
Sean masih menatap gadis yang sedang bernyanyi lagu selamat ulang tahun untuknya, dia mengingat ingat kapan merasakan hatinya seperti ini, ada sesuatu yang lain yang dia rasakan, tapi dia tidak tahu perasaan apa ini. Dari remaja dia pacaran dengan banyak wanita, mendapat perhatian dari banyak wanita cantik, tapi rasanya tidak seindah yang dia rasakan saat ini.
Hanya sebuah ucapan ulang tahun yang sangat sederhana, bahkan gadis itu tidak tampil dengan dandanan yang glamour yang biasa pacar-pacarnya tunjukan, gadis itu hanya menggunakan baju tidurnya juga tanpa bermake up, jauh dari kesan ingin menggodanya. Meskipun penampilannya seperti itu mampu membuat hatinya merasa bahagia. Sepertinya dia sudah jatuh cinta pada gadis ini. Stop! Apa benar dia jatuh cinta? Tidak disadarinya kalau nyanyian itu sudah habis dan gadis itu sedang menatapnya.
“Kau kenapa? Dari tadi kau menatapku tidak bicara,” tanya Lorena, sambil mengibas-ngibas tangannya di depan wajah Sean, membuat pria itu terkejut.
“Aku hanya mendengarkan nyanyianmu, sudah habis ya,” jawab Sean dengan gugup, ketahuan dia sedang memperhatikan gadis itu.
“Kenapa? Kau suka dengan nyanyianku? Suaraku cukup merdu kan? Aku juga bisa bernyanyi,” ucap Lorena.
“Ya, suaramu lumayan bagus,” ucap Sean sambil mengangguk.
“Kau tunggu sebentar ya,” kata Lorena, diapun beranjak keluar kamarnya Sean, entah mau kemana.
Sean melihat pada kue ulangtahun itu. Ada tulisan happy Birthday Sean, juga ada angka usianya. Dia mengerutkan keningnya, darimana Lorena tahu semua itu?
Tidak berapa lama gadis yang ada dalam fikirannya itu datang lagi dengan membawa pisau dan dua piring kecil juga garpu. Lalu Lorena duduk kembali ditempatnya tadi. Sean hanya memperhatikannya. Tidak sedetikpun matanya lepas dari memperhatikan apa yang Lorena lakukan.
“Karena di rumah ini tidak ada siapa-sipaa lagi, dan Mr. Velix juga sudah tidur, kalau pelayan yang lain tidak usah dberi karena kue bolunya tidak akan cukup kalau dibagi-bagi, jadi kita saja yang makan,” ucap Lorena sambil memotong kue itu dan disimpan dipiring kecilnya.
“Ini buatmu,” ucap Lorena memberikan piring kecil berisi kue bolu itu.
“Ayo makanlah,” kata Lorena.
“Aku belum cuci muka,” ucap Sean, sambil beranjak menuju kamar mandi
“O iya kau kan baru bangun tidur, sekalian gosok gigi!” teriak Lorena.
“Bawel amat,” gerutu Sean, dia jadi tidak yakin apa benar dia jatuh cinta pada gadis bawel ini? Diapun masuk ke kamar mandi.
Tidak berapa lama Sean sudah kembali dari kamar mandinya, dilihatnya gadis itu sedang makan kuenya sendirian.
Diapun berdiri menatapnya.
“Kau kenapa lagi?” tanya Lorena, menengadah menatap Sean sambil mulutnya penuh dengan kue bolu.
“Aku kan yang ulangtahun, kenapa kau yang duluan makan kuenya?” tanya Sean.
“Aku lapar hihi..” jawab Lorena sambil tertawa.
“Ayo duduklah, bolunya rasanya sangat enak,” lanjut Lorena, mengambilkan satu piring lagi diberikan pada Sean. Pria itu menerimanya dan duduk disamping Lorena, mulai makan kue bolu itu.
“Bagaimana enakkan?” tanya Lorena.
“Ya, sangat enak,” jawab Sean. Sebenarnya bukan karena bolunya yang enak, tapi karena suasana hatinya yang gembira membuat kue bolu itu terasa lebih enak.
“Kau tahu darimana aku ulangtahun?” tanya Sean, sambil menoleh pada Lorena.
“Tuh!” Lorena menunjuk pada kalender yang menempel di dinding.
“Aku melihatnya tadi pagi,” jawab Lorena. Seanpun jadi melihat kalendernya.
“Ternyata tanggal lahirmu sama dengan Sam ya? Kebetulan sekali,” ucap Lorena.
Sean terdiam, ternyata Lorena masih mengira yang ulang tahun besok adalah Sam.
“Kalau begitu kau juga menyiapkan kado ulangtahun untukku,” kata Sean.
“Apa kado?” tanya Lorena menatap Sean yang juga menatapnya.
“Iya kado,” jawab Sean, mengangguk.
“Aku lupa,” ucap Lorena sambil tersenyum.
__ADS_1
“Ulang tahun tanpa kado itu belum lengkap,” kata Sean.
“Kau ini, aku sudah membuatkan pesta ulang tahun buatmu, kau minta kado,” keluh Lorena.
“Aku biasanya menerima kado kalau ulangtahun,” ucap Sean bersikeras.
“Kadonya apa ya? Aku tidak tahu harus memberimu kado apa?” tanya Lorena, mengerutkan keningnya berfikir sesuatu.
“Apa ada yang kau inginkan?” tanya Lorena kemudian, kembali menatap pria disampingnya itu. Sean merubah posisi duduknya menghadap Lorena.
“Kau mau memberikan kado yang aku inginkan?” tanya Sean.
“Memangnya kau mau kado apa?” Lorena balik bertanya, badannya menghadap Sean. Mereka saling tatap.
“Aku mau…” ucap Sean terhenti.
“Ya kau mau apa?” tanya Lorena tidak sabar, melihat Sean seperti ragu-ragu mengatakannya.
“Aku mau…” Sean masih belum melanjutkan kata-katanya.
“Ya, apa?” tanya Lorena lagi.
“Aku mau..” Belum juga Sean melanjutkan, Lorena langsung memotongnya.
“Tidak!” potong Lorena, setengah berteriak, membuat Sean terkejut.
“Apa?” tanya Sean.
“Aku tahu kau mau menciumku, tidak, aku tidak mau!” jawab Lorena menggelengkan kepalanya. Membuat Sean bengong.
“Apa maksudmu? Aku tidak bilang begitu,” sanggah Sean.
“Jangan berbohong, aku mengerti dari tatapanmu, tidak, tidak, kau kan bukan pacarku. Minta kado yang lain saja,” ucap Lorena. Membuat Sean menepuk jidatnya.
“Aku kan tidak meminta itu,” keluhnya.
“Kau tidak mendengarkan penjelasanku dulu. Bilang saja kau tidak mau memberiku kado!” teriak Sean, karena tubuh Lorena sudah menghilang dari kamernya. Tingkah gadis itu membuatnya kesal saja.
“Lorena!” panggilnya. Tidak ada jawaban dari gadis itu.
“Kepalanya yang harus di laundry, bukan aku,” gerutunya dengan kesal.
Sean melihat kembali ke arah meja, melihat kue yang sudah terpotong itu, diapun tersenyum, walau bagaimanapun gadis itu sudah membuatnya senang malam ini.
*************
Keesokan harinya….
Lagi-lagi Sean dibangunkan oleh music senam pagi di taman belakang. Dia melihat dibalik jendela, menarik gordennya melihat keluar. Gadis itu sedang senam pagi, diapun tersenyum. Dilihatnya dirinya sekarang menggunakan baju tidur, tidak telanjang lagi seperti kemarin. Diapun keluar dari kamarnya, menuju taman belakang.
Sean berdiri tidak jauh dari Lorena senam sambil melipat kedua tangannya.
“Ada apa? Kau mengganggu senamku!” kata Lorena, yang kini arah senamnya mengarah ke pintu rumah itu. Jadi dia bisa melihat kedatangan Sean.
“Kapan kau pulang?” tanya Sean.
“Besok,” jawab Lorena, tidak menghentikan gerakannya. Kini dia mengikuti gerakan senam yang ada di layar handphonenya yang disimpan diatas kursi taman itu.
Sean tidak menjawab.
“Kau masih akan disini kan?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Sean mengangguk.
__ADS_1
“Jadwal lomba kontes kan dua hari lagi, jadi aku harus pulang,” ucap Lorena.
Sean terdiam lagi, dia jadi ingat kontesnya. Berati dia juga harus pulang. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Bicara terus terang pada Lorena kalau dia sebenarnya Presdirnya? Jadi yang menang kontes akan menikah dengannya bukan Sam atau jangan bicara apa-apa dulu? Kalau bicara sekarang bagaimana kalau seperti perkataan Lorena kemarin kalau dia akan mengundurkan diri dari kontesnya. Dia belum siap melihat gadis itu marah dan kecewa padanya. Bagaimana ini?
“Ya Sudah, aku berangkat kerja dulu,” ucap Sean akhirnya, dia memilih masih merahasiakan identitasnya.
Lorena hanya mengangguk, serius dengan gerakan senamnya. Seanpun kembali masuk ke dalam rumah.
Malampun tiba…
Lorena sudah berdandan cantik malam ini karena dia akan tampil di pesta ulangtahun putranya Ny.Grace. Biolapun sudah dia siapkan.
“Mobil sudah siap,” kata Mr.Velix. Lorena mengangguk, diapun keluar dari kamarnya sambil menenteng tas biolanya.
“Kemana Sean?” tanya Lorena pada Mr. Velix.
“Belum pulang dari pagi,” jawab Mr. Velix.
Lorena tidak bicara lagi, mungkin Sean akan langsung ke tempat acara atau dia memang sudah ada ditempat acara.
Cukup jauh juga lokasi gedung tempat pesta ulangtahun di adakan. Lorena menatap gedung yang dihias indah itu. Melihat kendaraan yang terparkir dihalaman saja, yang kebanyakan menggunakan mobil mewah, dia bisa menebak kalau Ny.Grace itu pengusaha yang kaya raya.
Lorena berjalan perlahan memasuki gedung yang sudah ramai oleh tamu-tamu undangan.
“Miss anda sudah ditunggu,” sambut seorang pria yang langsung menghampirinya saat melihatnya berdiri di pintu masuk.
Lorena hanya mengangguk dan mengikuti langkah pria itu. Matanya mengedar ke sekeliling, tamu-tamu begitu penuh berdiri padahal dia ingin melihat meja tempat perayaan ulangtahunnya, dia ingin melihat orang yang berulangtahun, Presdir Samuel.
Seorang pria menghampirinya lagi, dia adalah ketua music pengiring. Merekapun sibuk dengan persiapan acara yang akan berlangsung, dan Lorenapun tidak memikirkan lagi orang yang akan berulangtahun, ini saatnya dia bekerja.
Ny. Gacre dan Sean tampak sibuk menyambut kedatangan tamu-tamu. Dia sebenarnya ingin mencari Lorena apakah gadis itu sudah datang atau belum. Tapi karena banyaknya tamu yang mengajaknya berbincang, dia tidak bisa mencari gadis itu.
Terdengar MC bicara di microfon akan memulai acaranya. Lorena merasakan mau ke toilet, diapun meninggalkan ruangan itu segera ke toilet supaya dia nanti bisa tampil maksimal tidak terganggu dengan mau buang air kecil.
Sebuah kue bolu yang besar setinggi orang dewasa dengan dihiasi lampu lampu cantik tampak sudah dibawa ke ruangan itu. Entah berapa banyak tepung dan telur untuk membuat kue bolu sebesar itu. Sean menatap kue bolu berukuran besar itu, secantik apapun kue ulangtahunnya, tidak lebih cantik dari kue ulang tahun dari Lorena yang ada di kamarnya.
Matanya menoleh kearah tempat pentas seni, sebenarnya hatinya gelisah apa yang harus dikatakannya pada Lorena kalau melihat yang ulang tahun adalah dirinya.
Terdengar lagi Mc bicara di microfon supaya yang hadir bergerak maju dan lebih dekat ke meja ulangtahun. Di meja itu juga ada sebuah bolu yang berukuran sedang yang dihias tidak kalah cantik dengan bolu besar itu.
Lorena yang sedang berada di toilet mendengar suara acara akan dimulai, diapun bergegas ke ruangan acara. Dia tidak sabar melihat acara ulangtahun itu. Dalam bayangannya Presiden Samuel sudah datang makanya acara segera dimulai.
Begitu masuk ke ruangan, dia masih tidak bisa melihat orang yang ulang tahun, saking penuhnya orang yang berdiri. Diapun menyelinap diantara orang-orang. Saat semakin dekat ke meja ulangtahun, matanya menatep kearah pria tampan yang berdiri dengan Ny.Grace, Sean.
Lorenapun bingung, kenapa Sean ada bersma Ny.Grace sedangkan Sam tidak ada? Kemana Sam?
Terdengar MC Berbicara.
“Sebelumnya atas nama penyelenggara, kami ucapkan terimakasih atas kehadiran Tuan dan Nyonya diacara pesta ulang tahun Mr.Sean Joris yang ke 28,” ucap MC.
Deg! Jantung Lorena seakan berhenti berdetak. Apa maksudnya MC Itu? Siapa yang sebenarnya yang ulang tahun? Sean atau Sam? Mingkin dia salah dengar atau Mc salah ucap. Tapi dia tidak mungkin salah dengar, nama yang disebut MC adalah Sean Joris, bukan Samuel.
Lorena melihat kearah dinding ruangan itu, dia tidak memperhatikan saat masuk tadi karena begitu datang, panitia sudah mengajaknya menemui tim music pengiring pesta ini. Sekarang terlihat jelas huruf-huruf indah yang ada di dinding.
‘Happy Birthday Sean Joris’
Lorena semakin merasa bingung. Siapa sebenarnya Sean yang dikenalnya? Jadi putra Ny.Grace yang berulang tahun itu, Sean? Kalau dia putra Ny.Grace apa benar dia hanya seorang asisten? Putra Ny.Grace, bisniswomen yang kaya raya bekerja sebagai asisten? Tidak mungkin!
Sean melihat kearah tamu-tamu yang hadir, senyum tidak lepas dari bibirnya membalas senyum dan sapa yang hadir yang berdiri disekelilingnya.
Tatapannya terhenti pada sosok yang berdiri diantara tamu yang sedang menatapnya. Gadis itu menatapnya dengan tatapan berjuta pertanyaan tersirat di matanya. Dua pasang mata itupun bertemu dan saling menatap.
__ADS_1
***************
Jangan lupa like vote dan komen