih berada diruang tindakan?” tanya Ny.Grace.
“Entahlah aku juga tidak tahu,” jawab Sean.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Ny.Grace menatap Sean.
“Aku juga tidak tahu. Lorena hanya mengeluh merasa sakit diperutnya,” jawab Sean.
“Apa? Sakit diperutnya?” tanya Ny.Grace, terkejut.
“Iya, lalu dia pingsan,” jawab Sean.
__ADS_1
“Sakit diperut? Kenapa bisa begitu? Ibu tidak mau terjadi apa-apa dengan bayinya,” kata Ny.Grace, menatap Sean. Dalam fikiran buruknya bagaimana kalau Lorena sampai keguguran?
“Mudah mudahan semua baik baik saja,” ucap Sean. Ny.Grace tidak bicara lagi.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Dua orang perawat membawa Lorena keluar dari ruangan itu.
Sean langsung menghampiri Dokter yang juga keluar dari ruangan itu. Dibiarkannya perawat membawa Lorena keruang perawatan.
“Bagaimana dengan istriku Dok? Apa yang terjadi? Kenapa dia begitu?” tanya Sean.
“Istri anda keracunan makanan,” jawab Dokter.
“Keracunan?” Sean tampak terkejut.
“Bagaimana dengan bayinya?” tanya Ny.Grace.
“Kondisi janinnya sedikit terganggu, tapi kita sudah melakukan berbagi tindakan pengobatan supaya janinnya bisa kuat. Kita tunggu beberapa hari bagaimana perkembangannya. Dikhawatirkan bayinya akan keguguran,” jawab Dokter, mebuat Sean dan Ny.Grace terkejut.
“Tapi bayiku masih bisa diselamatkankan Dok?” tanya Sean, hatinya langsung saja meras asedih, dia tidak mau kehilangan bayinya.
“Kita tunggu beberapa hari ini, kita lihat perkembangannya, semoga bisa bertahan,” jawab Dokter, sembil menepuk bahunya Sean, lalu meninggalkan ruangan itu.
Sean terdiam mendengarnya, begitu juga Ny. Grace.
Sean melihat perawat yang membawa istrinya sudah bejalan jauh. Diapun segera berlari mengikuti perawat-perawat itu menuju kamar perawatan.
“Aku tidak mau terjadi sesuatu pada bayi itu,” kata Ny.Grace saat sudah berada didalam ruangan tempat Lorena beristirahat.
Sean duduk dikursi disamping tubuh istrinya yang belum sadar.
“Mudah-mudahan bayiku bisa bertahan,” ucap Sean.
“Aku heran kenapa istrimu bisa sampai keracunan?” tanya Ny.Grace.
“Bagaimana kalau bayi itu tidak bisa bertahan? Atau mungkin perkembangannya akan terganggu, dia harus di kuret kalau sampai terjadi seperti itu,” lanjut Ny.Grace. Berdiri menatap menantunya lalu menoleh pada Sean.
“Kalau sampai istrimu keguguran, dia tidak bisa langsung hamil lagi, mau tidak mau kau harus menikah dengan wanita lain. Kalau kau tidak menyukai Nisa, aku akan membawa wanita lain untukmu,” kata Ny.Grace.
“Bu, kenapa harus membahas itu lagi? Sudah aku katakan aku tidak mau membahas itu lagi,” ucap Sean, dengan nada kesal.
“Aku sedang mengkhawatirkan istri dan anakku, tolonglah jangan mepersulit keadaan,” lanjut Sean.
Ny.Grace tidak bicara lagi. Dia kesal dengan sikapnya Sean yang tidak peduli dengan warisan dari kakeknya.
Sean merasakan tangannya Lorena bergerak dengan lemah.
“Sayang, kau bangun?” tanyanya, kembali mencium pipi Lorena.
Lorena merasan ciuman dipipinya perlahan membuka matanya, yang awal dirasanya adalah pusing dikepalanya. Tangannya langsung menyentuh kepalanya.
“Kau kenapa? Kau pusing?” tanya Sean, kembali mengusap kepala istrinya.
Lorena tidak menjawab, dia melihat kesekeliling, ternyata dia berada dirumah sakit, kepalanya menoleh kearah Sean menatap suaminya lalu pada mertuanya yang masih berdiri menatapnya.
“Apa yang terjadi denganku? Perut sangat sakit,” keluh Lorena, tangannya menyentuh perutnya.
“Kau tadi muntah-muntah dan pingsan, sekarang kita berada dirumah sakit,” jawab Sean.
“Apa bayiku baik-baik saja? Perutku masih terasa sakit,” jawab Lorena, kembali meringis.
Sean langsung menyentuh perutnya dan mengusapnya perlahan.
“Apa masih sangat sakit? Apa perlu aku panggilkan Dokter lagi?” tanya Sean.
__ADS_1
“Perutku masih sakit,” keluh Lorena lagi membuat Sean panik saja, dia langsung menekan bel bantuan memanggil Dokter.
Tidak berapa lama Dokter dan Asisten Dokter juga perawat berdatangan dan kembali memeriksa kondisinya Lorena.
Sean berdiri melangkah menjauh supaya DOkter leluasa melakukan pemeriksaan.
Ny.Grace tampak memberengut saja, dia kesal membayangakn Lorena keguguran, dia akan kehilangan cucu juga warisannya Sean.
Dokter menoleh pada Sean yang langsung menghampiri.
“Kita tetap menunggu perkembangannya jainnya. Tapi kami sudah memberikan tindakan pengobatan supaya janinnya bisa bertahan,” kata Dokter.
Sean menoleh pada Lorena yang terlihat sudah mulai tenang sekarang, tidak mengeluh sakit lagi.
“Kenapa dengan perutku Dok?” tanya Lorena, menoleh pada Dokter, hatinya merasa gelisah mendengar perkataan Dokter pada Sean.
“Anda keracunan makanan Bu, dan itu berpengaruh pada janin. Tapi kami sudah melakukan pengobatan semampu kami, tapi kami juga harus menunggu beberapa hari ini, kami harus melihat reaksi janinnya. Kalau ternyata tidak bisa bertahan maka terpaksa kami harus melakukkan kuret,” jawab Dokter membuat Lorena terkejut.
“Aku keracunan? Dan bayiku?” gumamnya dengan bibir yang bergetar, airmata langsung menggenang saja dimatanya.
“Iya, bersabarlah, semoga bayinya bisa bertahan dan anda bisa melanjutkan kehamilan anda kembali,” jawab Dokter.
Lorena tidak menjawab, hanya airmata yang menetes dipipinya.
“Beristirahatlah,” ucap Dokter, lalu menoleh pada Sean.
“Setiap ada reaksi tolong langsung beritahu kami,” kata Dokter.
“Baiklah, terimakasih Dok,” ucap Sean. Dokter dan tenaga medis lainnyapun keluar dari ruangan itu.
Sean kembali duduk dikursi dekat tubuhnya Lorena, dia semakin merasa sedih melihat istrinya yang terus menangis.
“Sayang, kau jangan khawatir, semua akan baik-baik saja,” kata Sean mencoba menghibur istrinya padahal dia juga merasa khawatir.
“Aku merasa heran, kenapa kau sampai kecarunan begitu? Menjaga kehamilanmu saja tidak bisa,” keluh Ny.Grace.
Lorena menghapus airmatanya, menoleh pada ibu mertuanya.
“Apa kau tidak mengerti juga, betapa berharganya bayi yang sedang kau kandung itu?” hardik Ny.Grace.
Lorena terkejut dengan sikap mertuanya yang menyalahkan dirinya.
“Kenapa kau begitu ceroboh?” hardik Ny.Grace lagi.
“Aku juga tidak mau bayiku kenapa-napa,” kata Lorena.
Sean menoleh pada ibunya.
“Sudahlah jangan menyalahkan Lorena. Aku akan menelpon Pak Sobri untuk memeriksa semua makanan di rumah,” ucap Sean.
“Aku akan memecat mereka jika ketahuan mereka ceroboh menyediakan makanan yang membahayakan cucuku!” kata Ny.Grace dengan geram.
Sean tidak menjawab, dia hanya beranjak melangkah keluar ruangan, melakukan panggilan pada kepala pelayannya.
Ny.Grace perlahan mendekati tempat tidur pasien sambil menatap Lorena dengan tajam.
“Kau harus ingat, kalau kau tidak bisa mempertahankan bayimu dalam beberapa hari ini, terpaksa aku akan membawa wanita lain untuk Sean nikahi, kau mengerti?” kata Ny.Grace.
Lorena tidak bisa berkata apa-apa, hanya airmata yang menjadi jawabannya. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan pernikahannya akan selalu ada dalam tekanan. Dia juga tidak tahu kenapa dia sampai keracunan? Rasanya dia tidak pernah sembarangan makan, bahkan untuk makan saja dia sangat malas, bagaimana bisa dia sampai keracunan?
Dilihatnya suaminya di balik jendela sedang menelpon Pak Sobri. Hatinya merasa tidak nyaman kalau sampai Ny.Grace memecat pelayan-pelayannya.
************
__ADS_1