
Valerie berjalan meninggalkan rumah sakit itu, di lorong berpasasan dengan seorang wanita hamil yang berjalan beriirngan bersama suaminya. Sepasang suami istri itu berpapasan dengan seorang ibu-ibu yang menyapa mereka dengan senang.
“Ternyata kau sedang hamil! Cepat ya,” seru si ibu itu.
“Iya Tante,baru beberapa bulan menikah langsung hamil, tidak perlu menunggu lama,” jawab wanita hamil itu tersenyum sambil mengusap perutnya yang membulat.
“Syukurlah,
semoga kau melahirkan dengan selamat nanti,” kata ibu itu, ikut menyentuh perut
wanita hamil itu. Suaminya hany tersenyum dan memeluk bahu istrinya.
Valerie sempat tertegun sesaat melihat pemandangan itu. Tiba-tiba tangannya dengan gematar menyentuh perutnya, fikiran buruk tiba-tiba muncul dalam benaknya, bagaimana jika kejadian itu membuatnya hamil? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Timbul rasa was-was dan gelisah, jika hal buruk itu akan berbuntut panjang, tapi kemudian dia menghela nafas pendek, mencoba menenangkan dirinya dan membuang fikiran-fikiran buruk itu dari kepalanya.
Tidak, dia tidak boleh hamil, dan dia yakin penderitaannya sudah berakhir. Yang sudah terjadi biarlah terjadi tapi tidak dengan kejadian buruk lainnya. Valerie menggelengkan kepalanya berkali-kali, diapun buru-buru berjalan, karena buru-buru dia hampir bertabrakan dengan seseorang.
“Dokter Sisil! Maaf aku tidak lihat jalan!” sapanya dengan terkejut.
“Kenapa? Kau melamun?” tanya seorang wanita yang beberapa tahun lebih tua dari Valerie, sambil tersenyum.
“Iya Dok, maaf,” ucap Valerie, dengan gugup.
Dokter Sisil menatap wajah Valerie yang terlihat pucat dan berkeringat.
“Kau baik-baik saja?” tanya Dokter Sisil.
“Aku baik-baik saja,” jawab Valerie.
Dokter Sisil akan beranjak, tiba-tiba Valerie memanggilnya.
“Dok!” panggil Valerie, membuat Dokter Sisil menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” tanya Dokter Sisil.
“Ah tidak tidak apa-apa,” jawab Valerie.
“Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Dokter Sisil. Valerie terdiam, dia bingung, apa dia harus berkonsultasi dengan Psikiater?
“Kau jangan sungkan, kau tidak akan kena cas,” kata Dokter Sisil sambil tertawa, membuat Valerie juga tertawa.
“Kau ingin bicara denganku?” tanya Dokter Sisil lagi.
Valerie menatap Dokter Sisil dengan ragu, dalam hatinya bertanya-tanya apakah baik dia membuka aibnya?
“Mari ke ruanganku,” ajak Dokter Sisil, sambil mengulurkan tangannya memeluk bahunya Valerie. Akhirnya gadis itu mengikuti langkahnya Dokter Sisil.
__ADS_1
“Bagaimana kuliahmu? Sudah beres? Kau bisa mengajukan lamaran ke rumah sakit ini, kau kan magang dissini, kau juga banyak mengenal Dokter-Dokter disini, pasti rumah sakit ini akan menerimamu,” kata Dokter Sisil, saat mereka sudah di dalam ruang prakter Dokter Sisil.
“Sedikit lagi Dok, saat ini aku bekerja di tempat praktek Dokter Egi,” jawab Valerie.
“Jadi kau tidak lagi jadi perawat pribadi Pak Tedi itu?” tanya Dokter Sisil.
“Tidak Dok, aku sudah berhenti disana. Kalau kuliahku sudah beres, aku ingin bekerja di rumah sakit,” jawab Valerie.
“Iya itu juga bagus,” ucap Dokter Sisil, Valeri hanya mengangguk saja.
“Ada unek-unek yang ingin kau sampaikan?” tanya Dokter Sisil.
Valerie masih terdiam ditanya begitu.
“Kau tidak perlu sungkan, mungkin aku bisa membantumu,” kata Dokter Sisil, menatap Valerie.
“Ada yang ingin aku tanyakan Dok,” jawab Valerie.
“Silahkan,” kata Dokter Sisil.
Valerie menatap wajahnya Dokter Sisil, Dokter yang dikenalnya saat dia magang di rumah sakit ini.
“Apakah jika berhubungan satu kali itu akan menyebabkan kehamilan Dok?” tanya Valerie. Dokter Sisil langsung tertawa.
“Seharusnya kau bertanya pada Dokter kandungan bukan pskiater,” jawab Dokter Sisil, tapi ternyata Valerie tidak tertawa, diapun menghentikan tawanya.
“Apa telah terjadi sesuatu?” tanya Dokter Sisil, mulai serius.
“Aku takut Dok,” jawab Valerie dengan lirih.
“Takut?” tanya Dokter Sisil.
“Iya Dok, aku takut hamil Dok,” jawab Valerie, kini mengangkat kepalanya menatap Dokter Sisil.
“Kau berhubungan dengan pacarmu?” tanya Dokter Sisil.
“Tidak.” Valerie menggelengkan kepalanya.
“Maksudmu?” tanya Dokter Sisil.
“Aku mengalami hal buruk Dok,”jawab Valerie, kini airmata itu jatuh dipipinya. Dokter Sisil terdiam melihatnya.
“Aku tidak tahu pria itu, aku tidak mengenalnya, aku mencoba melupakan kejadian itu, tapi setiap kali aku melihat wanita hamil, aku jadi takut Dok. Aku tidak tahu pria itu melakukannya sekali dua kali aku tidak tahu, aku takut kejadian itu akan membuatku hamil,” kata Valerie, menatap Dokter Sisil diantara gennagan airmata di bola matanya.
“Kapan kejadian itu?” tanya Dokter Sisil.
“Sudah lebih dari seminggu yang lalu,” jawab Valerie.
__ADS_1
“Apa ada tanda tanda kau hamil?” tanya Dokter Sisil.
“Tidak,” jawab Valerie.
“Kehamilan biasanya terlihat satu atau dua bulan,” kata Dokter Sisil.
“Aku takut itu terjadi padaku Dok, aku sangat stress,” ucap Valerie.
“Kau benar-benar tidak tahu pria itu?” tanya Dokter Sisil.
“Aku tidak sadarkan diri Dok, aku tidak melihat wajahnya, aku terlalu takut untuk melihatnya, pria itu tidur membelakangiku, aku tidak mau melihatnya,” jawab Valerie, menggeleng-gelengkan kepalanya, airmata kini menetes lagi dipipinya.
“Aku takut kejadian itu membuatku hamil, aku tidak tahu jika itu sampai terjadi, apa yang harus aku lakukan?” ucap Valerie, sambil menghapus airmatanya.
“Aku sudah mencoba melupakannya, tapi kadang kejadian itu masih muncul dikepalaku,Dok,” lanjut Valerie.
“Memang tidak mudah untuk melupakan kejadian buruk yang menimpa kita, apalagi kejadian yang mengambil sesutu yang berharga dalam diri kita,” kata Dokter sisil.
“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Valerie.
“Kau sedang stress, sebenarnya jiwamu terguncang, ikulah terapi, aku buatkan jadwal untukmu,” kata Dokter Sisil.
Valerie terdiam.
“Kau jangan berfikir yang tidak-tidak, semoga kejadian buruk ini tidak berbuntut panjang,” kata Dokter Sisil lagi.
“Itu yang selalu jadi fikiranku Dok, aku takut hamil Dok,” jawab Valerie.
Dokter Sisil menatap Valerie.
“Buatlah dirimu tenang, kau harus berfikir positif, jangan berfikir yang macam-macam dulu, kita lihat satu bulan kedepan. Jangan sungkan untuk bicara denganku, aku akan membantumu sebisa mungkin,” kata Dokter Sisil.
Valerie menatap Dokter itu dan tersenyum.
“Teirmakasih Dokter,” jawab Valerie.
“Apa kegiatanmu sekarang selain bekerja di tempat praktek Dokter Egi?” tanya Dokter Sisil.
“Aku ditawari jadi perawat pribadi Dok,” jawab Valerie.
“Benar begitu? Itu sangat bagus. Buatlah dirimu sibuk supaya kau bisa melupakan kejadian itu dan tidak berfikir macam-macam, tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu jangan terlalu di porsil,” kata Dokter Sisil.
“Iya Dok, aku berterimakasih Dokter mau mendengarkan keluh kasahku,” jawab Valerie.
“Aku dengan senang hati membantumu,” jawb Dokter Sisil sambil menggenggam tangannya Valerie diatas meja.
Berbicara dengan Dokter Sisil membuat hati Valerie merasa sedikit lega, setidaknya ada teman berbagi cerita, karena kejadian ini Valerie tidak bicara dengan siapapun termasuk Darren.
__ADS_1
Setelah dari rumah sakit dia pergi ke Resto untuk mengundurkan diri dan mengembalikan motornya. Kemudian Valerie kembali ke rumah mengurus bajunya Earlangga, menggosoknya dengan rapih lalu meminta Pak Supir untuk mengantarnya ke kantornya Earlangga sekalian membawa makan siang dan obat untuk majikan barunya itu.
********