Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-124 Berkumpul kembali


__ADS_3

Mobil Sean yang memasuki komplek elit Grand Valley sudah masuk dini hari, karena perjalanan dari perkebunan karet itu membutuhkan waktu minimal 5 sampai 6 jam kalau perjalanan lancar.


Satpam yang berjaga malam tampak keheranan melihat ada sorot lampu mobil yang berhenti di depan gerbang apalagi hari sudah lewat larut malam. Diapun turun lalu menghampiri gerbang.


Sam membunyikan klakson beberapa kali. Sean membuka kaca jendela. Satpam sangat terkejut saat melihat Sean melongokkan kepalanya keluar jendela. Sam kembali mengklakson. Satpam segera membuka gerbangnya. Dia mendekat merasa tegang dengan kedatangan Sean yang tiba-tiba. Hatinya bertanya-tanya apakah Lorena tahu kalau Sean akan datang? Sedangkan semua pegawai sudah diberitahukan untuk merahasiakan keberadaannya termasuk pada Sean.


Sam memasukkan mobilnya kehalaman rumah itu dan berhenti di teras., Pak Satpam berlari-lari menghampirinya.


“Buka pintunya,” kata Sean, sambil turun dari mobilnya.


“Baik Pak,” jawab Satpam lalu membuka pintu rumah itu.


“Ibu ada di dalam?” tanya Sean.


“Sepertinya sudah tidur Pak,” jawab Satpam.


Begitu pintu dibuka, Sean langsung saja masuk ke dalam rumah dan segera manaiki tangga. Sampai diujung tangga dia menghentikan langkahnya, dia tidak tahu apakah Lorena


tidur di kamarnya atau di kamar utama? Pastinya di kamar utama.


Diapun berlari ke kamar utama, sampai pintu Sean terdiam mematung. Suasana hatinya sudah tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, banyak perasaan yang timbul dan dia tidak mampu untuk menterjemahkannya. Tangannya mengetuk pintu dengan ragu-ragu karena pasti Lorena sedang tidur. Tapi Sean sudah tidak sabar untuk memastikan kalau istrinya ada dirumah. Diketuknya pintu itu berkali-kali.


Tok! Tok! Tok!


Lorena sedang terlelap dalam mimpinya, saat telinganya mendadak mendengar suara ketukan dipintu berkali-kali. Dengan menahan kantuk yang amat sangat, diapun bangun, dia penasaran siapa yang mengetuk pintu di malam yang selarut ini. Apakah Neny? Buat apa Nenny membangunkannya malam-malam begini?


“Ya sebentar!” jawab Lorena sambil membaca membuka matanya yang ingin menutup kembali. Dilihatnya Earlangga yang tidur diranjang bayi. Diapun turun dan  berjalan menuju pintu dengan langkah lesu dan masih menguap.


Mendengar suara Lorena menjawab dari dalam kamar, sudah tidak terlukiskan lagi bahagianya Sean, hatinya kembali merasa campur aduk, matanya sudah mulai memerah dan berkaca-kaca. Rasa gelisah yang selama ini bertumpuk seakan terobati dengan hanya mendengar suara istrinya saja.


Klutrak! Suara pintu dibuka oleh Lorena.


“Ada apa Neny?” tanya Lorena sambil menguap, berdiri dipintu yang dia buka.


Sean menatap wanita yang masih menguap itu, melihat sosok yang sangat dirindukannya berdiri didepannya, sungguh tidak tergambarkan betapa bahagianya saat ini.  Matanya langsung berkaca-kaca, beberapa hari ini dia begitu cengeng.


“Sayang!” panggilnya.


Lorena merasa terkejut mendengar suara Nenny yang berubah jadi suara laki-laki, diapun mencoba membuka matanya lebar-lebar, dan…matanya seketika tidak perlu dipaksakan dibuka lagi karena sosok yang ada diahadapannya sangat membuatnya terkejut. Suaminya sudah berdiri menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Melihat lagi istrinya itu, yang ada dalam benaknya Sean adalah penderitaannya saat melahirkan, dilihatnya perut istrinya sudah tidak gendut lagi. Bayangan dia akan menunggunya melahirkan bayi mereka sudah tidak ada lagi. Bayangan dia menggendong kelahiran bayi pertama juga hanya tinggal hayalan yang telah lewat.

__ADS_1


“Sayang, ternyata kau masih hidup!” ucap Sean, dengan suara yang agak tersekat.


Lorena tertegun tidak bicara, dia tidak menyangka Sean ada di depannya.


“Aku datang dari perkebunan karet langsung kesini,” lanjut Sean. Mendengarnya membuat Lorena terkejut ternyata Sean mencarinya ke kebun karet.


“Aku minta maaf, benar-benar minta maaf,” ucap Sean, melangkahkan kakinya dan langsung memeluk Lorena dengan erat lalu mencium pipinya, mendekapnya lagi dengan erat.


“Aku minta maaf tidak ada disaat kau melahirkan, aku minta maaf sudah membawamu dalam penderitaan, aku minta maaf,” ucap  Sean, kembali menciumi istrinya berkali-kali. Kemudian ditatap lagi wajah istrinya, dia masih tidak percaya bisa melihat lagi istrinya dalam keadaan sehat.


“Aku senang bisa  melihatmu lagi,” ucap Sean, kembali mengecup bibir istrinya.


Setelah tersadar dari kantuknya, Lorena menatap wajah suaminya yang berkaca-kaca, bahkan ada tetes airmata yang jatuh dipipi suaminya. Suaminya terlihat begitu putus asa dan menderita karena kehilangannya. Jari Lorena menghapus pipi Sean yang basah.


“Jangan meminta maaf, aku tahu kau juga tidak menginginkan ini terjadi,” kata Lorena dengan lirih, dia juga merasakan sedih dan bahagia bisa melihat suaminya lagi.


“Aku sangat merindukanmu,” lanjut Lorena, matanya mulai berkaca-kaca.


Sean masih menatapnya, diapun kembali memeluk Lorena.


“Aku juga sangat merindukanmu, aku benar-benar putus asa, aku fikir tidak akan pernah melihatmu lagi dan bayi kita. Aku sangat mencintaimu,” ucap Sean.


Saat mengatakan bayi, Sean menjadi ingat pada Earlangga, diapun melepas pelukannya dan kembali menatap Lorena, dengan kedua tangannya memegang bahunya Lorena.


“Dia sedang tidur,” jawab Lorena, sambil menarik tangan Sean masuk ke kamar mereka dan menghampiri ranjang bayi.


Sean melihat bayi yang tidur di ranjang bayi itu, rasa sedih dan bahagia berkecamuk dihatinya. Dia tidak menyangka bayi yang digendongnya di Resto itu benar-benar bayinya.


“Earlangga! Kau memberi namanya Earlangga?” tanya Sean, tangannya menyentuh pipi Earlangga yang terlelap.


“Maaf aku harus memberinya nama, aku tidak menggunakan nama yang telah kau siapkan, kau bisa menggantinya kalau kau mau” jawab Lorena, sambil duduk dipinggir tempat tidurnya yang bersebelahan dengan ranjang bayi. Tangannya menyentuh pinggiran ranjang itu. Sean menoleh pada istrinya, tangannya menumpang diatas tangannya


Lorena.


“Tidak, Earlangga nama yang bagus, dia terlihat gagah,” ucap Sean sambil tersenyum. Mendapati istrinya melahirkan bayi yang sehat dan tampan itu saja sudah sangat membuatnya senang.


“Sayang!” panggilnya, menatap istrinya dengan lembut.


“Aku minta maaf tidak mendampingimu saat melahirkan, aku benar-benar minta maaf,” ucap Sean, Tangan Lorena berbalik menggenggam tangan suaminya, diapun mengangguk.


“Bolehkah aku menggendongnya?” tanya Sean kembali menoleh pada Earlangga.

__ADS_1


Lorena mengangguk sambil berdiri dan mengulurkan tangannya mengangkat tubuh bayinya. Merasakan ada yang mengangkatnya, Earlangga menggeliat lucu. Lagi-lagi Sean merasakan dadanya yang terasa kembali sesak saking terharunya, betapa bahagianya melihat bayinya sudah lahir dengan selamat.


“Sayang, ini ayahmu,” ucap Lorena pada Earlangga sambil memberikan bayi itu pada kedua tangan Sean.


“Dia sangat tampan dan lucu,” kata Sean, sambil menggendong Earlangga.


Sean menatap bayi dalam gendongannya itu lalu diciumnya. Melihatnya membuat Lorena ikut merasa sedih, dia bisa merasakan betapa Sean sangat mencintai bayinya. Pria itu menciumi Earlangga dengan airmata yang kembali menetes dipipinya.


“Sayang, maafkan ayah tidak menjagamu dengan baik,” gumamnya, kembali mencium Earlangga. Lorena mendekatinya, tangannya memeluk pinggang suaminya. Sean menoleh pada istrinya itu.


“Aku sangat kehilanganmu, kenapa kau tidak segera pulang?” tanya Sean. Lorena pun menoleh dan menatap suaminya, tangannya mengusap pipi suaminya yang basah.


“Aku takut bayiku tidak aman jika aku kembali padamu,” jawab Lorena. Jawaban itu membuat hati Sean tersayat-sayat dia semakin merasa bersalah istrinya merasa tidak aman bersamanya.


 Sebelah tangan Sean menyentuh kepala istrinya lalu mencium keningnya.


“Aku minta maaf sayang, kau merasa seperti itu. Yang melakukan kejahatan itu adalah Pak Tedi, kemarin aku mendengar kalau dia meninggal dipenjara,” kata Sean.


“Pak Tedi meninggal?” tanya Lorena, merasa terkejut mendengarnya.


“Dia terlibat perkelahian dengan napi yang lain,”jawab Sean.


Lorena kembali diam, meskipun Pak Tedi telah menjahatinya tapi mendengar dia meninggal dipenjara hatinya merasa kasihan dan sedih.


“Masalah warisan itupun sudah selesai, aku dan bayi kita mendapatkan semua warisan dari kakekku. Tapi semua itu tidaklah penting, yang penting kita bisa berkumpul kembali,” kata Sean.


Lorena masih diam mendengarkan suaminya bicara.


“Semua telah usai, tetaplah bersamaku, aku berjanji akan menjaga kalian dengan sebaik-baiknya,” kata Sean.


Lorena tahu apa yang diucapkan Sean tidaklah main-main, dia tahu Sean sangat mencintainya dan bayinya.


Sean kembali menatap Earlangga dan menciumnya, lalu menatap Lorena.


“Kita pulang ke rumah,” ajak Sean.


Lorena membalas tatapan suaminya dan mengangguk. Sean senang mendapat jawaban itu, tadinya dia khawatir Lorena akan menolak karena trauma dengan kejadian ini.


“Aku sangat mencintaimu, sayang,” ucap Sean, mendekatkan wajahnya mencium Lorena. Istrinya itu langsung memeluknya dan mencium pipinya lalu menyandarkan kepalanya ke tangannya yang sedang menggendong Earlangga, tangan kanannya memeluk pinggang Sean.


“Aku juga mencintaimu,” jawab Lorena. Sean balas mencium rambutnya. Dia sangat bahagia akhirnya bisa berkumpul kembali dengan anak istrinya setelah penantian dan pencariannya yang penuh dengan keputus asaan.

__ADS_1


**************


__ADS_2